Senin, 24 Mei 2010

Jangan Rampas Masa Depan Mereka!

“Pak, minta duet!” seorang anak berseru kepada sepulangku dari kampus.
Dunia anak-anak, adalah dunia yang paling menyenangkan. Ceria, tertawa, bahagia, senang, dan indah. Mereka yang masih polos, menyenangi apa saja yang menjadi perhatiannya. Karena dunianya adalah permainan, apa saja yang ia hadapi adalah bahan baku untuk dijadikan mainan. Gelas, sendok, piring, sepatu, sarung, bantal, botol, hape, pisau, gunting dan masih banyak lagi. Hal ini terkadang yang membuat sebagian kalangan sedikit jengkel dibuatnya. Apa tidaknya, perlengkapan yang seharusnya dalam kondisi baik, tapi harus disingkirkan dari rumah atau masuk ke gudang karena tidak layak pakai lagi. Itu kalau akibat ulah anak-anak, meskipun tidak semua.
Kita juga masih merekam kisah-kisah kita waktu kecil dahulu. Masa-masa yang indah itu. (Hoho apakah sekarang tidak ada masa indah lagi?) Bila dahulu kita disayangi, sekarang ini kita lah yang menyayangi. Sangat jauh sekali perbedaannya. Zaman dimana mereka mulai tumbuh sangat kontas dibanding dengan zaman kita tumbuh. Perbedaan itu jelas adanya. Bila zaman kita cendrung kuno, tadi di zaman mereka adalah zaman serba digital. Zaman yang tak perlu main bola lagi di lapangan. Zaman yang tak perlu jalan kaki ke sekolah. Zaman yang serba instan, mewah, penuh warna-warni.
Karena anak juga lahir dari rahim yang berbeda, tetap saja selalu perbedaan itu. Kehidupan masing-masing anak tetap saja tidak sama. Kebahagian dan masa anak-anak itu tetap saja dirampas oleh zaman. Kehidupan yang keras justru sudah menjadi bagian kehidupannya. Tak jarang dari mereka yang menjadi korbannya. Di usianya yang dini itu, mereka harus menghidupi keluarganya, meninggalkan bangku sekolahnya. Sementara haknya untuk mendapatkan pendidikan, masa depan dan lain sebagainya pupus sudah. Eksploitasi anak bukan menjadi permasalahan yang baru lagi hari ini.
Ada beberapa faktor yang menurut saya, anak sebagai korban eksploitasi zaman. Pertama, foktor keluarga. Keluarga yang lemah secara ekonomi, salah satu penyebabnya. Patut disayangkan bila ini terjadi. Adalah anak yang mempunyai keluarga – yang seharusnya dilindungi – justru menjadi penopang kehidupan keluarganya. Permasalah tersebut akan menjadi berantai bila tidak diputus dari faktor itu. Pola pikir yang berubah akibat kerasnya kehidupan, biasanya akan dijadikan refensinya kelak ketika mereka telah berkeluarga. Kecuali memang kehidupan ekonomi mereka lebih baik. Tapi itu bukan suatu garansi.
Kedua, foktor pendidikan. Dalam hal ini sekolah harus menjadi perekat antara anak dan orang tua. Pendidikan yang dijadikan kurikulum di sekolah seharusnya bisa membentuk pola pikir yang bersifat konstruktif. Sehingga pola pikir anak yang tadinya suka meminta-minta menjadi pikir yang konstuktif kontributif. Meskipun ini memang pekerjaan berat dan membutuhkan waktu yang lama.
Ketiga, faktor (pihak) pemerintah. Pemerintah seharusnya tidak setengah-setengah dalam memberantas kemiskinan. Sebab akar masalah tersebut salah satunya adalah kemiskinan. Pemerintah melalui dinas sosial dan LSM harus punya program yang jelas dan efektif dalam menyelesaikan masalah tersebut. Menyelamatkan anak-anak dari eksploitasi yang semakin akut ini.
Anak-anak adalah generasi yang akan meneruskan dan meluruskan bangsa ini. Seakan kita telah lupa kalau mereka akan menggantikan kita. Tiga elemen di atas seharusnya bisa lebih serius dan sinergis dalam mengembalikan atmostir anak-anak yang telah dirampas zaman menjadi dunia yang penuh bahagia dan kasih sayang. Agar mereka tak menjadi manusia yang lemah dalam berfikir, menikmati masa kebahagiaan mereka, dan tersenyum menyambut masa depannya yang lebih baik. Menjadi generasi yang ramah, bermoral, sopan, jujur, cerdas, integritas, mapan, peduli dan agamis.
Anak ibarat “buluh” yang bisa dibentuk bila dilenturkan dari “rebung”nya. Perhatian kita sejak dini terhadap anak, adalah harta yang tak ternilai dari kita. Amal jariyah yang akan membentuk mereka insane robbani. Bukan lagi menjadi insan yang meminta, tapi justru memberi. Semoga!
Oleh : Muflih Helmi



Rabu, 19 Mei 2010

Tarik Menarik Ide Cerita

Saya merasakan ide dan cara penyampaian pemikiran dalam sebuah karya sastra sekarang, cendrung bebas dan berbeda-beda. Atau barangkali hal semacam ini baru saya sadari setelah kaki saya benar-benar telah masuk ke “rumah sastra”, dan saya belum mengenal betul apa isi “rumah sastra” itu sendiri. Paling tidak yang saya rasakan ini adalah sebuah kegundahan pemikiran saya sebagai pendatang baru dalam dunia literasi akan hal itu.Munculnya perbadaan dalam konteks penyajian sebuah karya sastra; novel, cerpen, puisi dan kerabatnya, menurut saya bermula dari ego penulis. Kenapa saya katakan demikian? Kita selami terlebih dahulu masing-masing konteks dan tidak perlu banyak. Misalnya cerpen. Ketika saya mengenal cerpen waktu di sekolah dasar wajib 9 tahun dulu, yang saya pahami sebuah cerpen harus mengandung unsur tokoh, alur, latar, konflik, klimaks, amanat dan ending (kalau salah mohon dibetulkan).
Dan sekarang saya melihat (atau mungkin karena waktu itu adalah pelajaran sastra yang sangat dasar sekali, ya?) unsur-unsur tersebut, tidak mutlak digunakan. Misalnya cerpen yang tertulis dalam buku (kumpulan cerpen terjemahan) Salju Kilimanjaro, karya Ernest Hemmingway. Di sana hanya memuat cerpen yang jauh dari espektasi pembaca. Misalnya, ending yang biasa saja, tidak ada konflik, dll. Dan tidak itu saja yang saya temukan. Masih banyak cerpen yang justru sangat minim sekali konflik, amanat, penokohan dan lainnya, dan itu bukannya ditulis oleh penulis pemula. Tapi ditulis oleh penulis “top”.
Kembali ke ego penulis tadi. Munculnya hal-hal demikian penulis mencoba memaparkan sebab-musababnya, meskipun hanya sebatas subjektifitas saya. Pertama, penulis ingin punya karakter tersendiri. Ini adalah salah satu yang diinginkan penulis, ketika ia harus membuat sebuah karya sastra, adanya karakter dalam tulisannya. Sebab penulis ingin punya style yang beda dengan penulis lain. Artinya memang penulis tidak ingin dikatakan karyanya mirip dengan penulis lain. Bisa-bisa nantinya “di-cap” penulis yang plagiat.
Kedua, ideologi penulis. Tidak banyak memang yang mengetahui tentang hal ini. Tapi yang jelas ideologi menulis sangat berpengaruh besar pada style tulisan. Ketiga, apa ya? Anda mungkin punya jawabannya? Ingin tampil beda, aja? Bisa jadi. Sekarang zamannya suka beda-beda. Jadi tidak ada salahnya kita juga mesti beda membawakan sebuah karya. Kalau kebanyakan cendrung membawakan dengan gaya vulgar. Maka - karena kita ingin tampil beda - kita bawa dengan gaya yang lebih vulgar. Ups..maksudnya full god. Karya-karya yang sarat akan makna.
Demikian juga dengan sebuah ide cerita. Semakin hari ide cerita semakin variatif. Sampai-sampai kita tidak menemukan si-dia (ide cerita, red). Saya juga tidak tau kemana perginya. Mungkin sudah siap-siap ikut bersama Ibu Sri Mulyani ke World Bank, setelah adanya isyarat pemakzulan buat dirinya. Lho kok jadi nggak formal gini tulisannya. Em.. nggak pa lah. Kembali!
Demikian juga ide cerita. Ada yang mengangkat tema sederhana, ringan, berat (seberat apa ya?). Nah, ini yang jadi tantangan. Cerita seperti apa yang akan diangkat, dan supaya tidak dikatakan “klise” cerita itu? Ini memang sulit. Dan proses kita mencari itu justru akan memunculkan ide-ide yang baru. Ide yang lebih kreatif, dan tentunya bisa diterima juga layak dikonsumsi oleh pembaca.
Itulah sebuah realitas yang hari ini kita temukan. So? Tulisan kita mau dibawa ke mana?

Teratai 2010
Muflih Helmi



Senin, 17 Mei 2010

Lawa; Sebuah Ekpektasi Cinta yang Riuh

1. Prolog
Sebuah senyum mengulas dari bibirku saat mengakhiri kisah ini (baca; Lawa). Barangkali seindah senyum Markoni menatap Lawa saat pertama kali mereka berjumpa. Atau, mungkin seperti senyum Bunda Taman Bungo kepada Lawa, saat menimang cucunya. Atau mungkin juga tidak bisa disamakan dengan senyum para tokoh yang gelisah dalam Novel Saidul Tombang ini.

Kalimat-kalimat terakhir dalam novel ini, benar-benar mampu menjawab kegelisahan saya sebagai pembaca. Perhatian saya benar-benar sudah ditarik pada kesimpulan akhir novel “Lawa” ini. Sekalipun tidak secara detail diceritakan, namun sedikit-banyak bisa menjelaskan ke mana arah akhir ceritanya. Perhatian itu adalah, langsung kepada ending yang terbilang a melancholy happines.
Saidul Tombang benar-benar membuat keputusan yang sulit untuk diterima oleh sebagian tokoh lain. Ini membuktikan bahwa seorang Saidul Tombang mampu mengecoh pembaca dalam menebak ending cerita tersebut. Awalnya memang Markoni terkooptasi oleh paradigma masyarakat yang mengatakan bahwa, adalah aib bila berumah tangga tanpa anak. Tapi pada bab terakhir kerisauannya terjawab sudah. Lawa-lah penjawabnya. Dan itu sebenarnya kata kunci ke mana arah ending cerita tersebit.
Novel ini adalah benar-benar sebuah cerita yang sumbang – senada yang diungkapkan Marhalim Zaini pada endorsement novel ini. Juga merupakan sebuah keresahan Saidul Tombang. Resah bila novel ini tidak diselesaikan. Meskipun dengan sebuah keputusan yang akan menyakitkan bagi Za dan membangkitkan kemarahan Mamak Sidin. Sumbang yang dimaksud adalah bentuk cerita cinta yang saling tarik-menarik antara satu dengan yang lain. Sehingga itu membuat resah Markoni.
Penulis terus terang sangat apresiatif terhadap kisah cinta yang sumbang ini. Sebab kisah percintaan kerap kali tidak pernah basi ditulis dalam sebuah novel. Selalu ada bahan yang bisa dianyam menjadi sebuah kisah percintaan. Dan itu entah sampai kapan akan berakhir. Sebab selalu ada cinta dalam setiap zaman. Apa lagi novel tersebut ditulis dengan background history, lengkap dengan dialek local, yakni Kampar, mampu membawa pembaca mengikuti kisah cinta klasik yang melankolik.
Begitu juga yang dialami Lawa (Siti Jailawa) dalam novel Saidul Tombang ini. Kisah cinta lawa yang rumit adalah sebuah cara Saidul Tombang mengaduk emosi pembaca. Namun, hadirnya wanita yang mengaku Tiara dalam perjalanan ke Mahat – lebih tepatnya pelarian – seakan mengalihkan perhatian pembaca kepada Jailawa. Tapi sesungguhnya penulis memprediksikan bahwa Tiara adalah Siti Jailawa itu sendiri. Ini dikuatkan ketika banyak kemiripan yang ditemui Markoni sepanjang perjalanan. Meski kenyaninan itu tidak sampai 100 %. Dan ungkapan, “Mengapa Tuan tak pernah membaca tanda-tanda? Apakah mata Tuan sudah mati dan buta seperti hati yang tuan punya? Adalah sebuah tanda, yang menunjukkan siapa sebenarnya Tiara.
Awalnya saya – terus terang – tidak menyukai atas kehadiran Tiara dalam novel ini. Seakan novel ini membuat sumbang. Karena seakan mengaburkan sebuah cerita saja. Namun, setelah saya selesai membaca novel ini, kehadiran wanitia yang mengatasnamakan Tiara, memang seperti itulah seharusnya.
Cerita cinta dalam novel lawa ini, berlatar belakang history. Tepatnya kira-kira berlatar-belakang tahun 45-an sampai 55-an. Ini tergambar jelas dari mulai masuknya tentara Jepang dan juga Belanda. Diceritakan dengan kondisi dan situasi yang masih rumit. Kehidupan yang susah penuh ancaman peperangan. Dan digambarkan betapa pentingnya status berkeluarga pada saat itu.


2. Tokoh dan Setting
Tokoh : Markoni (laki-laki yang dilanda percintaan rumit), Siti Jailawa (wanita yang sudah menjanda yang dinikahi Markoni dan menyamar sebagai Tiara), Zahra (wanita Muaro yang sudah hampir menikah dengan Markoni anak mamak Sidin), Mamak Daud (Orang tua angkat Markoni di Poro), Mamak Sidin (orang tua Zahra, mamak markoni),Tiara (wanita yang jelek yang tidak lain adalah Lawa), mak Etek Ijum (mak angkat Markoni di Tanjung), Leman (teman markoni di Mahat), Mak Tusi (Istri Kepala kampung saat bermalam di Kumontang), Tuk Bomo (dukun yang mengobati Tiara), Jufri (Laki-laki yang membantu dagangan Markoni saat tinggal di Poro), Pak Tolib (Pejuang yang juga pernah di tangkap di kamp Salo).
Setting : Mahat, Muaro (Kampung suami Tiara), Poro, Kampung Tanjung, Kumontang, Salo, Rantau, Batu Bersurat, Kampar.

3. Apresiasi
Terus terang saya menyukai novel yang berlatarbelakang lokal. Dan novel ini mempunyai latar cerita di tanah Melayu, Kampar dan sekitarnya. Ini barangkali yang menajadi pilihan Saidul Tombang yang juga terlahir di Kampar. Sebab penulis novel akan mudah dalam menguraikan kisah yang sarat dengan muatan lokal, yang tidak lain adalah (termasuk) kampung halamannya sendiri.
Saidul T menjadikan tokoh Markoni adalah tokoh yang terlanjur masuk dalam wilayah adegan yang membingungkan. Sebab situasi yang digambarkan dalam kisah tersebut menjadi salah satu pemicunya. Sehingga penokohan Markoni cukup kuat dalam novel ini.
Dalam memutuskan ending cerita tersebut, ada yang menjadi pertanyaan saya, yakni apakah semudah itu Mamak Sidin, Zahra memaafkan Markoni yang sudah berumah tangga selama tujuh tahun, sehingga mereka berniat akan melanjutkan pernikahan? Apakah mungkin tradisi di Mahat seperti itu? Ini yang belum teriris oleh mata pisau analisa saya. Perlu ada alas an kuat secara logika dalam menjawab pertanyaan itu.
Tapi, bagaimanapun juga Saidul Tombang mempu mengaduk emosi pembaca dan membuat penasaran sedemikian rupa dengan plot yang maju mundur itu. Dan ternyata penulis novel Lawa tersebut mampu menyimpan espektasi pembaca. Hingga sampai akhirnya espektasi itu terjawab pada akhir cerita. Apalagi sedikit banyak kita mendapat pengetahuan akan hokum-hukum perkawinan.
Dialek lokal yang cukup banyak, membuat pembaca mengenal dan menambah perbendaharaan kata. Bagi saya yang juga (sedikit-banyak) mengenal kata-kata lokal tidak menyulitkan dalam memahami. Apalagi di bagian akhir dilengkapi dengan glosarium. Sehingga mempermudahkan pembaca dalam memahami kata-kata lokal dalam novel ini.
Dan yang terakhir, Saidul Tombang harus meminimalisir dan arif dalam memuat adegan “intim”. Sebab cerita yang diangkat sarat dengan kearifan melayu. Dikhawatirkan akan menodai harkat melayu itu sendiri. Masih banyak kata-kata lain yang lebih arif untuk digunakan.
Semoga!
Oleh : Muflih Helmi




Kamis, 06 Mei 2010

Mahaguru dan Bahasa

SEPEKAN lalu saya mencatat tiga peristiwa yang berkaitan dengan kebahasaan. Pertama, rendahnya angka kelulusan siswa dalam Ujian Nasional untuk Bahasa Indonesia; kedua, pengukuhan Mahaguru Yusmar Yusuf di Rektorat Universitas Riau; dan ketiga, panel diskusi dengan tema ‘’Revolusi Pendidikan Lewat Tulisan’’, yang diselenggaraka oleh Forum Lingkar Pena Riau di Rektorat UIN, Riau, dengan menghadirkan panelis dua orang penulis ternama, Afifah Afra dan Muthmainnah.Bahasa Indonesia agaknya tidak mudah? Bukankah Bahasa Melayu adalah cikal bakal Bahasa Indonesia? Tetapi, Amerika Serikat pun di tahun 1970-an pernah mengalami masa-masa suram, ketika para siswanya memperoleh nilai yang rendah untuk Bahasa Inggris yang menjadi bahasa ibu mereka.

Laporan Newsweek 2 Desember 1991 dengan judul ‘’The Best Schools in The World’’ makin memperjelas betapa pendidikan AS jauh ketinggalan dari sejumlah negara. Selandia Baru terdepan pada nomor satu dalam pelajaran membaca dan menulis. Di Selandia Baru, 50 persen waktu belajar di kelas-kelas awal SD digunakan untuk pelajaran membaca dan menulis (Dedi Supriadi, 1999: 60).

Masalah bahasa ini menjadi serius manakala dikaitkan dengan kemampuan membaca dan menulis, dalam arti kemampuan mengekspresikan pemikiran dalam bentuk tulisan. Dan menjadi amat serius bila dihubungkan dengan kemampuan verbal pada umumnya anak didik kita. Idealnya seorang siswa harus memiliki kemampuan yang baik dalam membaca dan menulis serta memiliki kemampuan yang baik pula secara verbal.

Kemampuan itu akan menjadi modal yang sangat baik dalam pengembangan kapasitas sebagai calon-calon pemimpin di masa depan. Bila kelak, mereka tampil sebagai seorang pemimpin sungguhan, pada level apapun, mereka tidak akan kesulitan mentransformasikan ide-idenya.

Dewasa ini banyak masalah yang timbul dan kemudian berkembang menjadi aksi kekerasan, salah satu penyebabnya adalah karena miskinnya komunikasi. Dan itu masalah verbal ability. Tulisan yang ditulis oleh seorang pemimpin memperlihatkan kadar akademis sekaligus kontrol bagi sang pemimpin. Mengerjakan apa yang ditulis dan menulis apa yang dikerjakan, tentu sangat bagus dalam aspek akuntabilitas.

Prof Yusmar Yusuf memperlihatkan betapa peran bahasa dengan kemampuan verbal mumpuni bisa menjelaskan banyak hal sensitif menjadi sesuatu yang rasional dan mudah dicerna, dan tidak perlu ada yang merasa tersinggung. Dalam orasi pengukuhan yang menyentak-nyentak dan meronta-meronta selama hampir dua jam, Prof Yusmar Yusuf menyadarkan kita dalam banyak hal.

Secara kebetulan, ketiga peristiwa tersebut berlangsung dalam suasana peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2010. Barangkali tidak berlebihan bila dalam momentum peringatan Hari pendidikan Nasional ini kita melakukan sedikit kontemplasi tentang bahasa dan penulisan.

Pujangga pemenang Nobel sastra, Gabriel Garcia Marquez, berpesan, ‘’cara terbaik seseorang dapat menjalankan revolusi adalah tulisan sebaik yang dapat dia lakukan.’’ Tidak pun menggerakkan sebuah revolusi, tulisan membuat hidup lebih puitis. Verba volant scripta manent. Apa yang diucapkan akan diterbangkan angin, tapi apa yang ditulis akan abadi. ***
Komentar