Sabtu, 03 April 2010

Enam Tahun Jadi Penyiar Radio

Liputan GP (4/4). Meskipun sebagai ibu rumah tangga, tak menghentikan tekadnya menjadi penyiar radio. Setidaknya itulah yang dialami Riesa (38). Sejak 2004 Riesa telah resmi menjadi penyiar di salah satu radio swasta di kota Batam. Radio SHAFA yang mengudara di frekuensi 103,5 Mhz. Apalagi karirnya itu didukung oleh sang suami. Warga Batam yang sehari-hari yang mendengarkan radio Shafa sangat akrab dengan suara mbak Riesa. Ia mengaku kalau ia kebanjiran fans karena suaranya dianggap merdu. “Fans, lumayan lah. Ada yang sejak 2004 sampai sekarag, setia mendengar suara saya. Katanya suara saya merdu,” paparnya via fb. Ditanya mengenai suka duka selama menjadi penyiar, wanita yang pernah menjalani pendidikan di UIR ini mengaku cukup banyak. “Saya memang ibu rumah tangga, tapi saya punya konsekuensi dengan suami. Jika saya dibutuhkan dikantor suami atau di masyarakat, saya tidak akan mengabaikan tanggungjawab saya,” ujarnya.

Ibu yang punya hobi membaca ini biasanya menyiar mulai jam 9 sampai 10 pagi sampai jam dua belas siang, di acaranya Rentak Suri. “Membahas masalah budaya melayu, kehidupan orang melayu, sejarah melayu, dan seputaran masalah budaya lainnya,” katanya sesaat setelah selesai siaran. “Tapi nanti malam jam 9 sampai 10 siaran lagi, bawa acara Malay Rock 80an. Di mana kita buka talian sms dan telpon. Yang mau minta lagu, bisa sms atau telepon langsung,” tambahnya.

Sebelum tahun 2004, Ibu yang bekerja di radio yang punya motto Radio Keluarga Penyejuk Kalbu ini, sebelumnya adalah seorang MC yang tampil di mana-mana di kota Batam. Keinginannya untuk menjadi penyiar terwujud berkat suaranya yang bagus, hingga ia diangkat sebagai penyiar radio yang beralamat di Asrama Haji Otorita Batam, Gedung Arafah lantai 2 Batam Kepulauan Riau.

Ia mengungkapkan kalau menjadi seorang penyiar itu harus profesional. “Tidak boleh suasana hati mempengaruhi siaran. Walaupun sedih harus tetap ceria di udara,” ungkapnya berbagi pengalaman. (Helmi)