Jumat, 26 Februari 2010

Prestasi 2010

Tahun ini, belum ada tanda -tanda untuk menorehkan prestasi lebih banyak lagi. Sebab pemikiran khusus baru saja melayang menjemput selembar Ijazah S1. Pasalnya udah bertahun-tahun kuliah, belum juga tamat. Kayak Azam dalam KCB aja. Tapi sejak 2003 bahkan sebelumnya sudah ada beberapa prestasi. Tahun 2010 ini, baru ada satu prestasi. Juara khattil quran Tk. Kecamatan Siak Kecil 2010. Tapi nggak apa-apalah. Masih banyak waktu untuk mengukir prestasi. Seperti prestasi menulis, sarjana, diterima kerja, atau yang lain.

Berikut ini catatan beberapa prestasi:
1. Juara 1 Khattil Qur’an Dekorasi Putra MTQ VI 2010 Tk. Kecamatan Siak Kecil – Bengkalis.
2. Juara 3 Lomba cerpen “Inspiring Women” An-nisa’ Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Nurul Fallah (NF) Faperta UR, 22 Desember 2009. Judul Cerpen : “Rembulan Separuh”.
3. Juara 2 lomba menulis cerpen hari Ibu se-Pekanbaru, Taman Bacaan Telaga Minda Forum Lingkar Pena (FLP) Pekanbaru, tanggal 20 Desember 2009. Judul Cerpen : “Pita Hitam dalam Elegi Panjang Seorang Ibu”
4. Juara 2 Lomba sayembara menulis cerpen HUT BM 26 tahun 2009. Judul Cerpen : “Jeritan Pulang dari Tanah Rantau”.
5. Juara 2 Lomba menulis artikel kreatif (Latif) KSDB dan Almadani Fisip 2009
6. Juara 2 Lomba Desain Poster Partamina tema “Migas untuk Anak Bangsa” BEM Universitas Riau. Tahun 2009
7. Juara 3 Khattil Qur’an MTQ Tk. Regional Riau. BPSMI di Universitas Muhamadiyah Riau, tahun 2009
8. Juara 1 Khattil Qur’an MTQ Mahasiswa Tk. Universitas Riau. UKMI Ar-Royyan dan LSI Almaidan FKIP Universitas Riau, Tahun 2009
9. Juara Harapan 2, Lomba Menulis Resensi Buku Perpustakaan Wilayah Riau, 2009. Judul Resensi “Membangun Semangat Kerja Tim” dari buku “Dream Team” karangan Jhoni Lis Effendi.
10. Juara 3 Khattil Dekorasi Putra MTQ VIII Kab. Rokan Hulu – Kec. Kabun. Tahun 2008
11. Juara 3 Lomba Kaligrafity tema “Ramadhan untuk Semua” BEM UNRI. Tahun 2008
12. Juara 1 khattil qur’an putra, MTQ V Siak Kecil. tahun 2008. di Desa Sungai Siput.
13. Juara 3 Lomba Fotografi Hari Kartini BEM Universitas Riau, Tahun 2008
14. Juara 1 Khattil Qur’an MTQ Mahasiswa Tk. Universitas Riau 2007. UKMI Ar-Royyan Universitas Riau.
15. Juara 1 Khattil Qur’an Dekorasi MTQ IV Kec. Siak Kecil Th. 2007. di Desa Sepotong.
16. Peserta MTQ Nasional Mahasiswa utusan Universitas Riau, Cab. Khattil Qur’an Dekorasi Putra, di Universitas Sriwijaya Palembang – Sumsel, tahun 2007
17. Juara Harapan 1 Khattil Qur’an Hiasan Mushab, MTQ Kab. Kampar, di Desa Gema, Tahun 2006
18. Juara 2 Putra Lomba Kaligrafi Hiasan Mushab Festival Ramadhan, Mall Pekanbaru, tahun 2006
19. Juara Harapan 3 Cabang Khattil Qur’an Golongan Dekorasi Putra MTQ XXXI Kab. Bengkalis, Duri 1427 H/2006 M.
20. Juara 1 Khattil Qur’an Dekorasi Putra MTQ III Kec. Siak Kecil, tahun 2006. Di desa Tanjung Belit.
21. Juara 3 Lomba Desain Kartu Lebaran BEM Faperta Universitas Riau, Tahun 2004.
22. Juara 2 (Tim), Lomba cerdas cermat Tk. Remaja Masjid Kecamatan Sukajadi – Ikatan Remaja Masjid Khairat Sukajadi – Pekanbaru. Th. 2003
23. Juara Harapan 1 Khattil Qur’an MTQ Kec. Bengkalis, Tahun 2003
24. Juara 3 Khattil Qu’an MTQ Kecamatan Bengkalis, tahun 2002. Kelurahan Kelapapati Darat.
25. Juara 1 (Tim) Lomba Gerak Jalan Hari Pendidikan. Dinas Pendidikan Bengkalis. Tahun 2002.
26. Juara 2 Lomba Poster Alqur’an, STQ Provinsi Riau Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Bengkalis, tahun 2002
27. Juara 3 Lomba Poster Kaligrafi, Muharram 1423 H. tahun 2002
28. Juara Harapan 2 Lomba Pidato Piala Bupati Tingkat Pelajar Kab. Bengkalis. HUT Radio Pemerintah Daerah Bengkalis XII, Tahun 2002
29. Juara 2 Khattil Qur’an MTQ Kecamatan Bengkalis, tahun 2001
30. Juara 3 Lomba Poster Narkoba, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Bengkalis. Tahun 2001
31. Juara 2 Tilawah Alqur’an MTQ Pelajar 1999, Kecamatan Bukit Batu Bengkalis, Program KKN Mahasiswa UIN Suska Riau. Tahun 1999.
32. Juara 2 Syarhil Qur’an MTQ Pelajar 1999, Kecamatan Bukit Batu Bengkalis, Program KKN Mahasiswa UIN Suska Riau. Tahun 1999.



Senin, 22 Februari 2010

Pesta Buku selalu di Nanti

Kegiatan yang satu ini terbilang cukup langka. Hanya sekali dalam setahun. Itu pun kalau pihak EO (Even Organizer), mau menyelenggarakan. Ditambah pihak penerbit yang mau bekerjasama. Atau juga dukungan pemerintah.
Di Pekanbaru sendiri, Pesta Buku atau Book Fair terakhir dilaksanakan sekitar bulan Agustus 2009 yang lalu. Bagi saya sendiri, kegiatan seperti ini selain saya bisa dengan leluasa mendapatkan buku murah, tapi juga bisa menemukan buku-buku lama yang kualitasnya justru lebih bagus.
Namun, jika dibanding dengan daerah Jawa. Pekanbaru masih jauh tertinggal. Saya pun tidak tau apa sebabnya. Barangkali karena pihak penyelenggara ragu untuk menyelenggarakan disebabkan oleh minat baca masyarakat Riau yang masih rendah.
Kata terakhir itu pun – minat baca masyarakat Riau yang masih rendah – saya sendiri masih belum memiliki data yang bisa dipertanggung jawabkan. Tapi, begitulah yang saya rasakan. Bahkan teman-teman yang sering berdiskusi dalam forum-forum penulis, mengatakan demikian.
Itulah sebabnya pesta buku selalu dinanti. Korelasinya, semakin banyak pengunjung dalam pesta buku tersebut adalah sebagai salah satu indikator kemajuan minat baca suatu daerah. Kau juga pasti sejutu! (ribzah_paragraf)



Senin, 08 Februari 2010

Bulan Separuh

Tepat sekitar 22 Desember 2009, sebuah even lomba penulisan cerpen tak aku sia-siakan. Temanya tentang Ibu. Tema yang sederhaa tapi mengandung makna yang tiada habisnya. Waktu itu aku memilih judul "Bulan Separuh". Sebenarnya cerpen saya yang kesekian ini tampak tergesa-gesa. Maklum SKS, Selalu Kebut Semalam, hehe. Kalau penasaran seperti apa isi cerpennya langsung ke TKP!. Tak ada suara. Kami masih mematung di beranda rumah. Sinar rembulan malam itu sedikit demi sedikit mulai menjauhi rumah tempat kami bernaung. Cahaya hanya separuh, sedikit diselimuti awan hitam. Kami menunggu sesuatu dari ayah yang duduk di kursi tengah. Garis wajahnya terlihat serius. Ada kerisuan di sana. Ia masih berfikir. Mengambil sebuah keputusan kali ini tidak mudah. Kakakku, Khalifa tetap bertahan duduk di sampingku. Disandarkannya kepala yang dibalut jilbab hitam itu di pundakku. Tangannya begitu erat memeluk tubuhku. Pelukan itu begitu seperti menyimpan sesuatu yang meneduhkan kerisauanku.
Bibir ayah masih terkatup rapat. Aku pun tak berani memintanya segera berucap. Tentang keputusan yang akan diambil buat orang yang kami cintai. Barangkali kali ini adalah ikhtiar kami yang terbaik. Dan kami sadar semua ikhtiar kami, ada yang lebih berhak menetapkan.
“Ibu harus segera dibawa ke Malaka.” Suara ayah memecah kebisuan, meski suara itu terasa berat.
“Ya, Ayah akan berusaha mencari pinjaman.”
“Motor Khalifa sebaiknya dijual saja, Yah!” Suara kak Khalifa menggesa.
“Sepeda Fitri, masih bagus. Kalau dijual pasti masih mahal. Dan anting-anting…”
“Tidak!” Kata tegas itu memutus kalimat Fitri.
“Kita butuh dana tambahan saja. Simpanan Ayah masih ada. Mudah-mudahan cukup. Dan Ayah sendiri yang akan mengantar Ibu.”
“Tapi Yah!” Ucap kami berbarengan.
“Khalifa harus mengajar, dan Nisa harus sekolah. Kita harus menghemat biaya.” Ayah mengakhiri ucapannya di beranda. Kemudian ia masuk ke dalam rumah menemui orang yang paling kami cintai.
Sementara, aku dan kak Khalifa masih duduk di kursi teras. Diam tanpa suara. Hanya suara-suara hati kami yang penuh harap ditemani temaram rembulan yang belum sempurna. Meski awan malam pun itu kian cepat merayap menyelimuti cahayanya. Menutup pesonanya yang tak lelah menawar kesedihan hati kami.
Sejak keputusan itu, aku dan kak Khalifa, juga Ayah berganti-gantian menjaga ibu yang terbaring semakin lemah. Memberikan kepadanya kekuatan kepada ibu untuk bertahan. Menghiburnya dan mengajaknya bercanda, dengan kecerian yang kami tampakkan penuh paksa. Sekalipun itu tak mampu memberikan keyakinan kepada ibu untuk sembuh.
Jadwal keberangkatan pun semakin dekat, tapi kecemasan kami kian meninggi. Tak ada terlihat kecerian lagi di rona wajah kami. Seharusnya kesedihan kami bisa terobatai dengan ikhtiar yang ke sekian kali itu. Tapi entah mengapa seakan kami pesimis untuk bisa berusaha memulihkan ibu seperti sedia kala. Pikiran kami lebih banyak menjemput sebuah perpisahan yang tak kami inginkan datang secepat itu.
Kak Khalifa yang tampak begitu sedih. Sering ia menangis sendirian. Ia seperti terpukul dengan sikapnya yang selama ini kurang memperhatikan ibu. Kakak lebih banyak sibuk dengan agenda-agendanya sebagai guru. Mengajar, arisan, pengajian, penyuluhan pertanian, melatih pidato anak-anak, pelatihan, bahkankan sering keluar kota. Sedangkan aku sendiri hanya sebulan sekali tinggal di rumah. Karena jarak sekolah yang begitu jauh mengaharuskan aku tinggal di asrama. Paling sebulan sekali baru bisa bertemu ibu, itu pun kalau tak ada kegiatan sekolah. Dan ayah sendiri lebih banyak kerja dan mengisi kajian-kajian dan undangan dari masjid-masjid.
***
“Besok Ibu sudah bisa dibawa pulang.” Ucap ayah via hape.
“Tapi, seminggu lagi ibu harus menjalani terapi.”
Kami hanya bisa berpandangan. Apakah ibu bisa sembuh. Sekalipun harus berkali-kali membawanya keluar negeri. Dan harus berkali-kali ayah mengantarkan ibu ke Malaka. Sampai akhirnya kami harus kebingungan mencari dana untuk pengobatan.
Sejak dokter Farhan memfonis ibu tidak bisa sembuh, membuat kami semakin mencintai ibu.
“Kangker Payudara ibu sudah masuk stadium empat.” Ucap dokter Farhan waktu itu.
“Apakah …?” Ayah kembali bertanya waktu itu.
Dokter Farhan hanya menggeleng, ia menyarankan untuk mencoba berobat keluar negeri.
“Masih ada waktu untuk berikhtiar Pak!” Ucap dokter yang selalu aktif mengikuti pengajian ayah, setiap malam Jum’at.
Ah, andai waktu bisa diputar ulang. Aku akan cepat-cepat mengantar ibu ke rumah sakit waktu itu. Hanya ibu tidak ingin melihat kami cemas karena penyakitnya. Ia sembunyikan penyakitnya itu, dan ibu sendiri mencoba mengobati dengan pengobatan tradisional secara sepengetahuan kami. Ternyata ia tak berhasil. Hingga akhirnya kondisi badannya semakin melemah. Kami pun harus bertarung dengan waktu, mengantar ibu dari rumah sakit yang satu ke rumah sakit yang lain.
Dan kepedihan itu semakin menjalar di seluruh tubuhku. Saat asar mengantarkan ibu yang lebih dulu dijemput maut. Bibirnya tersenyum lemah dan berucap sesuatu, sesaat sebelum mata itu terpejam untuk selamanya. Kupeluk ibu dengan erat, yang saat itu ia terbaring lemah dipangkuanku. Hingga air mata kami tumpah entah berapa berapa lama, membasahi jilbabku.
Aku masih ingat ucapanya yang sekarang mengulang dalam ingatanku.
“Ibu mungkin tak bisa merawat kalian lagi, bila salah seorang dari keluarga kita suatu saat sakit.” Ucapnya sambil tersenyum waktu itu. Pada saat kak Khalifa terbaring di rumah sakit, karena kecelakaan. Dan saat itu hanya ibu sendiri yang lebih banyak menjaga sampai kak Khalifa sembuh.
“Kenapa Bu? Tanyaku dengan pensaran.
“Karena kalian sudah besar.”
Begitu juga pada saat aku sakit kepala, demam, sakit gigi, terkilir, flu dan lain sebagainya, ibu dengan sigap lebih dalu mengobatiku. Dan saat-saat semua anggota keluarga sakit, selalu dia yang lebih dahulu memberikan semangat kepada kami untuk cepat sembuh. Begitulah kasihnya ia selama ini kepada keluarga, begitu hangat, begitu membahagiakan.
Apalagi pada malam-malam di mana asma ayah kambuh, ibu hanya sendiri yang merelakan mengorbankan lenanya. Sementara kami semua harus tertidur pulas di kamar kami masing-masing. Pagi-pagi sekali ia harus menyiapkan sarapan kami di dapur, menyiapkan baju-baju kami. Saat kami berangkat ke sekolah, sementara ayah masih kesulitan bernafas, ia tak henti-hentinya menemani ayah. Ternyata pagi itu ibu telah siap membersihkan rumah, mencuci pakaian, bahkan menyetrika baju-baju kami. Semua ia lakukan tanpa mengenal letih.
Malam harinya di waktu sehatnya, saat kami mulai tertidur ia masih setia dengan mesin jahitnya, untuk membantu memenuhi kebutuhan dapur dan sekolah kami. Menggunting-gunting kain-kain panjang itu untuk dirangkai menjadi desain kain yang lebih beharga. Beraneka warna dan corak, ada merah, biru, hitam, putih, toska, batik, dan polos. Ia selesaikan pesanan-pesanan pelanggannya, baju kemeja, celana, gorden, kebaya, baju melayu dan masih banyak sampai larut malam. Aku pun tak tau jam berapa ia harus memejamkan matanya.
Kini, kain putih itu yang mulai membungkus seluruh tubuhnya. Untuk menghadap yang maha pengatur skenario. Ia akan tetap melanjutkan kepergiannya, seperti yang pernah ia ucapkan dulu. Aku, ayah, dan kak Khalifa, menyaksikan jasad itu semakin hilang oleh tumpukan-tumpukan tanah, bersama semesta alam yang redup pagi itu.
***
“Ma…! Selamat hari Ibu.” Suara Dinda.
Ucapan itu mengagetkan ku, ada yang merangkulku dari belakang dengan penuh kasih sayang. Sebuah kado kecil berbungkus warna toska telah berada di tanganku. Hampir saja majalah yang ku baca terjatuh. Kado kecil itu seolah meminta tanganku untuk segera membuka.
“Dinda!” Aku mencoba menatap matanya.
Dinda telah beralih duduk merendah tepat di depanku. Matanya yang bulat menanti aku membuka kado itu. Ada yang tertulis di sana. Meski tulisan itu sangat lucu, dengan huruf yang masih belum sempurna. UNTUKMU YANG TERSAYANG, MA!. Bungkusan kado itu semakin demikian jelas menjawabnya. Sebuah bingkai foto, lengkap dengan secarik kertas di sana.
“Betapa mulia, perjuangan hidup dan mati
Ibu melahirkanku…
Betapa besarnya pengorbanan jiwa dan raga
Ibu membesarkanku…
Betapa sucinya dengan cinta kasih yang tulus
Ibu membimbing aku. “ (Anakmu, Dinda)
“Terimakasih sayang!”
Aku memeluk Dinda, wajahnya tampak ceria. Wajah itu mirip sekali dengan wajah ibu. Seakan ibu selalu hadir pada wajah Dinda. Pada hari-hari aku harus kelelahan dengan segala urusan. Wajah Dinda selalu hadir mengobati penatku. Garis wajahnya selalu memberikan kepadaku untuk selalu merindukan dan mendo’akan ibu.
“Ada yang datang, Ma…!”
Ayah yang semakin tua, kak Khalifa bersama suami dan anaknya, telah berdiri sejak tadi. Sebelum Dinda memberikan kado padaku. Rupanya kak Khalifa tidak memberitahukan prihal kedatangannya bersama ayah. Mereka tampak terharu melihat Dinda yang aku peluk erat. Mata kami berpandangan, seakan mengulang memori keluarga, saat ibu menerima kado dari aku dan juga kak Khalifa juga ayah di beranda rumah. Kehadiran mereka adalah kejutan sekaligus kebahagian yang tiada tara dari rasa rinduku.
“Bu, hanya doaku yang selalu terucap pada hari ini, seperti hari-hari kemarin dan untuk hari-hari yang akan datang!” Hatiku berucap pelan.
***
Malam itu kami berkumpul di beranda rumah, begitu bahagia. Sementara Dinda sudah tertidur dalam pangkuanku. Aku, ayah dan kak Khalifa memandang tinggi ke langit. Ada cahaya bulan di sana. Meski hanya separuh yang tampak, cahayanya begitu menerangi gelapnya semesta malam itu. Seperti hati kami yang diselimuti kebahagiaan, meskipun seperti ada yang tidak sempurna tanpa kehadirannya.
***
Oleh : Muflih Helmi



Selasa, 02 Februari 2010

Sepasang Mata Cahaya

AKU tak bisa mengendalikan lagi laju kendaraanku. Terdengar suara ban mobilku mendecit-decit. Orang-orang memekik. Berpasang mata seakan ditarik pada satu titik. Aku terkejut. Mobilku menghantam sesosok laki-laki yang melintas.Sesosok tubuh itu pun terkapar di trotoar, mengejang menahan sakit.Sebelah tangannya berusaha keras tetap terkepal. Genangan air hujan yang menadah kepalanya berangsur merah saat tangan lelaki itu akhirnya rebah.

Bumi seakan berhenti bernafas. Hanya sesaat sebelum kembali riuh. Teriakan. Jeritan klakson. Titik-titik air yang meluncur serentak seperti derap sepatu tentara yang melangkah dengan kemarahan. Secarik kertas pelan-pelan kuyup oleh rintik hujan yang kian deras.

***Masih mengalir jelas dalam memori ingatanku. Enam tahun yang lalu, sepasang mata ini masih bisa memandang birunya langit yang berselimut awan tipis kian membumbung. Seperti cita-citaku yang tinggi untuk menjadi seorang pelukis hebat.Pada langit yang biru itu, selalu saja memberiku ruang inspirasi untuk menggantungkan cita-citaku setinggi mungkin. Setinggi langit yang aku lihat setiap hari.Dari jendela kamar ini pun, aku masih bisa menyaksikan dengan jelas keremangan senja yang merona keemasan bersama kepak-kepak sayap burung pipit melintas dan terus menghilang. Bahkan saat malam sebelum memejamkan sepasang mataku, aku selalu memandangi bulan yang berbingkai bintang-gemintang. Semua begitu indah.Waktu itu pun, aku masih bisa melihat dengan jelas salah satu lukisan karya pertamaku, yang kini tergantung di dinding kamar. Seakan ia menyatu dengan nasibku yang kini tergantung-gantung. Lukisan yang penuh dengan warna itu membuat aku senang sekali. Dan semuanya masih terlihat jelas dalam ingatanku enam tahun yang lalu. Duniaku yang dulu. Dunia yang penuh dengan warna. Tapi, semua warna itu telah berubah menjadi gelap. Seperti kanvas yang bersimbah cairan cat hitam. Ya, sejak peristiwa itu terjadi, aku hanya mengenal satu warna saja. Semuanya adalah hitam, gelap. Menakutkan. Sampai-sampai aku tak bisa melihat wajahku sendiri saat bercermin. Dokter yang telah memvonisku buta seumur hidup setelah peristiwa itu, membuat aku membenci semuanya. Sebab aku tidak rela dan aku tidak mengerti kenapa duniaku kini mendadak berubah?

Ah! Andai saja, pecahan kaca waktu itu tidak menancap di mataku. Aku mungkin tidak akan buta seperti sekarang ini. Aku harus meraba-raba ke manapun aku melangkah. Aku malu. Bahkan aku tidak akan tau, sekalipun di depanku ada jurang atau lautan. Aku membenci keadan ini. Kalau saja waktu bisa diputar ulang, aku akan mengendari mobil dengan hati-hati waktu itu. Pasti!

Tapi, kenapa harus aku yang kehilangan kedua mata ini. Tuhan sepertinya tidak adil. Aku marah. Aku begitu terpukul. Berbulan-bulan aku hanya mengunci diri di dalam kamar, bersama kedua mataku yang buta ini. Bahkan bukan saja mataku yang buta, tapi hatiku juga hampir buta. Aku telah mencoba mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Tapi setiap kali aku mencoba, selalu saja ada yang menggagalkanku. Akhirnya aku sadar kalau Tuhan masih sayang denganku.

Saat itulah Bastian hadir. Aku seperti menemukan mataku. Dengan kesabarannya ia mengajariku untuk mengerti hakikat hidup. Ia mengatakan bahwa Tuhan telah memberikan yang terbaik untukku se-karang. Aku pun bisa memahaminya. Semenjak itu, bila saja terdengar kokok ayam pertanda fajar telah datang, aku terbangun dan bergegas membuka jendela kamarku yang menghadap ke ufuk timur. Seakan mata ini bisa melihat terangnya sinar putih sang mentari yang merayap meninggi. Meski aku sadar, itu bukanlah kenyataan, tapi aku seperti melihat harapan itu. Harapan yang selalu hadir bersama bayangannya. Bastian adalah sahabatku. Aku tak sengaja mengenalnya. Aku menabraknya saat aku tersesat waktu nekat keluar rumah. Dengan tulus ia menemani dalam duniaku yang gelap hingga saat ini. Seakan ia hadir membawa cahaya yang terang. Dia begitu setia. Sepanjang jalan waktu itu, ia memberiku banyak nasehat. Hingga aku bisa menemukan hidupku yang baru, meski penglihatanku cacat. Sampai akhirnya, aku bisa tiba di rumah dengan bimbingan dia.Hari ini adalah hari ke delapan aku melangkah kakiku keluar menuju ke sesuatu tempat di mana aku bertemu dengannya. Tempat yang seakan telah menemukan semangatku untuk hi-dup. Meskipun aku tidak tau tempat ini seperti apa. Tapi aku bisa merasakan tem-pat ini terasa indah, apalagi dengan kehadirannya. Aku telah memberanikan diri melangkah lebih jauh. Seperti dulu, saat mata ini masih berfungsi dengan baik. Awalnya aku hanya melangkahkan kakiku dengan bantuan tongkat menyusuri teras rumah. Terus ke halaman, jalan, dan tempat ini. Di sini aku bisa merasakan terpanaan sinar mentari pagi. Aku tidak peduli kulitku yang dulu putih kini menjadi gelap. Aku semakin mengenali tempat. Sekalipun hanya dengan bantuan tongkat ini aku memberanikan diri bermain-main mengikuti raba-annya.Aku menunggu seseorang di sini. Seseorang yang senantiasa menguatkanku dengan keadaaku. Dengan kesabaran dan ketulusan ia mengajariku untuk percaya diri. Untuk bangkit. Ya, seseorang itu adalah kekasihku. Ia adalah satu-satunya orang yang tidak pernah aku benci. Aku mengenalnya begitu dekat.

“Sayang… kau kah itu?” Aku mendengar ada langkah kaki mendekatiku.
“Iya Cahaya, ini aku. Apa kabarmu?” Seseorang telah menyapaku. Itulah Bastian. Seseorang yang begitu tulus menemaniku. Aku bahkan telah jatuh cinta pada ketulusan hatinya. Dan ia pula jatuh cinta dengan kesabaranku.
“Apakah langit hari ini begitu indah, Bas?” Aku memberanikan bertanya.
“Iya Cahaya. Ada tebaran awan putih di sana. Kepak-kepak burung pipit, bermain-main di udara. Langit cerah membiru. Seperti birunya hubungan kita.” Bastian menggambarkan semua itu padaku.
“Kau yakin, aku akan bisa melihat langit itu kembali?”
“Cahaya… yakinlah suatu saat kau akan bisa melihat indahnya langit.” Bastian menyakinkanku. Begitulah ia selalu memberi semangat kepadaku.

“Ya.. bila aku bisa melihat langit kembali, kita akan segera menikah.” Ucapku dengan penuh harap.
Begitulah setiap hari ia berusaha meyakinkanku. Ia tak pernah lelah mencari orang yang bisa mendonorkan mata untukku. Tapi setiap kali ia gagal, aku pula yang semakin jenuh. Tapi aku tidak pernah berhenti berdoa, hingga peristiwa besar itu telah memisahkan kami.

***

Perempuan dengan kaus panjang warna putih, duduk di ha-laman depan rumah sejak pagi tadi. Matanya tertutup oleh perban putih yang melingkar di kepalanya. Tiga pekan yang lalu, ia sudah menjalani operasi mata. Dokter bilang ia akan sembuh dan bisa melihat sebagaimana orang normal lainnya. Dania tidak perlu menggunakan tongkat lagi untuk membantunya berjalan.

Itulah aku. Aku sangat bersyukur dan berterimakasih kepada seseorang yang telah mendonorkan matanya untukku. Meskipun aku tidak tau siapa dia. Awalnya pun aku ragu. Tapi Bastian, kekasihku telah memberikan dorongan yang kuat untuk menerima tawaran itu. Aku pun menerimanya.

“Cahaya sebentar lagi engkau akan melihat betapa indahnya langit hari ini. Awan putihnya seakan berkejaran dengan riangnya mengejar pelangi di sana.” Suara Bastian memecah kesunyian pagi.

“Sungguh?” Aku berbunga-bunga mendengar perkataan kekasihku. Aku bisa merasakan. Ia berdiri tepat dibelakang di mana aku duduk. Tangannya perlahan membuka perban yang sejak kemarin menutup kedua mataku dengan hati-hati.

“Bukalah matamu perlahan-lahan Cahaya! Dan saksikanlah betapa langit begitu indah sekarang. Ia seakan menunggu hadirmu, Cahaya.”

Aku menggerakkan mataku. Aku masih takut apakah mata ini masih bisa normal kembali. Perlahan aku buka kelopak mataku. Terasa berat. Aku terus mencoba dengan hati-hati. Perlahan mataku seperti diserbu ribuan berkas cahaya yang me-nusuk-nusuk mataku. Begitu menyilaukan. Perlahan semua yang tadinya samar-samar, kini terakomodasi kian jelas. Aku takjub dengan keajaiban yang aku lihat. Hatiku membuncah. Mataku telah bisa melihat keindahan langit pagi ini. Bahkan nanti, aku pasti bisa menyaksikan mentari yang merona keemasan menjemput malam bersama kepak-kepak sayap burung senja.
“Apa yang kau rasakan Cahaya?”

“Aku…aku… bahagia. Aku bisa melihat langit yang membiru itu, Bas..! Aku bahagia sekali.” Aku gugup. Aku begitu terpana dengan pemandangan di atas sana. Pemandangan yang selama ini aku impi-impikan. Dunia yang selama ini gelap, sekarang begitu terang benderang.
“Benar Cahaya, langit itu telah menunggu sapaanmu sejak lama.” Ucap Bastian yang memegang erat bahuku sejak tadi.

“Lihat di sana ada awan putih!” Aku menunjuk ke arah kanan di mana kami berada.
“Ya! Awan putih senantiasa begitu indah, selalu meneduhkan pandangan kita.”
Aku semakin asyik melihat semuanya. Hampir-hampir aku tidak menyadari kalau Bastian berdiri setia menemaniku.
“Kalau boleh aku tahu, siapa yang mendonorkan mata ini untukku, Bas?” Aku bertanya padanya. Hatiku berbunga-bunga. Membuncah dalam kesenangan.

“Dia sudah ikhlas mendonorkan matanya, Cahaya. Yang penting sebentar lagi kita akan menunaikan janji untuk hidup bersama. Kita akan tinggal di sebuah rumah yang telah kita impikan selama ini. Aku akan menikahimu Cahaya!” Bastian berucap.Aku tersadar, aku teringat dengan janji itu. Aku membalikkan pandanganku, dengan serta merta aku akan mengatakan yang sesungguhnya kalau itu adalah impianku selama ini. Tapi bibirku terkunci, saat tersadar ia seperti aku yang kemarin.
“Tidak!” Aku terperangah kaget. Aku menjauhinya.
“Ada apa Cahaya!” Ia seperti mengkuatirkan keadaanku.

“Tidak…!” Aku sekali lagi terkejut dengan yang aku lihat. Aku ketakutan melihatnya.
“Cahaya…! Kau kenapa?” Ia kebingunan mencariku. Aku menghindar dan menepis tangannya yang meraba-raba.
“Tidak mungkin. Tidak mungkin aku akan menikah dengan orang buta sepertimu!” Aku menangis. Aku berlari menjauhinya. Ternyata orang yang selama ini begitu dengan tulus menyayangiku adalah orang yang cacat penglihatannya.
“Kau bukan Bastian. Bastian tidak buta. Pergi Kau!” Aku mengusirnya, hingga ia harus tertatih-tatih pergi menjauhiku.

***
Selembar surat aku baca. Ada pesan singkat di sana.
Sayang…
Sekarang kau bisa melihat langit kembali. Aku begitu bahagia.
Sayangku…
Tolong engkau jaga baik-baik kedua mata yang telah aku berikan kepadamu.

Yang menyayangimu,
(Bastian)

Air mataku tumpah bersama air hujan yang membasahi selembar surat yang ku pegang sejak tadi. Aku tak kuasa membaca tulisan singkat yang tidak beraturan itu. Tetes air mataku kian memendarkan surat terakhirnya. Tulisan itu seakan telah menampar keegoisanku. Aku telah sombong dengan kedua mataku.

“Bastian….!” Aku berteriak memanggil-manggil namanya. Aku tersadar kedua mataku ini adalah matanya. Kini ia telah pergi dengan mengenaskan. Dan itu berpunca dari sikapku yang salah.

Aku terlambat meminta maaf padanya. Dan aku baru sadar, kalau tubuh itu telah terbaring lemah di atas trotoar bersimbah darah. Aku telah menemukannya tak bernyawa lagi, setelah aku tega mengusirnya. Sesalku bertubi-tubi menghujani pikiranku.
—————————
Muflih Helmi,
Bergiat di Sekolah Menulis Paragraf (SMP)
Dimuat di Xpresi Riau Pos, Tanggal 17 Januari 2010)