Senin, 17 Mei 2010

Lawa; Sebuah Ekpektasi Cinta yang Riuh

1. Prolog
Sebuah senyum mengulas dari bibirku saat mengakhiri kisah ini (baca; Lawa). Barangkali seindah senyum Markoni menatap Lawa saat pertama kali mereka berjumpa. Atau, mungkin seperti senyum Bunda Taman Bungo kepada Lawa, saat menimang cucunya. Atau mungkin juga tidak bisa disamakan dengan senyum para tokoh yang gelisah dalam Novel Saidul Tombang ini.

Kalimat-kalimat terakhir dalam novel ini, benar-benar mampu menjawab kegelisahan saya sebagai pembaca. Perhatian saya benar-benar sudah ditarik pada kesimpulan akhir novel “Lawa” ini. Sekalipun tidak secara detail diceritakan, namun sedikit-banyak bisa menjelaskan ke mana arah akhir ceritanya. Perhatian itu adalah, langsung kepada ending yang terbilang a melancholy happines.
Saidul Tombang benar-benar membuat keputusan yang sulit untuk diterima oleh sebagian tokoh lain. Ini membuktikan bahwa seorang Saidul Tombang mampu mengecoh pembaca dalam menebak ending cerita tersebut. Awalnya memang Markoni terkooptasi oleh paradigma masyarakat yang mengatakan bahwa, adalah aib bila berumah tangga tanpa anak. Tapi pada bab terakhir kerisauannya terjawab sudah. Lawa-lah penjawabnya. Dan itu sebenarnya kata kunci ke mana arah ending cerita tersebit.
Novel ini adalah benar-benar sebuah cerita yang sumbang – senada yang diungkapkan Marhalim Zaini pada endorsement novel ini. Juga merupakan sebuah keresahan Saidul Tombang. Resah bila novel ini tidak diselesaikan. Meskipun dengan sebuah keputusan yang akan menyakitkan bagi Za dan membangkitkan kemarahan Mamak Sidin. Sumbang yang dimaksud adalah bentuk cerita cinta yang saling tarik-menarik antara satu dengan yang lain. Sehingga itu membuat resah Markoni.
Penulis terus terang sangat apresiatif terhadap kisah cinta yang sumbang ini. Sebab kisah percintaan kerap kali tidak pernah basi ditulis dalam sebuah novel. Selalu ada bahan yang bisa dianyam menjadi sebuah kisah percintaan. Dan itu entah sampai kapan akan berakhir. Sebab selalu ada cinta dalam setiap zaman. Apa lagi novel tersebut ditulis dengan background history, lengkap dengan dialek local, yakni Kampar, mampu membawa pembaca mengikuti kisah cinta klasik yang melankolik.
Begitu juga yang dialami Lawa (Siti Jailawa) dalam novel Saidul Tombang ini. Kisah cinta lawa yang rumit adalah sebuah cara Saidul Tombang mengaduk emosi pembaca. Namun, hadirnya wanita yang mengaku Tiara dalam perjalanan ke Mahat – lebih tepatnya pelarian – seakan mengalihkan perhatian pembaca kepada Jailawa. Tapi sesungguhnya penulis memprediksikan bahwa Tiara adalah Siti Jailawa itu sendiri. Ini dikuatkan ketika banyak kemiripan yang ditemui Markoni sepanjang perjalanan. Meski kenyaninan itu tidak sampai 100 %. Dan ungkapan, “Mengapa Tuan tak pernah membaca tanda-tanda? Apakah mata Tuan sudah mati dan buta seperti hati yang tuan punya? Adalah sebuah tanda, yang menunjukkan siapa sebenarnya Tiara.
Awalnya saya – terus terang – tidak menyukai atas kehadiran Tiara dalam novel ini. Seakan novel ini membuat sumbang. Karena seakan mengaburkan sebuah cerita saja. Namun, setelah saya selesai membaca novel ini, kehadiran wanitia yang mengatasnamakan Tiara, memang seperti itulah seharusnya.
Cerita cinta dalam novel lawa ini, berlatar belakang history. Tepatnya kira-kira berlatar-belakang tahun 45-an sampai 55-an. Ini tergambar jelas dari mulai masuknya tentara Jepang dan juga Belanda. Diceritakan dengan kondisi dan situasi yang masih rumit. Kehidupan yang susah penuh ancaman peperangan. Dan digambarkan betapa pentingnya status berkeluarga pada saat itu.


2. Tokoh dan Setting
Tokoh : Markoni (laki-laki yang dilanda percintaan rumit), Siti Jailawa (wanita yang sudah menjanda yang dinikahi Markoni dan menyamar sebagai Tiara), Zahra (wanita Muaro yang sudah hampir menikah dengan Markoni anak mamak Sidin), Mamak Daud (Orang tua angkat Markoni di Poro), Mamak Sidin (orang tua Zahra, mamak markoni),Tiara (wanita yang jelek yang tidak lain adalah Lawa), mak Etek Ijum (mak angkat Markoni di Tanjung), Leman (teman markoni di Mahat), Mak Tusi (Istri Kepala kampung saat bermalam di Kumontang), Tuk Bomo (dukun yang mengobati Tiara), Jufri (Laki-laki yang membantu dagangan Markoni saat tinggal di Poro), Pak Tolib (Pejuang yang juga pernah di tangkap di kamp Salo).
Setting : Mahat, Muaro (Kampung suami Tiara), Poro, Kampung Tanjung, Kumontang, Salo, Rantau, Batu Bersurat, Kampar.

3. Apresiasi
Terus terang saya menyukai novel yang berlatarbelakang lokal. Dan novel ini mempunyai latar cerita di tanah Melayu, Kampar dan sekitarnya. Ini barangkali yang menajadi pilihan Saidul Tombang yang juga terlahir di Kampar. Sebab penulis novel akan mudah dalam menguraikan kisah yang sarat dengan muatan lokal, yang tidak lain adalah (termasuk) kampung halamannya sendiri.
Saidul T menjadikan tokoh Markoni adalah tokoh yang terlanjur masuk dalam wilayah adegan yang membingungkan. Sebab situasi yang digambarkan dalam kisah tersebut menjadi salah satu pemicunya. Sehingga penokohan Markoni cukup kuat dalam novel ini.
Dalam memutuskan ending cerita tersebut, ada yang menjadi pertanyaan saya, yakni apakah semudah itu Mamak Sidin, Zahra memaafkan Markoni yang sudah berumah tangga selama tujuh tahun, sehingga mereka berniat akan melanjutkan pernikahan? Apakah mungkin tradisi di Mahat seperti itu? Ini yang belum teriris oleh mata pisau analisa saya. Perlu ada alas an kuat secara logika dalam menjawab pertanyaan itu.
Tapi, bagaimanapun juga Saidul Tombang mempu mengaduk emosi pembaca dan membuat penasaran sedemikian rupa dengan plot yang maju mundur itu. Dan ternyata penulis novel Lawa tersebut mampu menyimpan espektasi pembaca. Hingga sampai akhirnya espektasi itu terjawab pada akhir cerita. Apalagi sedikit banyak kita mendapat pengetahuan akan hokum-hukum perkawinan.
Dialek lokal yang cukup banyak, membuat pembaca mengenal dan menambah perbendaharaan kata. Bagi saya yang juga (sedikit-banyak) mengenal kata-kata lokal tidak menyulitkan dalam memahami. Apalagi di bagian akhir dilengkapi dengan glosarium. Sehingga mempermudahkan pembaca dalam memahami kata-kata lokal dalam novel ini.
Dan yang terakhir, Saidul Tombang harus meminimalisir dan arif dalam memuat adegan “intim”. Sebab cerita yang diangkat sarat dengan kearifan melayu. Dikhawatirkan akan menodai harkat melayu itu sendiri. Masih banyak kata-kata lain yang lebih arif untuk digunakan.
Semoga!
Oleh : Muflih Helmi