Rabu, 31 Maret 2010

Curriculum Vitae Herliyan Saleh

Rekam jejak seseorang yang baik, tentu akan membawa kebaikan pula tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk orang lain. Bengkalis membutuhkan sosok pemimpin yang kaya akan pengalaman, mempunyai rekam jejak (track record) yang dinilai positif. Berikut ini saya informasikan kepada kawan-kawan semua, CV dari calon Bupati Bengkalis 2010-2015 yang kaya akan ilmu pengetahuan, pengalaman, teruji, terbukti hehe. Dari CV ini, sedikit banyak kita bisa menilai bahwa beliau adalah sosok yang kita nantikan sebenarnya. Dan sangat kita harapkan (insya Allah) mampu membangun Bengkalis dengan adil merata, matang dalam perencanaann terutama dalam pembangunan infrastruktur, ekonomi kerakyatan, pemberdayaan desa, pendidikan, dan sektor lain.
Nama : Ir. H. Herliyan Saleh, Msc.
Tempat/Tanggal Lahir : Lubuk Muda, Kec. Siak Kecil, Kab. Bengkalis, 25 Maret 1959
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil (PNS), 1984 s/d sekarang.
Jabatan : Kadisperindag Provinsi Riau, 31 Desember 2009 s/d sekarang
Pangka/Golongan : Pembina Utama Madya (IV/d), 01 Oktober 2005

Riwayat Pendidikan Formal dan Kedinasan
1. SD Negeri No. 01 Minas, Kec. Mandau (sekarang Kec. Minas) Tahun 1971
2. SMP Negeri No. 01 Pekanbaru, Tahun 1974
3. SMA Negeri No. 01 Pekanbaru Tahun 1977
4. Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, Jawa Barat Tahun 1982
5. Graduate School of Planning University of Tennessee, Knoxville, TN, US, Tahun 1992
Riwayat Pekerjaan :
Pegawai Pemda Kabupaten Bangkalis Oktober 1984 s/d Februari 1997
1. Kepala Bidang Ekonomi Bappeda Kabupaten Bengkalis
2. Sekretaris Bappeda Kabupaten Bengkalis
3. Pendidikan Master Degree (S2) di Amerika Serikat, Beasiswa USAID (Pemerintah Amerika Serikat)

Pegawai Pemda Provinsi Riau Februari 1997 s/d sekarang
1. Kepala Dinas Sosial Budaya Bappeda Provinsi Riau
2. Kepala Badan Promosi dan Investasi Provinsi Riau
3. Kepala Bappeda Provinsi Riau
4. Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan Sosial Provinsi Riau
5. Plt Sekretaris Daerah Provinsi Riau
6. Kepala Dinas perindustrian dan Perdagangan Provinsi Riau

Pengalaman/Jabatan Lain :
1. Kursus Jangka Panjang Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Universitas Indonesia, 1997, Jakarta, Indonesia.
2. Management For Natural Resource and Environment Protection Short Course, Agriculture College, University of Tennessee, 1991, Knoxville, TN, USA, sponsor USAID.
3. Regional Development and Planning Short Course, Hokkaido Development Board, Sapporo Hokkaido, Japan, 1995, sponsor JICA
4. Risk Management Coure, SSPA Sweden, Goteborg, Sweden, 1998, sponsor SIDA
5. Top Management Course, Civil Service College, Singapore, 2001
6. Public Governance and Adiminstration Course, Singapore, Civil Service College, 2004
7. Pemakalah pada Event Floriade di Amsterdam, Belanda, 2002
8. Pemakalah pada Indonesia German Council di Berlin, Jerman tahun 2003
9. Pemakalah pada Indonesia Night di Kuala Lumpur, Malaysia, tahun 2003
10. Pemakalah pada Seminar Organisasi Konferensi Islam (OKI) atau Organisation Islamic Conference (OIC), di Kuala Lumpur, Malaysia, tahun 2003
11. Koordinator Road Show Gubernur Riau ke Amerika Serikat, Canada, Inggris, Perancis, Jerman dan Swiss.
12. Menghadiri undangan Duta Besar Inggris di Indonesia mengikuti Agri-Bussines Royal Show di Birmingham, Inggris (UK), tahun 2004
13. Delegasi Misi Dagang Provinsi Riau dan Indonesia Canada, New Zeilan, Fiji, Mesir, dan China.
14. Delegasi Provinsi Riau pada World Travel Market di London, Inggris
15. Presentasi dan Menghadiri Seminar/Workshop/Lokakarya dalam dan luar negeri
16. Ketua dan Delegasi Provinsi Riau di IMT-GT, Sosek Malindo, dan DMDI Event
17. Ketua dan Anggota Tim Koordinasi Kerjasama Regional Provinsi Riau.

Pengalaman Organisasi
1. Anggota Persatuan Perencanaan Amerika (American Planning Association – APA) tahun 1990 s/d sekarang.
2. Ketua Ikatan Keluarga Siak Kecil dan sekitarnya (IKSIKS) tahun 2002 s/d 2004
3. Ketua Bengkalis Expert Club (BEC) tahun 2003 s/d sekarang
4. Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Provinsi Riau (Wakil Ketua III)
5. Ketua Kelompok Kerja SOSEK MALINDO Provinsi Riau – Malaka/Johor
6. Ketua dan Sekretaris Sekretariat Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Provinsi Riau
7. Ketua Umum Pengurus Provinsi (Pengprov) PELTI Riau 2008 s/d 2003
8. Ketua Umum Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA-IPB Bogor) Provinsi Riau 2009 s/d 2013

Pengalaman Keluar Negeri
Kunjungan Dinas, Pendidikan dan Pribadi termasuk ibadah ; Amerika Serikat (USA), Canada, Jepang, Korea Selatan, China, Hongkong, Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, Singapore, Australia, New Zealand, Fiji, Arab Saudi, Perancis, Swiss, Australia, Jerman, Belanda, Belgia, Luxemburg, Monaco, Italia, Vatican, Inggria (UK), Cenmark, Swedia, Irlandia Utara dan Mesir.

(Ditulis ulang oleh Muflih Helmi Siak Kecil yang bersumber dari Tabloid Moral. Nb. Kalau ada kesalahan dalam penulisan mohon sarannya)


Minggu, 28 Maret 2010

Nikmat Membawa Sengsara

Rokok. Aku menyebut kata itu saja hampir tidak berani. Begitu angker dan menakutkan. Pikiranku langsung menerawang sesak. Sesesak dadaku saat terhirup asapnya yang selalu ku kutuk itu. Kata orang kesehatan, resiko yang didapat oleh bukan perokok justru lebih besar akan terserang penyakit. Dan sekarang aku merasakan sakit itu di dadaku. Mula-mula bila saja hidungku mengendus asap itu, terasa ada yang tersumbat di sana. Aku terus berharap orang-orang di sekitarku bisa menghargai aku untuk menghirup udara segar. Tapi, waktu semakin angkuh mengibas-ibas gumpalan yang semakin pekat di setiap ruangku. Hidung yang tersumbat tadi, seakan memicu sesak dadaku. Sampai-sampai emosiku terbakar. Aku benar-benar sakit hati kalau saja ada orang yang merokok. Ternyata emosiku berbuah lain. Dan asap itu dengan memaksa masuk dalam rongga dadaku terus ke paru-paru hingga mengganggu detak jantungku. Dadaku sering sakit, meski aku tidak tau apakah itu penyakit jantung.
Apa yang saya rasakan, sedikit banyak pasti juga dirasakan oleh orang lain. Bahkan sudah menjadi akut. Sudah jutaan rupiah uang yang dikelaurkan untuk menyembuhkan penyakitnya. Dan barangkali saja dia bukan perokok aktif. Tapi adalah korban dari ketidak-arifan individu yang memberhalakan kenikmatan setiap hisapan asap rokok. Bukankah tingkat ekonomi kita tidak sama. Apa jadinya kalau penderita itu adalah orang-orang miskin. Sementara secara personal ia adalah orang yang punya cita-cita besar untuk memperbaiki bangsa ini. Yang ditunggu-tunggu kontribusinya dalam memperbaiki akhlak anak-anak bangsa.
Barangkali orang yang saya maksudkan itu kini hanya tinggal nama yang terpahat papan nisannya. Ia hanya bisa merasakan usianya begitu singkat. Takdirnya terpaksa harus terputus oleh hembusan asap-asap yang mematikan pelan-pelan. Hingga manusia yang sesungguhnya kita harapkan, terus saja mati satu persatu oleh ulah manusia yang memberhalakan rokok.
Sementara debat haram-halal rokok terus saja digesa. Banyak yang pro, tidak sedikit juga yang kontra. Kenapa kita harus memaksakan dengan tidak mengharamkan pada diri kita. Sudah tidak sayangkah kita dengan raga yang dititipkan oleh yang seharusnya kita rawat? Dan apakah kita terus saja menunggu kebijakan-kebijakan yang lain, sementara kiat sendiri tidak bisa dipimpin? Kita renungkan.
Ah, engkau yang membaca catatan ini ku harap mengerti. Masih banyak orang-orang yang ada di sekitar kita yang menginginkan udara yang bersih, sehat. Masih banyak anak-anak bangsa ini yang membutuhkan nafkah lahir dari setiap rupiah yang seharusnya bisa kita belikan beras, membiayai anak-anaknya sekolah, membeli pakaian yang lebih layak menutup aurat, membimbingnya dalam keteduhan iman. Jangan biarkan paru-paru mereka terisi oleh racun yang mengamcam masa depannya. Saya tidak menyarankan anda untuk berhenti merokok. Tapi, ingatlah orang-orang di samping dan sekeliling kita benar-benar lebih nyaman dengan udara yang bersih dan sehat. Mengkin menurut anda itu adalah kenikmatan, tapi bagi kami adalah kesengsaraan.
Aku juga meninginkannya, seperti anak-anak anda, adik anda, kakak, ibu-bapak anda, teman anda, bahkan istri anda. Semoga!

By. Rumah Ikhtiar
Muflih Helmi



Sabtu, 27 Maret 2010

PEMENANG PANASONIC GOBEL AWARDS

Sebenarnya kalau menurut saya sih, award seperti ini tak terlalu penting. Tapi kalau saya dikasi ya mau. Tapi katagori apa ya? mahasiswa paling lama, hahaha. Apa yang saya lampirkan di bawah ini sebenarnya menurut saya tidak juga layak mendapat award, khususnya katagori program/acara, Silet. Tapi emang bagaimana pun saya hanya bisa prihatin dengan penghargaan atas program yang jelas-jelas tidak mendidik. Kawan-kawan bisa menilai dari award yang sudah diberikan. Salam Ikhtiar.
DAFTAR PEMENANG PANASONIC GOBEL AWARDS 2010

KATEGORI: INDIVIDU
Presenter Kuis/game show terfavorit: CHOKY SITOHANG
Presenter Infotainment terfavorit: FENI ROSE
Presenter Musik/variety show terfavorit: OLGA SYAHPUTRA
Presenter Berita/current affair terfavorit: PUTRA NABABAN
Presenter Talkshow terfavorit: ANDI F. NOYA
Presenter Talent show terfavorit: OKKY LUKMAN
Presenter Olahraga terfavorit: DARIUS SINATHRYA
Pelawak terfavorit: OLGA SYAHPUTRA
Aktor terfavorit: DUDE HERLINO
Presenter Reality Show terfavorit: UYA KUYA
Aktris terfavorit: NIKITA WILLY
Golden Achievement Award: ISHADI S.K.


KATEGORI: PROGRAM/ACARA
Kuis & Game show terfavorit: GONG SHOW
Infotainmen terfavorit: SILET
Musik & Variety Show terfavorit: DAHSYAT
Komedi terfavorit: OPERA VAN JAVA
Talkshow Berita terfavorit: DEBAT
Talkshow Hiburan terfavorit: BUKAN EMPAT MATA
Program Olahraga terfavorit: JARUM ISL
Acara Anak-anak terfavorit: IDOLA CILIK
Fitur terfavorit: GRIYA UNIK
Pencarian Bakat terfavorit: THE MASTER
Berita terfavorit: SEPUTAR INDONESIA
Drama Seri terfavorit: CINTA FITRI


Selasa, 02 Maret 2010

Padang Ilalang di Belakang Rumah: Sebuah Memoar Nh.Dini

Sebuah karya sastra selalu menawarkan justifikasi dari imajiner kita dari tulisan yang kita baca. Justifikasi menghendaki objek, karena dari objek itulah relevansi kepentingan kita dikuatkan. Di sini justifikasi dipertemukan dengan realitas dan pandangan hidup pembaca. Pertemuan itulah yang menghadirkan suasan ; marah, risau, sedih, riang, lega dan seterusnya.Realitas dari “Padang Ilalang di Belakang Rumah” adalah sebuah cerita dari keadaan yang sebenarnya – sejarah penjajahan Jepang di Indonesia – dengan melibatkan “aku” langsung pada novel ini. Yakni pada saat “aku” masih sangat belia dan masih mengenal dunia sebatas anak-anak. Tapi harus hidup pada zaman yang mengancam.
Novel yang sederhana ini mengangkat sebuah kisah Dini kecil yang hidup pada sebuah zaman penjajahan. Keluarga yang merupakan satu-satunya atmosfir pertamanya sebelum melongok dunia yang sebenarnya, menjadi benteng yang kokoh sebelum ia tumbuh besar dan lepas.
Kehidupan di keluarga tersebut, pada hakikatnya adalah sebagian kecil dari representatif kehidupan yang sebenarnya. Di lingkungan keluarga ia senantiasa mengenal nilai-nilai kepribadian, interaksi, mengenal lingkungan, kedisiplinan, kasih-sayang, pendidikan, kebudayaan dan lain-lain. Tidak itu saja, ia mengenal ketakutan, sakit hati, dendam, olokan, marah, hukuman, darah, mayat dan lain sebagainya.
Dari novel ini, pembaca akan senantiasa diajak menyelam ke zaman penjajahan. Betapa kerasnya kehidupan pada saat itu. Digambarkan bahwa kehidupan – ekonomi, politik, keamanan akibat perang – serba sulit. Sampai-sampai diceritakan mereka hanya memakan seadanya. Seperti nasi jagung, beras yang sudah berulat, dan makanan yang beresiko pada kesehatan. Satu-satunya sumber kehidupan mereka yang bisa menghidupi mereka adalah kebun di belakang rumah.
Pada “Padang Ilalang di Belakang Rumah” ini – secara tidak langsung – mengungkap realitas kehidupan yang serba susah, dan penuh dengan ketakutan yang selalu mengintai setiap saat pada zaman itu. Tapi, seakan dari realitas itu digambarkan kesadaran kaum terpelajar punya tanggung jawab dalam membebaskan tanah kelahiran mereka dari belengu penjajahan. Penjajah yang semula menjadi guru mereka, hingga pada suatu saat harus menerima perlawanan dari anak didiknya. Dukungan dari rakyat terus mengalir, meskipun nyawa harus menjadi taruhannya.
Dalam novel seri Cerita Kenangan ini Nh. Dini, hanya menyelipkan sedikit realitas keadaan yang terjadi sebenarnya pada novel ini. Tidak menjadi objek utama Nh. Dini. Tapi berpengaruh pada objek yang difokuskan Nh. Dini, yakni kehidupan keluarganya. Penulis mengakui bahwa novel ini mampu mangupas dua kehidupan dalam satu alur cerita, dan mungkin saja lebih. Tapi, sudah selayaknya seorang penulis mampu menyingkap sisi lain yang menjadi objek justifikasi pembaca. Pembaca tidak hanya dibawa untuk “tinggal” bersama keluarganya, tapi juga seperti “hidup” pada zaman penjajahan Jepang.
“Padang Ilalang di Belakang Rumah” merupakan sebuah sudut pandang cerita yang bisa dimaknai oleh pembaca sebagai sebuah latar yang menjadi perhatian Nh. Dini. Dari sini konflik itu dimulai, ketika tentara Jepang datang dianggap sebagai pelindung bagi rakyat pada waktu itu. Dari sana pula Dini kecil mulai mengenal belalang, daun ilalang, ular, pepohonan, sungai, burung jalak, putri malu, sampai desingan peluru yang membuat seisi keluarga ketakutan.
Dalam ketakutan itu mereka digambarkan keluarga mereka sangat kompak, saling melindungi, amanah, dan anak-anak patuh kepada orang tua. Meskipun kehidupan pada zaman itu sulit, justru memperlihatkan idealisme mereka. Dengan menjual kue, dan juga membuat pesanan batik mereka menghidupi diri. Jiwa entrepreneurship begitu tumbuh di kalangan keluarganya. Dengan begitu, mereka bisa memberikan sarapan pagi untuk anak-anaknya. Apalagi tokoh utama kala itu masih sangat belia. Masih mutlak membutuhkan perhatian orang tuanya dari segi pangan, dan belum tau dalam menyikapi realitas hidup.
“Ketidaktau-an”nya juga dalam novel ini seakan secara tidak langsung juga menyampaikan akan semangat perjuangan pemuda yang tergabung dalam PETA – termasuk pamannya sendiri yang ia sendiri (diceritakan) tidak tau profesi yang sebenarnya – yang membuat tidak betah penjajah berlama-lama memarkirkan kendaraannya perangnya di jalan-jalan, di rumah sekolah yang menjadi kantor militer.
Meskipun keadaan seperti itu, Dini kecil bukan berarti harus kehilangan masa kanak-kanaknya. Ia selalu dipedulikan oleh kakak perempuannya yang selalu mengasuhnya. Juga harus dibingungkan oleh kedinamisan keegoisan kedua kakak lelakinya. Saat seperti itu, ia lebih mengharapkan kehadiran sepupunya yang lebih muda darinya. Masa kanak-kanaknya tetap bisa ia nikmati pada zaman seperti itu. Dan padang ilalang di belakang rumahnya adalah seakan taman bermain baginya.
Patut penulis memberikan apresiasi dari novel ini yang juga mengangkat nilai-nilai kebudayaan. Yakni salah kebudayaan Indonesia yang saat ini hampir tidak mendapat tempat dihati pemirsa, Wayang (kulit dan wong). Kebudayaan tradasional ini, dan juga merupakan sebuah media dalam menyebarkan Islam di tanah jawa, menjadi satu-satunya hiburan yang menarik perhatian. Bahkan orang tua berusaha mendekatkan anak-anak mereka dengan kebudayaannya.
Sangat kontras dengan zaman sekarang ini. Di mana, hiburan sudah menjamur dengan gemerlap fatamorgana tanpa muatan nilai-nilai. Jauh dengan hiburan pada saat itu (wayang), yang menjadi bahan cerita dan diskusi antara anak dan orang tua seusai menonton. Bisanya orang tua selalu menceritakan kembali cerita dan mengungkapkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.
Penulis perlu menjustifikasi masalah kebudayaan ini. Seringnya “nilai kebudayaan” diangkat dalam ide cerita novel-novel, adalah sebuah indikasi dari keprihatinan pengarang terhadap perkembangan kebudayaan itu sendiri. Makanya nilai kebudayaan yang diungkap dalam novel Nh. Dini ini adalah sebagian kecil dari realitas kebudayaan yang ada sesungguhnya.
Bagaimanapun, membaca novel ini penulis dibawa dalam sebuah keadaan yang telah terjadi pada masa lampau. Nh. Dini begitu rinci dalam mendeskripsikan setiap plot-plotnya. Seakan plot-plot itu semakin akrab dengan kita.
Ibarat memetik gambus, kita tidak hanya mendapatkan suara petikan yang indah, tapi juga telapak tangan kita seakan dibawa untuk memukul marwas. Begitulah yang penulis rasakan!

Oleh : Muflih Helmi
Pengelola Blog : www.geliatpena.blogspot.com
Disampaikan pada forum Paragraf tanggal 21 Februari 2010.
Tentang Pengarang.
Nurhayati Sri Handini atau Nh. Dini mulai mulis sejak kelas II SMP tahun 1951. karya pertama yang dimuat dimajalah Kisah : “Pendurhaka” mendapat sorotan HB Jassin; dan Dua Dunia kumpulan cerita pendek yang diterbitkan tahun 1956 ketika dia masih SMA.
Sejumlah novel yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama antara lain Seri Kenangan ; Sebuah Lorong di Kotaku (1986), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1987), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1988), Sekayu (1988), Kuncup Berseri (1996), Kemayoran (2000), Jepun Negerinya Hiroko (2001), dari perangkik ke Kmapuche (2003), Dari Fontenay ke Magallianes (2005), La Grande Borne (2007); Agrenteuil, Hidup Memisahkan Diri (2008), dan novel-novel lain yaitu Pada Sebuah Kapal (1985), Pertemuan Dua Hati (1986), Namaku Hiroko (1986), Keberangkatan (1987), dan Tirai Menurun (1993), dan Jalan Bandungan (2009).
Sejak akhir 2006, Nh. Dini tinggal di kompleks Wisma Werdhasih di Lerep, sebuah Desa yang tenang dan sejuk di lereng Gunung Ungaran. Jika sedang tidak disibukkan oleh kadatangan mahasiswa yang mau berdiskusi dengannya, dia mengisi hari-harinya dengan merawat tanaman dan melukis.



Senin, 01 Maret 2010

Tuhan, Bolehkah Kami Bunuh Diri?

Segelas racun babi mengepul di atas meja. Asap kretek melenggok dari mulut menuju petromaks, membentuk gulungan hening. Abah Marta merapatkan handuk dari sergapan dingin di leher dengan gigi gemerotak. Di balik jaket berkaos tebal tersembunyi dada kering kerempeng mengatur desahan napas. Tersengal-sengal karena penyakit asma. Terengah-engah menimbulkan bunyi mirip pompa air mekanik. Mencengik. Mata keriputnya memicing, menatap Wardoyo menantunya yang tengah mempermainkan asap. Ragu-ragu. Berganti-ganti dengan fokus gelas racun menantang di meja. Suara dengkuran menembus gorden pintu di belakangnya; kamar Ambu Marsinah tidur. Ada kemerosak angin. Ada kemerosak bambu-bambu bergesekan di luar.“Mulailah.” Wardoyo berkata pendek. Menghisap asap kretek ke dadanya dalam-dalam. Ada ketegangan merayap. Ada kegamangan mengalir. Abah Marta sekali lagi menatap wajah menantunya. Kepala Wardoyo mengangguk. Setengah dipaksa setengah putus asa, tangan Abah Marta maju meraih gelas. Racun hangat, manis bercampur kopi, mengepul hangat dalam genggaman. Gemetar. Bibir tuanya gagal tersenyum. Tak tega mata Wardoyo melambungkan ke langit-langit, melihat dua ekor cecak berkejaran. Menunggu.

“Pahit!” Abah Marta menghentakkan cangkir. Mengusap bibirnya cepat. Kemudian meludah, getir. Setengah menit belralu, ia terhenyak. Wajahnya pucat. Panas merajam-rajam perutnya tanpa ampun. Menyeruak ke atas, membetot-betot usus. Lehernya tercekik: “Wardoyyy…” ia berteriak parau. Tubuhnya lantas menggeblag jatuh. Sebelum kakinya menyepak meja dan kursi yang ia duduki terbalik. Suaranya gaduh. Abah Marta berkelojot-kelojot sekarat. Matanya membeliak. Kemudian sunyi. Mati.

***

BERPULUH tahun Rantawi didera penyakit menakutkan. Jika hawa malam berubah dingin, maka sesuatu menggodam dadanya telak. Gumpal kedua belah paru-parunya terasa terhimpit beban berton-ton dan mencekik saluran udara menuju arah kerongkongan. Di saat itulah dunia bagi Eantawi amat gelap dan sumpek. Satu-satu helaan napas ia keluarkan dengan susah payah, menimbulkan bunyi cengik yang menjijikkan; bahkan bagi telinganya sendiri. Barangkali jika bukan karena Ratri, anak perempuan satu-satunya yang mengeluh putus asa, ia tak akan setega ini: membunuh diri dengan segelas kopi bercampur racun babi. Memang Rantawi dengan kehidupannya telah hancur luluh: dua hektare sawah, setengah bahu perkebungan kopi, satu pabrik penggilingan padi telah lepas satu persatu dari tangannya untuk pengobatan tanpa hasil. Tapi melintas pikiran untuk bunuh diri, tak pernah sedikit pun terjangkau. Terlebih karena Rantawi selalu menyimpan ketahanan iman dengan tak pernah lekang berdoa. Berharap satu kemukjizatanakan datang pada suatu ketika.

Tapi malam ini, Tuhan telah berlaku sangat tidak adil. Rantawi gamang atas kemauan Tuhan pada dirinya. Keluarga Mayor Sulaiman mendadak memutuskan pertunangan sepihak bagi anaknya, Ratri. Tentu, adalah pukulan batin teramat hebat karena mereka justru menyalahkan penyakit yang Rantawi derita sebagai alasan pokok. Asma disamaratakan dengan sejenis lepra! Mereka menuntut dikembalikannya harta panjer yang diserahkan melalui upacara sukacita.”Mereka takut Ratri hanya akan menghancurkan karier dan masa depan Kang Basuki,” begitu kata Ratri.Dengan tangisan tersedak-sedak. “Seperti Bapak. Karena asma adalah penyakit keturunan.” “Begitu yakin, apa mereka sudah memeriksamu?” “Mereka menolak. Juga Kang Basuki,”Ratri putus asa. Tiga hari kemudian tak bisa ditanya. Ia hanya mengurung diri dalam kamar. Rantawi marah. Amat marah. Sungguh nasib telah memain-mainkannya seperti potongan gabus dalam amukan air deras. Tapi penegasan Keluarga Sulaiman memang beralasan. Satu-satunya yang patut dipersalahkan pasti hanyalah Tuhan. Begitulah ketika tangannya mantap menuangkan racun. “Kini, tak mungkin ada lagi pemuda yang mau mendekati Ratri, Ayah!” Rantawi memandang meja tertegun-tegun. Sejentik kegamangan menggelepar, tapi gumpal dendam menyumbatnya cepat. Irama jantung berlomba dengan kesunyian.Ya, ya, tidak akan ada pemuda yang mau menyunting ratri selama ia ada — begitu barangjali keinginan Ratri. Entah karena keturunan, entah karena beban bahwa kenyataan Rantawi tak akan bisa lagi hidup tanpa sebuah gantungan. Diseretnya langkah menuju kamar Ratri. Anak itu tertidur dengan badan melungkar, penuh beban. Manik-manik keringat bermunculan pada leher dan ujung kening; ia hampiri kemudian mengusapnya lembut. Seekor nyamuk yang hinggap di betis dijentiknya hati-hati. Dirapatkannya selimut, kemudian keluar. Kekosongan menyergap ketika air mata dari sudut matanya jatuh. Segelas racun babi yang terdiam di meja. Rantawi melangkah ke kamar Ijah, isterinya. Ijah dengan gurat ketuaan yang makin kentara. Tersenyum dalam ketenangan mata terpejam. Begitu tabah. Bertahun-tahun wanita di hadapannya harus bekerja sendiri menggarap sawah yang masih tersisa. Rantawi tak sanggup lagi berpikir dan merasa. Langkahnya mantap. Meraup gelas. Menenggaknya dalam satu tarikan napas… Putus asa. Gendang telinganya menangkap jerit tangis meneluwung tak bertepi. Badannya terguncang-guncang. Suara-suara teriakan, derit roda, suara-suara sepatu. Kemudian sepi. Senyap. Di manakah? Mungkinkah Tuhan…

Satu kejaiban terjadi: ia menangkap mata Ratri, mata isterinya, mata Basuki. Kemudian badannya melambung ingin meraup. Sebuah tangan kokoh menahannya.Rantawi harus beristirahat, lamat-lamat katanya. Aneh, ia merasa betapa dadanya teramat lapang. Napasnya longgar tak tersumbat bunyi cengik menjijikkan. Kepala dan tubuhnya ringan. “Dua hari engkau pingsan,” begitu kata pertama ia dengar. Suara isterinya. Betulkah ia masih hidup? Rantawi ingin berteriak, “Kenapa aku di sini? Betulkah kamu Ijah? Di manakah aku?”"Asmamu kumat,” isterinya menjelaskan. “Aku membawamu ke rumah sakit. Sudahlah Kang, istirahat yang tenang. Kata dokter, asmamu kemungkinan besar sembuh. Entah kenapa.” Tuhan maha adil, begitulah ketika Rantawi tersungkur dalam sujud. Mohon ampun dan penyesalan atas sangka buruk. Tiga hari setelah berbaring di Rumah Sakit dan dinyatakan sembuh total. Empat ekor kambing disembelih sebagai rasa syukur, dan seluruh kampung turut menikmatinya. Juga tentu, Basuki. Keluarga Mayor Sulaiman telah datang turut mengucapkan gembira dan minta maaf. Tuhan maha besar.

***

SEHARI setelah syukuran, Wardoyo ditangkap. Berita menjalar cepat dari mulut ke mulut. Wardoyo membunuh Abah Marta dengan secangkir kopi dan racun babi! Pembunuhan amat keji, begitu komentar mereka. Mayat Abah Marta ditemukan membiru. Visum menyebutkan ususnya hancur membusuk. Orang-orang kampung mengutuk Wardoyo. Melemparinya dengan batu: “Kafir! Mertuamu sendiri tega kau bunuh, heh?” ramai berteriak. Riuh menggelandang Wardoyo, “Kau bunuh atas dasar apa, Wardoyo?” “Rantawi. Demi Allah, Mang Rantawi yang menyuruhku…” Rantawi terbadai. Rantawi hanya bisa mematung, tak mampu berbuat apa-apa. Teror datang menyerganya begitu tiba-tiba. Sungguh ia begitu menyesal, amat menyesal telah menceritakan seluruh rahasia kesembuhannya pada Wardoyo, adik iparnya. “Racun babi,” begitu ia menceritakan dengan mantap: “Entahlah. Segala obat telah diupayakan; tapi justru racun babi yang membikin aku sembuh. Heh, bukankah mertuamu menderita asma sepertiku?” “Bagaimana kalau ia mati?” “Tuhan telah menunjukkan sebuah keajaiban. Bahkan di dalam racun babi, bisa terdapat obat. Obat mujarab. Masih tidak percayakah kamu, Wardoyo?” Dan kini ia sangsi. Diam-diam Rantawi merasa, ia ikut bandil besar dalam pembunuhan Abah. Berhari-hari Rantawi tak sudi makan. Sampai ketika polisi datang menjemputnya untuk ditanyai: “Demi Allah, saya tidak berkomplot untuk membunuhnya!” katanya.Keras. Dan tubuh Rantawi digelandang hina. Riuh hantaman puluhan caci; orang-orang kampung bergimbung. Menuding berteriak. Kelebat bayangan Ratri ambruk. Lalu Ijah? Bergetar. Keringat dingin memercik. Gusti Allah… bayangan yang buruk. Ia seperti melihat betapa Tuhan kini tengah bergitung; menjawab tantangannya ketika ia memilih mati bunuh diri. Benarkah tak ada dosa yang tak diperhitungkan? Dan kini Rantawi dipaksa menggigil, tersentak berteriak: “Alangkah lebih terhormat mati ketimbang terhina di penjara…”

Bandung, 1993
Joni Ariadinata
Dimuat di Lampung post Silakan Kunjungi Situsnya! 04/03/2002