Senin, 28 Desember 2009

Kebiasaan Kecil yang Berpengaruh Besar

55 Kebiasaan Kecil yang Menghancurkan Bangsa
Penulis : Ryan Sugiarto
Penerbit : PINUS BOOK PUBLISHER
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 155 halaman

Ada banyak pendapat dari bangsa-bangsa lain, terutama bangsa-bangsa kolonial zaman dahulu yang menyatakan bangsa ini adalah bangsa pemalas. Meskipun sudah dianugrahi Tuhan dengan kekayaan alam yang maha luar biasa, namun warga dan bangsa ini adalah bangsa yang kurang bisa memberdayakan kekuatannya sendiri. Tidak sanggup untuk memperlakukan kekayaan ini demi kepentingannya sendiri. Masih saja bangsa ini mengandalkan kekuatan bangsa lain, dalam mempertahankan kehidupan bangsanya, meskipun dalam hal-hal yang kecil. Itulah sebabnya, Bung Karno pernah berujar kepada bangsa ini. “Berikan aku sembilan pemuda yang hebat, akan aku bangun negeri ini bersama mereka.” Artinya, sejak semula memang Bung Karno telah membaca, betapa mental bangsa kita adalah mental inlender, mental yang tidak siap untuk bergerak maju, membangun diri dan bangsanya sendiri.

Secara sederhana, untuk melihat suatu kemajuan suatu bangsa tidak harus melihat langsung seperti apa pemimpinnya, sistem pemerintahan atau birokrasinya. Namun, cukup melihat kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan oleh warganya, baik terhadap diri sendiri, lingkungannya dan bangsanya. Ternyata kebiasaan-kebiasaan kecil warga, cukup representatif sebagai parameter kemajuan suatu bangsa.

Buku yang ditulis oleh Ryan Sugiarto ini menguraikan secara rinci kebiasaan-kebiasan kita, baik dalam alam pikir ataupun perilaku pribadi, yang sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat. Yaitu sesuatu yang mengingatkan betapa hal kecil menjadi penentu yang besar. Bahwa semua berawal dari yang kecil. seribu langkah perbaikan, selalu dimulai dari langkah pertama. Pralambang ini juga bisa kita gunakan untuk melihat pada kondisi bangsa kita. Sederhananya perilaku kita turut menentukan arah kemajuan bangsa ini. kualitas individu kita, sebagai warga bangsa, adalah penjamin baik buruknya bangsa yang bernama Indonesia.

Kebiasaan kecil itu, oleh Ryan Sugiarto dibagi dalam tiga hal. Pertama, kebiasaan memperlakukan diri sendiri, seperti; meremehkan waktu, bangun kesiangan, tidak disiplin, suka menunda, menyontek dan lain sebagainya. Kedua, kebiasaan-kebiasaan kita memperlakukan lingkungan, seperti; merokok dan membuang sampah di sembarang tempat, corat-coret, tidak biasa mengindahkan aturan, dll. Ketiga, kebiasaan-kebiasaan yang merugikan ekonomi, seperti; konsumtif, boros listrik, mengabaikan peluang, dan tidak berpikir kreatif. Keempat; tidak mau membaca, suap-menyuap, nepotisme, meniru, tidak belajar dari pengalaman, ini termasuk dalam kebiasaan kita bersosial.

Kebiasaan-kebiasaan ini seperti repetisi yang terjadi berulang-ulang. Sehingga disadari atau tidak kebiasaan itu memunculkan kecenderungan otak untuk berpikir logis, dan menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Ia muncul begitu saja. Dan kita akan tetap mempertahankan kebiasaan demi kebiasaan seperti itu, jika tidak merasa bersalah dengannya. Hal itu cenderung dipandang sebagai sesuatu yang kecil, dan tidak akan berpengaruh besar terhadap hidup, apalagi lingkungan yang lebih luas seperti masyarakat dan bangsa.

Sepenggal kutipan kata bijak orang Jepang dalam buku ini mengungkapkan, “Akibat kurang satu paku, tapal kuda terlepas. Akibat tapal kuda terlepas, seeokor kuda tak bisa berlari. Akibat kurang satu kuda, satu pesan tak tersampaikan. Akibat satu pesan tak tersampaikan, kita jadi kalah perang.”

Dari makna kata bijak tersebut, ternyata kebiasaan buruk inilah yang bisa jadi disadari atau tidak, telah menyebabkan bangsa ini jatuh dalam jurang kemelaratan, dan tertinggal jauh dari bangsa lain. Lainnya adalah, kebiasaan-kebiasaan kecil kita yang secara langsung atau tidak telah menambah masalah bangsa ini. Ia seakan seperti ‘efek domino’ yang siap mempengaruhi sesuatu yang lainnya, yang (bahkan) belum terpikir oleh kita.

Buku yang berjudul “55 Kebiasaan Kecil yang Menghancurkan Bangsa” ini ditulis dengan bahasa yang ringan dan tidak menggurui pembaca, tapi menyadarkan kita untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan mana saja yang berpengaruh buruk terhadap bangsa. Selamat membaca!

Oleh : Muflih Helmi
Anggota Magang FLP Pekanbaru
Mahasiswa Fakultas Pertanian Universtas Riau



0 komentar: