Senin, 08 Februari 2010

Bulan Separuh

Tepat sekitar 22 Desember 2009, sebuah even lomba penulisan cerpen tak aku sia-siakan. Temanya tentang Ibu. Tema yang sederhaa tapi mengandung makna yang tiada habisnya. Waktu itu aku memilih judul "Bulan Separuh". Sebenarnya cerpen saya yang kesekian ini tampak tergesa-gesa. Maklum SKS, Selalu Kebut Semalam, hehe. Kalau penasaran seperti apa isi cerpennya langsung ke TKP!. Tak ada suara. Kami masih mematung di beranda rumah. Sinar rembulan malam itu sedikit demi sedikit mulai menjauhi rumah tempat kami bernaung. Cahaya hanya separuh, sedikit diselimuti awan hitam. Kami menunggu sesuatu dari ayah yang duduk di kursi tengah. Garis wajahnya terlihat serius. Ada kerisuan di sana. Ia masih berfikir. Mengambil sebuah keputusan kali ini tidak mudah. Kakakku, Khalifa tetap bertahan duduk di sampingku. Disandarkannya kepala yang dibalut jilbab hitam itu di pundakku. Tangannya begitu erat memeluk tubuhku. Pelukan itu begitu seperti menyimpan sesuatu yang meneduhkan kerisauanku.
Bibir ayah masih terkatup rapat. Aku pun tak berani memintanya segera berucap. Tentang keputusan yang akan diambil buat orang yang kami cintai. Barangkali kali ini adalah ikhtiar kami yang terbaik. Dan kami sadar semua ikhtiar kami, ada yang lebih berhak menetapkan.
“Ibu harus segera dibawa ke Malaka.” Suara ayah memecah kebisuan, meski suara itu terasa berat.
“Ya, Ayah akan berusaha mencari pinjaman.”
“Motor Khalifa sebaiknya dijual saja, Yah!” Suara kak Khalifa menggesa.
“Sepeda Fitri, masih bagus. Kalau dijual pasti masih mahal. Dan anting-anting…”
“Tidak!” Kata tegas itu memutus kalimat Fitri.
“Kita butuh dana tambahan saja. Simpanan Ayah masih ada. Mudah-mudahan cukup. Dan Ayah sendiri yang akan mengantar Ibu.”
“Tapi Yah!” Ucap kami berbarengan.
“Khalifa harus mengajar, dan Nisa harus sekolah. Kita harus menghemat biaya.” Ayah mengakhiri ucapannya di beranda. Kemudian ia masuk ke dalam rumah menemui orang yang paling kami cintai.
Sementara, aku dan kak Khalifa masih duduk di kursi teras. Diam tanpa suara. Hanya suara-suara hati kami yang penuh harap ditemani temaram rembulan yang belum sempurna. Meski awan malam pun itu kian cepat merayap menyelimuti cahayanya. Menutup pesonanya yang tak lelah menawar kesedihan hati kami.
Sejak keputusan itu, aku dan kak Khalifa, juga Ayah berganti-gantian menjaga ibu yang terbaring semakin lemah. Memberikan kepadanya kekuatan kepada ibu untuk bertahan. Menghiburnya dan mengajaknya bercanda, dengan kecerian yang kami tampakkan penuh paksa. Sekalipun itu tak mampu memberikan keyakinan kepada ibu untuk sembuh.
Jadwal keberangkatan pun semakin dekat, tapi kecemasan kami kian meninggi. Tak ada terlihat kecerian lagi di rona wajah kami. Seharusnya kesedihan kami bisa terobatai dengan ikhtiar yang ke sekian kali itu. Tapi entah mengapa seakan kami pesimis untuk bisa berusaha memulihkan ibu seperti sedia kala. Pikiran kami lebih banyak menjemput sebuah perpisahan yang tak kami inginkan datang secepat itu.
Kak Khalifa yang tampak begitu sedih. Sering ia menangis sendirian. Ia seperti terpukul dengan sikapnya yang selama ini kurang memperhatikan ibu. Kakak lebih banyak sibuk dengan agenda-agendanya sebagai guru. Mengajar, arisan, pengajian, penyuluhan pertanian, melatih pidato anak-anak, pelatihan, bahkankan sering keluar kota. Sedangkan aku sendiri hanya sebulan sekali tinggal di rumah. Karena jarak sekolah yang begitu jauh mengaharuskan aku tinggal di asrama. Paling sebulan sekali baru bisa bertemu ibu, itu pun kalau tak ada kegiatan sekolah. Dan ayah sendiri lebih banyak kerja dan mengisi kajian-kajian dan undangan dari masjid-masjid.
***
“Besok Ibu sudah bisa dibawa pulang.” Ucap ayah via hape.
“Tapi, seminggu lagi ibu harus menjalani terapi.”
Kami hanya bisa berpandangan. Apakah ibu bisa sembuh. Sekalipun harus berkali-kali membawanya keluar negeri. Dan harus berkali-kali ayah mengantarkan ibu ke Malaka. Sampai akhirnya kami harus kebingungan mencari dana untuk pengobatan.
Sejak dokter Farhan memfonis ibu tidak bisa sembuh, membuat kami semakin mencintai ibu.
“Kangker Payudara ibu sudah masuk stadium empat.” Ucap dokter Farhan waktu itu.
“Apakah …?” Ayah kembali bertanya waktu itu.
Dokter Farhan hanya menggeleng, ia menyarankan untuk mencoba berobat keluar negeri.
“Masih ada waktu untuk berikhtiar Pak!” Ucap dokter yang selalu aktif mengikuti pengajian ayah, setiap malam Jum’at.
Ah, andai waktu bisa diputar ulang. Aku akan cepat-cepat mengantar ibu ke rumah sakit waktu itu. Hanya ibu tidak ingin melihat kami cemas karena penyakitnya. Ia sembunyikan penyakitnya itu, dan ibu sendiri mencoba mengobati dengan pengobatan tradisional secara sepengetahuan kami. Ternyata ia tak berhasil. Hingga akhirnya kondisi badannya semakin melemah. Kami pun harus bertarung dengan waktu, mengantar ibu dari rumah sakit yang satu ke rumah sakit yang lain.
Dan kepedihan itu semakin menjalar di seluruh tubuhku. Saat asar mengantarkan ibu yang lebih dulu dijemput maut. Bibirnya tersenyum lemah dan berucap sesuatu, sesaat sebelum mata itu terpejam untuk selamanya. Kupeluk ibu dengan erat, yang saat itu ia terbaring lemah dipangkuanku. Hingga air mata kami tumpah entah berapa berapa lama, membasahi jilbabku.
Aku masih ingat ucapanya yang sekarang mengulang dalam ingatanku.
“Ibu mungkin tak bisa merawat kalian lagi, bila salah seorang dari keluarga kita suatu saat sakit.” Ucapnya sambil tersenyum waktu itu. Pada saat kak Khalifa terbaring di rumah sakit, karena kecelakaan. Dan saat itu hanya ibu sendiri yang lebih banyak menjaga sampai kak Khalifa sembuh.
“Kenapa Bu? Tanyaku dengan pensaran.
“Karena kalian sudah besar.”
Begitu juga pada saat aku sakit kepala, demam, sakit gigi, terkilir, flu dan lain sebagainya, ibu dengan sigap lebih dalu mengobatiku. Dan saat-saat semua anggota keluarga sakit, selalu dia yang lebih dahulu memberikan semangat kepada kami untuk cepat sembuh. Begitulah kasihnya ia selama ini kepada keluarga, begitu hangat, begitu membahagiakan.
Apalagi pada malam-malam di mana asma ayah kambuh, ibu hanya sendiri yang merelakan mengorbankan lenanya. Sementara kami semua harus tertidur pulas di kamar kami masing-masing. Pagi-pagi sekali ia harus menyiapkan sarapan kami di dapur, menyiapkan baju-baju kami. Saat kami berangkat ke sekolah, sementara ayah masih kesulitan bernafas, ia tak henti-hentinya menemani ayah. Ternyata pagi itu ibu telah siap membersihkan rumah, mencuci pakaian, bahkan menyetrika baju-baju kami. Semua ia lakukan tanpa mengenal letih.
Malam harinya di waktu sehatnya, saat kami mulai tertidur ia masih setia dengan mesin jahitnya, untuk membantu memenuhi kebutuhan dapur dan sekolah kami. Menggunting-gunting kain-kain panjang itu untuk dirangkai menjadi desain kain yang lebih beharga. Beraneka warna dan corak, ada merah, biru, hitam, putih, toska, batik, dan polos. Ia selesaikan pesanan-pesanan pelanggannya, baju kemeja, celana, gorden, kebaya, baju melayu dan masih banyak sampai larut malam. Aku pun tak tau jam berapa ia harus memejamkan matanya.
Kini, kain putih itu yang mulai membungkus seluruh tubuhnya. Untuk menghadap yang maha pengatur skenario. Ia akan tetap melanjutkan kepergiannya, seperti yang pernah ia ucapkan dulu. Aku, ayah, dan kak Khalifa, menyaksikan jasad itu semakin hilang oleh tumpukan-tumpukan tanah, bersama semesta alam yang redup pagi itu.
***
“Ma…! Selamat hari Ibu.” Suara Dinda.
Ucapan itu mengagetkan ku, ada yang merangkulku dari belakang dengan penuh kasih sayang. Sebuah kado kecil berbungkus warna toska telah berada di tanganku. Hampir saja majalah yang ku baca terjatuh. Kado kecil itu seolah meminta tanganku untuk segera membuka.
“Dinda!” Aku mencoba menatap matanya.
Dinda telah beralih duduk merendah tepat di depanku. Matanya yang bulat menanti aku membuka kado itu. Ada yang tertulis di sana. Meski tulisan itu sangat lucu, dengan huruf yang masih belum sempurna. UNTUKMU YANG TERSAYANG, MA!. Bungkusan kado itu semakin demikian jelas menjawabnya. Sebuah bingkai foto, lengkap dengan secarik kertas di sana.
“Betapa mulia, perjuangan hidup dan mati
Ibu melahirkanku…
Betapa besarnya pengorbanan jiwa dan raga
Ibu membesarkanku…
Betapa sucinya dengan cinta kasih yang tulus
Ibu membimbing aku. “ (Anakmu, Dinda)
“Terimakasih sayang!”
Aku memeluk Dinda, wajahnya tampak ceria. Wajah itu mirip sekali dengan wajah ibu. Seakan ibu selalu hadir pada wajah Dinda. Pada hari-hari aku harus kelelahan dengan segala urusan. Wajah Dinda selalu hadir mengobati penatku. Garis wajahnya selalu memberikan kepadaku untuk selalu merindukan dan mendo’akan ibu.
“Ada yang datang, Ma…!”
Ayah yang semakin tua, kak Khalifa bersama suami dan anaknya, telah berdiri sejak tadi. Sebelum Dinda memberikan kado padaku. Rupanya kak Khalifa tidak memberitahukan prihal kedatangannya bersama ayah. Mereka tampak terharu melihat Dinda yang aku peluk erat. Mata kami berpandangan, seakan mengulang memori keluarga, saat ibu menerima kado dari aku dan juga kak Khalifa juga ayah di beranda rumah. Kehadiran mereka adalah kejutan sekaligus kebahagian yang tiada tara dari rasa rinduku.
“Bu, hanya doaku yang selalu terucap pada hari ini, seperti hari-hari kemarin dan untuk hari-hari yang akan datang!” Hatiku berucap pelan.
***
Malam itu kami berkumpul di beranda rumah, begitu bahagia. Sementara Dinda sudah tertidur dalam pangkuanku. Aku, ayah dan kak Khalifa memandang tinggi ke langit. Ada cahaya bulan di sana. Meski hanya separuh yang tampak, cahayanya begitu menerangi gelapnya semesta malam itu. Seperti hati kami yang diselimuti kebahagiaan, meskipun seperti ada yang tidak sempurna tanpa kehadirannya.
***
Oleh : Muflih Helmi



0 komentar: