Selasa, 18 Oktober 2011

Nama-nama Calon Anggota FLP Angkatan 7 yang Dinyatakan Lulus Seleksi

Ketika dunia sedang membutuhkan ribuan penulis-pengarang untuk 'menghidupkan' zaman, maka FLP adalah organisasi yang berusaha turut andil di barisan paling depan. Yang terus berusaha semaksimal mungkin melahirkan penulis-pengarang dengan karya-karya mencerahkan. Maka berhagiakan bila pena telah menjadi pilihan alat perjuangan. Sebab, bukan hanya untuk kehidupan dunia anda saja yang bisa dicapai, tapi juga sebagai bekal kehidupan akhirat.

Tahniyah kepada para calon anggota FLP. Ahlan Wa Sahlan di 'rumah menulis' FLP. Nikmati sajian-sajian yang akan dihidangkan FLP kepada anda. Dan bersama FLP pula banyak yang bisa kita lakukan untuk 'menghidupkan' dunia ini, bahkan 'menghidupkan' diri anda. Sekali lagi selamat!

Dengan melalui proses seleksi yang ketat dan berbagai pertimbangan, tim seleksi selanjutnya menyatakan nama-nama di bawah ini layak untuk mengikuti proses pemagangan selama 3 bulan di FLP Pekanbaru. (Mengenai proses pemagangan akan dijelaskan pada Tgl 23/10/2011 di Galleri Ibrahim Sattah)

Daftar Nama-nama calon Anggota FLP Yang dinyatakan Lulus mengikuti Magang (Test 1: Tertulis, Test 2: Wawancara)


No
NamaTes I
Tes II
Total
Ket
1Riki Riandi
70
75
145
L
2Ahmad
75
80
155
L
3
Dori Gusman
75
80
155
L
4
Haikal A.
85
85
170
L
5
Iskandar, S.Pd
80
90
170
L
6
Shani'ullah M.
80
82
162
L
7
Abdul Jalil
85
79
164
L
8
Rahmad D.
85
75
160
L
9
Suhardi
80
80
160
L
10
Muh. Medi
75
80
155
L
11
Alber Ekmal
75
85
160
L
12
Ilham Fauzi
90
90
180
L
13
Syafrudin
90
80
170
L
14
Said Firdaus
80
80
160
L
15
Ade Iskandar
65
75
140
L
16
Durrotun N.
70
85
155
L
17
Redho Rahmat
0
0
0
TL
18
Alhafisyah SA.70
80
150
L
19
Ana Hermayanti
70
60
130
L
20
Dona Rahayu
63
80
143
L
21
Haritsah Salim
72
70
142
L
22
Hasna Lathifah
76
70
146
L
23
Helly Aroza S.
74
80
154
L
24
Indah Rahmawati
68
63
131
L
25
Julianti
80
90
170
L
26
Kasmila
77
90
167
L
27
Lismawati
70
90
160
L
28
Nana Herlina
80
90
160
L
29
Nurhatika
77
90
167
L
30
Okta Jamilah
70
70
140
L
31
Pivit Septiary C.
64
75
139
L
32
Restika J.
60
80
140
L
33
Rismayanti
64
80
144
L
34
Siti Nurjanah S.Pd.I
78
80
158
L
35
Sunarti
75
85
160
L
36
Susilawati
73
70
143
L
37
Wahyuni
73
60
133
L
38
Wasilaturohmi
70
64
134
L


Kepada nama-nama yang dinyatakan lulus wajib hadir pada Tgl. 23 Oktober 2011 di Gallery Ibrahim Sattah Pukul 08.30 s/d 11.30 WIB, dengan agenda :

  1. Melengkapi administrasi bagi yang belum lengkap.
  2. Registrasi Training Orientasi FLP
  3. Pembiayaan pelatihan selama 3 bulan, (sebagaimana informasi sebelumnya).
  4. Technical Meeting Training Orientasi Anggota (29-30 Oktober 2011).
  5. Pembagian Jadwal materi kegiatan pemagangan.
  6. dll
Demikian terimakasih atas kebaikan hatinya, semoga kita bisa mewujudkan asa bersama FLP. Wassalam,

(Tim Seleksi FLP Pekanbaru)

Jumat, 30 September 2011

REGISTRASI Calon Anggota FLP Pekanbaru 2011

ANDA PENULIS BERIKUTNYA
Open Rekrutmen Anggota FLP Angkatan Ke-7
"Dari Pekanbaru untuk Indonesia)
KLIK FORMULIR DI SINI

Salah satu yang dianggap fenomenal adalah munculnya Forum Lingkar Pena (FLP) tahun 1997. Selama enam tahun sejak berdiri, anggota FLP telah menerbitkan lebih dari 200 buku. Yang sebagian besar terdiri dari karya sastra serius, fiksi remaja, dan cerita anak. Tidak ada orang atau lembaga yang mensponsori FLP. Kemandirian ini memungkinkan FLP menulis sesuai kata hati. Koran Tempo, salah satu media paling berwibawa di Indonesia, menyebut FLP sebagai sebuah 'PabrikPenulis Cerita'.

Setelah sukses rekrutmen anggota angkatan ke-6 lalu, FLP Pekanbaru kembali membuka kesempatan bagi calon-calon penulis baru untuk berkarya. Dari angkatan pertama hingga ke enam telah tersebar karya-karya para penulis muda hasil rekrutmen FLP Pekanbaru di seluruh nusantara. Berbagai prestasi - mulai dari kompetisi daerah hingga nasional - telah di raih dari penulis-penulis FLP. Termasuk diantaranya penulis FLP dari Pekanbaru.

Hadir dengan beridentitaskan keislaman - yang berakar pada sosio-budaya sebagai sumbangsih berarti bagi masyarakat - FLP Pekanbaru kembali membuka pendaftaran bagi calon-calon anggota. FLP sebagai komunitas menulis paling fenomenal dengan mengutamakan mutu dan produktitas untuk memberikan pencerahan melalui tulisan, membuka seluas-luasnya kesempatan kepada calon anggota untuk berkiprah di FLP.

Ada pun syarat-syarat dan ketentuan sebagai berikut :
  • Menyerahkan karya berupa : Cerpen (sebanyak 2 judul) atau puisi (4 judul), dan artikel (wajib) bebas tema islami (2 judul)
  • Menyerahkan buku/kliping karya yang sudah dipublikasikan, jika ada.
  • Membayar formulir pendaftaran Rp.10.000 yang diserahkan pada saat pengembalian formulir
  • Formulir diserahkan pada tanggal 15 Oktober 2011, pukul 08.00 s/d 17.00 WIB ke stand FLP di Masjid Arfaunnas Kampus Unri.
  • Pelaksanaan test tertulis dan wawancara akan dilaksanakan tanggal 16 Oktober 2011 di Gedung Gallery Ibrahim Sattah Purna MTQ Jl. Jendral Sudirman, mulai pukul 08.00 s/d selesai.
  • Pengumuman kelulusan tanggal 20 Oktober 2011 di www.kutulislagi.blogspot.com
  • Bagi yang dinyatakan lulus akan diikutkan Training Kepenulisan tanggal 29 dan 30 Oktober 2011, dan dikenakan pembayaran kontribusi Rp. 50.000,- yang dibayarkan pada saat technical meeting tanggal 23 pukul 09.00 (tempat acara akan diinfokan selanjutnya).
  • Ketentuan-ketentuan akan disampaikan setelah kelulusan. Informasi pendaftaran dapat menghubungi : Jumardi 085265569160 (mahasiswa), Siti Zulbaidah: 08163770051 (umum).

Formulir PENDAFTARAN silahkan KLIK FORMULIR DI SINI

Senin, 19 September 2011

Registrasi Ulang (Khusus) Anggota FLP Pekanbaru 2011

Assalamu'alaikum Wbt.
Apakabar penulis FLP? Di penghujung syawal ini semoga senantiasa tetap istiqomah dalam beribadah, dan beraktifitas dalam lindunganNya. Jika seekor gajah yang paling berharga adalah gadingnya, pada manusia pula bukan rupa bukan harta yang paling berharga, tapi keimanan dan ketaqwaannya.

Sebagai komitmen FLP Pekanbaru di periode ini, agenda-agenda besar kepenulisan akan segera mengisi hari-hari kita ke depannya. Sebagai penulis, FLP bukanlah hanya sekedar simbolik, tapi merupakan karakter yang tertanam dalam diri. Tugas utama kita adalah menulis untuk pencerahan. Mengembalikan fitrah ummat manusia kepada keimanan yang kaffah.

Maka dari itulah FLP berharap kerjasama dari semua anggota di mana saja berada, untuk bersama mensukseskan REGISTRASI ULANG ANGGOTA FLP PEKANBARU ini. Sebab ini adalah kebutuhan pengurus FLP Cabang Pekanbaru guna mengambil langkah-langkah kongkrit untuk kemajuan FLP ke depan. Saya yakin kualitas penulis FLP Pekanbaru akan semakin baik.

Adapun Mekanisme pengisian Form Registrasi :
  1. Mengisi formulir registrasi ulang anggota.
  2. Menyertakan pas photo (warna) ukuran 3x4 dan 4x6 masing-masing 1 (satu) lembar
  3. Mengisi daftar prestasi menulis dan daftar karya yang sudah dipublikasikan terhitung 1 Januari 2011 s/d 30 September 2011. Form daftar prestasi menulis dan daftar karya.
  4. Menandatangani surat pernyataan keaktifan anggota FLP Pekanbaru.
  5. Membayar infaq untuk pembuatan kartu anggota (khusus anggota FLP Pekanbaru) sebesar Rp. 12.000, disertakan dengan formulir registrasi ulang. (Kartu anggota selain berfungsi sebagai identitas juga untuk mendapatkan diskon pembelian buku atau registrasi kegiatan/acara/training yang dilaksanakan oleh FLP Pekanbaru).
  6. Formulir seluruhnya diisi dan dimasukkan ke dalam amplop besar, dikirimkan ke via pos paling lambat tanggal 10 Oktober (stempel pos). Ke alamat : MUFLIH HELMI (KETUA FLP PEKANBARU) Jl. Air Hitam (Terminal AKAP) Blok X No.5 – Kelurahan Labuh Baru Barat RT/RW 06/05, Kec. Payung Sekaki Pekanbaru, 28292
  7. Menuliskan kode FLP: A pada sudut kiri bawah. Khusus Pengurus FLP Pekanbaru periode 2011-2013 menuliskan kode FLP : B pada sudut kiri bawah amplop.
  8. Bagi anggota yang tidak melalukan registrasi ulang sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan, dianggap telah mengundurkan diri sebagai anggota FLP Pekanbaru.
Formulir (semua form isian) silahkan DIDOWNLOAD DI SINI. Bagi yang kesulitan dalam mendownload silahkan menghubungi nomor admin blog ini 087790210610 | an. Muflih Helmi.


Pekanbaru, 25 September 2011
Ketua FLP Cabang Pekanbaru

dto

Muflih Helmi





Halal bi Halal FLP Pekanbaru, Eratkan Ukhuwah

September diselimuti awan pekat. Disusul hujan yang membasahi bumi. Di atas saung FKIP Bahasa UR yang panjang mirip jembatan di dermaga, agenda Halal bi Halal FLP Pekanbaru tetap terlaksana, (18/9). Berangkat dari semangat untuk mengokokohkan silaturahim di kalangan penulis FLP, beberapa pengurus FLP Cabang Pekanbaru dan beberapa pengurus FLP Wilayah sebagai undangan tampak hadir.

MC dipimpin langsung oleh Ketua FLP Cabang Pekanbaru. Tampak semangat sekalipun seperti kedinginan. Sebagai pembuka acara, diawali dengan tilawah Alquran oleh Jumardi, menambah kesyahduan suasana. Mengingatkan pada malam-malam yang panjang di bulan suci Ramadhan. Sebagai penyampai kata sambutan dari FLP Cabang diwakili oleh Koordinator Kajian Karya Sarwan. Dalam penyampaiannya, Sarwan menyampaikan optimisnya dalam mensukseskan agenda FLP ke depan. Ia juga mengharapkan tingkat kedisiplinan pengurus harus ditingkatkan.

Kata sambutan pula dari pengurus FLP wilayah Riau, yang disampaikan oleh PJS ketua Sugiarti memberikan harapan baru untuk menjadikan FLP lebih baik lagi. Beliau mengharapkan adanya keseriusan pengurus dalam melaksanakan agenda-agenda FLP. Selain itu juga hendaknya semangat Ramadhan senantiasa dapat terjaga di bulan-bulan berikutnya.

Sekalipun kegiatan mengalami beberapa kali pindah, namun tidak mengurangi semangat peserta dalam mengikuti acara. Acara pun sempat molor karena hujan yang tidak kunjung reda sejak kurang lebih pukul 08.30 WIB. Acara dimulai kurang lebih pukul 10.10 WIB yang dihadiri hampir 20 orang.

Acara yang didominasi oleh pengurus wilayah tersebut, diselingi dengan pembacaan puisi oleh Fathromi dan Rio Al-azhar. Fathromi yang diberikan kehormatan untuk membacakan puisi, cukup mampu mengelabui suasana. Namun di susul pembacaan puisi oleh Rio Al-azhar, suasana langit tiba-tiba menghitam dan disusul hujan.

Acara kemjudian cepat-cepat ditutup oleh MC dan dilanjutkan dengan diskusi dan sharing.

[emha]

Kamis, 14 Juli 2011

Pengumuman Pemenang Lomba; Menulis Surat untuk Walikota Pekanbaru

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Apa kabar adik-adik? Tentunya sehat dan senangkan bisa kembali ke sekolahnya. Alhamdulillah hari ini kakak-kakak FLP Kids Pekanbaru akan mengumumkan informasi penting. Apa coba? (Ada yang tau tidak?) Jelas dong pengumuman penting hasil Lomba Menulis Surat untuk Walikota yang diadakan pada tanggal 29 Juni yang lalu.

Ini merupakan sebuah prestasi bagi anak-anak Pekanbaru untuk membuktikan kalau kita gemar menulis. Kakak FLP berharap semoga dengan kegiatan yang kita ikuti tersebut bisa mendorong semangat adik-adik untuk giat belajar menulis. Siapa tau kelak kamu bakal jadi penulis hebat. Ya nggak?

Nah, pengen tau siapa-siapa yang sukses untuk lomba kali ini? Silahkan lihat di bawah ini. Tapi yang menang jangan berbangga hati dahulu, sebab ini adalah awal bagi adik-adik untuk terus berkarya. Dan yang namanya tidak tercantum di bawah ini, jangan berkecil hati pula. Insya Allah akan ada kesempatan berikutnya untuk membuktikan kalau adik-adik memang jago menulis.

Nama-nama pemenang Lomba Menulis Surat untuk Walikota FLP Kids Pekanbaru sebagai berikut:
a. Tingkat SD
Juara 1 : Sukma Nabilah, SDN 002 Rumbai
Juara 2 : Firyal Qatrum Nada, SD Annur
Juara 3 : Ismi Maulaya Shodiq, SD Annur

b. Tingkat SLTP/MTs
Juara 1 : M. Alfian Wahyu Gumelar, SMPN 1 Pekanbaru
Juara 2 : Lisa Vivianti, SMPN 12 Pekanbaru
Juara 3 : M. Taufik H, SMPN 1 Pekanbaru.

Tahniyah ya kepada adik-adik para pemenang. Hadiah bisa diambil di Galleri Ibrahim Sattah Jl. Sudirman atau Purna MTQ Pekanbaru, pada hari Ahad tanggal 17 Juli 2011, pukul 10.00 - 12.00 WIB. Bila butuh informasi lanjut adik-adik bisa menghubungi kak Afra (085278747611).

Dan untuk adik-adik yang telah mengikuti lomba, berhak mendapatkan sertfikat telah mengikuti lomba yang akan kakak kirimkan ke sekolah masing-masing. Ditunggu ya!

Terima kasih,
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selasa, 21 Juni 2011

Bedah Novel Paling Inspiratif; "Cinta Bertabur di Langit Mekkah"

GELIAT PENA FLP; JUMPA PENULIS & BEDAH NOVEL NASIONAL "Cinta Bertabur di Langit Mekkah"

“Bermikraj dengan Pena” 29 Juni 2011/27 Rajab 1432 H

"Menulis memberiku sebuah penangguhan hukuman mati dari kehidupan yang gelap.” (John Mulligan, Novelis Amerika Serikat, Veteran Perang Vietnam).

Dalam rangka pemberian Anugrah Pena di kalangan penulis-penulis muda FLP di Riau, Lomba Menulis Tingkat Anak, dan sekaligus Pelantikan Pengurus FLP Cab. Pekanbaru, sebuah inspirasi dari Tanah Kiblat akan hadir di tengah-tengah anda;JUMPA PENULIS & BEDAH NOVEL NASIONAL "Cinta Bertabur di Langit Mekkah"

Waktu : Rabu, 29 Juni 2011/27 Rajab 1432 H
Pukul : 08.00 - 12.20 WIB
Tempat : Aula Gedung Erlangga Lt.3(Jl. Seokarno Hatta No. 98 Arengka)
Peserta : Mahasiswa, Guru dan Umum

Biaya registrasi;
a/. Paket Rp. 40.000. Fasilitas; (novel, snack, sertifikat, resensi novel)
b/. Paket Rp.15.000. Fasiltas; (sertifikat, snack, resensi novel)

Pastikan anda adalah pesertanya. Selain bisa berdiskusi langsung dengan penulis novelnya – lebih dari itu – peserta akan bisa langsung berkonsultasi untuk menerbitkan karya di Erlangga. Temukan inspirasinya di sini, dan jadilah penulis berikutnya.

Tiket bisa langsung dipesan dengan menghubungi;
Kampus UIN Suska; Rahma (0852-64631650),
Kampus UIR; Asqolani (0852-72850927),
Kampus Unri; Rani (0852-71487558),
Guru/umum; Helmi (0877-90210610 atau 0852-78761002)

Selasa, 07 Juni 2011

Anugerah Pena Forum Lingkar Pena Riau I

Kepada rekan-rekan anggota FLP Pekanbaru, sekarang buktikan talentamu, kalau kamu memang jago nulis. Jangan sia-siakan kompetisi ini. (Flp Pku).

Sebagai upaya penelusuran bibit-bibit unggul penulis dari internal FLP Riau, maka Forum Lingkar Pena Wilayah Riau membuka kesempatan Anugarah Pena untuk tahun pertama, adapun syarat dan ketentuannya adalah sebagai berikut:

Syarat dan ketentuan:
  1. Peserta adalah anggota aktif Forum Lingkar Pena se-Riau.
  2. Peserta memilih salah satu kategori anugerah yang akan diikuti (boleh mengambil dua sub kategori pada kategori yang sama); Kategori Fiksi (Cerpen, Puisi) danKategori Non Fiksi (Opini, Resensi).
  3. Peserta mengirimkan naskah untuk setiap kategori yang dipilih dengan ketentuan sebagai berikut: (lihat dibawah).
  4. Akan dipilih 5 orang nominator dari tiap-tiap sub kategori dan akan diambil satu orang pemenang utama darinya.
  5. Pengumuman pemenang akan disampaikan pada tanggal 26 Juni 2011.
  6. Pemenang akan mendapatkan hadiah menarik dan piagam penghargaan eksklusif FLP Wiayah Riau.
  7. Lomba ini tertutup untuk pengurus FLP Wilayah Riau.
  8. Dewan juri; Cerpen (Bambang Kariyawan), Puisi (Ahmad Ijazi), Opini (Joni Lis Efendi), Resensi (Sugiarti).
  9. Info lebih lanjut hubungi (Humas FLP Wilayah Riau) : Sugiarti Flp Riau.

Ketentuan Katagori yang Dipilih;
  • Tema tiap-tiap sub kategori bebas (lebih disukai tema lokal).
  • Panjang tulisan: cerpen maksimal 4 halaman, puisi 1 halaman, opini 3 halaman, resensi 2 halaman.
  • Naskah diketik di kertas A4 TNR, font 12 spasi 1,5 (khusus puisi boleh bebas).
  • Naskah dikirim paling lambat tanggal 20 Juni 2011 ke email: suzie_chem03@yahoo.com dengan subjek: “Anugrah pena (sub kategori)”



Kamis, 28 April 2011

Open Rekrutmen Pengurus FLP Pekanbaru

Dari Pekanbaru untuk Indonesia
Alhamdulillah, FLP Pekanbaru selalu mendapatkan perhatian dari semua kalangan. Mulai dari kalangan mahasiswa, guru, pengusaha, hingga ibu rumah tangga. Berakhirnya masa kepengurusan Sdri Dian Cita Sari, yang tidak sedikit berkontribusi untuk kemajuan FLP Pekanbaru ini, maka dilakukanlah suksesi dengan satu niat agar FLP ini tetap berperan.

Seiring untuk melanjutkan perjuangan atas nama FLP tersebut dibutuhkan, sosok-sosok yang tidak ingin melihat FLP ini lemah. Bukan individu-individu yang merasa hebat apalagi merasa besar, tapi sosok yang dengan kelemahannya berusaha beramal dan berkontribusi di tengah kumpulan generasi robbani. Semoga

Insya Allah peluang untuk menjadi FLP ini lebih dirasakan lagi manfaatnya bagi masyarakat masih terbuka luas. Seluas FLP ini menerima rekan-rekan penulis untuk menjadi pengurus di FLP periode 2011-2013.
Untuk selanjtnya simak persyaratan dan formulir DIDOWNLOAD DI SINI
Informasi TFT DIDOWNLOAD DI SINI

Jumat, 18 Maret 2011

Dunia dalam Genggaman Yahudi

Bangsa Yahudi sejak dahulu sudah terkenal dengan kebesaran nenek moyangnya. Nabi-nabi yang besar pun berasal dari bangsa ini. Mulai dari Nabi Ibrahim selaku nenek moyang Yahudi hingga Ishaq, Yakub, Musa, Daud, sampai Isa Almasih juga dilahirkan di sana.

Hingga migrasi Yahudi ke Benua Amerika dimulai bersamaan masa revolusi dan kebangkitan Eropa, antara tahun 1815 hingga 1884. Jumlah warga Yahudi pun melewati angka 200.000 saat itu yang sudah menetap di Amerika. Sebuah keberhasilan yang fantastis pada masa itu.
Rasa percaya diri yang besar dan pengalaman sejarah perantauan, membuat Yahudi memiliki tradisi dan sikap hidup yang sombong dan semena-mena. Hingga pos-pos penting dan strategis di Amerika dikuasainya. Bahkan industria makanan yang produknya tersebar ke seluruh dunia berhasil dikuasai.

Terlebih bagaimana strategi mereka dalam menjajah tanah Palestina. Meskipun dunia internacional mengetahuinya, namun tak mampu berbuat apa-apa. Bahkan dengan kehebatannya negara-negara yang seharusnya menjadi lawan, dibuat takluk oleh Israel.

Mungkin tak pernah terbayangkan bagaimana kita menikmati makanan di KFC, Mc Donald, Coca Cola dan sejenis fast food dan makanan ringan lainnya, secara tak sadar kita telah mendanai Yahudi dalam mengasai dunia. Perusahaan-perusahaan tersebut telah mendapatkan penghargaan bergengsi dari Perdana Menteri Israel kerena sumbangannya yang tidak terbilang kecil.

Buku setebal 144 halaman ini menguak rahasia keberhasilan-keberhasilan Yahudi dalam menguasai dunia. Mulai dari bisnis makanan hingga strategi dalam menguasai politik Timur Tengah. Paparan produk-produk Israel juga disampaikan dalam buku ini, sehingga mampu memberikan kekuatan politik bagi Israel.
Rahasia Kemenangan Yahudi

Penulis : Fathoni A
Penerbit : PINUS BOOK PUBLISHER
Terbit : November, 2010
Tebal : 245 Halaman

Oleh : Muflih H. Faisal
(Aktif di FLP Pekanbaru)
Dimuat di Riau Pos tangal 13 Maret 2011.

Kamis, 17 Maret 2011

Cerpen : Tukang Cerita

Mukadimah Satu

API unggun, yang menyeruak dari onggokan ranting-ranting kering itu, menari-nari. Bagai hendak menjerat mata orang-orang agar tetap bersiduduk. Perempuan tua berkerudung wol duduk agak maju dari yang lain. Ia datang dari ceruk yang menyumpil di antara barisan Bukit Siguntang yang memunggungi langit. Tentu saja tak perlu ditanya di barisan mana ia tinggal. Hanya orang-orang datangan atau anak-anak belum terang menangkap maksud saja, yang tak mengetahuinya. Saban Kamis malam, ia selalu menunggu penduduk di tepian lereng anak bukit. Orang-orang kampung pun bagai menganggap sebuah kewajiban berkumpul di sana. Mendengarkan kisah-kisah pelepas lelah darinya. Dari Tukang Cerita, demikian orang-orang menggelarinya.Sejatinya, tukang cerita itu layak jua dipanggil Tukang Ladang. Ladangnya sangat luas dan subur. Padi, jagung, pisang, ubi kayu, buah kam, kedondong, nanas, pisang raja, pinang merah, dan keladi bagai berebutan menyeruak dari ladangnya. Konon, menyebut satu-satu dari apa-apa yang dipelihara perempuan tukang cerita itu, lama waktunya bak menanti ikan menyinggul kail yang digelayutkan satu depa di atas permukaan air. Nah, bertakjublah kalian dengan apa-apa yang ia punyai! Tidakkah si Tukang Cerita (atau Tukang Ladang) itu sangatlah kaya? Mahfumlah bila pesirah–– kepala kampung–– saja mengeret badan ikut demi mendengar (atau menghormati) ia berkisah. Atau, embusan kabar bahwa malam ini, perempuan itu akan bercerita untuk terakhir kalinya. Itu betul? Jadi, perihal Tukang Cerita yang akan meninggalkan kampung, demi menggarap ladang lain (yang ia belum tahu di bukit mana itu) adalah sahih? Mmm, dapatlah jua itu menjadi hulu perkara hingga pesirah saja berela-rela melipat silang kaki, menyilakan pantatnya berciuman dengan rumput hijau setinggi kelingking di dekat lereng bukit itu.

Mukadimah Dua

“Ladang itu warisan ibuku yang hanya seorang janda. Tapi, bukanlah ladang itu peninggalannya yang paling mahal. Caranya menggarap dan memperlakukan hasil ladanglah yang membuatku bagai dikaruniai bergununggunung mutu manikam.” Kalimat usang itu (ia mengutarakannya puluhan tahun silam) bagai mengandung semacam rahasia. Bukan magis. Namun, ada kekuatan (sekaligus pesona) yang bersembunyi di balik kabar. Terang. Lamat-lamat. Ditambah pula warna suaranya yang memang parau sengau. Lumrahlah kiranya si Tukang Cerita kerap berhenti beberapa jenak setiap mengakhiri seleretan kalimat. Orang-orang bagai disuruh berpikir, mengurai arti. Ketika ia telah memasuki kata-kata yang baru, rugilah mereka yang belum dapat menguak pintu hikmah dari tuturan sebelumnya.

Ibu yang mewarisi ladang

“Malam ini, aku akan bercerita tabiat ibuku dan ladang yang diwasiatinya padaku. Ibuku sangat rajin bekerja. Itu bukan artinya aku sering berleha-leha. Segera, setelah aku dapat berjalan dan membawa sesuatu, Ibu akan menyuruhku ini-itu. Macam-macam suruhannya. Dari pekerjaan yang memang penting hingga yang kupikir tak layak untuk dikerjakan. Pekerjaan itu semacam menyapu, mengambil air dari lembah lain yang berjarak dua bukit dari rumah kayu kami, memberi makan binatang-binatang, sampai menangkap belalang rusa. Perlulah kukatakan bahwa binatang-binatang yang kuberi makan, bukan hanya ayam, bebek, atau unggas lain yang lazim dipelihara. Aku juga menyuap burung kuwau dengan ikan seluang; menguntal––melempari untuk memberi makan––musang dengan mangga dan kedondong; dan meletakkan senampan daging kambing segar di sudut ladang yang sudah biasa harimau kunjungi bila waktu makan tiba. Bahkan, belalang rusa yang kutangkap dengan jarit tipis sering kuterbangkan di hamparan kembang sepatu yang sedang bermekar. ‘Itu memanjakan bunga, nak,’ kata ibuku. Jadi, taklah mengherankan, ketika itu, masih dijumpai lebih dari satu warna kembang sepatu dalam kanopi yang sama. ‘Belalang juga bisa menggantikan kupu-kupu menukar silang bubukbubuk bunga,’ kata ibu lagi. Dan, kalian juga mesti tahu perihal Bukit Barisan yang subur itu. Maksudku, Siguntang memanglah rumah pepohonan yang subur hijau. Namun, siapa yang tepat berkira-kira kalau empat baris bukit yang memalangi kampung ini, dulunya, sangatlah gersang!” Tukang Cerita berhenti pada tekanan suara yang sedikit mengentak.

Orang-orang seakan terhenyak. Namun, bibir mereka masih mengatup rapat. Takjub (atau heran) dengan pembukaan ceritanya yang panjang itu (tak biasanya Tukang Cerita berkisah panjang-panjang dalam satu ketukan). Beberapa dari mereka menambah puntung-puntung baru. Api unggun masih berkibar.

“Dahulu, ketika kampung ini hanya dihuni puyang (tetua; satu generasi di atas kakek nenek), hidup sangatlah tak mudah. Tanahnya tandus, airnya sulit didapat, musim dinginnya tak ramah, dan musim panasnya begitu menyengat. Bertahan hidup berarti bekerja. Dan, bekerja sangatlah keras. Bekerja keras pun bukan jaminan bahwa hidup akan baik. Panen kadang gagal, ayam bebek mati karena sakit, sayur-mayur dipatok ayam kalkun, cabe-cabe kerap mengeriting, dan pohon-pohon buah pun mandul. Dan, kalian harus tahu kalau ibuku sangatlah hebat pikirannya. Ia temukan musababnya. Ia memutuskan menjadi Sulaiman. Ia berkawan dengan binatang-binatang itu. Tentu, tadi kalian sempat bertanya-tanya perihal aku yang memberi makan binatang-binatang itu, bukan? Hehehe.”

Orang-orang tak ada yang berani ikut serta dalam kekehannya yang meremangkan bulu kuduk itu.

“Mengertilah aku. Kita hidup tak sendirian di tanah Tuhan ini. Binatang-binatang itu bukan simsalabim saja diturunkan. Pun, mereka diserakkan bukan untuk merusak ladang. Bukan! Mereka ada karena memang patut ada. Itulah taklimat alam. Aku pun tekun menyiram tanaman dan melakoni pekerjaan lainnya. Hari demi hari, aku tak lagi menganggap tugastugasku sebagai beban. Aku terbiasa. Bahkan menikmatinya.”

Orang-orang sumringah dalam diam. Air muka mereka berbicara, “Lanjutkanlah.”

“Tapi, aku sedikit tak bergairah bila ibu menyuruh mengantarkan hasil-hasil ladang pada orang-orang kampung. Mmm, itu artinya beban bawaanku tak akan berkurang.”

“Maksud Nenek?” seorang gadis memberanikan diri bertanya. Yang lain seolah dikomando, melihat ke arahnya. “Orang-orang tak ada yang mau menerima pemberian ibu Nenek?”

“Hehehe,” ia kembali terkekeh. “Bukan, cucuku. Mereka semua menerima pemberian itu. Tapi, mereka selalu tak membiarkanku pulang dengan tangan hampa. Baju kurung, seprai rajut, asbak tanah liat, kain panjang, jelapang, mereka titip untuk ibu. Padahal, telah aku sampaikan bahwa mereka tak disilakan membayar. Tapi, pandai saja mereka bersilat kata. Hadiah, demikian mereka menamainya. Jadi, kalian bayangkanlah. Bagaimana bila puluhan rumah yang kudatangi? Dan, perkara belum khatam sampai di situ.

Ketika kukabari hadiah-hadiah itu, ibu berujar, ‘Syukur pada Tuhan, anakku. Tapi, kau tahu kalau barang-barang yang mereka hadiahi ini telah kita punyai semua, bukan?’ Ia akan menatapku dengan sorot mata yang seolah ia yakin sekali bahwa aku memahami kata-katanya. Maka, pergilah aku ke kalangan yang digelar saban Kamis. Menjual barang-barang milik kami. ‘Tak elok menjual apa-apa yang orang hadiahkan pada kita. Tak berhormat. Lagi pula, tak ada ruginya menjual barang-barang yang sama rupa faedahnya dengan yang dihadiahkan orang-orang itu, nak.’ Oh, Tuhan, berjualanlah aku semua barang itu (di antaranya ada selendang kesayanganku). Dan, selalu aku yang paling awal meninggalkan kalangan. Jualananku memang paling murah. Uang hasil jualan itu kutabung separuh. Separuh lagi, sesuai petuah ibu, kubelikan penganan kecil untuk dibagikan pada anak-anak yang berkeriapan di kampung-kampung yang kulalui.”

Orang-orang menatap Tukang Cerita dengan kedipan yang berkelang lebih lama dari biasanya. Mereka khusyuk sekali.

“Suatu malam, aku pulang dalam keadaan yang sangat letih. Namun, keletihan itu menguap ketika ibu menyambutku di daun pintu. ‘Dari tadi ibu menunggumu, nak. Mari, kita santap bubur kacang hijau bersama. Ibu juga baru panen madu. Mmm, kau tahulah, bagaimana bila liur lebah itu bepadu dengan bubur buatan ibu.’ Aku bersemangat sekali. Aku sampai minta tambah dua kali. Dan, tak seperti biasanya, ibu mengantarku tidur dengan sebuah dongeng (aku lupa judulnya dan tentang apa) yang begitu elok disimak. Aku terlelap.”

“Terus, Nek!” desak seorang anak tak sabar. Diikuti yang lain.

Tukang Cerita tersenyum takzim. “Adalah pagi itu. Aku bangun ketika duha. Ibu tentu sudah tak ada lagi di dekatku. Ya, ia selalu bangun jauh lebih awal dariku walaupun tidurnya selalu kudahului. O o, ada yang tak lazim. Bukankah ibu biasanya membangunkanku untuk shalat Subuh? Aku gegas bangkit dari dipan. Syukurlah, di sudut bilik, kulihat ibu masih tertidur dengan senyum menyabit indah di wajah. Mungkin, ibu terlalu lelah, pikirku. Aku pun melakukan pekerjaan seperti biasanya. Menyapu laman, menabur jagung di kandang ayam, mengobok nasi dengan air dingin untuk bebek. Ketika kembali, ibu masih tertidur. Oh, ada yang salah!”

“Ibunya Nenek meninggal?” seseorang bertanya setengah bergumam. Tampaknya, ia sedang menahan tangis.

Tukang Cerita terdiam. Matanya basah. Dan, sesenggukan massal pun menguasai lereng bukit yang api unggunnya sudah kedip itu.

Khatimah

Entah siapa yang mula-mula menerbangkan kabar itu: Tukang Cerita dikubur!

“Apa!” “Jadi ke langit ia pergi?” “Bagaimana ia mati?”

“Ada yang membunuhnya?” “Siapa pula yang mengebumikannya?” Tanya-tanya itu bersigesek dalam benak orangorang kampung. Mereka gegas ke bukit melalui ladang yang tak alang kepalang suburnya, sebelum mendapati onggokan tanah merah basah di sebuah sudut lembah. Pada pangkal dan ujungnya, tertanam batu bujang.

Orang-orang terperangah. Bukan pada kuburan yang baru saja dibuat itu, tapi bertanya-tanya mengapa beberapa ekor harimau menciumi batu bujang kembar itu. Lalu, bagaimana mendatangi makam bagai orang-orang yang melayat.

Senyap. Tatapan orang-orang menyisir ladang di lembah bukit. Tercenung di antara perasaan ganjil yang lamat-lamat menyelinap. Bukan, bukan membayangkan bagaimana bisa binatang-binatang itu menanam Tukang Cerita dan bagaimana pula mereka melakukannya. Bukan jua mempertanyakan siapa ahli waris ladang yang paling hijau itu. Bukan itu.

“Mungkin, ibunya membuka ladang baru di sana.”

Benar atau tidaknya dugaan yang entah dari mana datangnya itu; tak urung, hati mereka bersitidak dalam tangis yang tak berbunyi—karena pedih yang menyesak.

Dan, mereka pun meninggalkan lembah. Naik turun bukit. Kembali ke rumah masing-masing. Membawa serumpun ketakjuban, ketakpercayaan, dan berhibur dengan setangkai harap. Itu bukan kuburan Tukang Cerita! Kami hakkul yaqin, Nenek hanya merantau sejenak. Lalu kembali. Bercerita lagi. Suatu hari nanti. (*)

Lubuklinggau, 23 Agustus 2009-10 Februari 2010
Benny Arnas, peraih Anugerah Sastra Batanghari Sembilan 2009.

Rabu, 23 Februari 2011

Menciptakan Tokoh dalam Cerpen

Pelaku atau character dalam cerpen merupakan salah satu dari elemen cerpen. Cerita bisa menjadi (to be) dan ada (being) karena adanya pelaku atau tokoh. Secara umum, pelaku terbagi dua yaitu protagonis dan antagonis. Dalam dongeng, kedua jenis pelaku itu tergambar nyata, misalnya dalam dunia wayang. Pandawa adalah kelompok pelaku protagonis (tokoh baik - putih) dan Kurawa pelaku kelompok antagonis (tokoh jahat - hitam). Tokoh-tokoh serupa juga dapat kita jumpai dalam sinetron yang kini mendominasi layar tivi
Indonesia.

Tokoh Bulat
Untuk menulis cerpen yang baik, tokoh hitam-putih tidaklah relevan. Sebab, yang ditulis bukanlah dongeng, melainkan refleksi peristiwa kehidupan. Seperti yang kita ketahui, orang-orang sekitar kita, termasuk diri kita sendiri adalah bukan semata-mata sebagai antagonis atau protagonist. Melainkan, paduan keduanya. Dalam teori creative writing, tokoh paduan antagonis dan protagonis disebut 'tokoh bulat' (rounded character). Sehingga tokoh tersebut punya dua sisi, antara yang baik dan yang buruk.

Untuk membentuk 'tokoh bulat' diperlukan dinamika pembentukan watak si tokoh melalui konflik yang disajikan dalam cerita. Dinamika pembentukan watak bisa terwujud menarik dan logis, jika di-plotting lebih dahulu. Plotting ini meliputi: pembentukan awal karakter, mendaki ke klimaks cerita hingga anti klimaks.

Cari Model
Penciptaan tokoh yang menggunakan model (ambil contoh seseorang atau lebih yang ada di sekitar kita), akan lebih mudah penyajiannya, dibandingkan dengan tokoh yang murni diciptakan. Tapi, jika pengarang punya idola di dalam benaknya - telah tergambar tokoh seperti apa yang diinginkannya, maka tokoh seperti ini akan mudah terhadirkan.

"Saya mulai mengarang dengan menciptakan para pelakunya, lengkap dengan watak-wataknya. Ini merupakan awal seorang pengarang melangkahkan pensilnya di atas kertas - menuliskan karyanya." Demikian kata sastrawan Amerika Serikat Wiliam Faulkner. Ia mengambil model orang-orang sekitarnya, sebagai sumber inspirasinya. Khususnya, orang-orang yang tertindas hak-haknya. Hal serupa dilakukan pula oleh sastrawati Afrika Selatan, Nadine Gordimer. Hasilnya? Tokoh-tokoh yang mereka hadirkan benar-benar mewakili masyarakat yang diceritakan dalam karyanya. Dengan demikian, karya-karya mereka begitu terasa hidup dan teresapi.

Pahlawan dan Monster
Tokoh berwatak pahlawan dan tokoh berwatak monster banyak disajikan dalam cerita komik atau cerita pop. Tokoh berwatak pahlawan lazimnya dipuja dan tokoh monster dibenci pembaca. "Saya selalu berusaha menciptakan tokoh bersosok hero, tapi berhati monster," kata Stephen King, pengarang cerita bertema gothic yang cukup laris. Yang dimaksud hero di sini adalah
bersosok tampan, gentleman dan mempesona. Dengan demikian, tokoh jahat tidak selalu dihadirkan dengan sosok atau fisik yang buruk seperti tokoh Rahwana dalam seri Ramayana.

Stephen King - meskipun bukunya sangat laris, ia tidak termasuk kategori sastrawan. Karena karya-karyanya lebih banyak dibumbui khayalan, sepertihalnya karya cerita pop pada umumnya. Tapi ia punya kelebihan, piawai dalam menciptakan tokoh dengan perwatakannya yang meyakinkan pembacanya. Misalnya, dalam karyanya yang berjudul Misery - tidak hanya
sebagai buku laris tapi juga film sangat laris. Rahasianya? Ia padukan antara watak pahlawan dan monster.

Potret Diri
Susan Sontag, sastrawati Amerika Serikat yang juga wartawati ini mengaku menciptakan tokoh untuk novel-novelnya bersumber dari diri sendiri. Maka ia sebut, sebagai potret diri - watak, sosok dan pengalaman hidup. Memang itu sangat terbatas. Ia melengkapinya dengan mengambil model orang-orang sekitarnya. Baginya, 'potret diri' lebih meyakinkan dan logis untuk diterima
pembacanya. Tapi, itu bukan berarti membuka rahasia diri, melainkan - menurut istilahnya: mengekspresikan diri.

Pramoedya Ananta Toer, sastrawan kita, menciptakan tokoh-tokoh dalam karya-karyanya banyak diambil dari tokoh-tokoh sejarah yang dibaca dan ditelitinya. Misalnya, Ken Arok dan R.A. Kartini. Sehingga tokoh-tokoh yang ditampilkannya memiliki 'api' - bukan sekadar tokoh rekaan.

Nama dan Tokoh
Dalam teori creative writing, pelaku/tokoh untuk karya fiksi tidak harus manusia. Apa saja bisa dijadikan pelaku, tapi harus dimanusiakan (dijadikan manusia). Para pelaku yang kita ciptakan harus diberi nama, walau nama itu misalnya hanya sebutan saja: Si Gendut, Si Kurus atau Si Kacamata - disesuaikan dengan fisiknya. Iwan Simpatupang melakukan itu, untuk menyebut para pelaku dalam karya-karyanya (baca novel Iwan, antara lain Kering atau Merahnya Merah).
Nama tokoh yang ideal, sesuai dengan latar belakangnya: suku/ras, budaya dan agama. Misalnya untuk gadis Jawa banyak yang diberi nama Sri, Endang, Astuti dan Kus. Gadis Sunda dinamai Euis, Iis, Neneng dan Eti. Sedangkan gadis-gadis dari keluarga muslim diberi nama Aisyah, Nurul dan Siti.

Beda lagi dengan gadis Minang, gadis Manado, gadis Cina atau gadis Barat. Seiring dengan lajunya globalisasi, kini nama-nama tersebut di atas perlahan-lahan lenyap, tergantikan dengan nama Barat: Grace, Anne, Jane, Florence dan sebagainya. Anak laki-laki banyak yang dinamai Kevin, Roy, Ryan, Brian, Brandon, Luke dan sebagainya. Latar belakang suku, ras, agama
dan budaya tergilas oleh nama Barat. Kaitannya dengan dunia menulis fiksi, nama-nama Barat tersebut kini banyak digunakan pengarang muda untuk tokoh-tokoh ciptaannya.

Tokoh, Nama dan Sinetron
Pengaruh sinetron tidak hanya berdampak pada gaya hidup dan gaya bicara para remaja kita, akan tetapi juga menukik ke dunia menulis fiksi. Ini terbukti, dari 100 cerpen karya remaja yang diikutikan dalam Lomba Menulis Cerira Remaja (LMCR) yang diselenggarakan PT ROHTO-Rayakultura sejak lima tahun yang lalu, 80%-nya menyajikan tokoh dengan nama yang sama dari sinetron yang mereka tonton. Baik itu nama pemain sinetronnya atau nama pelaku yang ada di sinetron. Misalnya nama Nyla, Keisha, Sila, Mawar, Melati, Luna Maya, Bintang, Roy, Ryan, Kikan, Edo, Azam, Tithan dan sebagainya.

Apa akibatnya?
Akibatnya, cerita yang mereka tulis menjadi cair dan aneh. Karena, cerita itu menjadi tidak punya akar latar belakang yang jelas: suku/ras, budaya dan agama. Juga, tidak memunculkan watak para pelaku dengan utuh. Padahal peran tokoh dalam cerita adalah pembawa misi inti cerita yang disajikan.* (Oleh: Naning Pranoto)