Senin, 23 Agustus 2010

Agama Untuk Sebuah Peradaban

Banyak orang beragama, namun tak tahu ke mana arahnya. Sebagiannya memuja kepuasan jiwa. Mereka ‘uzlah dari lingkungan masyarakatnya, menyepi dalam kelambu-kelambu suluk. Tenggelam dalam dzikir mengingat Dzat Tuhannya, mencapai ‘isyq yang membuat mereka tak lagi hiraukan dunia. Ohoi, ternyata mereka lupa, bahwa Dzat yang sedang mereka sembah itu telah memperingatkan, bahwa kelakuan yang demikian hanya akan membuat mereka terhina. Seperti juga kata seorang ulama, ‘Laa takun tarbiyata ruhiyyah firaaran min takallufi syar’iyah !’, (jangan kau jadikan latihan spiritualmu menjauhkan dirimu dari kewajiban syari’ah). Kewajiban menghimpun kompetensi dalam aura keshalihan. Kewajiban sosial kemasyarakatan, kewajiban berjama’ah, kewajiban bermu’amalah.“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia….” (Ali Imran: 112)

Golongan lainnya, beragama dengan akalnya saja. Luar biasa pengetahuan mereka, Al-Qur’an dan hadits pun berhasil dihapalkannya. Namun mereka ibarat keledai yang tak tahu benda apa yang sedang dipikulnya. Di tangan mereka, agama menjadi khazanah intelektual semata. Agama menjadi bahan perdebatan di forum-forum ilmiah, menjadi konsepsi-konsepsi riuh pengisi ruang-ruang seminar. Habis itu hampa, tiada tahu hendak berbuat apa. Mereka lupa memfungsikan hatinya, padahal hati adalah instrumen jiwa. Lahum quluubun laa yafqahuuna bihaa, mereka dikaruniai hati, namun tak kunjung faqih dengan hatinya itu.

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (Al Jumu’ah: 5)

Ada pula golongan selanjutnya. Bagi mereka agama adalah pelengkap status kebangsaannya, karena konon di negerinya tak boleh hidup orang yang tiada beragama. ISLAM, tertulis jelas di lembar kartu identitas mereka. Manusia menuliskan pula huruh ‘H’ sebelum menggoreskan namanya. Tapi orang-orang ini buta hati dan lemah ilmu. Segala larangan Sang Khaliq dilanggarnya, perintah dan anjuran dinafikannya. Kalaulah Ibnul Qayyim menuliskan dalam Jawabul Kafi-nya soal penyakit syubhat dan syahwat yang menjadi akar kesesatan manusia, maka mereka inilah penderita akut kedua-duanya. Mereka tak kenal dengan kebenaran, sehingga tegur-sapa jiwa mereka hanya dengan nafsu dan keinginan.

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (Al Furqan: 43)

Lantas bagaimana kita mesti beragama. Di mana mulanya dan mana titik penghabisannya? Sungguh agama (ad-din) itu semuara dengan kata ad-dayn (hutang). Maka kehidupan beragama harusnya diawali dengan rasa berhutang kepada Allah SWT. Betapa besar karunia-Nya, betapa luas ampunan-Nya, betapa sabar Ia menyaksikan kemungkaran yang diperbuat hamba-hamba Nya. Resapilah dalam-dalam bahwa kita memang membutuhkan Allah. Ah, rasanya tak mampu kita menyebutkan satu persatu nikmat dan karunia-Nya yang telah kita rasa. Rasa berhutang inilah yang kemudian melahirkan ketundukan, kepatuhan, kepasrahan. Lantas raga ini pun jatuh tersungkur ke bumi, bersujud dalam jutaan tasbih, tahmid, takbir dan milyaran istighfar atas kealpaan kita.

Perasaan tunduk ini tak boleh dibiarkan hidup sendiri. Ia harus menjadi akal kolektif bagi seluruh umat manusia, minimal sebagian besar mereka. Dan ketundukan tersebut harus diorganisir agar produktif, bukan menjadi kerumunan yang sia-sia. Maka ia butuh dayyan (pemimpin). Pemimpin dengan perasaan terhutang paling besar terhadap Tuhannya, pemimpin yang paling khusyu’ hatinya, paling luas ilmunya, mendalam kepahamannya, paling lurus dan tajam pandangannya. Pemimpin yang kuat, jujur, adil, amanah. Pemimpin seperti Rasulullah Al-Amin, yang menunaikan amanah dengan penuh iman, sehingga terbitlah perasaan aman.

Kafilah keshalihan ini kemudian membutuhkan pula peta, agar jelas jalannya. Agar mereka tidak masuk ke dalam jurang, tidak sesat di persimpangan jalan, ataupun hilang di gelap malam. Maka mereka butuh ad-din (tata aturan), butuh syari’at yang lengkap dan jelas. Sinar yang menerangi jalan mereka, menunjukkan tujuan terakhir perjalanannya dan menjelaskan di titik mana mereka harus berjalan, berhenti atau berlari. Itulah Al-Quran, itulah sunnah, itulah pula gunanya sirah (sejarah perikehidupan Rasulullah SAW).

Pengejawantahan syari’at tentu perlu ruang dan waktu. Mestilah ada lahan yang tersedia untuk menyemai bibit keshalihan itu, dan ada rentang masa yang cukup untuk memberikan kesempatan pada musim untuk silih berganti menempa tumbuhnya sehingga dewasa. Itulah yang kita sebut sebagai madinah (kota). Pada skalanya yang lebih luas, bolehlah ia disebut sebagai negara. Di sana semua keshalihan di alam pikiran tertuang dalam ruang kenyataan. Di sana semua idealita dibenturkan dengan realita. Di sana hikmah dan kebijaksanaan mewujud dalam keadilan dan kesejahteraan. Maka di sana pulalah momen sejarah akan ditancapkan. Karena sejarah, sebagaimana dituturkan filsuf besar Islam asal Aljazair, Malik Bennaby, memang dibentuk sebagai paduan yang harmoni antara unsur-unsurnya: manusia, tanah dan masa.

Paduan dari keseluruhan konsepsi-konsepsi tersebut: perasaan tunduk kepada Rabb pencipta semesta, yang dibingkai dalam kepemimpinan yang berlimpah hikmah, berjalan di bawah bimbingan aturan dari langit, dan mewujud pada tata pemerintahan yang berkah, bertemu dan berkelindan pada sebuah kata : tamaddun, peradaban. Itulah misi riil kita dalam kita beragama. Shina’atul hadharah, membangun peradaban di atas pondasi keimanan. Peradaban yang berada di bawah bimbingan dan naungan Allah SWT, peradaban yang membukakan jalan keselamatan, jalan yang menghubungkan bumi dengan Jannatul Firdaus yang tinggi. Peradaban yang membuat bumi menjadi surga sebelum surga.

Ya Allah, jadikanlah kami anak-anak zaman yang bermain dan bercengkrama di taman peradaban Islam. Amien….

Andree,M.A.
Da’i, Sosiolog