Rabu, 18 November 2009

Sajak untuk Pena

Dari titik yang mengalir
Aku menggeliat tiada henti
Menakar berlembar-lembar sejarah
Memutar kisah dari sebuah negeri
Yang telah lama terkubur

Aku luahkan kebisingan kata
Yang kian merayu penuh makna dan tanya
Menyapa kesela-sela hati
Dan menari bersama ombak
Bahkan sang pujangga berdecak kagum
Di atas pucuk-pucuk galau
Dalam meniti bait-bait puisi dan gurindam

Entah setua apa diriku?
Selalu hidup dari mereka
Yang mengerti makna sebuah kata
Meski aku hanya pena

(Diterbitkan di Riau Pos tanggal 8 November 2009)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Your blog keeps getting better and better! Your older articles are not as good as newer ones you have a lot more creativity and originality now keep it up!