Rabu, 27 Oktober 2010

Bilik Sastra di Pustaka Soeman HS

Perpustakaan Soeman HS telah menjadi salah satu ikon kebanggaan Provinsi Riau. Di dalamnya terdapat sejumlah literatur yang cukup lengkap dengan judul-judul buku bernuansa Melayu. Literatur-literatur ini tersimpan dalam ruangan khusus yang dikenal dengan sebutan Bilik Melayu

Bilik Sastra menyimpan sejumlah literatur Melayu dari sejumlah bidang, baik itu tulisan-tulisan yang berkaitan dengan karya sastra, budaya, sejarah, sosial, pariwisata, pemerintahan, arsitektur, hingga koleksi buku cerita rakyat. Bahkan, ada juga ada karya tulis yang diserahkan langsung oleh pengarangnya. Dari bilik ini, pengunjung bisa mendapatkan sekitar 4.000 koleksi buku tentang kebudayaan lokal dan nasional.

"Bagi saya Perpustakaan Soeman HS ini kampus kedua saya. Saya lebih mudah menemukan referensi sastra disini. Tempatnya nyaman untuk membaca, hingga kadang sampai lupa waktu," Ujar Eka salah seorang mahasiswa sastra yang duduk di salah satu perguruan tinggi di Pekanbaru.

Bilik Melayu memiliki koleksi karya tulis terbitan Riau atau hasil karya orang luar yang membahas kekhazanahan melayu. Baik berupa skripsi, laporan, artikel, dan buku.

Ada juga salinan naskah kuno dalam bentuk himpunan tulisan untuk duplikasi naskah aslinya. Bagi penggiat sastra, Bilik Melayu seperti ruang inspirasi. "Saya katakan ini adalah bilik inspirasi. Pengunjungnya tak begitu ramai, jadi menambah kenyamanan saya untuk mencari inspirasi," ujar Faisal yang meminati dunia sastra.

Hari Libur, Pelajar Ramai Kunjungi Pustaka Soeman HS

Bagi pelajar yang tinggal di Pekanbaru, Pustaka Soeman HS adalah wadah yang tepat untuk menjadikan sarana belajar. Selain punya lokasi yang strategis dan nyaman Pustaka Soeman HS dilengkapi dengan buku-buku pelajaran lebih dari 5000 koleksi dari berbagai penerbit. Sangat ramai bila saat jam kunjung hari liburan.

Hal inilah yang menyebabkan kalangan 'kutu buku' begitu betah berjam-jam untuk membaca, mencari referensi atau sekedar meminjam buku. Selain pelayanannya yang memuaskan pengunjung akan lebih berlama-lama dengan adanya WiFi area. Hingga bila hari libur sekolah pengunjung meembludak hingga 5000 pengunjung.

"Pengunjung pada umumnya kalangan pelajar dan mahasiswa. Kita bisa melihat kalau hari libur terutama siang hari cukup ramai sekali. Jadi Perpustakaan ini kita harapkan benar-benar dapat bermanfaat bagi mereka," kata Salim salah seorang pegawai di Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Riau, Ahad (24/10).


Senin, 25 Oktober 2010

Pengumuman FTD (Wajib Baca!)

Pengumuman 70 Besar Nominasi Lomba Puisi Forum Tinta Dakwah FLP Riau 2010

Assalamualaikum Wr.Wb
Tak ada niat yang paling utama di hati kami menyelenggarakan lomba ini melainkan semata-mata bagi tersyiarnya sastra Islam di dunia maya. Betapapun indahnya sebuah karya sastra tanpa diselipkan padanya sebuah manfaat yang kekal hingga ke akhirat kelak, niscaya ia akan menjadi hal yang sia-sia.

Puisi adalah media untuk memuji kebesaran dan kekuasaan Tuhan. Jadikan setiap goresan tak hanya berbuah prestasi, tapi ada nilai berkah dan pahala. Oleh sebab itu hal utama yang harus kita lakukan adalah PERBAIKI NIAT mengikuti lomba ini. Niat yang ikhlas karena Allah niscaya tak akan pernah membuat kita putus asa. Meskipun nama kita tidak tertera di bawah ini, jika niat kita karena Allah tentulah akan ada manfaat yang luar biasa.

Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim berikut kami umumkan 70 besar nominasi lomba puisi FTD FLP Riau 2010 (Urutan acak). Untuk kriteria penilaian akan kami umumkan pada pemilihan nominasi 30 besar awal November mendatang.

Salam karya penuh manfaat.
Panitia Lomba Puisi Forum Tinta Dakwah FLP Riau 2010

1. A. Ganjar Sudibyo
2. Alimuddin
3. Amaturrasyidah
4. Iman Safri Lukman
5. Kholil Aziz
6. Moh. Mahfudz AF
7. Muhammad Haddiy
8. Muhimmah
9. Muna Masyari
10. Quranul Hidayat Idris
11. Riyan Ibayana
12. Salman Lubis
13. Wening Wahyu N
14. Mariyam
15. Rafif Amir
16. Abdul Salman HS
17. Airin Nisa
18. Mukhanif Yasin Yusuf
19. Riyawati
20. Deris Afriani
21. Ayyesha Khaulah Nusaibah
22. Eros Rosita
23. Dony P. Herwanto
24. Na Lesmana
25. Diannafi
26. AF Kurniawan
27. Bening Sanubari
28. Inda Nugraha Hidayat
29. Faisal Syahreza
30. Aji Wibowo
31. Maulana Hadisona
32. Adyani Sultani
33. Bobby Selfian P
34. Reno Hanjarwady
35. Sahda Nuansa
36. Gendut Pujiyanto
37. Julian Khairul Al-Hafidz
38. Nero Taopik Abdillah
39. A’yat Khalili
40. Afrida Arfah
41. Andi ME Wirambara
42. Asyari Muhammad
43. Awan Tenggara
44. Bang Pras
45. Dwi S. Wibowo
46. Eka Diyah A
47. Eko Triono
48. Haden Mulyono
49. Hery Abdul AlGhoffar
50. Ihsan Subhan
51. Lukman Hakim AG
52. Rinaldi a Thal
53. Pringadi Abdi Surya
54. Suly Bungsu Kasmaja
55. Zulkifli Songyanan
56. Fahrur Rozi Atma
57. Husen Arifin
58. Nazar Shah Alam
59. Toni Lesmana
60. Maya Rinaluziati
61. Dalasari Pera
62. Shinta
63. Muhammad Rusydi
64. Fany Cahya Ning Tyas
65. Untaian Cinta di Atas Sajadah (anonim)
66. Fevrianti Ika Dewi
67. Abdul Khafy Syatra
68. Rizky Bagoes Alam
69. Fauziah Harsyah
70. Kiananara

Tertanda,

Panitia

Sabtu, 23 Oktober 2010

Anarkisme Bukan Ikon Gerakan Mahasiswa

PEKANBARU - Kecenderungan anarkisme yang mewarnai aksi mahasiswa dalam 1 tahun terkahir bukanlah icon dari gerakan mahasiswa, melaikan icon gerakan preman. Gerakan mahasiswa pada dasarnya sebuah gerakan intelektual yang bersifat visioner dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Gerakan yang anarkis justru akan menurunkan citra bangsa Indonesia sendiri. Tidak mungkin mahasiswa melakukan anarkisme dalam aksinya terlebih dahulu tanpa ada pemicunya. Demikian dikatakan ketua KAMMI Pusat Rijalul Imam S Hum MSi kepada Riau Mandiri, Kamis (21/10). Menurutnya perlu objektifitas bersama dalam menentukan siapa yang memicu terjadinya anarkisme dalam aksi. "Dalam setiap rapat persiapan aksi dengan gerakan mahasiswa lain pun dari yang pernah saya alami, bahwa tidak ada agenda untuk bersikap anarkis itu sendiri. Justru yang ada dilapangan ada pihak tertentu yang menyusup ke dalam barisan dan sengaja memprovokasi terjadinya kericuhan," jelasnya usai mengisi Talk Show Nasional Kammi Daerah Riau di Aula Rektorat UR.

"Icon gerakan mahasiswa adalah intelektual. Nggak mungkin membangun Indonesia ini dengan anarkisme. Saya sarankan kepada gerakan mahasiswa, kita perlu menjaga kekompakan dalam mengkritisi masalah yang terjadi di bangsa ini. Tapi mahasiswa juga tidak boleh mentolerir anarkisme itu sendiri. Saya ingin katakan bahwa anarkisme bukan berasal dari mahasiswa. Anarkisme di jalan bagian dari rekayasa pihak tertentu. Jadi kepada pihak yang dikritisi jangan membungkam gerakan kritis mahasiswa dengan cara-cara seperti itu," ungkapnya.

Sementara itu umumnya masyarakat masih menilai bahwa aksi tidak akan menyelesaikan masalah. Rijal berpendapat bahwa aksi adalah bagian dari pembentukan karakter bangsa. "Mahasiswa-mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa. Salah satu cara pembangunan karakter bagi mahasiswa yakni turun ke jalan. Sebab seseorang yang vokal di forum, belum tentu di jalan berani menyuarakan aspirasi, atau berhadapan dengan polisi, dikejar-kejar anjing dan sebagainya. Maka calon pemimpin itu harus terlatih, baik di forum ataupun luar forum," tambahnya.

Pemimpin Harus Berani Mengambil Resiko

Lebih lanjut Rijal menjelaskan ada 4 karakter yang dibutuhkan bangsa ini dalam membangun bangsa yang bermoral. Pertama visioner, yakni cara pandang yang tidak terjebak dari masa lalu dan tidak terjebak dengan realitas kekinian. Yang kedua berani, bangsa ini membutuhkan orang-orang yang berani mengambil resiko dan tidak takut pula dengan resiko, tapi juga tidak nekad. "Berani inilah yang memunculkan nilai-nilai kedaulatan," tegasnya.

"Ketiga, Naturalisme. Yakni spirit dari ke-bhinnekaan dan keragaman. Biarkan karakter itu muncul natural dan tidak dominasi dengan iklan atau citraan yang bertujuan untuk mempertahankan kekuasaan, agar masyarakat nantinya bisa meneladani pemimpinnya. Dan ke empat, yakni karakter keberpihakan. Karakter yang dibutuhkan oleh pemimpin sekarang. Harus jelas keberpihakannya kepada siapa," tandasnya.

Rijal mengambil contoh ketegasan negara Jepang dalam menolak masuknya produk dari Amerika, dengan tujuan ingin melindungi produksi dalam negerinya. "Nah, Indonesia sebaliknya. Produk luar negeri masuk terus menerus. Sementara kita diminta untuk mencintai produksi dalam negeri. Coba kita tanyakan mana produksi dalam negeri kita? Lantas produk dalam negeri yang mana ingin kita cintai? Bagaimana produk dalam negeri mau hidup bila produk luar terus diimpor. Inilah bukti ketidakberpihakan pemerintah kepada bangsa ini. Keberpihakan dalam konteks kebangsaan ini, saya definisikan sebagai sikap nasionalisme. Kita pertanyakan sikap nasionalisme pemerintah," tutupnya.

Selain Rijalul Imam yang hadir sebagai pembicara Talk Show yang mengangkat tema "mewujudkan pemimpin yang berkarakter untuk membangun bangsa Indonesia yang bermoral", hadir juga sebagai permbicara yakni Prof Dr Firdaus LN MSi (Akademisi Riau), dan Jefry Noer (Anggota DPRD Riau). Talk Show ini dalam rangka pembukaan pelaksanaan Dauroh Marhalah II oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Riau, yang digelar dari tanggal 21 hingga 24 Oktober 2010. mg16/RM