Senin, 26 Oktober 2009

Membangun Tradisi Belajar

Sesungguhnya jiwa saya merasa senang dengan ilmu; dengannya jiwa saya semakin tenang (Ibnu Taimiyyah). Seakan perkataan Ibnu Taimiyyah di atas, sebuah sindiran hebat untuk kita. Jika kita cermati ada sebuah tradisi belajar kita mulai tertimbun di balik kesibukan mengejar harta, kurangnya rasa kepedulian terhadap ilmu. Ilmu dirasakan bukan prasyarat untuk memperoleh ketenangan jiwa dan kedamaian dunia, tapi adalah sebuah formalitas untuk meraih dunia kerja.

Kecendrungan tersebut, ternyata lebih banyak disebabkan kurangnya pemahaman terhadap hakikat ilmu. Terlalu sederhana kalau kita sekolah, dan menuntut ilmu sekadar untuk memperoleh kerja. Akan tetapi jika orientasinya sekedar mendapatkan pekerjaan, maka kita hanya menunggu untuk digunakan. Dan semakin bertambahlah mental yang hanya dipekerjakan oleh bangsa lain.

Imam Nawawi pernah mendengarkan cerita gurunya Imam Abu Ishaq, tentang Syeikh Abdul Azhim. Setiap tengah malam ia terbangun dan selalu melihat lampu kamar Syeikh Abdul Azhim masih menyala. Itu pertanda ia masih tekun belajar dan menulis. Bahkan al-Badar bin Jamaah menceritakan tentang kisah Imam Nawawi sendiri. ‘’Setiap kali aku mengunjungi an-Nawawi, ia harus menumpuk-numpuk kitab-kitabnya supaya ada sedikit ruang untuk ku.’’
Kisah-kisah inspiratif di atas selalu mengalir dalam setiap bab buku Profetic Learning ini. Dwi Budiyanto adalah motivator pembelajaran dari Profetika Learning Centre, seakan membawa pembaca ke zaman peradaban Islam berabad-abad yang lampau. Di mana ilmu adalah kekuatan utama bagi tonggak peradaban.

Profetik learning adalah sebuah cara belajar yang menimba dari pengalaman generasi pemenang dari khazanah sejarah emas Islam. Yaitu, ilmu dengan orientasi untuk kemaslahatan ummat, dan bahkan berorientasi kepada akhirat. Hal ini akan menimbulkan hasrat yang kuat dalam belajar, berkarya dan berkontribusi. Sehingga ilmu tidak hanya bermanfaat bagi dirinya, tapi juga kehidupan.

Penulis memaparkan tiga wila-yah keilmuan yang harus kita kuasai. Pertama, ilmu yang terkait dengan dasar-dasar pembentukan karakter dan potensi kita. Kedua, ilmu yang berkaitan dengan penguatan sosial kita. Ketiga, ilmu yang berkaitan dengan pengembangan profesi kita. Kita menemukan bahwa kelas-kelas kita terlalu padat dengan muatan materi, tetapi sangat miskin dengan motivasi.

Selain penulis menyampaikan dengan gaya bahasa motivator yang mudah dipahami, penulis melengkapinya lembar program ikhtiari di setiap pembahasan. Yaitu sebuah program yang mesti diikuti pembaca dalam mewujudkan mental pembelajar dengan jalan kenabian. Hal ini akan memudahkan pembaca untuk menginterpretasi setiap pembahasan penting dari buku pengembangan ini. Bukannya tidak mungkin jika pembaca benar-benar mampu menyerap semua isi buku ini, akan termotivasi untuk menata kembali kecerdasan pikiran.

Buku ini sangat bagus untuk kalangan pelajar, mahasiswa, guru dan dosen untuk memotivasi diri menjadi pembelajar. Dengan mengubah pola belajar dan juga mengajar selama ini, tentu mampu meminimalkan keterpurukan pendidikan bangsa kita. Generasi terdahulu telah memberikan contoh yang inspiratif. Seperti Imam Malik telah menghasilkan kitab al-Muwatha’, Ibnu Taimiyyah telah menghasilkan Majmu’ Fataawaa, Imam Syafi’i dengan al-Umm, Ibnu al-jauzi menulis ilmunya dalam Shaidul Khatir, Buya Hamka melahirkan karya-karya monumental seperti Tafsir al-Azhar, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan Tenggelamnya Kapal Van Der Vijk. Demikian pula BJ Habibie dengan Pengembangan Penerbangan Tanah Air, Ary Ginanjar menghasilkan gagasan ESQ, Abdullah Gymnastiar menggagas Manajemen Qolbu. Lalu, haruskah kita sekadar menjadi orang-orang biasa, dengan cara belajar selama ini? Tentu itu bukan pilihan yang diinginkan.

Profetic Learning adalah tradisi belajar mereka, yang luar biasa dalam mengembangkan diri. Sehingga mereka terus berproses tiada henti, melalui banyak jalan yang perlu kita teladani. Mereka rajin membaca, berkarya, me-ngembara, dan sebagainya. Buku ini akan menjadi pemantik bagi mereka yang ingin sukses, dengan menjadikan belajar dengan Profetic Learning sebagai tradisi kesehariannya. Selamat membaca!***

Muflih Helmi
ribzah_helmi@yahoo.co.id
Anggota Komunitas Pena Arroyyan

(Dipublikasikan di Riau Pos, Agustus 2009)


0 komentar: