Senin, 26 Oktober 2009

Remaja dan Cinta


Agar Jatuh Cinta Tak Jadi Bencana
Penulis : Jauhar al-Zanki
Penerbit : Pro-U Media
Cetakan : 2009
Tebal : 208 halaman

Salah dalam memaknai cinta, seringkali menodai cinta itu sendiri. Dan seakan cinta menjadi punca dari segala bencana. Sehingga cintalah yang disalahkan. Tetapi, adakalanya seorang mampu mendirikan bangunan dengan arsitertur yang megah dan indah, karena cinta. Seseorang mampu mengorbankan dirinya untuk mengharungi samudera, karena cinta. Dan adakalanya, karena cinta seorang penguasa rela tunduk dan menyerahkan tahta kerajaannya. Bahkan, seseorang rela menghempaskan raganya dari ketinggian sebuah menara karena cinta. Itulah cinta.Agar Jatuh Cinta Tak Jadi Bencana, adalah sebuah buku yang membahas tentang cinta yang hakiki. Menjelaskan sisi yang belum dipahami oleh para pencinta, khususnya para remaja. Jauhar al-Zanki, menjelaskan bahwa cinta sejati adalah cinta yang tidak akan membawa bencana, tapi adalah sebuah cinta yang berbuah ridha-Nya. Bukanlah sebuah cinta, bila sama-sama hanya menodai kesucian, atau hanya memuaskan nafsu birahi saja. Yang dengannya justru akan akan berakhir sengsara. Padahal fitrah cinta tidak demikian. Tetapi, cinta hakiki bukan malah menyakitkan, tapi cinta yang hakiki justru menyembuhkan.

Meskipun kesalahan dalam menempatkan rasa tersebut tidak hanya kaum remaja saja, namun kaum remaja sudah selayaknya diberikan perhatian yang khusus. Sebab masa remaja sangat cenderung mengikuti keinginan tanpa dibarengi dengan pengetahuan maupun keagamaan. Sehingga wajar ketika remaja tidak mendapat bimbingan, mereka lebih memilih jalan sendiri. Mengikuti arus zaman yang mengancam masa depannya.

Secara psikologi dunia remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Di masa itu hormon pertumbuhan remaja meningkat dari biasanya. Sehingga ada perbedaan psikologi dari sebelumnya. Ini terlihat dari karakternya sehari-hari. Selalu identik dengan kesenangan, keceriaan, canda, tawa, bahkan tangis. Suatu saat ia bisa merasakan kebahagiaan yang amat sangat, yang membuatnya lupa diri. Tapi di suatu waktu merasakan kesedihan yang membuat bingung orang tua. Apalagi cara berpikir terhadap sesuatu tidak secara komprehensip, membuat remaja berprilaku “suka-suka gue”. Hal-hal inilah yang pada umumnya masih melekat pada pribadi remaja dan perlu diluruskan. Apalagi masa itu mereka baru mengenal yang namanya cinta. Bila ini dibiarkan, akan berdampak tidak baik untuk dirinya.

Remaja dan cinta adalah tatanan kata yang memuat potensi luar biasa. Bila tepat dalam memaknainya, hidup akan penuh makna. Sebaliknya, jika salah dalam menafsirkan cinta, bisa jadi hidup akan semakin sempit. Apalagi kaum wanita. Bila kesucian diri tidak mampu diproteksi dengan tegas, hilanglah kehormatan direnggut oleh nafsu yang tidak bertanggung jawab. Oleh karenanya, memaknai cinta harus seperti yang digariskan Allah dan Rasulnya. Yakni rasa yang bermuara dari kebeningan dan kesucian hati, sehingga mengantarkan keridhaan Allah Swt. Dan bukan kemurkaannya.

Buku setebal 208 ini, dengan bahasa yang santai dengan penggunaan bahasa dan kalimat yang lazim digunakan orang yang jatuh cinta, mampu mewacanakan makna cinta yang sejati. Penulis menjelaskan tentang cinta yang dipahami kaum remaja pada umumnya adalah seperti setangkai bunga yang dipetik dan disimpan di atas meja, di samping tempat tidurnya. Lalu disemprot parfum dan disandingkan dengan fotonya. Harum, cantik dan menarik. Sebuah panorama yang sedap dipandang mata. Tapi keesokannya ditemukan layu, lalu dibuang. Dan begitulah seterunya. Sementara bunga semakin lama, akan semakin layu karena ternodai kesuciannya. Hanya sekedar itu makna cinta yang mereka pahami.

Padahal, memaknai cinta yang sebenarnya adalah dengan merawat, mengurus dan memperlakukan bunga sebagaimana mestinya. Sesuai fitrahnya: dirawat di taman atau di pot bunga. Sebab itu lah cinta harus diarahkan ke sana, ke fitrah kesucian diri. Ke arah keshalehan dan kebersihan hati. Ke arah cinta yang hakiki, cinta sejati dan teragung, yakni Allah Swt.

Dalam buku ini, Jauhar al-Zanki menawarkan solusi selama penantian. Yakni selama rasa cinta itu mulai tumbuh hingga cinta ditempatkan pada waktunya. Caranya menyibukkan diri dengan Allah Swt, sibuk dengan amal kebajikan. Jika kita tidak disibukkan dengan kebajikan, maka setan akan menyibukkannya dengan perbuatan yang sia-sia dan berbuah dosa.

Penulis berhasil membuka cakrawala pemikiran kita yang kurang tepat dalam memaknai dan menggunakan cinta itu sendiri. Sehingga buku ini sangat bermanfaat, bukan hanya untuk para remaja saja, tapi untuk siapapun yang sedang jatuh cinta. Dan juga orang tua agar mampu meluruskan rasa cinta buah hatinya. Muatan buku yang sarat dengan pelajaran kisah sejati tentang cinta, membuat pembaca akan lebih mengerti akan fenomena cinta. Tentu buku ini layak menjadi penghuni perpustakaan anda.

Oleh : Muflih Helmi

Anggota Komunitas Pena Arroyyan

Email : ribzah_helmi@yahoo.co.id
(dipublikasikan di Riau Pos tanggal 25 Oktober 2009)


0 komentar: