Senin, 28 Desember 2009

Kebiasaan Kecil yang Berpengaruh Besar

55 Kebiasaan Kecil yang Menghancurkan Bangsa
Penulis : Ryan Sugiarto
Penerbit : PINUS BOOK PUBLISHER
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 155 halaman

Ada banyak pendapat dari bangsa-bangsa lain, terutama bangsa-bangsa kolonial zaman dahulu yang menyatakan bangsa ini adalah bangsa pemalas. Meskipun sudah dianugrahi Tuhan dengan kekayaan alam yang maha luar biasa, namun warga dan bangsa ini adalah bangsa yang kurang bisa memberdayakan kekuatannya sendiri. Tidak sanggup untuk memperlakukan kekayaan ini demi kepentingannya sendiri. Masih saja bangsa ini mengandalkan kekuatan bangsa lain, dalam mempertahankan kehidupan bangsanya, meskipun dalam hal-hal yang kecil. Itulah sebabnya, Bung Karno pernah berujar kepada bangsa ini. “Berikan aku sembilan pemuda yang hebat, akan aku bangun negeri ini bersama mereka.” Artinya, sejak semula memang Bung Karno telah membaca, betapa mental bangsa kita adalah mental inlender, mental yang tidak siap untuk bergerak maju, membangun diri dan bangsanya sendiri.

Secara sederhana, untuk melihat suatu kemajuan suatu bangsa tidak harus melihat langsung seperti apa pemimpinnya, sistem pemerintahan atau birokrasinya. Namun, cukup melihat kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan oleh warganya, baik terhadap diri sendiri, lingkungannya dan bangsanya. Ternyata kebiasaan-kebiasaan kecil warga, cukup representatif sebagai parameter kemajuan suatu bangsa.

Buku yang ditulis oleh Ryan Sugiarto ini menguraikan secara rinci kebiasaan-kebiasan kita, baik dalam alam pikir ataupun perilaku pribadi, yang sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat. Yaitu sesuatu yang mengingatkan betapa hal kecil menjadi penentu yang besar. Bahwa semua berawal dari yang kecil. seribu langkah perbaikan, selalu dimulai dari langkah pertama. Pralambang ini juga bisa kita gunakan untuk melihat pada kondisi bangsa kita. Sederhananya perilaku kita turut menentukan arah kemajuan bangsa ini. kualitas individu kita, sebagai warga bangsa, adalah penjamin baik buruknya bangsa yang bernama Indonesia.

Kebiasaan kecil itu, oleh Ryan Sugiarto dibagi dalam tiga hal. Pertama, kebiasaan memperlakukan diri sendiri, seperti; meremehkan waktu, bangun kesiangan, tidak disiplin, suka menunda, menyontek dan lain sebagainya. Kedua, kebiasaan-kebiasaan kita memperlakukan lingkungan, seperti; merokok dan membuang sampah di sembarang tempat, corat-coret, tidak biasa mengindahkan aturan, dll. Ketiga, kebiasaan-kebiasaan yang merugikan ekonomi, seperti; konsumtif, boros listrik, mengabaikan peluang, dan tidak berpikir kreatif. Keempat; tidak mau membaca, suap-menyuap, nepotisme, meniru, tidak belajar dari pengalaman, ini termasuk dalam kebiasaan kita bersosial.

Kebiasaan-kebiasaan ini seperti repetisi yang terjadi berulang-ulang. Sehingga disadari atau tidak kebiasaan itu memunculkan kecenderungan otak untuk berpikir logis, dan menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Ia muncul begitu saja. Dan kita akan tetap mempertahankan kebiasaan demi kebiasaan seperti itu, jika tidak merasa bersalah dengannya. Hal itu cenderung dipandang sebagai sesuatu yang kecil, dan tidak akan berpengaruh besar terhadap hidup, apalagi lingkungan yang lebih luas seperti masyarakat dan bangsa.

Sepenggal kutipan kata bijak orang Jepang dalam buku ini mengungkapkan, “Akibat kurang satu paku, tapal kuda terlepas. Akibat tapal kuda terlepas, seeokor kuda tak bisa berlari. Akibat kurang satu kuda, satu pesan tak tersampaikan. Akibat satu pesan tak tersampaikan, kita jadi kalah perang.”

Dari makna kata bijak tersebut, ternyata kebiasaan buruk inilah yang bisa jadi disadari atau tidak, telah menyebabkan bangsa ini jatuh dalam jurang kemelaratan, dan tertinggal jauh dari bangsa lain. Lainnya adalah, kebiasaan-kebiasaan kecil kita yang secara langsung atau tidak telah menambah masalah bangsa ini. Ia seakan seperti ‘efek domino’ yang siap mempengaruhi sesuatu yang lainnya, yang (bahkan) belum terpikir oleh kita.

Buku yang berjudul “55 Kebiasaan Kecil yang Menghancurkan Bangsa” ini ditulis dengan bahasa yang ringan dan tidak menggurui pembaca, tapi menyadarkan kita untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan mana saja yang berpengaruh buruk terhadap bangsa. Selamat membaca!

Oleh : Muflih Helmi
Anggota Magang FLP Pekanbaru
Mahasiswa Fakultas Pertanian Universtas Riau



Minggu, 27 Desember 2009

LOMBA CIPTA PUISI INDOSAT

Sebagai upaya ikut membentuk karakteristik bangsa yang kreatif, mencintai keindahan dalam karsa, cipta, dan karya puisi, juga untuk melahirkan seniman (penyair) dengan talenta baru yang diharapkan dapat menjadi agent of change (agen perubahan), PT. Sinar Abdi Mukti Jaya selaku payung www.situseni.com, bekerjasama dengan PT. Indosat, Tbk. menggelar LOMBA CIPTA PUISI INDOSAT. Total hadiah Rp50 Juta. Lomba akan dimulai tanggal 2 Januari 2010, dan pengiriman puisi disampaikan melalui www.situseni.com.1. A. Ketentuan Lomba
1. 1. Ketentuan Umum
1. Terbuka untuk umum.
2. Peserta harus mendaftar sebagai member www.situseni.com.
3. Memiliki SIM card Indosat: Mentari atau IM3, nomornya dicantumkan dalam formulir lomba.
4. Nomor SIM card Indosat harus aktif selama mengikuti lomba. Panitia akan melakukan pengecekan.
5. Bila nomor SIM card Mentari atau IM3 yang didaftarkan tidak aktif, atau fiktif, maka peserta akan didiskualifikasi.
6. Mengisi formulir Lomba Cipta Puisi Indosat yang disediakan pada portal www.situseni.com.
1. 2. Ketentuan Khusus
1. Puisi ditulis dalam bahasa Indonesia.
2. Tema bebas.
3. Karya sendiri. Bila suatu hari terbukti hasil plagiat, akan didiskualifikasi.
4. Belum pernah dipublikasikan di media apapun (cetak dan elektronik).
5. Belum pernah diikutsertakan dalam lomba apapun.
1. 3. Ketentuan Teknis
1. Teknis Umum
1) Lomba terdiri dari dua tahapan: Lomba Bulanan dan Lomba Triwulan (Grand Final).
2) Puisi yang telah didaftarkan, akan dipublikasikan pada database Rubrik Puisi. Nama penyairnya tidak dicantumkan.
1. Lomba Bulanan
1) Satu member situseni.com hanya berhak mengirimkan satu judul puisi pada Lomba Bulanan.
2) Tetapi pada Lomba Bulanan berikutnya, boleh mengikuti lomba kembali dengan mengirimkan puisi yang lain.
3) Penilaian puisi terbaik dilakukan oleh Dewan Juri dan member situseni.com.
4) Dewan Juri akan menilai semua puisi yang masuk, dan memilih dua puluh lima (25) judul Puisi sebagai Finalis Lomba Bulanan.
5) Dua puluh lima (25) judul puisi Finalis Lomba Bulanan akan ditayangkan pada halaman depan situseni.com.
6) Member situseni.com mem-voting puisi terbaik yang menjadi Finalis Lomba Bulanan.
7) Setiap member situseni.com hanya bisa melakukan satu kali voting.
8) Dewan Juri menghitung hasil voting, dan mempertimbangkan kelayakannya untuk menetapkan tiga (3) judul puisi sebagai Puisi Terbaik Lomba Bulanan.

1. Lomba Triwulan (Grand Final)
1) Lomba Triwulan diikuti oleh Puisi-puisi Terbaik Lomba Bulanan, atau sebanyak 3 judul puisi X 3 bulan = 9 judul puisi.
2) Ke-9 Judul puisi finalis Lomba Triwulan akan dinilai oleh Dewan Juri Khusus dan Member.
3) Pemenang Lomba Triwulan (Grand Final) adalah:
a) Satu (1) judul Puisi Terpopuler Indosat versi member situseni.com.
b) Tiga (3) judul Puisi Terbaik Indosat versi Dewan Juri Khusus.
c) Satu (1) judul Puisi Utama Indosat.

Keterangan:
Lomba Bulanan
1. Pengiriman puisi untuk Lomba Bulanan dibuka mulai tanggal 1 hingga akhir bulan, pukul 23.59 WIB, melalui formulir yang disedaiakan di www.situseni.com.
2. Tanggal 1 – 10 bulan berikutnya, Dewan Juri menilai puisi-puisi yang masuk, dan memilih dua puluh lima (25) judul puisi terbaik sebagai Finalis Lomba Bulanan.
3. Pengumuman Dua puluh lima (25) judul puisi Finalis Lomba Bulanan disampaikan oleh Dewan Juri pada tanggal 10 pukul 22.00 WIB, dan ditayangkan di halaman depan situseni.com.
4. Member situseni.com mulai berhak menilai dan memberikan voting terhadap dua puluh lima (25) judul puisi Finalis Lomba Bulanan, sejak tanggal 11 pukul 00.01. WIB hingga tanggal 15 pukul 23.59 WIB.
5. Bila ada voting yang masuk setelah tanggal 15 pukul 23.59 WIB, dinyatakan gugur.
6. Dewan Juri menilai hasil voting member situseni.com pada tanggal 16 – 17, dan mengumumkan tiga puisi Puisi Terbaik Lomba Bulanan pada tanggal 18 pukul 22.00.
7. Hadiah Puisi Terbaik Lomba Bulanan disampaikan oleh panitia kepada pemenang via transfer elektrik (pulsa) dan rekening Bank (uang).

Lomba Triwulan (Grand Final)
1. Lomba Triwulan diselenggarakan setelah Lomba Bulanan selesai dilaksanakan selama tiga (3) bulan.
2. Peserta lomba mulai berhak memberikan voting terhadap sembilan (9) judul puisi finalis untuk memilih satu (1) judul Puisi Terpopuler Indosat. Voting oleh peserta lomba mulai dilakukan tanggal 20 April 2010 pukul 00.01 WIB hingga 30 April 2010 pukul 23.59 WIB.
3. Bila ada voting setelah tanggal tersebut, maka dinyatakan gugur.
4. Dewan Juri Khusus melakukan penilaian terhadap sembilan (9) judul puisi untuk kemudian memilih tiga (3) judul sebagai Puisi Terbaik Indosat, dan satu (1) judul Puisi Utama Indosat, dilakukan tanggal 20 hingga akhir bulan.
5. Pengumuman Satu (1) judul Puisi Terpopuler Indosat, Tiga (3) judul Puisi Terbaik Indosat, serta satu (1) judul Puisi Utama Indiosat disampaikan oleh Dewan Juri pada tanggal 1 Mei, pukul 22.00 WIB, dan akan ditayangkan di halaman depan situseni.com
6. Hadiah Lomba Triwulan (grand final) diberikan dalam sebuah acara khusus yang dihadiri oleh para pemenang, Dewan Juri, pihak Indosat, dan pihak www.situseni.com.

1. B. Dewan Juri
1. Dewan Juri untuk Lomba Bulanan, adalah orang-orang yang kompeten dalam bidang perpuisian dan kebahasaan.
2. Dewan Juri Lomba Triwulan (Grand Final) adalah Dewan Juri Khusus yang terdiri dari Dewan Juri Lomba Bulanan ditambah dua orang yang berasal dari pakar sastra atau aktivis perpuisian.

1. C. Aspek Penilaian oleh Dewan Juri
1. Kedalaman dalam penggarapan tema, amanat, bunyi, suasana, imajinasi, emosi, dan gaya bahasa.
2. Kekentalan dalam sublimasi dan simbolisasi.

1. D. Hadiah
1. Dua puluh lima (25) Puisi Finalis Lomba Bulanan, masing-masing memperoleh hadiah voucher Indosat Rp150.000.
2. Tiga (3) judul Puisi Terbaik Indosat dalam Lomba Bulanan, masing-masing memperoleh hadiah voucher Indosat Rp250.000 + uang Rp1.000.000.
3. Tiga (3) judul Puisi Terbaik Indosat dalam Lomba Triwulan pilihan Dewan Juri, masing-masing memperoleh hadiah voucher Indosat Rp500.000 + uang Rp1.500.000.
4. Satu (1) judul Puisi Terpopuler Indosat pilihan member dalam Lomba Triwulan, memperoleh hadiah voucher Indosat Rp500.000 + uang Rp 1.500.000.
5. Satu (1) puisi peraih Puisi Utama Indosat dalam Lomba Triwulan, memperoleh voucher Indosat Rp1.500.000 + uang tunai Rp15.000.000.
6. Hadiah hiburan Lomba Bulanan diberikan kepada peserta yang ikut melakukan voting untuk Lomba Bulanan. Nomor SIM Card peserta akan diundi, dan diambil 5 pemenang, masing-masing memperoleh voucher Indosat Rp100.000.
7. Hadiah hiburan Lomba Triwulan diberikan kepada peserta yang ikut melakukan voting untuk Lomba Triwulan. Nomor SIM Card peserta akan diundi, dan diambil 6 pemenang, masing-masing memperoleh voucher Indosat Rp250.000.

Keterangan Tambahan:
1. Puisi-puisi finalis pada setiap Lomba Bulanan (total 75 judul puisi), akan dibukukan oleh www.situseni.com, dan para penulisnya (penyair), berhak memperoleh royalti sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam royalti perbukuan.
2. Launching buku akan dilangsungkan bersamaan dengan penyerahan hadiah bagi pemenang Puisi Utama Indosat.
3. Informasi terbaru yang berkait dengan Lomba Cipta Puisi Indosat ini, akan disampaikan melalui www.situseni.com.




Sabtu, 05 Desember 2009

Impian Seorang Ibu

Emak Ingin Naik Haji
(Cinta Hingga ke Tanah Suci)
Penulis : Asma Nadia
Penerbit : AsmaNadia Publishing House
Cetakan : Pertama, Agustus 2009
Tebal : 210 Halaman

Asma Nadia merupakan nama pena dari Asmarani Rosalba, telah terlihat bakatnya sejak kecil. Sang kakak, Helvy Tiana Rosa menggambarkan sosok sang adik – Asma Nadia – dalam sebuah cerpen Pelajaran Tekad dari Rani Kecil diterbitkan dalam sebuah buku kumpulan cerpen Emak Ingin Naik Haji, terbitan Asma Nadia Publishing House. Cerpen yang mengulas tekad seorang penulis sukses, Asma Nadia itu, yang tidak pernah menyerah dengan keadaanTekadnya yang tidak kenal henti, mengantarkan ia menjadi pemenang beberapa lomba mengarang tingkat nasional. Sejak buku pertamanya terbit tahun 1998 hingga kini total ia sudah menulis lebih dari 40 buku. Bahkan ia diundang mewakili Indonesia dalam program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (2003). Tahun 2006 ia terpilih menjadi satu dari dua sastrawan Indonesia yang di undang ke Korea untuk program Writers in recidence, dan tahun ini diundang ke The Chateau de Lavigny, Swiss untuk program serupa. Karya-karyanya telah disinetronkan dan di filmkan.

Salah satu cerpennya yang cukup fenomenal yang diangkat ke layar lebar adalah cerpen yang berjudul Emak Ingin Naik Haji garapan Aditya Gumay. Aditya – yang telah sukses mengarap film Laskar Pelangi dan Garuda di Dadaku – tertarik mengangkat cerpen tersebut ke layar lebar, setelah ia membacanya pada pertengahan tahun 2008 dari sebuah majalah yang terbit tahun 2007. Padalah cerpen tersebut sangat singkat, dan tidak lebih dari 12 ribu karakter saja. Tapi, mampu dikembangkan menjadi sebuah film.

Emak Ingin Naik Haji bercerita tentang Emak, seorang wanita paruh baya yang dengan gigih berusaha untuk dapat mewujudkan impiannya, yaitu pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan haji. Kehidupan Emak sehari-hari hanya bergantung pada hasil jualan kue yang dititipkan di warung atau pesanan orang. Kalau beruntung, ada juga sedikit tambahan uang dari Zein, anak Emak satu-satunya yang berjualan lukisan keliling hasil karyanya sendiri.

Walaupun Emak tahu bahwa naik haji adalah salah satu hal yang mungkin sulit diraih, tetapi Emak tidak putus asa, dia tetap mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk disetorkan ke tabungan haji di bank. Zein, yang melihat kegigihan Emak tersebut, juga berusaha dengan berbagai cara untuk dapat mewujudkan keinginan orang tuanya.

Cerpen ini mengangkat berbagai nilai kehidupan; kegigihan, ketulusan, kasih sayang, semangat berbagi, berserah diri, dan berbagai nilai indah lainnya yang mungkin saja terlupakan oleh sebagian besar dari kita. Lebih khususnya, Emak Ingin Naik Haji menyentil fenomena sosial keluarga muslim yang hidup berkecukupan dan dapat berkali-kali naik haji sementara banyak keluarga muslim lain yang tak mampu menunaikan rukun Islam kelima tersebut atau harus bersusah payah menabung bertahun-tahun untuk mewujudkan impiannya pergi haji.

Emak adalah representasi dari kelompok masyarakat yang sangat merindukan Mekah, tetapi karena persoalan finansial, maka pergi haji menjadi sebuah hal yang sangat jauh di awang-awang. Sementara Juragan Haji bersama keluarganya, dipaparkan dalam cerpen tersebut dengan penuh kemudahan dapat melakukan ibadah haji dan umroh kapan saja mereka inginkan.

Dalam buku kumpulan cerpen setebal 210 halaman ini, Asma membuat selang-seling antara cerpen kritik sosial dan kisah cinta. Sesudah Emak Ingin Naik Haji adalah Cinta Begitu Senja yang bikin kita gregetan. Selanjutnya cerpen Koran, yang ditata sedemikian rupa runutnya, jadi terkesan memang sudah diatur begitu. Si tokoh mulanya getol banget baca surat kabar, katanya dengan koran ia bisa jadi pintar. Lama-lama si tokoh muak, soalnya berita-berita buruk terus yang disuguhkan, dan itu menyangkut orang-orang terdekatnya. Sampai-sampai ia fobia sama koran.

Pada dasarnya semua menarik, dengan plus dan minus tiap-tiap cerita. Bahasa Asma yang relatif ringan dan mengalir lancar, sangat layak untuk sembari mengasah kepekaan dan membangkitkan semangat toleransi, solidaritas, dan lain-lain. Seperti yang tertulis dalam Catatan Kecil Para Sahabat di bagian penutup buku ini, Asma Nadia dinilai selalu menyentuh problem etik dan moral dalam balutan suasana religius. Maka karya-karyanya tidak hanya sekedar menyuguhkan kenikmatan estetik, tapi juga menyuguhkan penyadaran.

Dalam buku kumpulan cerpen Asma Nadia ini, diceritakan juga bagaimana proses perjalanan syuting film Emak Ingin Naik Haji berlangsung. Berbagai keunikan ditemukan dan bahkan menemukan kemudahan-kemudahan dalam proses pembuatan film itu sendiri. Dan yang lebih unik lagi, 100 % royalti dari buku ini akan dipersembahkan untuk sosial kemanusiaan dan membantu memenuhi mimpi ke tanah suci, bagi saleh dan salehah yang kurang mampu. Pastikan anda sebagai salah satu pembacanya!

Oleh : Ribzah Nurhilmi
Anggota Magang FLP Pekanbaru 2009
(Telah dimuat di expresi Riau Pos Tanggal 6 Desember 2009)

"Gaza 2009" Menangkan Cairo International Film Festival 2009


(eramuslim)Film berjudul "Gaza 2009" keluar sebagai pemenang pada Festival Film Internasional Kairo (Mahrajan al-Qahirah as-Sinima'i ad-Duwali/Cairo International Film Festival) 2009 yang digelar selama pekan terakhir bulan November kemarin.

Film produksi Syirkah Filasthin li al-Intaj al-I'lami (PMP), Gaza, itu keluar sebagai pemenang setelah menyisihkan 400 film Arab lainnya yang ikut serta dalam festival tersebut.

"Gaza 2009" merupakan film-romantika yang sarat akan pesan kemanusiaan. Kisahnya benar-benar menguras air mata dan menggugah emosi siapapun yang menontonnya. Betapa tidak, film tersebut menceritakan tentang potret kehidupan warga Palestina yang menyayat hati di bawah pendudukan Israel, khususnya di wilayah Jalur Gaza yang mengalami blokade selama beberapa tahun terakhir.

Di tengah kondisi yang mengenaskan itu, mencuatlah kisah cinta seorang pemuda-Muslim dari Gaza dengan seorang gadis-Yahudi dari Nazaret, Israel. Pemuda Gaza itu bekerja di Nazaret, dan di kota kelahiran Isa al-Masih itulah keduanya berkenalan dan saling memadu kasih. Keduanya pun lantas menikah, setelah si gadis memeluk Islam dan ikut suaminya ke Gaza yang nelangsa.

Tentu saja, sejuntai problem perbedaan dua identitas menjuntai dan menghiasi lika-liku kehidupan mereka pasca menikah, dan setelah mempunyai buah hati sebanyak enam anak. Sebagian dari anak-anak mereka, misalnya, justru bercakap dalam bahasa Ibrani, belajar Talmud dan Taurat di Israel.

Sutradara film, Musthafa an-Nabih, berwarganegara Palestina, menyatakan jika kisah film "Gaza 2009" sendiri diilhami dari kisah nyata. Dikatakannya, problem dan konflim mulai muncul dalam kehidupan dua sejoli itu setelah delapan tahun usia pernikahan mereka.

Problem tersebut berpangkal dari keadaan kehidupan di Gaza yang serba sulit pasca blokade Israel. Bisa dibayangkan, pasca blokade itu, Gaza benar-benar seperti wilayah purba: tak ada air bersih, bahan bakar, pasokan makanan, obat-obatan, dan listrik. Bisa dibayangkan betapa mengerikannya kehidupan di sana. Sang istri rupanya merasa tak kuasa hidup di tengah kondisi kehidupan yang benar-benar sengsara seperti itu.

Sang istri pun memutuskan untuk kembali ke Nazaret, kampung halaman asalnya. Ia pun kabur bersama tiga orang anaknya, sementara tiga anak lainnya tinggal bersama si bapak di Gaza. Dua dari tiga anak mereka yang kemudian hidup bersama bapaknya adalah si kembar-bungsu yang baru berusia 27 hari, salah satunya bahkan cacat.

Di Nazaret, si istri dan ketiga anak yang dibawanya, yang paling besar bernama Yasmin (9 tahun), dan menjadi salah satu tokoh utama di film tersebut, kembali memeluk agama Yahudi, sekaligus semua anaknya.

Penderitaan si lelaki tak hanya berhenti sampai di sana saja. Dinas intelejen Israel memaksanya untuk meninggalkan semua anaknya, untuk diboyong ke wilayah negeri itu dan menjadi warga negara Israel. Puncaknya, di hari terakhir penyerbuan Israel ke Gaza di awal tahun lalu, lelaki itu pun mati dirajam peluru dan roket pesawat Israel.

An-Nabih, sang sutradara, bercerita bahwa pasca berakhirnya agresi Israel ke Gaza di awal tahun yang lalu, pihaknya segera mengunjungi wilayah tersebut, untuk membuat film dokumenter. Saat itu, secara tak sengaja ia mendengar kisah Yasmin dan keluarga Gaza-Palestina dan Nazaret-Israel ini.

"Saat mengunjungi Gaza setelah agresi Israel berakhir, saya mendengar kisah Yasmin yang dibawa kabur oleh ibunya dari Gaza. Keluarga ini pun terpecah, menjadi keluarga Muslim dan Yahudi," kata an-Nabih.

Ditambahkan oleh seniman kenamaan Palestina itu, pesan utama dari film garapannya adalah nilai-nilai kemanusiaan. "Di film itu, kami ingin menyuguhkan kisah kemanusiaan, yang sangat nyata, dan sangat memukul. Betapa sebuah keluarga yang mulanya harmonis menjadi hancur dan menjadi terbelah," terang an-Nabih.

Sebelumnya, film "Gaza 2009" juga menjadi pemenang kategori film dokumenter pada Festival Film Arab yang digelar di Tunisia belum lama ini.

Untuk maklumat lebih jauh tentang film Gaza 2009, dapat diakses di situs produser film tersebut, yaitu www.pmptv.tv (ags)