Sabtu, 05 Desember 2009

Impian Seorang Ibu

Emak Ingin Naik Haji
(Cinta Hingga ke Tanah Suci)
Penulis : Asma Nadia
Penerbit : AsmaNadia Publishing House
Cetakan : Pertama, Agustus 2009
Tebal : 210 Halaman

Asma Nadia merupakan nama pena dari Asmarani Rosalba, telah terlihat bakatnya sejak kecil. Sang kakak, Helvy Tiana Rosa menggambarkan sosok sang adik – Asma Nadia – dalam sebuah cerpen Pelajaran Tekad dari Rani Kecil diterbitkan dalam sebuah buku kumpulan cerpen Emak Ingin Naik Haji, terbitan Asma Nadia Publishing House. Cerpen yang mengulas tekad seorang penulis sukses, Asma Nadia itu, yang tidak pernah menyerah dengan keadaanTekadnya yang tidak kenal henti, mengantarkan ia menjadi pemenang beberapa lomba mengarang tingkat nasional. Sejak buku pertamanya terbit tahun 1998 hingga kini total ia sudah menulis lebih dari 40 buku. Bahkan ia diundang mewakili Indonesia dalam program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (2003). Tahun 2006 ia terpilih menjadi satu dari dua sastrawan Indonesia yang di undang ke Korea untuk program Writers in recidence, dan tahun ini diundang ke The Chateau de Lavigny, Swiss untuk program serupa. Karya-karyanya telah disinetronkan dan di filmkan.

Salah satu cerpennya yang cukup fenomenal yang diangkat ke layar lebar adalah cerpen yang berjudul Emak Ingin Naik Haji garapan Aditya Gumay. Aditya – yang telah sukses mengarap film Laskar Pelangi dan Garuda di Dadaku – tertarik mengangkat cerpen tersebut ke layar lebar, setelah ia membacanya pada pertengahan tahun 2008 dari sebuah majalah yang terbit tahun 2007. Padalah cerpen tersebut sangat singkat, dan tidak lebih dari 12 ribu karakter saja. Tapi, mampu dikembangkan menjadi sebuah film.

Emak Ingin Naik Haji bercerita tentang Emak, seorang wanita paruh baya yang dengan gigih berusaha untuk dapat mewujudkan impiannya, yaitu pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan haji. Kehidupan Emak sehari-hari hanya bergantung pada hasil jualan kue yang dititipkan di warung atau pesanan orang. Kalau beruntung, ada juga sedikit tambahan uang dari Zein, anak Emak satu-satunya yang berjualan lukisan keliling hasil karyanya sendiri.

Walaupun Emak tahu bahwa naik haji adalah salah satu hal yang mungkin sulit diraih, tetapi Emak tidak putus asa, dia tetap mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk disetorkan ke tabungan haji di bank. Zein, yang melihat kegigihan Emak tersebut, juga berusaha dengan berbagai cara untuk dapat mewujudkan keinginan orang tuanya.

Cerpen ini mengangkat berbagai nilai kehidupan; kegigihan, ketulusan, kasih sayang, semangat berbagi, berserah diri, dan berbagai nilai indah lainnya yang mungkin saja terlupakan oleh sebagian besar dari kita. Lebih khususnya, Emak Ingin Naik Haji menyentil fenomena sosial keluarga muslim yang hidup berkecukupan dan dapat berkali-kali naik haji sementara banyak keluarga muslim lain yang tak mampu menunaikan rukun Islam kelima tersebut atau harus bersusah payah menabung bertahun-tahun untuk mewujudkan impiannya pergi haji.

Emak adalah representasi dari kelompok masyarakat yang sangat merindukan Mekah, tetapi karena persoalan finansial, maka pergi haji menjadi sebuah hal yang sangat jauh di awang-awang. Sementara Juragan Haji bersama keluarganya, dipaparkan dalam cerpen tersebut dengan penuh kemudahan dapat melakukan ibadah haji dan umroh kapan saja mereka inginkan.

Dalam buku kumpulan cerpen setebal 210 halaman ini, Asma membuat selang-seling antara cerpen kritik sosial dan kisah cinta. Sesudah Emak Ingin Naik Haji adalah Cinta Begitu Senja yang bikin kita gregetan. Selanjutnya cerpen Koran, yang ditata sedemikian rupa runutnya, jadi terkesan memang sudah diatur begitu. Si tokoh mulanya getol banget baca surat kabar, katanya dengan koran ia bisa jadi pintar. Lama-lama si tokoh muak, soalnya berita-berita buruk terus yang disuguhkan, dan itu menyangkut orang-orang terdekatnya. Sampai-sampai ia fobia sama koran.

Pada dasarnya semua menarik, dengan plus dan minus tiap-tiap cerita. Bahasa Asma yang relatif ringan dan mengalir lancar, sangat layak untuk sembari mengasah kepekaan dan membangkitkan semangat toleransi, solidaritas, dan lain-lain. Seperti yang tertulis dalam Catatan Kecil Para Sahabat di bagian penutup buku ini, Asma Nadia dinilai selalu menyentuh problem etik dan moral dalam balutan suasana religius. Maka karya-karyanya tidak hanya sekedar menyuguhkan kenikmatan estetik, tapi juga menyuguhkan penyadaran.

Dalam buku kumpulan cerpen Asma Nadia ini, diceritakan juga bagaimana proses perjalanan syuting film Emak Ingin Naik Haji berlangsung. Berbagai keunikan ditemukan dan bahkan menemukan kemudahan-kemudahan dalam proses pembuatan film itu sendiri. Dan yang lebih unik lagi, 100 % royalti dari buku ini akan dipersembahkan untuk sosial kemanusiaan dan membantu memenuhi mimpi ke tanah suci, bagi saleh dan salehah yang kurang mampu. Pastikan anda sebagai salah satu pembacanya!

Oleh : Ribzah Nurhilmi
Anggota Magang FLP Pekanbaru 2009
(Telah dimuat di expresi Riau Pos Tanggal 6 Desember 2009)

1 komentar:

JR mengatakan...

salam kenal....wakh impian itu harus di kejar