Senin, 29 November 2010

Tips : Untuk Kunci yang Sering Hilang

Semua orang pasti tahu apa itu kunci. Bentuknya kecil dan unik dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memiliki dari satu kunci. Akan berbahaya bila satu kunci di duplikat ratusan kunci, pasti urusan akan berantakan. Bendanya kecil, tapi manfaatnya luar biasa. Anda akan puisng setengah mati bila anda kehilangan benda itu.

Misalnya saja sebuah kunci hilang pada saat orang akan memasuki gedung pusat bisnis di kota besar di tempat anda. Ribuan orang pasti dibuat panik. Apa yang akan terjadi dengan bisnis hari itu, bila seluruh pemilik modal tidak bisa menjalankan transaksi bisnis. Pasti kerugian yang besar didapatkan. Bahkan ekonomi global akan terpengaruh karena perdagangan internasional menjadi kacau.

Kecenderungan yang sering terjadi, kunci sering kali hilang karena kelalaian pemiliknya. Dan yang sering terjadi karena lupa meletakkan. Apalagi anda sedang mengalami begitu banyak masalah. Perlu anda ikuti tips-tips berikut ini, agar kunci anda tidak hilang-hilang lagi.

1. Berikan Identitas
Bila kunci tanpa memiliki gantungan akan tampak seperti tidak berguna. Dan anda akan sulit membedakan dengan kunci-kunci lain. Identittas sebuah kunci begitu penting untuk membedakan satu kunci dengan kunci lainnya. Berikan nama atau Ganci pada kunci anda. Ganci mempunyai fungsi untuk menarik perhatian anda dan orang lain bahwa ganci sebagai identitas kunci anda. Ganci juga bisa berupa tali yang bisa untuk mengalungkan. Biasanya untuk kunci motor orang sering menggunakan kalungan yang terbuat dari tali khusus untuk menghindari kehilangan.

2. Duplikatkan Kunci
Meskipun tips pertama sudah dicoba, untuk kunci-kunci tertentu anda harus menggandakan kunci tersebut. Bila suatu waktu kunci itu hilang anda bisa menggunakannya bila kunci utama hilang.

3. Hindari dari Jangkauan Anak-anak
Anak-anak kecil sangat suka memainkan kunci. Apalagi kunci tersebut bisa menimbulkan bunyi gemerincing. Tapi anda tidak bisa menjamin kalau ia sudah bermain dengan temannnya. Seringkali anak terlupa melemparkan atau meletakkan dimana. Maka hindari dari anak-anak.

4. Satukan Tempat
Untuk meletakkan kunci sebaiknya anda meletakkan tidak berpindah-pindah. Hal yang menurut anda kecil sering kali terlupakan. Maka perlu meletakkan pada satu tempat khusus yang anda desain sendiri, agar anda tidak kewalahan di saat memerlukan. Tempat yang tidak berpindah-pindah secara tidak langsung anda pasti akan langsung melangkah ke tempat tersebut di saat anda butuh. Bila anda sedang berbelanja atau sedang beraktifitas di luar, maka letakkan kunci pada tempat yang biasa anda letakkana dan aman menurut anda. Misalnya pada kantong depan celana anda, atau dalam tas anda.

5. Klasifikasikan Kunci
Hal ini perlu untuk dilakukan mengingat bila anda pemegang kunci-kunci dari sebuah gedung. Klasifikasikan kunci menurut lokasinya. Atau klasifikasikan menurut funginya atau jenis gedung. Tips ini akan mempermudah kerja anda. Bedakan mainan kuncinya juga bila diperlukan untuk membedakan identitas kumpulan kunci.

Betapa pentingnya sebuah kunci maka anda perlu memperlakukannya dengan istimewa. Sebab sebuah kunci adalah bagian penting dalam kehidupan anda. Jangan sampai bisnis anda gagal karena kunci. Atau jangan sampai anda tidak kuliah karena anda kehilangan kunci motor atau mobil anda. Disiplin dalam meletakkan kunci akan memunjukkan kepribadian anda dihadapan orang lain sebagai orang yang cermat. Selamat menjalani tips sederhana ini.

Ditulis oleh : Muflih Helmi

Sabtu, 27 November 2010

Puisi : Menjelang Siang

Menjelang Siang
(Nafiah Al-Ma'rab)

Aku dan sebentuk pagi
menyeruak dinding embun
Seperti memungut kata di jalan-jalan tua
Kemana butiran hujan kupesan semalam,
ditelan sebilah asa remuk.

Langkah lagi-lagi langkah,
tersandung janji rezeki terlalu diiming.
Aku menumpas rindu pada langit,
masih kulihat buram

Sementara inilah penantian,
Sorot siang begitu memojokkan,
tak kuasa aku bersahabat
dengan dengkuran jam.
Waktu lagi-lagi waktu,
tak ubahnya daun menguning

Apakah siang menyambut
sajak kegelisahanku,
menanti di ceruk jiwa,
menata keping runyam di dada,
tanganku kian jelata

Sepenggal harap kupungut,
kusinggah di genting garis nasib
Semoga tak riuh memainkan licin usia

(Sumber : Sabili November 2010)

Nafiah Al-Ma'rab adalah nama pena dari Sugiarti, SSi. Saat ini aktif menulis cerpen, puisi, resensi dan essay, opini di beberapa media. Beberapa antologi bersama miliknya antara lain; Antologi Pemenang Lomba Cerpen Balai Bahasa Pekanbaru 2009, Antologi Dua Warna FLP Riau 2010, Kumpulan Surat Cinta untuk Murobbi 2010, Curhat Jalan Raya Leutika Publisher Jogjakarta 2010, Islam Mengajarkan Tradisi Menulis Muda Cendikia Jakarta 2010, Antologi Kerdam Cinta untuk Palestina Polifenol Publishing 2010.

Sabtu, 06 November 2010

30 Besar Lomba Puisi FTD

Nominasi 30 Besar Lomba Puisi Forum Tinta Dakwah FLP Riau
(Urutan Acak) download

Kriteria penilaian:
1. Kesesuaian tema dan visi misi pihak penyelenggara
2. Estetika (kekuatan diksi, metafor dsb)
3. Pesan

Keputusan juri dan panitia mutlak tidak dapat diganggu gugat, selamat kepada para nominator, Anda berhasil bertahan diantara lima ratusan lebih peserta lomba. Harap kirimkan email Anda kepada panitia. Terimakasih.

Salam Hormat kami:
Forum Tinta Dakwah FLP Riau
Forum Lingkar Pena FLP Wilayah Riau

1. AKU KEMBALI.
Riyawati (Semarang)

Kucari ikhlas di dinding-dinding semesta
Hanya gelap yang tersisa
Langkah kaki menembus misteri
Entah.

Hingga suatu hari Tuhan bercerita pada malam sunyi
Ikhlas ada dalam relung hati
Kau temukan
Ketika kau cari.

Aku berlari
Menyambut cahaya di lorong tak berpenghuni
Pekat.

Kugali dindingnya
Dian menunggu semburat.

Aku kembali.

2. CINTA TAK BERWUJUD
Deris Afriani (Palembang)

Cintaku tak bernama,
Ketika ia ditandai bahasa kalbu, dan terpaku dalam ruang khusyuk.
Cintaku tak bertuan,
Ketika ia direngkuhi lingkar lembut cahaya-Nya.
Cintaku pun tak ber-ingin,
Ketika sepenggal nafas terakhir adalah persembahan.
Sebab,
Cintaku tak berwujud,
Melainkan sebuah keranda mengusung syahid ; aku.

3. PELANGI
Iman Safri Lukman

Kurasa Tuhan kita tak butuh puisi
Bukan hanya kita takkan pernah bisa
Menciptakan rima, serupa Tuhan memberimu tujuh warna
:karena siapa yang bisa menandingi sang Maha Indah

Pelangi…
Perkenankan kulukis cinta
Meski baitku takkan seperti langit yang diciptakan
:Tempatmu bergantung bersama awan


4. RINDU TUHAN
Alimuddin (Aceh)

Suntuk semalam berluruhan hujan
Namun dingin tiadalah menyekap
Sebab lahan dada
Ratusan derajat dipenjara panas

Tuhan,
Tuhan,
Dimanatah?

Maka di pagi sedikit cahaya
Kutemukan Tuhan di langit panjang—Di mana kupu-kupu berias
Maka,
Kulepas sangkar hati pada bedaru pagi
Aku bersembahyang tiada reda

5. KALA BUNGA MEMBUSUNG
Airin Nisa (Tangerang)

Bunga merekah puas
Kelopaknya melipir di udara

Rupa elok, tangkai menggenggam
Siap menghambur serbuk sari
Mempersembahkan bibit kehidupan

Wahai serdadu serangga, jamuan sudah matang

Ia membusung,
“Lihatlah aku, ciptaanMu.
Begini indah aku, apalagi diriMu”

Rayuan sang bunga dihembus bayu,
Melebur nafas para makhlukNya.

6. KEPADA MALAIKAT SUBUH
Bening Sanubari (Jakarta)

esok
saat matahari masih terbuai di ayunannya
bisakah engkau bisikkan pada Izrail ‘tuk tangguhkan penjemputanku?
sebab rindu sederhana yang ku sajikan padaNya belum usai ku racik

engkau tahu
: aku tak ingin mendua
hanya ingin bersamaNya saja

berkenankah engkau menyampaikannya?

7. JEJAK
Mukhanif Yasin Yusuf (Purbalingga)

di sepanjang rel menuju gerbang firdausi
aku sua jejak-Mu yang mulai melipat

tentang ranum kamboja yang menyeruak di sekujur taman-Mu
akasia gugur saat musim gugur berguguran
lembayung dzikir hilang saat hijab mengelupas bait-bait senja

Robi'ah...
oh, robi'ah.....
ku tafakhumkan mahabahmu
dalam rangkaian kelam sujudku
pada-Nya

8. PENANAM TASBIH
Amaturrasyidah (Bogor)

Seperdelapan hari,
Siluet masih senang melukis bayang para penanam di tiap gigir usia.
Tuhan belum lelah memagari rumah-rumah
Maka segeralah berkemas menaburi tanah
Mengulang jarak tiap mili
sedekat nadi.
Panen saja paru-paruku esok,Tuhan
hembus yang tak pernah lelah menuruni dan menaiki angin
lirih;
Mengulang-ulang namaMu.

9. SUDUMU, ALLAH
Qur'anul Hidayat Idris (Semarang)

kuperuk candu rindu pada-Mu
di tanah purna-punah menyetuju
kita menerpal sesal
menggali seteguk
bersudu liang rumah
sudahkah siap menemu
candu
di hutan sanggrah
Akuan Robbi
:ruh

Sudumu, Allah
beriku seteguk rindu

10. MUARAKU PADA AR-RAHMAN
Mariyam (Medan)

Cintaku asing mengadu
Berfantasi menggamit kesunyian
Atas hati yang menancapkan gema-Mu di semenanjung Ar-Rahman
Jika terhampar serdadu - serdadu zaman
Meramu intrik menggelitik
Aku masih bersitegak merimbun dzikir hingga gelak ombak menggenangi sajadah takdir

Cintaku tak berjelaga
Tak menyurut walau senja bergulat di ufuk utara

11. HARAPAN
Bobby Selfian P (Sidoarjo)

Ya Rahiim, singgahi cintaMu dihatiku
Laksana cinta anak-anak Palestin padaMu
Berwujud batu segenggaman ditangan mungilnya
atau selongsong peluru ditubuh kurus mereka
Serta banjir darahnya ditanahMu Ya Rabb, Al-Quds.

“Namun, apa aku mampu?” batinku.
Menciptakan puisi di lima waktuMu pun kadang aku luruh.

12. MUARA DI EMPAT MUSIM
Sahda Nuansa (Malang)

Mengenal-MU telah kubaca
gugurnya daun, bunga semusim itu
Saat kuranumkan keangkuhan lalu
Engkau meluruhkannya
dengan musim cinta lain
untukku.

Untuk mengenal-MU,
Telah kuikuti aliran sungai meranggasi lembah dan perkotaan
Yang kadang beku dan memasap
Hingga tiba di muara
bersama daun, bunga yang terbawa
Muara keghofuuran-MU.

13. PADA RAKA’AT
Rafif Amir

Pada detik pertama perjumpaan itu
Aku mengeja takbir
Tubuhku menggigil

Lalu pada sujud rindu
Yang kubentang antara wajahku dan wajahMu
Meniadakan jarak ku-Mu

Sementara itu
Khusukku menjadi batu
Memanggil syair-syair airmata melompat bersama doa

Pada larik terakhir perjumpaan
Salamku terbata-bata
Menutup sua yang tak kunjung sempurna

14. BELAJAR SEMBAHYANG
Gendut Pujiyanto

bertakbir mula bibir
sasap menggema mengalir
dalam keluasan baitullah
hati

Basmalahku memulai kalam
menyampaikan beribu salam
mula kesabaran
benih kepasrahan
ikhlas tuaian

puja di kelapangan istighfar
mengingat mula kembali

melelap padang terbentang
gurun tak lagi gersang
bersahutan tembang
melukis asmaMu dipenantian panjang

15. AKU HENDAK BERTANYA
Abdul Salam HS (Banten)

Aku hendak bertanya pada mata senja
Yang menyalak dengan gelombang
Dan debur cintaku yang bergetar
Dari warna kuningnya yang menyimpan
Serpihan akan keteduhan perahu-perahu tua
Yang teronggok dan bertahun-tahun
Membisukan diri

Adakah perapian cintaku menyala
Dan membakar ayat-ayat langitmu
Yang membentang

16. SEKERAT CINTA SEKERANJANG DUSTA
Muna Masyari(Jawa Timur)

Setelah siang meminang
Maharkan selendang berpayet pualam
Leherku terlilit

Malam kini kuputuskan pulang, Kekasihku…
Menenteng sekerat cinta
Dan sekeranjang janji iftitah yang talah kudusta
Janji hidup dan mati; cinta Kita

Pasung aku, Kekasihku!
Agar siang jera merayu
Dan cinta-Mu tak kuselir seribu

17. SESAYAT AYAT RIWAYAT
Muhammad Haddiy

Segelas airmata doaku menggelombangkan didihan alun rindu ke sepanjang akar manusiaku yangberduri kesunyian matahari
Hingga aku makin berdarah di puncak buncahan matabadai yang kau serahkan sebagai kalam agung
Dan di ketinggian doa ...malamku, kuselami kausebagai mata air air mataku
18. SYAIR SENJA
Muhimmah
Kutuliskan sajakku pada langit memerah
yang mendongengkan kabar-kabar kematian
hingga kutemukan diriku
Sepi.

Jika awan telah berkumpul hari ini
berilah aku kesetiaan hujan pada bumi
merangkaikan nada-nada kehidupan
urat nadi tanah yang mengering

Cakrawala luruh di langit senja
Kubisikkan sebait kata
Adakah Kau jawaban segala cinta

19. RUBAIYAT YANG MENABUR, MERAPAL-MU
A. Ganjar Sudibyo

jauh ke dzikir lain, ke tengah rindu
ada sesuatu berkacaka-kaca
melempar kutuk-dosa yang bisu
mencium maaf dan taubat dari bibir sorga

di ladang sujud kami yang randu
sesuatu itu telah lama pecah
menjelma rapal paling syahdu
cintaMu, penabur kabut kepada tanah basah

20. DI SEBUAH PERJAMUA
Wening Wahyu N

sekali peristiwa,
kureguk secawan anggur yang Kau suguhkan di perjamuan
lalu, aku mabuk, menceracau doa-doa
merapalkan dizikir mawar
dan pada kata-kata yang berlesatan
aku semakin tak berdaya
sebab tubuhku diluruhkan seteguk air cinta-Mu

21. DALAM I’TIKAF DI RUBIA’AT TENGAH MALAMKU
Kholil Aziz

Biar ku titipkan rindu ini lewat dawai sujud tengah malamku
Bersama riak angin di rubi'at syahdu malam kelabu
Rinduku barangkali hanyalah isyarat dalam bingkai masa lalu
Imaji yang mengaliri disetiap degup jantungku adalah murah-Mu
Maka ku pasrahkan seluruhnya dalam hidupku; i'tikaf keheningan

22. ZIARAH PETANI
Moh. Mahfudz AF

ziarahku pecah
dari rindu ke tanah
sungai-sungai mengapung
seperempat desa. menari
"itulah kenapa sawah seperti anakku"
tanpa hari
tiap lumpur sawah
hingga kecipak cangkul
terus kuhujani do'a
meski pakaian
tak mengakrabi tubuhku
keringat hanya
menjelma do'a-do'a
alangkah indah hidup
meski seorang petani
"al-hamdulillah"

23. DI PUNCAK MANIK*
Riyan Ibayana

Di Puncak Manik, langit dan awan mendzikirkan nama-MU
Semilir angin menukik, meraba tubuhku yang kerdil di depan keluasan-MU
Tuhan, tariklah aku menjadi bongkahan batu yang tegar diterpa musim
meneguhkan rakaat-rakaat.

Di sini akan kukapak kesombongan.

24. MERANGGAS
Salman Lubis

Rinduku meranggas
Bersua kemarau
Luka yang cadas
Merentas
Di ranting embun yang melepuh
Jatuh di lembah curam
Menyudahi sedu
Melarung sumpah
Di sedan pagi’Mu

25. SYUKUR CINTA
Haden Mulyono

Khusyuk, Dalam redup
Pada selembar sajadah anyir yang duka
Yang dibentang pada padang darah termurka

Jika kau bertanya tentang jaya dan rasa tenang?
Takkan pernah bertukar
Pada kilau semesta
Pada hamparan gelar mulia
Hingga kerlingan bidadari jelita

Meski jelma langkah bermuara petaka
Tetaplah rinduku, hanya pada-Mu

26. REQUIEM KESUNYIAN
Dwi S. Wibowo

Sesekali singgahlah di ruang terdalam sajakku
Hingga suara-suara riuh memanggili nama-Mu

Dan sesudahnya, akan segera kita mengerti
Tentang siapa yang belajar kehilangan lebih dulu.

27. PUNCAK SEGALA RINDU
Lukman Hakim AG

kau dan aku beradu kencang
bertarung riak dan gelombang
seperti alir segala air
yang menjadikan hilir
ke Muara Akhir
di Titik Takdir

kita pun tiada
seperti api yang mengasap.
asap yang lesap
karena angin lindap

28. MENGAPA KATA ADA BATASNYA
Nazar Shah Alam

MemujaMu kupikir
Tak cukup kata-kata
Sedang hujan dan badai
Api dan rinai
Kau kirim bergantian
Mana kata puji pantas kujulurkan?

MenyintaiMu kurasa
Ah, mengapa kata-kata ada batasnya
Sedang cinta begitu luas
Aku ingin menyembahMu saban waktu
Dan memujaMu melebihi jumlah kata, padahal

29. PADA JARAK LUH*
Eko Triono

kita tulis
...sajak-sajak cinta ini berkali
berkali pada jarak luh*

bertanda
alamat langit

penjaga hutan alfasia di bukit Nur
mengiris
keringat insomnia dzikir;

doa majenun

dan iktikad
buruk di sela urat tasbih
paniti jati, jatining agesang**

30. AKU SEBAGAI PERENANG
A’yat Khalili

Selalu seperti alunan dzikir ini
Aku pun menjadi telah tertakdir
Merindu pohon-pohon tetap basah dan keteduhan.
Sebab sekali menyelam sembahyang, aku ingin mampu bertahan
di palung-palung terdalam. Mengalirkan rakaat-rakaat. Melayari lagi samudra doa
di mana dahulu, masih kulihat jelas tarian cahayaMu
dalam palung jiwaku…

Rabu, 27 Oktober 2010

Bilik Sastra di Pustaka Soeman HS

Perpustakaan Soeman HS telah menjadi salah satu ikon kebanggaan Provinsi Riau. Di dalamnya terdapat sejumlah literatur yang cukup lengkap dengan judul-judul buku bernuansa Melayu. Literatur-literatur ini tersimpan dalam ruangan khusus yang dikenal dengan sebutan Bilik Melayu

Bilik Sastra menyimpan sejumlah literatur Melayu dari sejumlah bidang, baik itu tulisan-tulisan yang berkaitan dengan karya sastra, budaya, sejarah, sosial, pariwisata, pemerintahan, arsitektur, hingga koleksi buku cerita rakyat. Bahkan, ada juga ada karya tulis yang diserahkan langsung oleh pengarangnya. Dari bilik ini, pengunjung bisa mendapatkan sekitar 4.000 koleksi buku tentang kebudayaan lokal dan nasional.

"Bagi saya Perpustakaan Soeman HS ini kampus kedua saya. Saya lebih mudah menemukan referensi sastra disini. Tempatnya nyaman untuk membaca, hingga kadang sampai lupa waktu," Ujar Eka salah seorang mahasiswa sastra yang duduk di salah satu perguruan tinggi di Pekanbaru.

Bilik Melayu memiliki koleksi karya tulis terbitan Riau atau hasil karya orang luar yang membahas kekhazanahan melayu. Baik berupa skripsi, laporan, artikel, dan buku.

Ada juga salinan naskah kuno dalam bentuk himpunan tulisan untuk duplikasi naskah aslinya. Bagi penggiat sastra, Bilik Melayu seperti ruang inspirasi. "Saya katakan ini adalah bilik inspirasi. Pengunjungnya tak begitu ramai, jadi menambah kenyamanan saya untuk mencari inspirasi," ujar Faisal yang meminati dunia sastra.

Hari Libur, Pelajar Ramai Kunjungi Pustaka Soeman HS

Bagi pelajar yang tinggal di Pekanbaru, Pustaka Soeman HS adalah wadah yang tepat untuk menjadikan sarana belajar. Selain punya lokasi yang strategis dan nyaman Pustaka Soeman HS dilengkapi dengan buku-buku pelajaran lebih dari 5000 koleksi dari berbagai penerbit. Sangat ramai bila saat jam kunjung hari liburan.

Hal inilah yang menyebabkan kalangan 'kutu buku' begitu betah berjam-jam untuk membaca, mencari referensi atau sekedar meminjam buku. Selain pelayanannya yang memuaskan pengunjung akan lebih berlama-lama dengan adanya WiFi area. Hingga bila hari libur sekolah pengunjung meembludak hingga 5000 pengunjung.

"Pengunjung pada umumnya kalangan pelajar dan mahasiswa. Kita bisa melihat kalau hari libur terutama siang hari cukup ramai sekali. Jadi Perpustakaan ini kita harapkan benar-benar dapat bermanfaat bagi mereka," kata Salim salah seorang pegawai di Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Riau, Ahad (24/10).


Senin, 25 Oktober 2010

Pengumuman FTD (Wajib Baca!)

Pengumuman 70 Besar Nominasi Lomba Puisi Forum Tinta Dakwah FLP Riau 2010

Assalamualaikum Wr.Wb
Tak ada niat yang paling utama di hati kami menyelenggarakan lomba ini melainkan semata-mata bagi tersyiarnya sastra Islam di dunia maya. Betapapun indahnya sebuah karya sastra tanpa diselipkan padanya sebuah manfaat yang kekal hingga ke akhirat kelak, niscaya ia akan menjadi hal yang sia-sia.

Puisi adalah media untuk memuji kebesaran dan kekuasaan Tuhan. Jadikan setiap goresan tak hanya berbuah prestasi, tapi ada nilai berkah dan pahala. Oleh sebab itu hal utama yang harus kita lakukan adalah PERBAIKI NIAT mengikuti lomba ini. Niat yang ikhlas karena Allah niscaya tak akan pernah membuat kita putus asa. Meskipun nama kita tidak tertera di bawah ini, jika niat kita karena Allah tentulah akan ada manfaat yang luar biasa.

Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim berikut kami umumkan 70 besar nominasi lomba puisi FTD FLP Riau 2010 (Urutan acak). Untuk kriteria penilaian akan kami umumkan pada pemilihan nominasi 30 besar awal November mendatang.

Salam karya penuh manfaat.
Panitia Lomba Puisi Forum Tinta Dakwah FLP Riau 2010

1. A. Ganjar Sudibyo
2. Alimuddin
3. Amaturrasyidah
4. Iman Safri Lukman
5. Kholil Aziz
6. Moh. Mahfudz AF
7. Muhammad Haddiy
8. Muhimmah
9. Muna Masyari
10. Quranul Hidayat Idris
11. Riyan Ibayana
12. Salman Lubis
13. Wening Wahyu N
14. Mariyam
15. Rafif Amir
16. Abdul Salman HS
17. Airin Nisa
18. Mukhanif Yasin Yusuf
19. Riyawati
20. Deris Afriani
21. Ayyesha Khaulah Nusaibah
22. Eros Rosita
23. Dony P. Herwanto
24. Na Lesmana
25. Diannafi
26. AF Kurniawan
27. Bening Sanubari
28. Inda Nugraha Hidayat
29. Faisal Syahreza
30. Aji Wibowo
31. Maulana Hadisona
32. Adyani Sultani
33. Bobby Selfian P
34. Reno Hanjarwady
35. Sahda Nuansa
36. Gendut Pujiyanto
37. Julian Khairul Al-Hafidz
38. Nero Taopik Abdillah
39. A’yat Khalili
40. Afrida Arfah
41. Andi ME Wirambara
42. Asyari Muhammad
43. Awan Tenggara
44. Bang Pras
45. Dwi S. Wibowo
46. Eka Diyah A
47. Eko Triono
48. Haden Mulyono
49. Hery Abdul AlGhoffar
50. Ihsan Subhan
51. Lukman Hakim AG
52. Rinaldi a Thal
53. Pringadi Abdi Surya
54. Suly Bungsu Kasmaja
55. Zulkifli Songyanan
56. Fahrur Rozi Atma
57. Husen Arifin
58. Nazar Shah Alam
59. Toni Lesmana
60. Maya Rinaluziati
61. Dalasari Pera
62. Shinta
63. Muhammad Rusydi
64. Fany Cahya Ning Tyas
65. Untaian Cinta di Atas Sajadah (anonim)
66. Fevrianti Ika Dewi
67. Abdul Khafy Syatra
68. Rizky Bagoes Alam
69. Fauziah Harsyah
70. Kiananara

Tertanda,

Panitia

Sabtu, 23 Oktober 2010

Anarkisme Bukan Ikon Gerakan Mahasiswa

PEKANBARU - Kecenderungan anarkisme yang mewarnai aksi mahasiswa dalam 1 tahun terkahir bukanlah icon dari gerakan mahasiswa, melaikan icon gerakan preman. Gerakan mahasiswa pada dasarnya sebuah gerakan intelektual yang bersifat visioner dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Gerakan yang anarkis justru akan menurunkan citra bangsa Indonesia sendiri. Tidak mungkin mahasiswa melakukan anarkisme dalam aksinya terlebih dahulu tanpa ada pemicunya. Demikian dikatakan ketua KAMMI Pusat Rijalul Imam S Hum MSi kepada Riau Mandiri, Kamis (21/10). Menurutnya perlu objektifitas bersama dalam menentukan siapa yang memicu terjadinya anarkisme dalam aksi. "Dalam setiap rapat persiapan aksi dengan gerakan mahasiswa lain pun dari yang pernah saya alami, bahwa tidak ada agenda untuk bersikap anarkis itu sendiri. Justru yang ada dilapangan ada pihak tertentu yang menyusup ke dalam barisan dan sengaja memprovokasi terjadinya kericuhan," jelasnya usai mengisi Talk Show Nasional Kammi Daerah Riau di Aula Rektorat UR.

"Icon gerakan mahasiswa adalah intelektual. Nggak mungkin membangun Indonesia ini dengan anarkisme. Saya sarankan kepada gerakan mahasiswa, kita perlu menjaga kekompakan dalam mengkritisi masalah yang terjadi di bangsa ini. Tapi mahasiswa juga tidak boleh mentolerir anarkisme itu sendiri. Saya ingin katakan bahwa anarkisme bukan berasal dari mahasiswa. Anarkisme di jalan bagian dari rekayasa pihak tertentu. Jadi kepada pihak yang dikritisi jangan membungkam gerakan kritis mahasiswa dengan cara-cara seperti itu," ungkapnya.

Sementara itu umumnya masyarakat masih menilai bahwa aksi tidak akan menyelesaikan masalah. Rijal berpendapat bahwa aksi adalah bagian dari pembentukan karakter bangsa. "Mahasiswa-mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa. Salah satu cara pembangunan karakter bagi mahasiswa yakni turun ke jalan. Sebab seseorang yang vokal di forum, belum tentu di jalan berani menyuarakan aspirasi, atau berhadapan dengan polisi, dikejar-kejar anjing dan sebagainya. Maka calon pemimpin itu harus terlatih, baik di forum ataupun luar forum," tambahnya.

Pemimpin Harus Berani Mengambil Resiko

Lebih lanjut Rijal menjelaskan ada 4 karakter yang dibutuhkan bangsa ini dalam membangun bangsa yang bermoral. Pertama visioner, yakni cara pandang yang tidak terjebak dari masa lalu dan tidak terjebak dengan realitas kekinian. Yang kedua berani, bangsa ini membutuhkan orang-orang yang berani mengambil resiko dan tidak takut pula dengan resiko, tapi juga tidak nekad. "Berani inilah yang memunculkan nilai-nilai kedaulatan," tegasnya.

"Ketiga, Naturalisme. Yakni spirit dari ke-bhinnekaan dan keragaman. Biarkan karakter itu muncul natural dan tidak dominasi dengan iklan atau citraan yang bertujuan untuk mempertahankan kekuasaan, agar masyarakat nantinya bisa meneladani pemimpinnya. Dan ke empat, yakni karakter keberpihakan. Karakter yang dibutuhkan oleh pemimpin sekarang. Harus jelas keberpihakannya kepada siapa," tandasnya.

Rijal mengambil contoh ketegasan negara Jepang dalam menolak masuknya produk dari Amerika, dengan tujuan ingin melindungi produksi dalam negerinya. "Nah, Indonesia sebaliknya. Produk luar negeri masuk terus menerus. Sementara kita diminta untuk mencintai produksi dalam negeri. Coba kita tanyakan mana produksi dalam negeri kita? Lantas produk dalam negeri yang mana ingin kita cintai? Bagaimana produk dalam negeri mau hidup bila produk luar terus diimpor. Inilah bukti ketidakberpihakan pemerintah kepada bangsa ini. Keberpihakan dalam konteks kebangsaan ini, saya definisikan sebagai sikap nasionalisme. Kita pertanyakan sikap nasionalisme pemerintah," tutupnya.

Selain Rijalul Imam yang hadir sebagai pembicara Talk Show yang mengangkat tema "mewujudkan pemimpin yang berkarakter untuk membangun bangsa Indonesia yang bermoral", hadir juga sebagai permbicara yakni Prof Dr Firdaus LN MSi (Akademisi Riau), dan Jefry Noer (Anggota DPRD Riau). Talk Show ini dalam rangka pembukaan pelaksanaan Dauroh Marhalah II oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Riau, yang digelar dari tanggal 21 hingga 24 Oktober 2010. mg16/RM

Senin, 23 Agustus 2010

Agama Untuk Sebuah Peradaban

Banyak orang beragama, namun tak tahu ke mana arahnya. Sebagiannya memuja kepuasan jiwa. Mereka ‘uzlah dari lingkungan masyarakatnya, menyepi dalam kelambu-kelambu suluk. Tenggelam dalam dzikir mengingat Dzat Tuhannya, mencapai ‘isyq yang membuat mereka tak lagi hiraukan dunia. Ohoi, ternyata mereka lupa, bahwa Dzat yang sedang mereka sembah itu telah memperingatkan, bahwa kelakuan yang demikian hanya akan membuat mereka terhina. Seperti juga kata seorang ulama, ‘Laa takun tarbiyata ruhiyyah firaaran min takallufi syar’iyah !’, (jangan kau jadikan latihan spiritualmu menjauhkan dirimu dari kewajiban syari’ah). Kewajiban menghimpun kompetensi dalam aura keshalihan. Kewajiban sosial kemasyarakatan, kewajiban berjama’ah, kewajiban bermu’amalah.“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia….” (Ali Imran: 112)

Golongan lainnya, beragama dengan akalnya saja. Luar biasa pengetahuan mereka, Al-Qur’an dan hadits pun berhasil dihapalkannya. Namun mereka ibarat keledai yang tak tahu benda apa yang sedang dipikulnya. Di tangan mereka, agama menjadi khazanah intelektual semata. Agama menjadi bahan perdebatan di forum-forum ilmiah, menjadi konsepsi-konsepsi riuh pengisi ruang-ruang seminar. Habis itu hampa, tiada tahu hendak berbuat apa. Mereka lupa memfungsikan hatinya, padahal hati adalah instrumen jiwa. Lahum quluubun laa yafqahuuna bihaa, mereka dikaruniai hati, namun tak kunjung faqih dengan hatinya itu.

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (Al Jumu’ah: 5)

Ada pula golongan selanjutnya. Bagi mereka agama adalah pelengkap status kebangsaannya, karena konon di negerinya tak boleh hidup orang yang tiada beragama. ISLAM, tertulis jelas di lembar kartu identitas mereka. Manusia menuliskan pula huruh ‘H’ sebelum menggoreskan namanya. Tapi orang-orang ini buta hati dan lemah ilmu. Segala larangan Sang Khaliq dilanggarnya, perintah dan anjuran dinafikannya. Kalaulah Ibnul Qayyim menuliskan dalam Jawabul Kafi-nya soal penyakit syubhat dan syahwat yang menjadi akar kesesatan manusia, maka mereka inilah penderita akut kedua-duanya. Mereka tak kenal dengan kebenaran, sehingga tegur-sapa jiwa mereka hanya dengan nafsu dan keinginan.

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” (Al Furqan: 43)

Lantas bagaimana kita mesti beragama. Di mana mulanya dan mana titik penghabisannya? Sungguh agama (ad-din) itu semuara dengan kata ad-dayn (hutang). Maka kehidupan beragama harusnya diawali dengan rasa berhutang kepada Allah SWT. Betapa besar karunia-Nya, betapa luas ampunan-Nya, betapa sabar Ia menyaksikan kemungkaran yang diperbuat hamba-hamba Nya. Resapilah dalam-dalam bahwa kita memang membutuhkan Allah. Ah, rasanya tak mampu kita menyebutkan satu persatu nikmat dan karunia-Nya yang telah kita rasa. Rasa berhutang inilah yang kemudian melahirkan ketundukan, kepatuhan, kepasrahan. Lantas raga ini pun jatuh tersungkur ke bumi, bersujud dalam jutaan tasbih, tahmid, takbir dan milyaran istighfar atas kealpaan kita.

Perasaan tunduk ini tak boleh dibiarkan hidup sendiri. Ia harus menjadi akal kolektif bagi seluruh umat manusia, minimal sebagian besar mereka. Dan ketundukan tersebut harus diorganisir agar produktif, bukan menjadi kerumunan yang sia-sia. Maka ia butuh dayyan (pemimpin). Pemimpin dengan perasaan terhutang paling besar terhadap Tuhannya, pemimpin yang paling khusyu’ hatinya, paling luas ilmunya, mendalam kepahamannya, paling lurus dan tajam pandangannya. Pemimpin yang kuat, jujur, adil, amanah. Pemimpin seperti Rasulullah Al-Amin, yang menunaikan amanah dengan penuh iman, sehingga terbitlah perasaan aman.

Kafilah keshalihan ini kemudian membutuhkan pula peta, agar jelas jalannya. Agar mereka tidak masuk ke dalam jurang, tidak sesat di persimpangan jalan, ataupun hilang di gelap malam. Maka mereka butuh ad-din (tata aturan), butuh syari’at yang lengkap dan jelas. Sinar yang menerangi jalan mereka, menunjukkan tujuan terakhir perjalanannya dan menjelaskan di titik mana mereka harus berjalan, berhenti atau berlari. Itulah Al-Quran, itulah sunnah, itulah pula gunanya sirah (sejarah perikehidupan Rasulullah SAW).

Pengejawantahan syari’at tentu perlu ruang dan waktu. Mestilah ada lahan yang tersedia untuk menyemai bibit keshalihan itu, dan ada rentang masa yang cukup untuk memberikan kesempatan pada musim untuk silih berganti menempa tumbuhnya sehingga dewasa. Itulah yang kita sebut sebagai madinah (kota). Pada skalanya yang lebih luas, bolehlah ia disebut sebagai negara. Di sana semua keshalihan di alam pikiran tertuang dalam ruang kenyataan. Di sana semua idealita dibenturkan dengan realita. Di sana hikmah dan kebijaksanaan mewujud dalam keadilan dan kesejahteraan. Maka di sana pulalah momen sejarah akan ditancapkan. Karena sejarah, sebagaimana dituturkan filsuf besar Islam asal Aljazair, Malik Bennaby, memang dibentuk sebagai paduan yang harmoni antara unsur-unsurnya: manusia, tanah dan masa.

Paduan dari keseluruhan konsepsi-konsepsi tersebut: perasaan tunduk kepada Rabb pencipta semesta, yang dibingkai dalam kepemimpinan yang berlimpah hikmah, berjalan di bawah bimbingan aturan dari langit, dan mewujud pada tata pemerintahan yang berkah, bertemu dan berkelindan pada sebuah kata : tamaddun, peradaban. Itulah misi riil kita dalam kita beragama. Shina’atul hadharah, membangun peradaban di atas pondasi keimanan. Peradaban yang berada di bawah bimbingan dan naungan Allah SWT, peradaban yang membukakan jalan keselamatan, jalan yang menghubungkan bumi dengan Jannatul Firdaus yang tinggi. Peradaban yang membuat bumi menjadi surga sebelum surga.

Ya Allah, jadikanlah kami anak-anak zaman yang bermain dan bercengkrama di taman peradaban Islam. Amien….

Andree,M.A.
Da’i, Sosiolog

Senin, 24 Mei 2010

Jangan Rampas Masa Depan Mereka!

“Pak, minta duet!” seorang anak berseru kepada sepulangku dari kampus.
Dunia anak-anak, adalah dunia yang paling menyenangkan. Ceria, tertawa, bahagia, senang, dan indah. Mereka yang masih polos, menyenangi apa saja yang menjadi perhatiannya. Karena dunianya adalah permainan, apa saja yang ia hadapi adalah bahan baku untuk dijadikan mainan. Gelas, sendok, piring, sepatu, sarung, bantal, botol, hape, pisau, gunting dan masih banyak lagi. Hal ini terkadang yang membuat sebagian kalangan sedikit jengkel dibuatnya. Apa tidaknya, perlengkapan yang seharusnya dalam kondisi baik, tapi harus disingkirkan dari rumah atau masuk ke gudang karena tidak layak pakai lagi. Itu kalau akibat ulah anak-anak, meskipun tidak semua.
Kita juga masih merekam kisah-kisah kita waktu kecil dahulu. Masa-masa yang indah itu. (Hoho apakah sekarang tidak ada masa indah lagi?) Bila dahulu kita disayangi, sekarang ini kita lah yang menyayangi. Sangat jauh sekali perbedaannya. Zaman dimana mereka mulai tumbuh sangat kontas dibanding dengan zaman kita tumbuh. Perbedaan itu jelas adanya. Bila zaman kita cendrung kuno, tadi di zaman mereka adalah zaman serba digital. Zaman yang tak perlu main bola lagi di lapangan. Zaman yang tak perlu jalan kaki ke sekolah. Zaman yang serba instan, mewah, penuh warna-warni.
Karena anak juga lahir dari rahim yang berbeda, tetap saja selalu perbedaan itu. Kehidupan masing-masing anak tetap saja tidak sama. Kebahagian dan masa anak-anak itu tetap saja dirampas oleh zaman. Kehidupan yang keras justru sudah menjadi bagian kehidupannya. Tak jarang dari mereka yang menjadi korbannya. Di usianya yang dini itu, mereka harus menghidupi keluarganya, meninggalkan bangku sekolahnya. Sementara haknya untuk mendapatkan pendidikan, masa depan dan lain sebagainya pupus sudah. Eksploitasi anak bukan menjadi permasalahan yang baru lagi hari ini.
Ada beberapa faktor yang menurut saya, anak sebagai korban eksploitasi zaman. Pertama, foktor keluarga. Keluarga yang lemah secara ekonomi, salah satu penyebabnya. Patut disayangkan bila ini terjadi. Adalah anak yang mempunyai keluarga – yang seharusnya dilindungi – justru menjadi penopang kehidupan keluarganya. Permasalah tersebut akan menjadi berantai bila tidak diputus dari faktor itu. Pola pikir yang berubah akibat kerasnya kehidupan, biasanya akan dijadikan refensinya kelak ketika mereka telah berkeluarga. Kecuali memang kehidupan ekonomi mereka lebih baik. Tapi itu bukan suatu garansi.
Kedua, foktor pendidikan. Dalam hal ini sekolah harus menjadi perekat antara anak dan orang tua. Pendidikan yang dijadikan kurikulum di sekolah seharusnya bisa membentuk pola pikir yang bersifat konstruktif. Sehingga pola pikir anak yang tadinya suka meminta-minta menjadi pikir yang konstuktif kontributif. Meskipun ini memang pekerjaan berat dan membutuhkan waktu yang lama.
Ketiga, faktor (pihak) pemerintah. Pemerintah seharusnya tidak setengah-setengah dalam memberantas kemiskinan. Sebab akar masalah tersebut salah satunya adalah kemiskinan. Pemerintah melalui dinas sosial dan LSM harus punya program yang jelas dan efektif dalam menyelesaikan masalah tersebut. Menyelamatkan anak-anak dari eksploitasi yang semakin akut ini.
Anak-anak adalah generasi yang akan meneruskan dan meluruskan bangsa ini. Seakan kita telah lupa kalau mereka akan menggantikan kita. Tiga elemen di atas seharusnya bisa lebih serius dan sinergis dalam mengembalikan atmostir anak-anak yang telah dirampas zaman menjadi dunia yang penuh bahagia dan kasih sayang. Agar mereka tak menjadi manusia yang lemah dalam berfikir, menikmati masa kebahagiaan mereka, dan tersenyum menyambut masa depannya yang lebih baik. Menjadi generasi yang ramah, bermoral, sopan, jujur, cerdas, integritas, mapan, peduli dan agamis.
Anak ibarat “buluh” yang bisa dibentuk bila dilenturkan dari “rebung”nya. Perhatian kita sejak dini terhadap anak, adalah harta yang tak ternilai dari kita. Amal jariyah yang akan membentuk mereka insane robbani. Bukan lagi menjadi insan yang meminta, tapi justru memberi. Semoga!
Oleh : Muflih Helmi



Rabu, 19 Mei 2010

Tarik Menarik Ide Cerita

Saya merasakan ide dan cara penyampaian pemikiran dalam sebuah karya sastra sekarang, cendrung bebas dan berbeda-beda. Atau barangkali hal semacam ini baru saya sadari setelah kaki saya benar-benar telah masuk ke “rumah sastra”, dan saya belum mengenal betul apa isi “rumah sastra” itu sendiri. Paling tidak yang saya rasakan ini adalah sebuah kegundahan pemikiran saya sebagai pendatang baru dalam dunia literasi akan hal itu.Munculnya perbadaan dalam konteks penyajian sebuah karya sastra; novel, cerpen, puisi dan kerabatnya, menurut saya bermula dari ego penulis. Kenapa saya katakan demikian? Kita selami terlebih dahulu masing-masing konteks dan tidak perlu banyak. Misalnya cerpen. Ketika saya mengenal cerpen waktu di sekolah dasar wajib 9 tahun dulu, yang saya pahami sebuah cerpen harus mengandung unsur tokoh, alur, latar, konflik, klimaks, amanat dan ending (kalau salah mohon dibetulkan).
Dan sekarang saya melihat (atau mungkin karena waktu itu adalah pelajaran sastra yang sangat dasar sekali, ya?) unsur-unsur tersebut, tidak mutlak digunakan. Misalnya cerpen yang tertulis dalam buku (kumpulan cerpen terjemahan) Salju Kilimanjaro, karya Ernest Hemmingway. Di sana hanya memuat cerpen yang jauh dari espektasi pembaca. Misalnya, ending yang biasa saja, tidak ada konflik, dll. Dan tidak itu saja yang saya temukan. Masih banyak cerpen yang justru sangat minim sekali konflik, amanat, penokohan dan lainnya, dan itu bukannya ditulis oleh penulis pemula. Tapi ditulis oleh penulis “top”.
Kembali ke ego penulis tadi. Munculnya hal-hal demikian penulis mencoba memaparkan sebab-musababnya, meskipun hanya sebatas subjektifitas saya. Pertama, penulis ingin punya karakter tersendiri. Ini adalah salah satu yang diinginkan penulis, ketika ia harus membuat sebuah karya sastra, adanya karakter dalam tulisannya. Sebab penulis ingin punya style yang beda dengan penulis lain. Artinya memang penulis tidak ingin dikatakan karyanya mirip dengan penulis lain. Bisa-bisa nantinya “di-cap” penulis yang plagiat.
Kedua, ideologi penulis. Tidak banyak memang yang mengetahui tentang hal ini. Tapi yang jelas ideologi menulis sangat berpengaruh besar pada style tulisan. Ketiga, apa ya? Anda mungkin punya jawabannya? Ingin tampil beda, aja? Bisa jadi. Sekarang zamannya suka beda-beda. Jadi tidak ada salahnya kita juga mesti beda membawakan sebuah karya. Kalau kebanyakan cendrung membawakan dengan gaya vulgar. Maka - karena kita ingin tampil beda - kita bawa dengan gaya yang lebih vulgar. Ups..maksudnya full god. Karya-karya yang sarat akan makna.
Demikian juga dengan sebuah ide cerita. Semakin hari ide cerita semakin variatif. Sampai-sampai kita tidak menemukan si-dia (ide cerita, red). Saya juga tidak tau kemana perginya. Mungkin sudah siap-siap ikut bersama Ibu Sri Mulyani ke World Bank, setelah adanya isyarat pemakzulan buat dirinya. Lho kok jadi nggak formal gini tulisannya. Em.. nggak pa lah. Kembali!
Demikian juga ide cerita. Ada yang mengangkat tema sederhana, ringan, berat (seberat apa ya?). Nah, ini yang jadi tantangan. Cerita seperti apa yang akan diangkat, dan supaya tidak dikatakan “klise” cerita itu? Ini memang sulit. Dan proses kita mencari itu justru akan memunculkan ide-ide yang baru. Ide yang lebih kreatif, dan tentunya bisa diterima juga layak dikonsumsi oleh pembaca.
Itulah sebuah realitas yang hari ini kita temukan. So? Tulisan kita mau dibawa ke mana?

Teratai 2010
Muflih Helmi



Senin, 17 Mei 2010

Lawa; Sebuah Ekpektasi Cinta yang Riuh

1. Prolog
Sebuah senyum mengulas dari bibirku saat mengakhiri kisah ini (baca; Lawa). Barangkali seindah senyum Markoni menatap Lawa saat pertama kali mereka berjumpa. Atau, mungkin seperti senyum Bunda Taman Bungo kepada Lawa, saat menimang cucunya. Atau mungkin juga tidak bisa disamakan dengan senyum para tokoh yang gelisah dalam Novel Saidul Tombang ini.

Kalimat-kalimat terakhir dalam novel ini, benar-benar mampu menjawab kegelisahan saya sebagai pembaca. Perhatian saya benar-benar sudah ditarik pada kesimpulan akhir novel “Lawa” ini. Sekalipun tidak secara detail diceritakan, namun sedikit-banyak bisa menjelaskan ke mana arah akhir ceritanya. Perhatian itu adalah, langsung kepada ending yang terbilang a melancholy happines.
Saidul Tombang benar-benar membuat keputusan yang sulit untuk diterima oleh sebagian tokoh lain. Ini membuktikan bahwa seorang Saidul Tombang mampu mengecoh pembaca dalam menebak ending cerita tersebut. Awalnya memang Markoni terkooptasi oleh paradigma masyarakat yang mengatakan bahwa, adalah aib bila berumah tangga tanpa anak. Tapi pada bab terakhir kerisauannya terjawab sudah. Lawa-lah penjawabnya. Dan itu sebenarnya kata kunci ke mana arah ending cerita tersebit.
Novel ini adalah benar-benar sebuah cerita yang sumbang – senada yang diungkapkan Marhalim Zaini pada endorsement novel ini. Juga merupakan sebuah keresahan Saidul Tombang. Resah bila novel ini tidak diselesaikan. Meskipun dengan sebuah keputusan yang akan menyakitkan bagi Za dan membangkitkan kemarahan Mamak Sidin. Sumbang yang dimaksud adalah bentuk cerita cinta yang saling tarik-menarik antara satu dengan yang lain. Sehingga itu membuat resah Markoni.
Penulis terus terang sangat apresiatif terhadap kisah cinta yang sumbang ini. Sebab kisah percintaan kerap kali tidak pernah basi ditulis dalam sebuah novel. Selalu ada bahan yang bisa dianyam menjadi sebuah kisah percintaan. Dan itu entah sampai kapan akan berakhir. Sebab selalu ada cinta dalam setiap zaman. Apa lagi novel tersebut ditulis dengan background history, lengkap dengan dialek local, yakni Kampar, mampu membawa pembaca mengikuti kisah cinta klasik yang melankolik.
Begitu juga yang dialami Lawa (Siti Jailawa) dalam novel Saidul Tombang ini. Kisah cinta lawa yang rumit adalah sebuah cara Saidul Tombang mengaduk emosi pembaca. Namun, hadirnya wanita yang mengaku Tiara dalam perjalanan ke Mahat – lebih tepatnya pelarian – seakan mengalihkan perhatian pembaca kepada Jailawa. Tapi sesungguhnya penulis memprediksikan bahwa Tiara adalah Siti Jailawa itu sendiri. Ini dikuatkan ketika banyak kemiripan yang ditemui Markoni sepanjang perjalanan. Meski kenyaninan itu tidak sampai 100 %. Dan ungkapan, “Mengapa Tuan tak pernah membaca tanda-tanda? Apakah mata Tuan sudah mati dan buta seperti hati yang tuan punya? Adalah sebuah tanda, yang menunjukkan siapa sebenarnya Tiara.
Awalnya saya – terus terang – tidak menyukai atas kehadiran Tiara dalam novel ini. Seakan novel ini membuat sumbang. Karena seakan mengaburkan sebuah cerita saja. Namun, setelah saya selesai membaca novel ini, kehadiran wanitia yang mengatasnamakan Tiara, memang seperti itulah seharusnya.
Cerita cinta dalam novel lawa ini, berlatar belakang history. Tepatnya kira-kira berlatar-belakang tahun 45-an sampai 55-an. Ini tergambar jelas dari mulai masuknya tentara Jepang dan juga Belanda. Diceritakan dengan kondisi dan situasi yang masih rumit. Kehidupan yang susah penuh ancaman peperangan. Dan digambarkan betapa pentingnya status berkeluarga pada saat itu.


2. Tokoh dan Setting
Tokoh : Markoni (laki-laki yang dilanda percintaan rumit), Siti Jailawa (wanita yang sudah menjanda yang dinikahi Markoni dan menyamar sebagai Tiara), Zahra (wanita Muaro yang sudah hampir menikah dengan Markoni anak mamak Sidin), Mamak Daud (Orang tua angkat Markoni di Poro), Mamak Sidin (orang tua Zahra, mamak markoni),Tiara (wanita yang jelek yang tidak lain adalah Lawa), mak Etek Ijum (mak angkat Markoni di Tanjung), Leman (teman markoni di Mahat), Mak Tusi (Istri Kepala kampung saat bermalam di Kumontang), Tuk Bomo (dukun yang mengobati Tiara), Jufri (Laki-laki yang membantu dagangan Markoni saat tinggal di Poro), Pak Tolib (Pejuang yang juga pernah di tangkap di kamp Salo).
Setting : Mahat, Muaro (Kampung suami Tiara), Poro, Kampung Tanjung, Kumontang, Salo, Rantau, Batu Bersurat, Kampar.

3. Apresiasi
Terus terang saya menyukai novel yang berlatarbelakang lokal. Dan novel ini mempunyai latar cerita di tanah Melayu, Kampar dan sekitarnya. Ini barangkali yang menajadi pilihan Saidul Tombang yang juga terlahir di Kampar. Sebab penulis novel akan mudah dalam menguraikan kisah yang sarat dengan muatan lokal, yang tidak lain adalah (termasuk) kampung halamannya sendiri.
Saidul T menjadikan tokoh Markoni adalah tokoh yang terlanjur masuk dalam wilayah adegan yang membingungkan. Sebab situasi yang digambarkan dalam kisah tersebut menjadi salah satu pemicunya. Sehingga penokohan Markoni cukup kuat dalam novel ini.
Dalam memutuskan ending cerita tersebut, ada yang menjadi pertanyaan saya, yakni apakah semudah itu Mamak Sidin, Zahra memaafkan Markoni yang sudah berumah tangga selama tujuh tahun, sehingga mereka berniat akan melanjutkan pernikahan? Apakah mungkin tradisi di Mahat seperti itu? Ini yang belum teriris oleh mata pisau analisa saya. Perlu ada alas an kuat secara logika dalam menjawab pertanyaan itu.
Tapi, bagaimanapun juga Saidul Tombang mempu mengaduk emosi pembaca dan membuat penasaran sedemikian rupa dengan plot yang maju mundur itu. Dan ternyata penulis novel Lawa tersebut mampu menyimpan espektasi pembaca. Hingga sampai akhirnya espektasi itu terjawab pada akhir cerita. Apalagi sedikit banyak kita mendapat pengetahuan akan hokum-hukum perkawinan.
Dialek lokal yang cukup banyak, membuat pembaca mengenal dan menambah perbendaharaan kata. Bagi saya yang juga (sedikit-banyak) mengenal kata-kata lokal tidak menyulitkan dalam memahami. Apalagi di bagian akhir dilengkapi dengan glosarium. Sehingga mempermudahkan pembaca dalam memahami kata-kata lokal dalam novel ini.
Dan yang terakhir, Saidul Tombang harus meminimalisir dan arif dalam memuat adegan “intim”. Sebab cerita yang diangkat sarat dengan kearifan melayu. Dikhawatirkan akan menodai harkat melayu itu sendiri. Masih banyak kata-kata lain yang lebih arif untuk digunakan.
Semoga!
Oleh : Muflih Helmi




Kamis, 06 Mei 2010

Mahaguru dan Bahasa

SEPEKAN lalu saya mencatat tiga peristiwa yang berkaitan dengan kebahasaan. Pertama, rendahnya angka kelulusan siswa dalam Ujian Nasional untuk Bahasa Indonesia; kedua, pengukuhan Mahaguru Yusmar Yusuf di Rektorat Universitas Riau; dan ketiga, panel diskusi dengan tema ‘’Revolusi Pendidikan Lewat Tulisan’’, yang diselenggaraka oleh Forum Lingkar Pena Riau di Rektorat UIN, Riau, dengan menghadirkan panelis dua orang penulis ternama, Afifah Afra dan Muthmainnah.Bahasa Indonesia agaknya tidak mudah? Bukankah Bahasa Melayu adalah cikal bakal Bahasa Indonesia? Tetapi, Amerika Serikat pun di tahun 1970-an pernah mengalami masa-masa suram, ketika para siswanya memperoleh nilai yang rendah untuk Bahasa Inggris yang menjadi bahasa ibu mereka.

Laporan Newsweek 2 Desember 1991 dengan judul ‘’The Best Schools in The World’’ makin memperjelas betapa pendidikan AS jauh ketinggalan dari sejumlah negara. Selandia Baru terdepan pada nomor satu dalam pelajaran membaca dan menulis. Di Selandia Baru, 50 persen waktu belajar di kelas-kelas awal SD digunakan untuk pelajaran membaca dan menulis (Dedi Supriadi, 1999: 60).

Masalah bahasa ini menjadi serius manakala dikaitkan dengan kemampuan membaca dan menulis, dalam arti kemampuan mengekspresikan pemikiran dalam bentuk tulisan. Dan menjadi amat serius bila dihubungkan dengan kemampuan verbal pada umumnya anak didik kita. Idealnya seorang siswa harus memiliki kemampuan yang baik dalam membaca dan menulis serta memiliki kemampuan yang baik pula secara verbal.

Kemampuan itu akan menjadi modal yang sangat baik dalam pengembangan kapasitas sebagai calon-calon pemimpin di masa depan. Bila kelak, mereka tampil sebagai seorang pemimpin sungguhan, pada level apapun, mereka tidak akan kesulitan mentransformasikan ide-idenya.

Dewasa ini banyak masalah yang timbul dan kemudian berkembang menjadi aksi kekerasan, salah satu penyebabnya adalah karena miskinnya komunikasi. Dan itu masalah verbal ability. Tulisan yang ditulis oleh seorang pemimpin memperlihatkan kadar akademis sekaligus kontrol bagi sang pemimpin. Mengerjakan apa yang ditulis dan menulis apa yang dikerjakan, tentu sangat bagus dalam aspek akuntabilitas.

Prof Yusmar Yusuf memperlihatkan betapa peran bahasa dengan kemampuan verbal mumpuni bisa menjelaskan banyak hal sensitif menjadi sesuatu yang rasional dan mudah dicerna, dan tidak perlu ada yang merasa tersinggung. Dalam orasi pengukuhan yang menyentak-nyentak dan meronta-meronta selama hampir dua jam, Prof Yusmar Yusuf menyadarkan kita dalam banyak hal.

Secara kebetulan, ketiga peristiwa tersebut berlangsung dalam suasana peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2010. Barangkali tidak berlebihan bila dalam momentum peringatan Hari pendidikan Nasional ini kita melakukan sedikit kontemplasi tentang bahasa dan penulisan.

Pujangga pemenang Nobel sastra, Gabriel Garcia Marquez, berpesan, ‘’cara terbaik seseorang dapat menjalankan revolusi adalah tulisan sebaik yang dapat dia lakukan.’’ Tidak pun menggerakkan sebuah revolusi, tulisan membuat hidup lebih puitis. Verba volant scripta manent. Apa yang diucapkan akan diterbangkan angin, tapi apa yang ditulis akan abadi. ***
Komentar



Minggu, 18 April 2010

Cerpen; Anak Air Asin

Anak Air Asin
(Bambang Kariyawan)
Pemenang Jarapan Utama Lomba Menulis Cerpen Remaja ROHTO
Tingkat Nasional 2008

Sampan-sampan bergerak perlahan menyusuri tepian laut yang dihiasi rimbunan bakau, lambaian kelapa, dan tiupan cemara laut. Gerakannya perlahan seiring tiupan angin dan arus laut. Sampan-sampan yang mempunyai kajang, itulah istilah untuk menyebut sampan yang di atasnya diberi sirap atau atap dari daun kelapa. Kesehariannya kajang dijadikan rumah untuk bertempat tinggal. Beragam kegiatan manusia dilakukan di atas sampan tersebut mulai dari mandi, masak, tidur, dan kegiatan lainnya. Selama ratusan tahun, Suku Laut benar-benar menjadi ”manusia perahu”, yang hidup di atas perahu. Bagi mereka, laut adalah segala-galanya. Laut adalah ”rumah” yang memberikan naungan sekaligus kemerdekaan hidup.
Di salah satu sudut sungai Pulau Ngenang, Batam yang di tumbuhi hutan bakau dan hamparan pantainya terlihat seorang anak berusia sekitar 13 tahun sedang mengayuh sampan dan sesekali terlihat menebarkan jaringnya. Tebaran jaring sebuah keindahan ketika menyatu dengan hamparan biru laut dan membawa pancaran mata-mata harapan saat ikan-ikan menari-nari untuk memberikan kehidupan bagi yang menangkapnya.
”Atan... tolong carikan air tawar ya nak?” suara seorang emak memanggil anak lelakinya yang mulai beranjak remaja yang sedang memilah-milah ikan-ikan dan hasil laut lainnya.
“Iya mak,” Atan menjawab sambil mencari di hamparan laut kemungkinan ada tanda-tanda yang berbeda dari warna air laut yang lainnya berarti itulah tandanya ada air tawar. Atan dengan sigap mencari air tawar untuk emaknya dan sekaligus membawakan penyu dan teripang sebagai bahan makanan dan sekaligus untuk dijual.
”Hebat sekali anak emak ini, kau memang anak air asin kebanggaan kami, banyak teripang yang didapat, jangan lupa bawa ke darat jual sama tauke Cina tuh, cukuplah uangnya untuk beli beras dan sayuran,” kata emak sambil meminta Atan menuangkan air tawarnya ke dalam ember untuk minum.
”Penyu ini dimasak apa mak?”
”Nanti emak goreng dan buatkan sambal untuk kau tuh.”
Penyu merupakan salah satu hewan "cantik" di dasar laut. Bagi Suku Laut, para nelayan yang hidup nomaden penyu termasuk salah satu hewan laut yang mudah ditangkap. Bukan dijaring, tetapi ditombak. Mata tombak diikatkan pada sebuah tali dan diletakkan di ujung kayu. Setelah mata tombak ditancapkan ke penyu, tali pun ditarik.
***
Masyarakat Suku Laut memang masih dianggap sebagai masyarakat pedalaman bagi penduduk Kepulauan Riau. Peneliti Eropa dan Amerika menyebut mereka Gipsi Laut karena mereka hidup di atas perahu-perahu yang bergerombolan di lautan.
”Pak, mengapa kita tidak tinggal di rumah seperti yang ada di pantai?”
”Orang seperti kita takut melihat atap rumah yang tinggi Atan, kita sudah terbiasa tinggal di kajang yang atapnya pendek,” jelas bapak Atan.
Hari itu tetangga sampan sebelah bapak Atan ada yang akan melahirkan. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat bila seorang perempuan akan melahirkan maka dibawa ke darat untuk dilanjutkan prosesnya oleh dukun beranak atau kini oleh bidan desa. Pada saat bersamaan ada juga yang akan melangsungkan perkawinan. Semua tetap berlangsung di darat. Ada tradisi unik yang mereka pelihara dengan mensakralkan binatang anjing. Anjing dalam adat perkawinan Suku Laut ditempatkan di tangga masuk rumah mempelai laki-laki. Anjing yang digunakan juga harus anjing yang berbulu hitam.
“Kami sendiri tidak tahu-menahu mengapa harus anjing yang berbulu hitam
yang digunakan dalam adat perkawinan. Tetapi secara turun-temurun, anjing yang berbulu hitamlah yang menentukan sah atau tidaknya sebuah perkawinan,” ujar Tetua Suku Laut kepada Atan suatu ketika.
Pada saat mempelai perempuan menginjakkan kakinya di rumah mempelai laki-laki, sesepuh adat akan memukul anjing tersebut. Jika anjing yang dipukul itu langsung menggonggong, pernikahan dinyatakan sah. Tetapi kalau anjing yang dipukul tidak menggonggong, pernikahan pun tidak terjadi karena dianggap tidak sah.
“Itu pernah terjadi dan pernikahan dibatalkan karena anjing tidak menggonggong waktu dipukul. Itu tidak sah,” lanjut Tetua Suku Laut.
***
Atan sebagai mana anak laut yang lain pun masih sering berinteraksi dengan anak-anak seusia di darat. Kadang bermain bola, memanjat kelapa, menangkap ikan, dan kegiatan anak-anak lain yang menyenangkan untuk usianya. Kebetulan sebuah sekolah dasar terletak di tepi pantai, dan kadang Atan sempat melihat teman-temannya memakai seragam merah putih.
”Mak, boleh Atan sekolah seperti teman-teman Atan?”
”Tanyalah sama Bapak dulu, boleh atau tidak.” Atan berusaha meyakinkan bapaknya agar Atan bisa ikut bersekolah.
”Untuk apa Atan sekolah, anak laut itu yang paling penting bisa menangkap ikan, mencari penyu, mencari teripang. Tak perlu sekolahlah karena hal-hal seperti itu tidak akan ada kau dapat di sekolah.”
”Tapi Atan ingin Pak.”
”Sudahlah jangan mimpi yang macam-macam.”
***
Hari itu Atan kembali ke darat untuk bermain bersama teman-temannya, kali ini mereka bermain bersama Pak Budi, yang biasa mereka panggil dengan sebutan Pak Guru. Selesai bermain Pak Guru mengajak mereka berkumpul. Mereka ada rencana untuk mengelilingi pulau-pulau sekitar dengan menggunakan kapal kaya yang oleh penduduk setempat disebut dengan ”Pong Pong” setelah itu mampir sebentar ke Batam. Atan pun memberanikan diri menemui Pak Guru untuk bergabung dan menyatakan keinginannya untuk ikut dalam acara tersebut.
”Wah, boleh saja Atan akan bisa membantu kami dalam menunjukkan tempat-tempat yang belum temanmu kenal.”
’Tapi saya tidak punya uang banyak Pak.”
”Tidak usah dipikirkan.”
Kebahagiaan begitu dirasakan dalam diri Atan. Sesampainya di sampan, Atan menceritakan pengalamannya kepada bapaknya dan meyakinkan kalau kegiatan tersebut tidak memerlukan uang.
”Ya sudah pergilah, tapi ingat Bapak tidak bisa membawakan apa-apa.”
***
Hari itu dengan segenap hati yang membuncah bahagia, Atan berkumpul bersama teman-teman yang sangat peduli dengan keberadaan orang-orang seperti Atan, apalagi Pak Guru yang ternyata sangat antusias untuk memajukan pendidikan di pulau sekitar tempat Atan tinggal. Serombongan anak-anak kecil yang bahagia menuju ke sebuah pong pong yang diperkirakan dapat memuat penumpang sekitar 20 orang. Hamparan laut yang biru dan hijaunya pulau-pulau kecil, Pulau Tanjung Sauh, Pulau Kubung, dan Pulau Todak menjadi pemandangan dan perpaduan warna keteduhan. Keasyikan tak tertahankan ketika pong pong kami menelusuri pulau demi pulau Dan sejenak kami singgah di sebuah pulau yang disebut orang Air Raja. Di tepi pantai Atan seperti nalurinya memanggil untuk menanggap kepiting dan ikan-ikan serta kerang yang ada.
”Hebat kamu Tan, lumayan untuk menambah bekal diperjalanan.”
Ketika pong pong berlabuh di pelabuhan Sekupang Batam, serombongan siswa dan Pak Guru memasuki kota Batam yang kata orang surganya pencari kerja. Atan terkagum-kagum melihat kendaraan dan kota yang begitu moderen. Jalan-jalan beraspal, gedung-gedung menjulang, perumahan tersusun rapi dengan beragam tipe, benar-benar sebuah kemajuan.
”Kira-kira apa ya Pak, yang menyebabkan Batam menjadi begitu maju?”
”Karena banyak orang pintar di Batam”
”Biar bisa pintar bagaimana caranya Pak?”
”Atan harus rajin belajar.”
”Belajar ya Pak.”
”Iya, belajar. Salah satunya Atan harus bisa belajar membaca dan menulis. Dan karena Atan pintar melaut, maka pelajari ilmu melaut itu dengan sungguh-sungguh.”
Nasehat tersebut begitu merasuk ke dalam pikiran Atan. Sekembalinya dari Batam, muncul tekad untuk mengubah dirinya.
”Aku harus bisa membaca dan menulis, dan aku ingin belajar ilmu melaut dengan sungguh-sungguh.”
***
Sejak itu, selalu saja ada waktu bagi Atan untuk belajar melaut dari orang-orang tua Suku Laut dan Atan selalu meminta nasehat kepada Pak Guru bagaimana mengembangkan ilmu melautnya. Pak Guru menunjukkan bahkan mengajaknya pergi ke instansi terkait. Dan di sela-sela itu Atan selau menyempatkan untuk belajar membaca dan menulis. Bahkan dengan tidak malu-malu dengan ilmu yang sedikit tersebut Atan mengajak teman-temannya sesama suku laut untuk mau belajar membaca dan menulis.
”Anak laut itu yang penting bisa melaut, tidak perlu yang namanya sekolah,” salah seorang bapak bicara pada anaknya.
Walau banyak kontroversi dari orang tua teman-temannya namun dengan kesabaran dan ketekunan niat tersebut tetap dijalankannya. Bahkan Atan sering mengajak teman-temannya untuk sedikit demi sedikit mengubah pola melaut yang selama ini dijalankan orang tua mereka yang ternyata tidak mendatangkan keuntungan hanya untuk kebutuhan saja.
”Teman-teman, orang-orang seperti kita punya kelebihan dalam menangkap ikan, mari kita buat lebih baik dalam menangkap ikannya bukan hanya untuk diri kita. Mari kita buat tambak dan kelong untuk mendapatkan hasil yang lebih banyak. Hasilnya bisa kita buat untuk sekolah. Anak laut harus sekolah,” nasehat Atan pada teman-teman yang mau bergabung dengannya.
***
Namun Atan ternyata dimarahi habis-habisan orang Tetua Suku Laut karena dianggap melanggar adat mereka dan tidak menghargai orang-orang tua mereka Bahkan Atan diminta untuk pergi dari masyarakat tempat mereka tinggal dan boleh kembali setelah tidak melakukan hal-hal yang aneh lagi.
”Bapak Atan, nasehati anak awak tuh, sebelum kami mengusir dengan kasar, kami minta Atan untuk pergi ke pulau seberang saja. Kalau tidak masyarakat Suku Laut akan rusak dengan cara anak awak tuh melaut,” tegas Tetua Suku Laut pada bapak Atan yang tidak bisa berbuat apa-apa dihadapan orang yang memang harus mereka patuhi.
”Emak, Atan pergi ke seberang saja,” pinta Atan pada emaknya. Walau dengan rasa berat hati bapak dan emaknya karena Tetua Suku Laut harus dipatuhi maka keputusan Atan ke pulau seberang harus disetujui.
Atan ditampung di rumah Pak Guru. Belajar membaca dan menulis makin giat. Dan keterampilan Atan melaut dikembangkan di pantai tempat tinggal barunya bersama Pak Guru. Masyarakat sangat menghargai usaha Atan mengingat kesibukan mereka bekerja untuk urusan ikan mereka mendapat bantuan dari Atan bahkan tidak sekedar ikan, bermacam makanan hewan laut bisa didapatkannya.
Ketekunannya tidak hanya sampai di situ. Dari hari ke hari disela-sela melaut, Atan menyempatkan diri ke hutan mengumpulkan kayu-kayu. Atan dengan tekunnya membuat kelong baru yang besar sekali ukurannnya, lengkap dengan rumah singgahnya.
***
Perjalanan waktu menempah kedewasaan Atan menapaki hidup. Ada saat-saat bekerja. Ada saat-saat melepas segenap kelelahan. Ada saat-saat Pak Guru menangkap kerinduan di wajah Atan kalau ia ingin bertemu dengan orang tuanya.
”Aku harus berbuat sesuatu,” pikir Pak Guru.
Pak Guru membawa petugas dari Dinas Perikanan untuk melakukan penyuluhan di tempat orang tua Atan. Di sela-sela acara penyuluhan, Pak Guru terlihat berbincang-bincang dengan sebuah keluarga dengan terlihat ekspresi gembira dan keharuan di wajah keluarga tersebut.
Seminggu kemudian,
Di sebuah kelong baru, ”Inilah kelong dan rumah yang dipersembahkan untuk Bapak dan Ibu,” jelas Pak Guru pada kedua orang tua Atan yang memancarkan wajah-wajah haru dan bahagia.
Emak Atan, ”Dimana Atan sekarang Pak Guru?”
”Anak air asin, disini Emak,” keluarlah Atan dari dalam rumah kelong tersebut.
Tanpa mengucapkan banyak kata. Atan pun berhambur memeluk kedua orang tuanya.

Catatan:
Anak air asin: sebutan anak suku laut



Sabtu, 03 April 2010

Enam Tahun Jadi Penyiar Radio

Liputan GP (4/4). Meskipun sebagai ibu rumah tangga, tak menghentikan tekadnya menjadi penyiar radio. Setidaknya itulah yang dialami Riesa (38). Sejak 2004 Riesa telah resmi menjadi penyiar di salah satu radio swasta di kota Batam. Radio SHAFA yang mengudara di frekuensi 103,5 Mhz. Apalagi karirnya itu didukung oleh sang suami. Warga Batam yang sehari-hari yang mendengarkan radio Shafa sangat akrab dengan suara mbak Riesa. Ia mengaku kalau ia kebanjiran fans karena suaranya dianggap merdu. “Fans, lumayan lah. Ada yang sejak 2004 sampai sekarag, setia mendengar suara saya. Katanya suara saya merdu,” paparnya via fb. Ditanya mengenai suka duka selama menjadi penyiar, wanita yang pernah menjalani pendidikan di UIR ini mengaku cukup banyak. “Saya memang ibu rumah tangga, tapi saya punya konsekuensi dengan suami. Jika saya dibutuhkan dikantor suami atau di masyarakat, saya tidak akan mengabaikan tanggungjawab saya,” ujarnya.

Ibu yang punya hobi membaca ini biasanya menyiar mulai jam 9 sampai 10 pagi sampai jam dua belas siang, di acaranya Rentak Suri. “Membahas masalah budaya melayu, kehidupan orang melayu, sejarah melayu, dan seputaran masalah budaya lainnya,” katanya sesaat setelah selesai siaran. “Tapi nanti malam jam 9 sampai 10 siaran lagi, bawa acara Malay Rock 80an. Di mana kita buka talian sms dan telpon. Yang mau minta lagu, bisa sms atau telepon langsung,” tambahnya.

Sebelum tahun 2004, Ibu yang bekerja di radio yang punya motto Radio Keluarga Penyejuk Kalbu ini, sebelumnya adalah seorang MC yang tampil di mana-mana di kota Batam. Keinginannya untuk menjadi penyiar terwujud berkat suaranya yang bagus, hingga ia diangkat sebagai penyiar radio yang beralamat di Asrama Haji Otorita Batam, Gedung Arafah lantai 2 Batam Kepulauan Riau.

Ia mengungkapkan kalau menjadi seorang penyiar itu harus profesional. “Tidak boleh suasana hati mempengaruhi siaran. Walaupun sedih harus tetap ceria di udara,” ungkapnya berbagi pengalaman. (Helmi)



Jumat, 02 April 2010

Lomba Menulis Esei Tingkat Nasional

Sobat blogger, masih pengen ikutan lomba? Beberapa waktu yang lalu saya ditag info lomba menulis essai. Tentu kalau anda adalah salah satu yang sering baca karya HTR kudu ikutan yang satu ini.
Dalam rangka milad Helvy Tiana Rosa ke 40, Klub Pembaca HTR menyelenggarakan LOMBA MENULIS ESEI TINGKAT NASIONAL TENTANG HELVY TIANA ROSA dengan tema: “Helvy Tiana Rosa, Karya dan Dunianya”.
LOMBA MENULIS ESEI TINGKAT NASIONAL TENTANG HELVY TIANA ROSA

Tema: "Helvy Tiana Rosa, Karya dan Dunianya"
Ketentuan:
1. Lomba terbuka bagi umum
2. Panjang naskah bebas.
3. Naskah belum pernah dipublikasikan sebelumnya dlm bentuk apapun.
4. Tulisan bisa berisi tentang pengalaman membaca karya HTR, pandangan dan kritik terhadap karya-karya HTR, pengaruh (karya) HTR terhadap penulis dan masyarakat, kenangan yang berkesan bersama HTR, inspirasi yang didapat dari sosok dan karya HTR, dan sebagainya.
5. Naskah dikirim paling lambat 15 April 2010, ke: helvytiana@yahoo.com dan lebih disukai diposting pula di sini (fan page HTR di FB rentang Maret-April (boleh dilengkapi foto/ gambar/ dokumen yg relevan).
6. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.

Pemenang:
Pemenang akan diumumkan 30 April 2010.
Dewan Juri akan memilih Juara I-3 serta 10 pemenang hiburan.

Hadiah:
Juara I: Rp. 2.000.000, piagam, paket buku HTR
Juara 2: Rp. 1.000.000, piagam, paket buku HTR
Juara 3: Rp. 750.000, piagam, paket buku HTR

10 pemenang hiburan akan mendapatkan @ Rp.300.000, sertifikat dan paket buku dari HTR.

Keputusan Dewan Juri mutlak dan tak dapat diganggu gugat. Tidak ada surat menyurat.

Seluruh naskah menjadi milik panitia dan hak penerbitannya untuk pertamakali ada pada panitia.

Sumber: Blog Klub Helvy

Rabu, 31 Maret 2010

Curriculum Vitae Herliyan Saleh

Rekam jejak seseorang yang baik, tentu akan membawa kebaikan pula tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk orang lain. Bengkalis membutuhkan sosok pemimpin yang kaya akan pengalaman, mempunyai rekam jejak (track record) yang dinilai positif. Berikut ini saya informasikan kepada kawan-kawan semua, CV dari calon Bupati Bengkalis 2010-2015 yang kaya akan ilmu pengetahuan, pengalaman, teruji, terbukti hehe. Dari CV ini, sedikit banyak kita bisa menilai bahwa beliau adalah sosok yang kita nantikan sebenarnya. Dan sangat kita harapkan (insya Allah) mampu membangun Bengkalis dengan adil merata, matang dalam perencanaann terutama dalam pembangunan infrastruktur, ekonomi kerakyatan, pemberdayaan desa, pendidikan, dan sektor lain.
Nama : Ir. H. Herliyan Saleh, Msc.
Tempat/Tanggal Lahir : Lubuk Muda, Kec. Siak Kecil, Kab. Bengkalis, 25 Maret 1959
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Pegawai Negeri Sipil (PNS), 1984 s/d sekarang.
Jabatan : Kadisperindag Provinsi Riau, 31 Desember 2009 s/d sekarang
Pangka/Golongan : Pembina Utama Madya (IV/d), 01 Oktober 2005

Riwayat Pendidikan Formal dan Kedinasan
1. SD Negeri No. 01 Minas, Kec. Mandau (sekarang Kec. Minas) Tahun 1971
2. SMP Negeri No. 01 Pekanbaru, Tahun 1974
3. SMA Negeri No. 01 Pekanbaru Tahun 1977
4. Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, Jawa Barat Tahun 1982
5. Graduate School of Planning University of Tennessee, Knoxville, TN, US, Tahun 1992
Riwayat Pekerjaan :
Pegawai Pemda Kabupaten Bangkalis Oktober 1984 s/d Februari 1997
1. Kepala Bidang Ekonomi Bappeda Kabupaten Bengkalis
2. Sekretaris Bappeda Kabupaten Bengkalis
3. Pendidikan Master Degree (S2) di Amerika Serikat, Beasiswa USAID (Pemerintah Amerika Serikat)

Pegawai Pemda Provinsi Riau Februari 1997 s/d sekarang
1. Kepala Dinas Sosial Budaya Bappeda Provinsi Riau
2. Kepala Badan Promosi dan Investasi Provinsi Riau
3. Kepala Bappeda Provinsi Riau
4. Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan Sosial Provinsi Riau
5. Plt Sekretaris Daerah Provinsi Riau
6. Kepala Dinas perindustrian dan Perdagangan Provinsi Riau

Pengalaman/Jabatan Lain :
1. Kursus Jangka Panjang Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Universitas Indonesia, 1997, Jakarta, Indonesia.
2. Management For Natural Resource and Environment Protection Short Course, Agriculture College, University of Tennessee, 1991, Knoxville, TN, USA, sponsor USAID.
3. Regional Development and Planning Short Course, Hokkaido Development Board, Sapporo Hokkaido, Japan, 1995, sponsor JICA
4. Risk Management Coure, SSPA Sweden, Goteborg, Sweden, 1998, sponsor SIDA
5. Top Management Course, Civil Service College, Singapore, 2001
6. Public Governance and Adiminstration Course, Singapore, Civil Service College, 2004
7. Pemakalah pada Event Floriade di Amsterdam, Belanda, 2002
8. Pemakalah pada Indonesia German Council di Berlin, Jerman tahun 2003
9. Pemakalah pada Indonesia Night di Kuala Lumpur, Malaysia, tahun 2003
10. Pemakalah pada Seminar Organisasi Konferensi Islam (OKI) atau Organisation Islamic Conference (OIC), di Kuala Lumpur, Malaysia, tahun 2003
11. Koordinator Road Show Gubernur Riau ke Amerika Serikat, Canada, Inggris, Perancis, Jerman dan Swiss.
12. Menghadiri undangan Duta Besar Inggris di Indonesia mengikuti Agri-Bussines Royal Show di Birmingham, Inggris (UK), tahun 2004
13. Delegasi Misi Dagang Provinsi Riau dan Indonesia Canada, New Zeilan, Fiji, Mesir, dan China.
14. Delegasi Provinsi Riau pada World Travel Market di London, Inggris
15. Presentasi dan Menghadiri Seminar/Workshop/Lokakarya dalam dan luar negeri
16. Ketua dan Delegasi Provinsi Riau di IMT-GT, Sosek Malindo, dan DMDI Event
17. Ketua dan Anggota Tim Koordinasi Kerjasama Regional Provinsi Riau.

Pengalaman Organisasi
1. Anggota Persatuan Perencanaan Amerika (American Planning Association – APA) tahun 1990 s/d sekarang.
2. Ketua Ikatan Keluarga Siak Kecil dan sekitarnya (IKSIKS) tahun 2002 s/d 2004
3. Ketua Bengkalis Expert Club (BEC) tahun 2003 s/d sekarang
4. Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Provinsi Riau (Wakil Ketua III)
5. Ketua Kelompok Kerja SOSEK MALINDO Provinsi Riau – Malaka/Johor
6. Ketua dan Sekretaris Sekretariat Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Provinsi Riau
7. Ketua Umum Pengurus Provinsi (Pengprov) PELTI Riau 2008 s/d 2003
8. Ketua Umum Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA-IPB Bogor) Provinsi Riau 2009 s/d 2013

Pengalaman Keluar Negeri
Kunjungan Dinas, Pendidikan dan Pribadi termasuk ibadah ; Amerika Serikat (USA), Canada, Jepang, Korea Selatan, China, Hongkong, Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, Singapore, Australia, New Zealand, Fiji, Arab Saudi, Perancis, Swiss, Australia, Jerman, Belanda, Belgia, Luxemburg, Monaco, Italia, Vatican, Inggria (UK), Cenmark, Swedia, Irlandia Utara dan Mesir.

(Ditulis ulang oleh Muflih Helmi Siak Kecil yang bersumber dari Tabloid Moral. Nb. Kalau ada kesalahan dalam penulisan mohon sarannya)


Minggu, 28 Maret 2010

Nikmat Membawa Sengsara

Rokok. Aku menyebut kata itu saja hampir tidak berani. Begitu angker dan menakutkan. Pikiranku langsung menerawang sesak. Sesesak dadaku saat terhirup asapnya yang selalu ku kutuk itu. Kata orang kesehatan, resiko yang didapat oleh bukan perokok justru lebih besar akan terserang penyakit. Dan sekarang aku merasakan sakit itu di dadaku. Mula-mula bila saja hidungku mengendus asap itu, terasa ada yang tersumbat di sana. Aku terus berharap orang-orang di sekitarku bisa menghargai aku untuk menghirup udara segar. Tapi, waktu semakin angkuh mengibas-ibas gumpalan yang semakin pekat di setiap ruangku. Hidung yang tersumbat tadi, seakan memicu sesak dadaku. Sampai-sampai emosiku terbakar. Aku benar-benar sakit hati kalau saja ada orang yang merokok. Ternyata emosiku berbuah lain. Dan asap itu dengan memaksa masuk dalam rongga dadaku terus ke paru-paru hingga mengganggu detak jantungku. Dadaku sering sakit, meski aku tidak tau apakah itu penyakit jantung.
Apa yang saya rasakan, sedikit banyak pasti juga dirasakan oleh orang lain. Bahkan sudah menjadi akut. Sudah jutaan rupiah uang yang dikelaurkan untuk menyembuhkan penyakitnya. Dan barangkali saja dia bukan perokok aktif. Tapi adalah korban dari ketidak-arifan individu yang memberhalakan kenikmatan setiap hisapan asap rokok. Bukankah tingkat ekonomi kita tidak sama. Apa jadinya kalau penderita itu adalah orang-orang miskin. Sementara secara personal ia adalah orang yang punya cita-cita besar untuk memperbaiki bangsa ini. Yang ditunggu-tunggu kontribusinya dalam memperbaiki akhlak anak-anak bangsa.
Barangkali orang yang saya maksudkan itu kini hanya tinggal nama yang terpahat papan nisannya. Ia hanya bisa merasakan usianya begitu singkat. Takdirnya terpaksa harus terputus oleh hembusan asap-asap yang mematikan pelan-pelan. Hingga manusia yang sesungguhnya kita harapkan, terus saja mati satu persatu oleh ulah manusia yang memberhalakan rokok.
Sementara debat haram-halal rokok terus saja digesa. Banyak yang pro, tidak sedikit juga yang kontra. Kenapa kita harus memaksakan dengan tidak mengharamkan pada diri kita. Sudah tidak sayangkah kita dengan raga yang dititipkan oleh yang seharusnya kita rawat? Dan apakah kita terus saja menunggu kebijakan-kebijakan yang lain, sementara kiat sendiri tidak bisa dipimpin? Kita renungkan.
Ah, engkau yang membaca catatan ini ku harap mengerti. Masih banyak orang-orang yang ada di sekitar kita yang menginginkan udara yang bersih, sehat. Masih banyak anak-anak bangsa ini yang membutuhkan nafkah lahir dari setiap rupiah yang seharusnya bisa kita belikan beras, membiayai anak-anaknya sekolah, membeli pakaian yang lebih layak menutup aurat, membimbingnya dalam keteduhan iman. Jangan biarkan paru-paru mereka terisi oleh racun yang mengamcam masa depannya. Saya tidak menyarankan anda untuk berhenti merokok. Tapi, ingatlah orang-orang di samping dan sekeliling kita benar-benar lebih nyaman dengan udara yang bersih dan sehat. Mengkin menurut anda itu adalah kenikmatan, tapi bagi kami adalah kesengsaraan.
Aku juga meninginkannya, seperti anak-anak anda, adik anda, kakak, ibu-bapak anda, teman anda, bahkan istri anda. Semoga!

By. Rumah Ikhtiar
Muflih Helmi



Sabtu, 27 Maret 2010

PEMENANG PANASONIC GOBEL AWARDS

Sebenarnya kalau menurut saya sih, award seperti ini tak terlalu penting. Tapi kalau saya dikasi ya mau. Tapi katagori apa ya? mahasiswa paling lama, hahaha. Apa yang saya lampirkan di bawah ini sebenarnya menurut saya tidak juga layak mendapat award, khususnya katagori program/acara, Silet. Tapi emang bagaimana pun saya hanya bisa prihatin dengan penghargaan atas program yang jelas-jelas tidak mendidik. Kawan-kawan bisa menilai dari award yang sudah diberikan. Salam Ikhtiar.
DAFTAR PEMENANG PANASONIC GOBEL AWARDS 2010

KATEGORI: INDIVIDU
Presenter Kuis/game show terfavorit: CHOKY SITOHANG
Presenter Infotainment terfavorit: FENI ROSE
Presenter Musik/variety show terfavorit: OLGA SYAHPUTRA
Presenter Berita/current affair terfavorit: PUTRA NABABAN
Presenter Talkshow terfavorit: ANDI F. NOYA
Presenter Talent show terfavorit: OKKY LUKMAN
Presenter Olahraga terfavorit: DARIUS SINATHRYA
Pelawak terfavorit: OLGA SYAHPUTRA
Aktor terfavorit: DUDE HERLINO
Presenter Reality Show terfavorit: UYA KUYA
Aktris terfavorit: NIKITA WILLY
Golden Achievement Award: ISHADI S.K.


KATEGORI: PROGRAM/ACARA
Kuis & Game show terfavorit: GONG SHOW
Infotainmen terfavorit: SILET
Musik & Variety Show terfavorit: DAHSYAT
Komedi terfavorit: OPERA VAN JAVA
Talkshow Berita terfavorit: DEBAT
Talkshow Hiburan terfavorit: BUKAN EMPAT MATA
Program Olahraga terfavorit: JARUM ISL
Acara Anak-anak terfavorit: IDOLA CILIK
Fitur terfavorit: GRIYA UNIK
Pencarian Bakat terfavorit: THE MASTER
Berita terfavorit: SEPUTAR INDONESIA
Drama Seri terfavorit: CINTA FITRI


Selasa, 02 Maret 2010

Padang Ilalang di Belakang Rumah: Sebuah Memoar Nh.Dini

Sebuah karya sastra selalu menawarkan justifikasi dari imajiner kita dari tulisan yang kita baca. Justifikasi menghendaki objek, karena dari objek itulah relevansi kepentingan kita dikuatkan. Di sini justifikasi dipertemukan dengan realitas dan pandangan hidup pembaca. Pertemuan itulah yang menghadirkan suasan ; marah, risau, sedih, riang, lega dan seterusnya.Realitas dari “Padang Ilalang di Belakang Rumah” adalah sebuah cerita dari keadaan yang sebenarnya – sejarah penjajahan Jepang di Indonesia – dengan melibatkan “aku” langsung pada novel ini. Yakni pada saat “aku” masih sangat belia dan masih mengenal dunia sebatas anak-anak. Tapi harus hidup pada zaman yang mengancam.
Novel yang sederhana ini mengangkat sebuah kisah Dini kecil yang hidup pada sebuah zaman penjajahan. Keluarga yang merupakan satu-satunya atmosfir pertamanya sebelum melongok dunia yang sebenarnya, menjadi benteng yang kokoh sebelum ia tumbuh besar dan lepas.
Kehidupan di keluarga tersebut, pada hakikatnya adalah sebagian kecil dari representatif kehidupan yang sebenarnya. Di lingkungan keluarga ia senantiasa mengenal nilai-nilai kepribadian, interaksi, mengenal lingkungan, kedisiplinan, kasih-sayang, pendidikan, kebudayaan dan lain-lain. Tidak itu saja, ia mengenal ketakutan, sakit hati, dendam, olokan, marah, hukuman, darah, mayat dan lain sebagainya.
Dari novel ini, pembaca akan senantiasa diajak menyelam ke zaman penjajahan. Betapa kerasnya kehidupan pada saat itu. Digambarkan bahwa kehidupan – ekonomi, politik, keamanan akibat perang – serba sulit. Sampai-sampai diceritakan mereka hanya memakan seadanya. Seperti nasi jagung, beras yang sudah berulat, dan makanan yang beresiko pada kesehatan. Satu-satunya sumber kehidupan mereka yang bisa menghidupi mereka adalah kebun di belakang rumah.
Pada “Padang Ilalang di Belakang Rumah” ini – secara tidak langsung – mengungkap realitas kehidupan yang serba susah, dan penuh dengan ketakutan yang selalu mengintai setiap saat pada zaman itu. Tapi, seakan dari realitas itu digambarkan kesadaran kaum terpelajar punya tanggung jawab dalam membebaskan tanah kelahiran mereka dari belengu penjajahan. Penjajah yang semula menjadi guru mereka, hingga pada suatu saat harus menerima perlawanan dari anak didiknya. Dukungan dari rakyat terus mengalir, meskipun nyawa harus menjadi taruhannya.
Dalam novel seri Cerita Kenangan ini Nh. Dini, hanya menyelipkan sedikit realitas keadaan yang terjadi sebenarnya pada novel ini. Tidak menjadi objek utama Nh. Dini. Tapi berpengaruh pada objek yang difokuskan Nh. Dini, yakni kehidupan keluarganya. Penulis mengakui bahwa novel ini mampu mangupas dua kehidupan dalam satu alur cerita, dan mungkin saja lebih. Tapi, sudah selayaknya seorang penulis mampu menyingkap sisi lain yang menjadi objek justifikasi pembaca. Pembaca tidak hanya dibawa untuk “tinggal” bersama keluarganya, tapi juga seperti “hidup” pada zaman penjajahan Jepang.
“Padang Ilalang di Belakang Rumah” merupakan sebuah sudut pandang cerita yang bisa dimaknai oleh pembaca sebagai sebuah latar yang menjadi perhatian Nh. Dini. Dari sini konflik itu dimulai, ketika tentara Jepang datang dianggap sebagai pelindung bagi rakyat pada waktu itu. Dari sana pula Dini kecil mulai mengenal belalang, daun ilalang, ular, pepohonan, sungai, burung jalak, putri malu, sampai desingan peluru yang membuat seisi keluarga ketakutan.
Dalam ketakutan itu mereka digambarkan keluarga mereka sangat kompak, saling melindungi, amanah, dan anak-anak patuh kepada orang tua. Meskipun kehidupan pada zaman itu sulit, justru memperlihatkan idealisme mereka. Dengan menjual kue, dan juga membuat pesanan batik mereka menghidupi diri. Jiwa entrepreneurship begitu tumbuh di kalangan keluarganya. Dengan begitu, mereka bisa memberikan sarapan pagi untuk anak-anaknya. Apalagi tokoh utama kala itu masih sangat belia. Masih mutlak membutuhkan perhatian orang tuanya dari segi pangan, dan belum tau dalam menyikapi realitas hidup.
“Ketidaktau-an”nya juga dalam novel ini seakan secara tidak langsung juga menyampaikan akan semangat perjuangan pemuda yang tergabung dalam PETA – termasuk pamannya sendiri yang ia sendiri (diceritakan) tidak tau profesi yang sebenarnya – yang membuat tidak betah penjajah berlama-lama memarkirkan kendaraannya perangnya di jalan-jalan, di rumah sekolah yang menjadi kantor militer.
Meskipun keadaan seperti itu, Dini kecil bukan berarti harus kehilangan masa kanak-kanaknya. Ia selalu dipedulikan oleh kakak perempuannya yang selalu mengasuhnya. Juga harus dibingungkan oleh kedinamisan keegoisan kedua kakak lelakinya. Saat seperti itu, ia lebih mengharapkan kehadiran sepupunya yang lebih muda darinya. Masa kanak-kanaknya tetap bisa ia nikmati pada zaman seperti itu. Dan padang ilalang di belakang rumahnya adalah seakan taman bermain baginya.
Patut penulis memberikan apresiasi dari novel ini yang juga mengangkat nilai-nilai kebudayaan. Yakni salah kebudayaan Indonesia yang saat ini hampir tidak mendapat tempat dihati pemirsa, Wayang (kulit dan wong). Kebudayaan tradasional ini, dan juga merupakan sebuah media dalam menyebarkan Islam di tanah jawa, menjadi satu-satunya hiburan yang menarik perhatian. Bahkan orang tua berusaha mendekatkan anak-anak mereka dengan kebudayaannya.
Sangat kontras dengan zaman sekarang ini. Di mana, hiburan sudah menjamur dengan gemerlap fatamorgana tanpa muatan nilai-nilai. Jauh dengan hiburan pada saat itu (wayang), yang menjadi bahan cerita dan diskusi antara anak dan orang tua seusai menonton. Bisanya orang tua selalu menceritakan kembali cerita dan mengungkapkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.
Penulis perlu menjustifikasi masalah kebudayaan ini. Seringnya “nilai kebudayaan” diangkat dalam ide cerita novel-novel, adalah sebuah indikasi dari keprihatinan pengarang terhadap perkembangan kebudayaan itu sendiri. Makanya nilai kebudayaan yang diungkap dalam novel Nh. Dini ini adalah sebagian kecil dari realitas kebudayaan yang ada sesungguhnya.
Bagaimanapun, membaca novel ini penulis dibawa dalam sebuah keadaan yang telah terjadi pada masa lampau. Nh. Dini begitu rinci dalam mendeskripsikan setiap plot-plotnya. Seakan plot-plot itu semakin akrab dengan kita.
Ibarat memetik gambus, kita tidak hanya mendapatkan suara petikan yang indah, tapi juga telapak tangan kita seakan dibawa untuk memukul marwas. Begitulah yang penulis rasakan!

Oleh : Muflih Helmi
Pengelola Blog : www.geliatpena.blogspot.com
Disampaikan pada forum Paragraf tanggal 21 Februari 2010.
Tentang Pengarang.
Nurhayati Sri Handini atau Nh. Dini mulai mulis sejak kelas II SMP tahun 1951. karya pertama yang dimuat dimajalah Kisah : “Pendurhaka” mendapat sorotan HB Jassin; dan Dua Dunia kumpulan cerita pendek yang diterbitkan tahun 1956 ketika dia masih SMA.
Sejumlah novel yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama antara lain Seri Kenangan ; Sebuah Lorong di Kotaku (1986), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1987), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1988), Sekayu (1988), Kuncup Berseri (1996), Kemayoran (2000), Jepun Negerinya Hiroko (2001), dari perangkik ke Kmapuche (2003), Dari Fontenay ke Magallianes (2005), La Grande Borne (2007); Agrenteuil, Hidup Memisahkan Diri (2008), dan novel-novel lain yaitu Pada Sebuah Kapal (1985), Pertemuan Dua Hati (1986), Namaku Hiroko (1986), Keberangkatan (1987), dan Tirai Menurun (1993), dan Jalan Bandungan (2009).
Sejak akhir 2006, Nh. Dini tinggal di kompleks Wisma Werdhasih di Lerep, sebuah Desa yang tenang dan sejuk di lereng Gunung Ungaran. Jika sedang tidak disibukkan oleh kadatangan mahasiswa yang mau berdiskusi dengannya, dia mengisi hari-harinya dengan merawat tanaman dan melukis.



Senin, 01 Maret 2010

Tuhan, Bolehkah Kami Bunuh Diri?

Segelas racun babi mengepul di atas meja. Asap kretek melenggok dari mulut menuju petromaks, membentuk gulungan hening. Abah Marta merapatkan handuk dari sergapan dingin di leher dengan gigi gemerotak. Di balik jaket berkaos tebal tersembunyi dada kering kerempeng mengatur desahan napas. Tersengal-sengal karena penyakit asma. Terengah-engah menimbulkan bunyi mirip pompa air mekanik. Mencengik. Mata keriputnya memicing, menatap Wardoyo menantunya yang tengah mempermainkan asap. Ragu-ragu. Berganti-ganti dengan fokus gelas racun menantang di meja. Suara dengkuran menembus gorden pintu di belakangnya; kamar Ambu Marsinah tidur. Ada kemerosak angin. Ada kemerosak bambu-bambu bergesekan di luar.“Mulailah.” Wardoyo berkata pendek. Menghisap asap kretek ke dadanya dalam-dalam. Ada ketegangan merayap. Ada kegamangan mengalir. Abah Marta sekali lagi menatap wajah menantunya. Kepala Wardoyo mengangguk. Setengah dipaksa setengah putus asa, tangan Abah Marta maju meraih gelas. Racun hangat, manis bercampur kopi, mengepul hangat dalam genggaman. Gemetar. Bibir tuanya gagal tersenyum. Tak tega mata Wardoyo melambungkan ke langit-langit, melihat dua ekor cecak berkejaran. Menunggu.

“Pahit!” Abah Marta menghentakkan cangkir. Mengusap bibirnya cepat. Kemudian meludah, getir. Setengah menit belralu, ia terhenyak. Wajahnya pucat. Panas merajam-rajam perutnya tanpa ampun. Menyeruak ke atas, membetot-betot usus. Lehernya tercekik: “Wardoyyy…” ia berteriak parau. Tubuhnya lantas menggeblag jatuh. Sebelum kakinya menyepak meja dan kursi yang ia duduki terbalik. Suaranya gaduh. Abah Marta berkelojot-kelojot sekarat. Matanya membeliak. Kemudian sunyi. Mati.

***

BERPULUH tahun Rantawi didera penyakit menakutkan. Jika hawa malam berubah dingin, maka sesuatu menggodam dadanya telak. Gumpal kedua belah paru-parunya terasa terhimpit beban berton-ton dan mencekik saluran udara menuju arah kerongkongan. Di saat itulah dunia bagi Eantawi amat gelap dan sumpek. Satu-satu helaan napas ia keluarkan dengan susah payah, menimbulkan bunyi cengik yang menjijikkan; bahkan bagi telinganya sendiri. Barangkali jika bukan karena Ratri, anak perempuan satu-satunya yang mengeluh putus asa, ia tak akan setega ini: membunuh diri dengan segelas kopi bercampur racun babi. Memang Rantawi dengan kehidupannya telah hancur luluh: dua hektare sawah, setengah bahu perkebungan kopi, satu pabrik penggilingan padi telah lepas satu persatu dari tangannya untuk pengobatan tanpa hasil. Tapi melintas pikiran untuk bunuh diri, tak pernah sedikit pun terjangkau. Terlebih karena Rantawi selalu menyimpan ketahanan iman dengan tak pernah lekang berdoa. Berharap satu kemukjizatanakan datang pada suatu ketika.

Tapi malam ini, Tuhan telah berlaku sangat tidak adil. Rantawi gamang atas kemauan Tuhan pada dirinya. Keluarga Mayor Sulaiman mendadak memutuskan pertunangan sepihak bagi anaknya, Ratri. Tentu, adalah pukulan batin teramat hebat karena mereka justru menyalahkan penyakit yang Rantawi derita sebagai alasan pokok. Asma disamaratakan dengan sejenis lepra! Mereka menuntut dikembalikannya harta panjer yang diserahkan melalui upacara sukacita.”Mereka takut Ratri hanya akan menghancurkan karier dan masa depan Kang Basuki,” begitu kata Ratri.Dengan tangisan tersedak-sedak. “Seperti Bapak. Karena asma adalah penyakit keturunan.” “Begitu yakin, apa mereka sudah memeriksamu?” “Mereka menolak. Juga Kang Basuki,”Ratri putus asa. Tiga hari kemudian tak bisa ditanya. Ia hanya mengurung diri dalam kamar. Rantawi marah. Amat marah. Sungguh nasib telah memain-mainkannya seperti potongan gabus dalam amukan air deras. Tapi penegasan Keluarga Sulaiman memang beralasan. Satu-satunya yang patut dipersalahkan pasti hanyalah Tuhan. Begitulah ketika tangannya mantap menuangkan racun. “Kini, tak mungkin ada lagi pemuda yang mau mendekati Ratri, Ayah!” Rantawi memandang meja tertegun-tegun. Sejentik kegamangan menggelepar, tapi gumpal dendam menyumbatnya cepat. Irama jantung berlomba dengan kesunyian.Ya, ya, tidak akan ada pemuda yang mau menyunting ratri selama ia ada — begitu barangjali keinginan Ratri. Entah karena keturunan, entah karena beban bahwa kenyataan Rantawi tak akan bisa lagi hidup tanpa sebuah gantungan. Diseretnya langkah menuju kamar Ratri. Anak itu tertidur dengan badan melungkar, penuh beban. Manik-manik keringat bermunculan pada leher dan ujung kening; ia hampiri kemudian mengusapnya lembut. Seekor nyamuk yang hinggap di betis dijentiknya hati-hati. Dirapatkannya selimut, kemudian keluar. Kekosongan menyergap ketika air mata dari sudut matanya jatuh. Segelas racun babi yang terdiam di meja. Rantawi melangkah ke kamar Ijah, isterinya. Ijah dengan gurat ketuaan yang makin kentara. Tersenyum dalam ketenangan mata terpejam. Begitu tabah. Bertahun-tahun wanita di hadapannya harus bekerja sendiri menggarap sawah yang masih tersisa. Rantawi tak sanggup lagi berpikir dan merasa. Langkahnya mantap. Meraup gelas. Menenggaknya dalam satu tarikan napas… Putus asa. Gendang telinganya menangkap jerit tangis meneluwung tak bertepi. Badannya terguncang-guncang. Suara-suara teriakan, derit roda, suara-suara sepatu. Kemudian sepi. Senyap. Di manakah? Mungkinkah Tuhan…

Satu kejaiban terjadi: ia menangkap mata Ratri, mata isterinya, mata Basuki. Kemudian badannya melambung ingin meraup. Sebuah tangan kokoh menahannya.Rantawi harus beristirahat, lamat-lamat katanya. Aneh, ia merasa betapa dadanya teramat lapang. Napasnya longgar tak tersumbat bunyi cengik menjijikkan. Kepala dan tubuhnya ringan. “Dua hari engkau pingsan,” begitu kata pertama ia dengar. Suara isterinya. Betulkah ia masih hidup? Rantawi ingin berteriak, “Kenapa aku di sini? Betulkah kamu Ijah? Di manakah aku?”"Asmamu kumat,” isterinya menjelaskan. “Aku membawamu ke rumah sakit. Sudahlah Kang, istirahat yang tenang. Kata dokter, asmamu kemungkinan besar sembuh. Entah kenapa.” Tuhan maha adil, begitulah ketika Rantawi tersungkur dalam sujud. Mohon ampun dan penyesalan atas sangka buruk. Tiga hari setelah berbaring di Rumah Sakit dan dinyatakan sembuh total. Empat ekor kambing disembelih sebagai rasa syukur, dan seluruh kampung turut menikmatinya. Juga tentu, Basuki. Keluarga Mayor Sulaiman telah datang turut mengucapkan gembira dan minta maaf. Tuhan maha besar.

***

SEHARI setelah syukuran, Wardoyo ditangkap. Berita menjalar cepat dari mulut ke mulut. Wardoyo membunuh Abah Marta dengan secangkir kopi dan racun babi! Pembunuhan amat keji, begitu komentar mereka. Mayat Abah Marta ditemukan membiru. Visum menyebutkan ususnya hancur membusuk. Orang-orang kampung mengutuk Wardoyo. Melemparinya dengan batu: “Kafir! Mertuamu sendiri tega kau bunuh, heh?” ramai berteriak. Riuh menggelandang Wardoyo, “Kau bunuh atas dasar apa, Wardoyo?” “Rantawi. Demi Allah, Mang Rantawi yang menyuruhku…” Rantawi terbadai. Rantawi hanya bisa mematung, tak mampu berbuat apa-apa. Teror datang menyerganya begitu tiba-tiba. Sungguh ia begitu menyesal, amat menyesal telah menceritakan seluruh rahasia kesembuhannya pada Wardoyo, adik iparnya. “Racun babi,” begitu ia menceritakan dengan mantap: “Entahlah. Segala obat telah diupayakan; tapi justru racun babi yang membikin aku sembuh. Heh, bukankah mertuamu menderita asma sepertiku?” “Bagaimana kalau ia mati?” “Tuhan telah menunjukkan sebuah keajaiban. Bahkan di dalam racun babi, bisa terdapat obat. Obat mujarab. Masih tidak percayakah kamu, Wardoyo?” Dan kini ia sangsi. Diam-diam Rantawi merasa, ia ikut bandil besar dalam pembunuhan Abah. Berhari-hari Rantawi tak sudi makan. Sampai ketika polisi datang menjemputnya untuk ditanyai: “Demi Allah, saya tidak berkomplot untuk membunuhnya!” katanya.Keras. Dan tubuh Rantawi digelandang hina. Riuh hantaman puluhan caci; orang-orang kampung bergimbung. Menuding berteriak. Kelebat bayangan Ratri ambruk. Lalu Ijah? Bergetar. Keringat dingin memercik. Gusti Allah… bayangan yang buruk. Ia seperti melihat betapa Tuhan kini tengah bergitung; menjawab tantangannya ketika ia memilih mati bunuh diri. Benarkah tak ada dosa yang tak diperhitungkan? Dan kini Rantawi dipaksa menggigil, tersentak berteriak: “Alangkah lebih terhormat mati ketimbang terhina di penjara…”

Bandung, 1993
Joni Ariadinata
Dimuat di Lampung post Silakan Kunjungi Situsnya! 04/03/2002