Sabtu, 06 November 2010

30 Besar Lomba Puisi FTD

Nominasi 30 Besar Lomba Puisi Forum Tinta Dakwah FLP Riau
(Urutan Acak) download

Kriteria penilaian:
1. Kesesuaian tema dan visi misi pihak penyelenggara
2. Estetika (kekuatan diksi, metafor dsb)
3. Pesan

Keputusan juri dan panitia mutlak tidak dapat diganggu gugat, selamat kepada para nominator, Anda berhasil bertahan diantara lima ratusan lebih peserta lomba. Harap kirimkan email Anda kepada panitia. Terimakasih.

Salam Hormat kami:
Forum Tinta Dakwah FLP Riau
Forum Lingkar Pena FLP Wilayah Riau

1. AKU KEMBALI.
Riyawati (Semarang)

Kucari ikhlas di dinding-dinding semesta
Hanya gelap yang tersisa
Langkah kaki menembus misteri
Entah.

Hingga suatu hari Tuhan bercerita pada malam sunyi
Ikhlas ada dalam relung hati
Kau temukan
Ketika kau cari.

Aku berlari
Menyambut cahaya di lorong tak berpenghuni
Pekat.

Kugali dindingnya
Dian menunggu semburat.

Aku kembali.

2. CINTA TAK BERWUJUD
Deris Afriani (Palembang)

Cintaku tak bernama,
Ketika ia ditandai bahasa kalbu, dan terpaku dalam ruang khusyuk.
Cintaku tak bertuan,
Ketika ia direngkuhi lingkar lembut cahaya-Nya.
Cintaku pun tak ber-ingin,
Ketika sepenggal nafas terakhir adalah persembahan.
Sebab,
Cintaku tak berwujud,
Melainkan sebuah keranda mengusung syahid ; aku.

3. PELANGI
Iman Safri Lukman

Kurasa Tuhan kita tak butuh puisi
Bukan hanya kita takkan pernah bisa
Menciptakan rima, serupa Tuhan memberimu tujuh warna
:karena siapa yang bisa menandingi sang Maha Indah

Pelangi…
Perkenankan kulukis cinta
Meski baitku takkan seperti langit yang diciptakan
:Tempatmu bergantung bersama awan


4. RINDU TUHAN
Alimuddin (Aceh)

Suntuk semalam berluruhan hujan
Namun dingin tiadalah menyekap
Sebab lahan dada
Ratusan derajat dipenjara panas

Tuhan,
Tuhan,
Dimanatah?

Maka di pagi sedikit cahaya
Kutemukan Tuhan di langit panjang—Di mana kupu-kupu berias
Maka,
Kulepas sangkar hati pada bedaru pagi
Aku bersembahyang tiada reda

5. KALA BUNGA MEMBUSUNG
Airin Nisa (Tangerang)

Bunga merekah puas
Kelopaknya melipir di udara

Rupa elok, tangkai menggenggam
Siap menghambur serbuk sari
Mempersembahkan bibit kehidupan

Wahai serdadu serangga, jamuan sudah matang

Ia membusung,
“Lihatlah aku, ciptaanMu.
Begini indah aku, apalagi diriMu”

Rayuan sang bunga dihembus bayu,
Melebur nafas para makhlukNya.

6. KEPADA MALAIKAT SUBUH
Bening Sanubari (Jakarta)

esok
saat matahari masih terbuai di ayunannya
bisakah engkau bisikkan pada Izrail ‘tuk tangguhkan penjemputanku?
sebab rindu sederhana yang ku sajikan padaNya belum usai ku racik

engkau tahu
: aku tak ingin mendua
hanya ingin bersamaNya saja

berkenankah engkau menyampaikannya?

7. JEJAK
Mukhanif Yasin Yusuf (Purbalingga)

di sepanjang rel menuju gerbang firdausi
aku sua jejak-Mu yang mulai melipat

tentang ranum kamboja yang menyeruak di sekujur taman-Mu
akasia gugur saat musim gugur berguguran
lembayung dzikir hilang saat hijab mengelupas bait-bait senja

Robi'ah...
oh, robi'ah.....
ku tafakhumkan mahabahmu
dalam rangkaian kelam sujudku
pada-Nya

8. PENANAM TASBIH
Amaturrasyidah (Bogor)

Seperdelapan hari,
Siluet masih senang melukis bayang para penanam di tiap gigir usia.
Tuhan belum lelah memagari rumah-rumah
Maka segeralah berkemas menaburi tanah
Mengulang jarak tiap mili
sedekat nadi.
Panen saja paru-paruku esok,Tuhan
hembus yang tak pernah lelah menuruni dan menaiki angin
lirih;
Mengulang-ulang namaMu.

9. SUDUMU, ALLAH
Qur'anul Hidayat Idris (Semarang)

kuperuk candu rindu pada-Mu
di tanah purna-punah menyetuju
kita menerpal sesal
menggali seteguk
bersudu liang rumah
sudahkah siap menemu
candu
di hutan sanggrah
Akuan Robbi
:ruh

Sudumu, Allah
beriku seteguk rindu

10. MUARAKU PADA AR-RAHMAN
Mariyam (Medan)

Cintaku asing mengadu
Berfantasi menggamit kesunyian
Atas hati yang menancapkan gema-Mu di semenanjung Ar-Rahman
Jika terhampar serdadu - serdadu zaman
Meramu intrik menggelitik
Aku masih bersitegak merimbun dzikir hingga gelak ombak menggenangi sajadah takdir

Cintaku tak berjelaga
Tak menyurut walau senja bergulat di ufuk utara

11. HARAPAN
Bobby Selfian P (Sidoarjo)

Ya Rahiim, singgahi cintaMu dihatiku
Laksana cinta anak-anak Palestin padaMu
Berwujud batu segenggaman ditangan mungilnya
atau selongsong peluru ditubuh kurus mereka
Serta banjir darahnya ditanahMu Ya Rabb, Al-Quds.

“Namun, apa aku mampu?” batinku.
Menciptakan puisi di lima waktuMu pun kadang aku luruh.

12. MUARA DI EMPAT MUSIM
Sahda Nuansa (Malang)

Mengenal-MU telah kubaca
gugurnya daun, bunga semusim itu
Saat kuranumkan keangkuhan lalu
Engkau meluruhkannya
dengan musim cinta lain
untukku.

Untuk mengenal-MU,
Telah kuikuti aliran sungai meranggasi lembah dan perkotaan
Yang kadang beku dan memasap
Hingga tiba di muara
bersama daun, bunga yang terbawa
Muara keghofuuran-MU.

13. PADA RAKA’AT
Rafif Amir

Pada detik pertama perjumpaan itu
Aku mengeja takbir
Tubuhku menggigil

Lalu pada sujud rindu
Yang kubentang antara wajahku dan wajahMu
Meniadakan jarak ku-Mu

Sementara itu
Khusukku menjadi batu
Memanggil syair-syair airmata melompat bersama doa

Pada larik terakhir perjumpaan
Salamku terbata-bata
Menutup sua yang tak kunjung sempurna

14. BELAJAR SEMBAHYANG
Gendut Pujiyanto

bertakbir mula bibir
sasap menggema mengalir
dalam keluasan baitullah
hati

Basmalahku memulai kalam
menyampaikan beribu salam
mula kesabaran
benih kepasrahan
ikhlas tuaian

puja di kelapangan istighfar
mengingat mula kembali

melelap padang terbentang
gurun tak lagi gersang
bersahutan tembang
melukis asmaMu dipenantian panjang

15. AKU HENDAK BERTANYA
Abdul Salam HS (Banten)

Aku hendak bertanya pada mata senja
Yang menyalak dengan gelombang
Dan debur cintaku yang bergetar
Dari warna kuningnya yang menyimpan
Serpihan akan keteduhan perahu-perahu tua
Yang teronggok dan bertahun-tahun
Membisukan diri

Adakah perapian cintaku menyala
Dan membakar ayat-ayat langitmu
Yang membentang

16. SEKERAT CINTA SEKERANJANG DUSTA
Muna Masyari(Jawa Timur)

Setelah siang meminang
Maharkan selendang berpayet pualam
Leherku terlilit

Malam kini kuputuskan pulang, Kekasihku…
Menenteng sekerat cinta
Dan sekeranjang janji iftitah yang talah kudusta
Janji hidup dan mati; cinta Kita

Pasung aku, Kekasihku!
Agar siang jera merayu
Dan cinta-Mu tak kuselir seribu

17. SESAYAT AYAT RIWAYAT
Muhammad Haddiy

Segelas airmata doaku menggelombangkan didihan alun rindu ke sepanjang akar manusiaku yangberduri kesunyian matahari
Hingga aku makin berdarah di puncak buncahan matabadai yang kau serahkan sebagai kalam agung
Dan di ketinggian doa ...malamku, kuselami kausebagai mata air air mataku
18. SYAIR SENJA
Muhimmah
Kutuliskan sajakku pada langit memerah
yang mendongengkan kabar-kabar kematian
hingga kutemukan diriku
Sepi.

Jika awan telah berkumpul hari ini
berilah aku kesetiaan hujan pada bumi
merangkaikan nada-nada kehidupan
urat nadi tanah yang mengering

Cakrawala luruh di langit senja
Kubisikkan sebait kata
Adakah Kau jawaban segala cinta

19. RUBAIYAT YANG MENABUR, MERAPAL-MU
A. Ganjar Sudibyo

jauh ke dzikir lain, ke tengah rindu
ada sesuatu berkacaka-kaca
melempar kutuk-dosa yang bisu
mencium maaf dan taubat dari bibir sorga

di ladang sujud kami yang randu
sesuatu itu telah lama pecah
menjelma rapal paling syahdu
cintaMu, penabur kabut kepada tanah basah

20. DI SEBUAH PERJAMUA
Wening Wahyu N

sekali peristiwa,
kureguk secawan anggur yang Kau suguhkan di perjamuan
lalu, aku mabuk, menceracau doa-doa
merapalkan dizikir mawar
dan pada kata-kata yang berlesatan
aku semakin tak berdaya
sebab tubuhku diluruhkan seteguk air cinta-Mu

21. DALAM I’TIKAF DI RUBIA’AT TENGAH MALAMKU
Kholil Aziz

Biar ku titipkan rindu ini lewat dawai sujud tengah malamku
Bersama riak angin di rubi'at syahdu malam kelabu
Rinduku barangkali hanyalah isyarat dalam bingkai masa lalu
Imaji yang mengaliri disetiap degup jantungku adalah murah-Mu
Maka ku pasrahkan seluruhnya dalam hidupku; i'tikaf keheningan

22. ZIARAH PETANI
Moh. Mahfudz AF

ziarahku pecah
dari rindu ke tanah
sungai-sungai mengapung
seperempat desa. menari
"itulah kenapa sawah seperti anakku"
tanpa hari
tiap lumpur sawah
hingga kecipak cangkul
terus kuhujani do'a
meski pakaian
tak mengakrabi tubuhku
keringat hanya
menjelma do'a-do'a
alangkah indah hidup
meski seorang petani
"al-hamdulillah"

23. DI PUNCAK MANIK*
Riyan Ibayana

Di Puncak Manik, langit dan awan mendzikirkan nama-MU
Semilir angin menukik, meraba tubuhku yang kerdil di depan keluasan-MU
Tuhan, tariklah aku menjadi bongkahan batu yang tegar diterpa musim
meneguhkan rakaat-rakaat.

Di sini akan kukapak kesombongan.

24. MERANGGAS
Salman Lubis

Rinduku meranggas
Bersua kemarau
Luka yang cadas
Merentas
Di ranting embun yang melepuh
Jatuh di lembah curam
Menyudahi sedu
Melarung sumpah
Di sedan pagi’Mu

25. SYUKUR CINTA
Haden Mulyono

Khusyuk, Dalam redup
Pada selembar sajadah anyir yang duka
Yang dibentang pada padang darah termurka

Jika kau bertanya tentang jaya dan rasa tenang?
Takkan pernah bertukar
Pada kilau semesta
Pada hamparan gelar mulia
Hingga kerlingan bidadari jelita

Meski jelma langkah bermuara petaka
Tetaplah rinduku, hanya pada-Mu

26. REQUIEM KESUNYIAN
Dwi S. Wibowo

Sesekali singgahlah di ruang terdalam sajakku
Hingga suara-suara riuh memanggili nama-Mu

Dan sesudahnya, akan segera kita mengerti
Tentang siapa yang belajar kehilangan lebih dulu.

27. PUNCAK SEGALA RINDU
Lukman Hakim AG

kau dan aku beradu kencang
bertarung riak dan gelombang
seperti alir segala air
yang menjadikan hilir
ke Muara Akhir
di Titik Takdir

kita pun tiada
seperti api yang mengasap.
asap yang lesap
karena angin lindap

28. MENGAPA KATA ADA BATASNYA
Nazar Shah Alam

MemujaMu kupikir
Tak cukup kata-kata
Sedang hujan dan badai
Api dan rinai
Kau kirim bergantian
Mana kata puji pantas kujulurkan?

MenyintaiMu kurasa
Ah, mengapa kata-kata ada batasnya
Sedang cinta begitu luas
Aku ingin menyembahMu saban waktu
Dan memujaMu melebihi jumlah kata, padahal

29. PADA JARAK LUH*
Eko Triono

kita tulis
...sajak-sajak cinta ini berkali
berkali pada jarak luh*

bertanda
alamat langit

penjaga hutan alfasia di bukit Nur
mengiris
keringat insomnia dzikir;

doa majenun

dan iktikad
buruk di sela urat tasbih
paniti jati, jatining agesang**

30. AKU SEBAGAI PERENANG
A’yat Khalili

Selalu seperti alunan dzikir ini
Aku pun menjadi telah tertakdir
Merindu pohon-pohon tetap basah dan keteduhan.
Sebab sekali menyelam sembahyang, aku ingin mampu bertahan
di palung-palung terdalam. Mengalirkan rakaat-rakaat. Melayari lagi samudra doa
di mana dahulu, masih kulihat jelas tarian cahayaMu
dalam palung jiwaku…