Selasa, 02 Maret 2010

Padang Ilalang di Belakang Rumah: Sebuah Memoar Nh.Dini

Sebuah karya sastra selalu menawarkan justifikasi dari imajiner kita dari tulisan yang kita baca. Justifikasi menghendaki objek, karena dari objek itulah relevansi kepentingan kita dikuatkan. Di sini justifikasi dipertemukan dengan realitas dan pandangan hidup pembaca. Pertemuan itulah yang menghadirkan suasan ; marah, risau, sedih, riang, lega dan seterusnya.Realitas dari “Padang Ilalang di Belakang Rumah” adalah sebuah cerita dari keadaan yang sebenarnya – sejarah penjajahan Jepang di Indonesia – dengan melibatkan “aku” langsung pada novel ini. Yakni pada saat “aku” masih sangat belia dan masih mengenal dunia sebatas anak-anak. Tapi harus hidup pada zaman yang mengancam.
Novel yang sederhana ini mengangkat sebuah kisah Dini kecil yang hidup pada sebuah zaman penjajahan. Keluarga yang merupakan satu-satunya atmosfir pertamanya sebelum melongok dunia yang sebenarnya, menjadi benteng yang kokoh sebelum ia tumbuh besar dan lepas.
Kehidupan di keluarga tersebut, pada hakikatnya adalah sebagian kecil dari representatif kehidupan yang sebenarnya. Di lingkungan keluarga ia senantiasa mengenal nilai-nilai kepribadian, interaksi, mengenal lingkungan, kedisiplinan, kasih-sayang, pendidikan, kebudayaan dan lain-lain. Tidak itu saja, ia mengenal ketakutan, sakit hati, dendam, olokan, marah, hukuman, darah, mayat dan lain sebagainya.
Dari novel ini, pembaca akan senantiasa diajak menyelam ke zaman penjajahan. Betapa kerasnya kehidupan pada saat itu. Digambarkan bahwa kehidupan – ekonomi, politik, keamanan akibat perang – serba sulit. Sampai-sampai diceritakan mereka hanya memakan seadanya. Seperti nasi jagung, beras yang sudah berulat, dan makanan yang beresiko pada kesehatan. Satu-satunya sumber kehidupan mereka yang bisa menghidupi mereka adalah kebun di belakang rumah.
Pada “Padang Ilalang di Belakang Rumah” ini – secara tidak langsung – mengungkap realitas kehidupan yang serba susah, dan penuh dengan ketakutan yang selalu mengintai setiap saat pada zaman itu. Tapi, seakan dari realitas itu digambarkan kesadaran kaum terpelajar punya tanggung jawab dalam membebaskan tanah kelahiran mereka dari belengu penjajahan. Penjajah yang semula menjadi guru mereka, hingga pada suatu saat harus menerima perlawanan dari anak didiknya. Dukungan dari rakyat terus mengalir, meskipun nyawa harus menjadi taruhannya.
Dalam novel seri Cerita Kenangan ini Nh. Dini, hanya menyelipkan sedikit realitas keadaan yang terjadi sebenarnya pada novel ini. Tidak menjadi objek utama Nh. Dini. Tapi berpengaruh pada objek yang difokuskan Nh. Dini, yakni kehidupan keluarganya. Penulis mengakui bahwa novel ini mampu mangupas dua kehidupan dalam satu alur cerita, dan mungkin saja lebih. Tapi, sudah selayaknya seorang penulis mampu menyingkap sisi lain yang menjadi objek justifikasi pembaca. Pembaca tidak hanya dibawa untuk “tinggal” bersama keluarganya, tapi juga seperti “hidup” pada zaman penjajahan Jepang.
“Padang Ilalang di Belakang Rumah” merupakan sebuah sudut pandang cerita yang bisa dimaknai oleh pembaca sebagai sebuah latar yang menjadi perhatian Nh. Dini. Dari sini konflik itu dimulai, ketika tentara Jepang datang dianggap sebagai pelindung bagi rakyat pada waktu itu. Dari sana pula Dini kecil mulai mengenal belalang, daun ilalang, ular, pepohonan, sungai, burung jalak, putri malu, sampai desingan peluru yang membuat seisi keluarga ketakutan.
Dalam ketakutan itu mereka digambarkan keluarga mereka sangat kompak, saling melindungi, amanah, dan anak-anak patuh kepada orang tua. Meskipun kehidupan pada zaman itu sulit, justru memperlihatkan idealisme mereka. Dengan menjual kue, dan juga membuat pesanan batik mereka menghidupi diri. Jiwa entrepreneurship begitu tumbuh di kalangan keluarganya. Dengan begitu, mereka bisa memberikan sarapan pagi untuk anak-anaknya. Apalagi tokoh utama kala itu masih sangat belia. Masih mutlak membutuhkan perhatian orang tuanya dari segi pangan, dan belum tau dalam menyikapi realitas hidup.
“Ketidaktau-an”nya juga dalam novel ini seakan secara tidak langsung juga menyampaikan akan semangat perjuangan pemuda yang tergabung dalam PETA – termasuk pamannya sendiri yang ia sendiri (diceritakan) tidak tau profesi yang sebenarnya – yang membuat tidak betah penjajah berlama-lama memarkirkan kendaraannya perangnya di jalan-jalan, di rumah sekolah yang menjadi kantor militer.
Meskipun keadaan seperti itu, Dini kecil bukan berarti harus kehilangan masa kanak-kanaknya. Ia selalu dipedulikan oleh kakak perempuannya yang selalu mengasuhnya. Juga harus dibingungkan oleh kedinamisan keegoisan kedua kakak lelakinya. Saat seperti itu, ia lebih mengharapkan kehadiran sepupunya yang lebih muda darinya. Masa kanak-kanaknya tetap bisa ia nikmati pada zaman seperti itu. Dan padang ilalang di belakang rumahnya adalah seakan taman bermain baginya.
Patut penulis memberikan apresiasi dari novel ini yang juga mengangkat nilai-nilai kebudayaan. Yakni salah kebudayaan Indonesia yang saat ini hampir tidak mendapat tempat dihati pemirsa, Wayang (kulit dan wong). Kebudayaan tradasional ini, dan juga merupakan sebuah media dalam menyebarkan Islam di tanah jawa, menjadi satu-satunya hiburan yang menarik perhatian. Bahkan orang tua berusaha mendekatkan anak-anak mereka dengan kebudayaannya.
Sangat kontras dengan zaman sekarang ini. Di mana, hiburan sudah menjamur dengan gemerlap fatamorgana tanpa muatan nilai-nilai. Jauh dengan hiburan pada saat itu (wayang), yang menjadi bahan cerita dan diskusi antara anak dan orang tua seusai menonton. Bisanya orang tua selalu menceritakan kembali cerita dan mengungkapkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.
Penulis perlu menjustifikasi masalah kebudayaan ini. Seringnya “nilai kebudayaan” diangkat dalam ide cerita novel-novel, adalah sebuah indikasi dari keprihatinan pengarang terhadap perkembangan kebudayaan itu sendiri. Makanya nilai kebudayaan yang diungkap dalam novel Nh. Dini ini adalah sebagian kecil dari realitas kebudayaan yang ada sesungguhnya.
Bagaimanapun, membaca novel ini penulis dibawa dalam sebuah keadaan yang telah terjadi pada masa lampau. Nh. Dini begitu rinci dalam mendeskripsikan setiap plot-plotnya. Seakan plot-plot itu semakin akrab dengan kita.
Ibarat memetik gambus, kita tidak hanya mendapatkan suara petikan yang indah, tapi juga telapak tangan kita seakan dibawa untuk memukul marwas. Begitulah yang penulis rasakan!

Oleh : Muflih Helmi
Pengelola Blog : www.geliatpena.blogspot.com
Disampaikan pada forum Paragraf tanggal 21 Februari 2010.
Tentang Pengarang.
Nurhayati Sri Handini atau Nh. Dini mulai mulis sejak kelas II SMP tahun 1951. karya pertama yang dimuat dimajalah Kisah : “Pendurhaka” mendapat sorotan HB Jassin; dan Dua Dunia kumpulan cerita pendek yang diterbitkan tahun 1956 ketika dia masih SMA.
Sejumlah novel yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama antara lain Seri Kenangan ; Sebuah Lorong di Kotaku (1986), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1987), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1988), Sekayu (1988), Kuncup Berseri (1996), Kemayoran (2000), Jepun Negerinya Hiroko (2001), dari perangkik ke Kmapuche (2003), Dari Fontenay ke Magallianes (2005), La Grande Borne (2007); Agrenteuil, Hidup Memisahkan Diri (2008), dan novel-novel lain yaitu Pada Sebuah Kapal (1985), Pertemuan Dua Hati (1986), Namaku Hiroko (1986), Keberangkatan (1987), dan Tirai Menurun (1993), dan Jalan Bandungan (2009).
Sejak akhir 2006, Nh. Dini tinggal di kompleks Wisma Werdhasih di Lerep, sebuah Desa yang tenang dan sejuk di lereng Gunung Ungaran. Jika sedang tidak disibukkan oleh kadatangan mahasiswa yang mau berdiskusi dengannya, dia mengisi hari-harinya dengan merawat tanaman dan melukis.