Rabu, 07 Oktober 2009

Eksistensi Dakwah Kampus dalam Tarbiyah Nukhbawiyah

Harokah Nukhbawiyah

Sejarah telah mencatat bahwa kekuatan kader memberikan pengaruh sangat signifikan dalam suatu gerakan perubahan peradaban. Keterjagaan fikroh, visi, misi dan manhaj operasional jamaah yang kuat melekat tertanam dalam setiap elemen struktur jamaah akan memberikan arahan dan mabda yang jelas, kemana output dari harokah ini.

Bila kita mempelajari pola dakwah Rasululullah SAW ketika fase mekkah, dalam marhalah sirriyatud da’wah wa sirriyatut tandzim(pola dakwah dan penataan tertutup). Ada beberapa karakteristik yang menarik dari proses ta’rif(rekruitmen dan pengenalan islam), takwin(pembinaan yang berkelanjutan dan komphrehensif), dan kerja lapangan(tanfidz) yang dibenturkan dengan kondisi masyarakat jahiliyah, yang bisa kita pelajari, diantaranya:
1. Dalam proses rekruitmen Rasulullah SAW sangat selektif dalam pemilihannya. Dimulai dari keluarga dan kerabat terdekat yang sudah terjamin kepercayaannya, tetapi juga memiliki kapasitas individu yang kuat, seperti faktor intelegensia, memiliki karakter yang menarik, status sosial di kabilahnya dan potensi-potensi lain yang tidak dimiliki oleh manusia kebanyakan.
Maka benar sabda Rasul, orang yang sangat keras dan memiliki potensi ketika masa jahiliyyah, maka mereka akan menjadi pembela islam yang keras dan cerdas terhadap orang kafir. Seperti layaknya umar setelah masuk islam.

2. Dalam pola pembinaan, Rasulullah SAW lebih menekankan pada pemahaman aqidah, menanamkan keyakinan yang kuat akan kebenaran islam, Allahu ghayatuna.

Pola ini sesuai dengan pembinaan Allah SWT melalui ayat-ayatnya yang diturunkan dikota mekkah, yang kebanyakan berisi ancaman, janji surga dan kenikmatan bagi orang-orang yang meneggakkan agamanya, dan bukan ayat-ayat syariah yang mengatur kehidupan manusia.

3. Tanfidz, diawali dengan ayat “Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah”. (Al Muddatsir: 1 – 4).

Ada komentar yang menarik dari ust. Sayyid Qutbh Rahimahullah dalam kitab tafsir fii dzilalil qur’an tentang ayat ini, beliau mengatakan bahwa memberi peringatan adalah aktivitas yang paling menonjol dan paling berat di dalam risalah ini, apalagi di awal perjuangan islam.

Makanya benar ketika Allah berfirman tidak sama kualitas para sahabat sebelum perang badar dan sesudah perang badar, walaupun mereka semuanya adalah orang mukmin.

Itulah fokus kerja(kaderisasi) Rasulullah ketika awal perjuangan islam, yaitu penguatan tarbiyah dan penataan basis internal, yang merupakan calon pendukung, pembela dan pembawa risalah agung ini. Baru kemudian tausi’ah(perluasan wilayah dakwah), peneggakan hukum, daulah islamiyah dan islam sebagai ustadziyatul ‘alam.

Satu hal yang sering dewasa ini kita lupakan dalam tarbiyah bahwa, ketika pergantian mihwar atau marhalah, terkadang kita melupakan agenda kaderisasi yang merupakan inti dari gerakan kader. Seharusnya, kalaulah kebijakan era sekarang menuju mihwar dauli, dimana salah satu agenda besarnya adalah penguatan kemampuan pelayanan publik, penokohan dan segala sesuatu yang kita persiapkan untuk masuk kewilayah pemerintahan, agenda ta’rif, takwin harus merupakan salah satu yang wajib kita prioritaskan dalam setiap amal kita.

Peluang Kampus

Peluang kampus dalam memberikan kontribusi tarbiyah tidak lepas karena dua faktor besar, pertama: faktor internal kader. Sejauhmana kualitas pribadi(ruhiyah, ma’nawiyah) dalam mentarbiyah obyek dakwah, komitmen, tadhiyyah, serta keikhlasan amalnya.

Kita meyakini bahwa apa yang kita hasilkan sekarang bukanlah karena faktor kita(manusia) sebagai mujahid dakwah, tapi karena Allahlah yang memberikan kesempatan bagi kita untuk melakukan perubahan. Sehingga bila quwatus silabillah ini tidak kita jaga, maka pastilah Allah akan menggantikan kita dengan kaum yang lebih memiliki komitmen untuk meneggakkan agama-Nya.

Faktor kedua, adalah faktor eksternal kader. Mulai dari trend atau kecenderungan yang banyak berkembang dikalangan mahasiswa, kedua, sejauhmana kebijakan kampus berperan besar dalam proses tarbiyah, memberikan kemudahan ataukah memberikan rintangan, dan ketiga, berlomba-lomba dengan gerakan idelogis kampus lainnya.

Pertama, kita perlu menganalisa trend atau kecenderungan mahasiswa di suatu universitas, gaya bahkan pola hidup mereka, dimana ini tidak bisa kita sama ratakan disemua universitas, terutama dijogja.

Bahkan dalam satu universitas pun, trend yang berkembang di kalangan mad’u(obyek dakwah) masing-masing fakultas memiliki karakteristik pola rekruitmen, dan pembentukan yang berbeda pula. Mahasiswa fakultas teknik dengan gaya basis pengetahuan eksakta yang cenderung berfikir linear sangat berbeda pendekatan dakwahnya dibandingkan dengan fakultas sospol dengan basis pengetahuan sosial pemikiran politik, ini contoh kasus sederhana.

Tetapi secara umum, tipe mahasiswa bisa kita kluster dalam 3 kelompok, diantaranya:

1. Kelompok mahasiswa yang sudah tersibghoh dengan nilai-nilai keislaman.
Kelompok ini merupakan tipe mad’u yang paling memungkinkan untuk kita libatkan dalam kegiatan tarbiyah maupun dalam kegiatan keislaman. Walaupun di sisi lain, kelompok ini juga menjadi target operasi semua gerakan dakwah, tetapi ini bukanlah sesuatu yang harus kita khawatirkan, karena kita mempunyai prinsip tasamuh dengan setiap elemen dakwah yang memiliki cita-cita luhur dalam penegakkan islam.

Sehingga kerja besar yang harus kita lakukan adalah pemahaman yang mendalam akan syumuliyatul islam sebagai manhaj asasi, dan manhaj jamaah sebagai manhaj amaliy dakwah tarbiyah, yang ini merupakan pilihan, boleh bersepekat dan bersama-sama memperjuangkannya atau menolak dan diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menetapkan pilihan sesuai dengan kefahaman fiqh dakwah yang difahami.

Berbicara tentang kuantitas mahasiswa yang masuk kategori ini, mungkin tidak lebih dari 1000 mahasiswa, bahkan mungkin hanya sekitar ratusan. Tetapi dengan potensi kapasitas pribadi yang mereka miliki, walaupun hanya sekitar 5% dari seluruh mahasiswa baru, mereka akan mampu memberikan pengaruh signifikan nuansa keislaman dimana mereka berada. Dan alhamdulillah Allah masih mempercayakan pada kita untuk mengelola dan mengajak mereka bersama-sama dalam bendera tarbiyah.

2. Kelompok mahasiswa umum.

Kelompok mahasiswa ini, secara kuatitas, terbanyak dari semua tipe yang ada. Hal ini mencerminkan bagaimana kondisi masyarakat indonesia, dimana muslim abangan(mengambil definisi kuntowijoyo) masih mendapatkan porsi terbesar diindonesia dari total jumlah penduduk muslim.

Penanganannya, pun juga beragam variasinya,karena kita berhadapan dengan banyak model. Ada yang hedonis, ada yang koleris dengan kondisi sosial dan bahkan masalah keagamaan, ada yang studi oriented, dan banyak tipe lainnya. Tapi satu hal yang harus kita miliki ketika berhadapan dengan tipe seperti ini, yaitu kekuatan komunikasi dan sosialisasi, disamping kita harus mampu menunjukkan kepribadian/pesona pribadi yang menarik kepada mereka, dengan tanpa melanggar syariah.

Wilayah ini sebenarnya memiliki potensi besar, ketika mereka mampu kita mobilisasi dalam kerja-kerja dakwah. Seperti potensi maaliyah(keuangan), nilai akademik yang baik(berpotensi menjadi dosen dan sangat bermanfaat berdakwah dibirokrasi kampus), potensi keahlian umum, dan potensi khusus lain yang jarang dimiliki ikhwah. Pertanyaannya?seberapa besar prosentase kesabaran dalam diri kita?.

3. Kelompok mahasiswa yang memiliki kepentingan dan ideologis memperjuangkan nilai-nilai yang melekat pada diri mereka dan cenderung tidak sependapat dengan kepentingan islam dan dakwah.

Berhadapan dengan kelompok ini, tergantung bagaimana sikap mereka pada kita. Jika menyerang kita lawan, jika bersaing sportif kita tasamuh dan memberikan peluang gerakan yang seluas-luasnya, tanpa harus menjegal atau menahannya.

Faktor eksternal kedua berkaitan dengan kebijakan birokrasi kampus sendiri, memberikan peluang ataukah memberikan hambatan. Hal ini sangat berkaitan erat dengan personal, siapa yang mengendalikan kebijakan, tidak lantas langsung bisa disimpulkan bahwa kampus A tidak mendukung gerakan dakwah dan nilai-nilai islam.

Jika kondisi yang nampak adalah rintangan, maka model yang kita gunakan sebagaimana fase dakwah Rasulullah di masa sirriyatud dakwah wa tandzim. Basis penguatan pembinaan dan agenda infiltrasi kekuatan dakwah diwilayah birokrasi kampus, dan pengambilan peran sebagai penentu kebijakan. Bila yang terjadi adalah dukungan penuh, maka yang wajib kita lakukan adalah optimalisasi dan efektifitas kerja di setiap elemen kampus: mahasiswa, karyawan, dan dosen.

Lalu bagaimanakah kondisi kampus dijogja? Untuk kampus besar, dengan jumlah kader mahasiswa, karyawan, dosen yang banyak, dan menyebar disetiap pos-pos penting kampus, maka tarbiyah masih merupakan kekuatan islam yang cukup memberikan pengaruh nilai keislaman dalam kehidupan kampus. Tetapi insya Allah dengan keistiqomahan kita melakukan tausi’ah(perluasan), kemungkinan untuk memasukkan nilai islam dalam kampus, tidak menjadi sesuatu yang berat untuk kita lakukan. Apalagi dengan kultur kampus, yang menghormati nilai-nilai pengetahuan ilmiah pemikiran dan intelektual. Sehingga tepat, ketika ust. Hilmi Aminuddin kembali menekankan pentingnya pesantren, kampus, dan mahasiswa sebagai fokus kerja tarbiyah, karena disanalah gudangnya agent of change.

Analisa Rasio Kekuatan

Berbicara tentang logika analisa pertumbuhan, maka kita berbicara pada tiga hal numuwwul kammiyyah(kuantitas), numuwwul nau’iyyah(kualitas) dan numuwwul qudroh(kemampuan) yaitu sejauhmana pertumbuhan kuantitas kader tarbiyah, kualitas personal individu jamaah dengan parameter muwashoffat dan kemampuan pengelolaan dakwah.

Ketiga komponen di atas merupakan satu kesatuan yang saling memiliki keterkaitan dalam proses analisa rasio kekuatan. Pertumbuhan kuantitas dan kualitas kader merupakan parameter kesuksesan dakhiliyah(internal). Jamaah yang hanya berkutat pada kuantitas tanpa memperhatikan kualitas, adalah jamaah yang rapuh.

Sejarah telah mencatat kebesaran partai islam,Masyumi, yang merupakan salah satu ormas terbesar di Indonesia. Tetapi sejarah juga mencatat kegagalan mereka dalam proses kaderisasi, sehingga ketika dihantam dengan ideologi dan konsep nasionalis, komunis, dan ideologi-ideologi modern di kala itu,dan dibenturkan dengan organisasi lain yang memiliki visi, misi dan idealisme yang kuat, banyak pengikutnya yang tidak bisa mempertahankan kebanggaan organisasi, sehingga ormas inipun terlindas oleh kejayaan dan kekuatan ormas lainnya.

Dr. Yusuf Al Qorodhowiy dalam bukunya yang berjudul kebangkitan gerakan islam. Beliau menuliskan bahwa gerakan pembaharuan islam sekarang berada pada masa transisi, yaitu masa yang dilalui manusia sampai pada kedewasaan. Masa ini memiliki beberapa karakteristik dan ciri khas diantaranya: kekuatan dan pertumbuhan yang cepat, vitalitas kerja yang bertambah. Dua hal ini sangat dipengaruhi oleh kualitas kader yang merupakan ta’yid dari gerakan dakwah itu.

Numuwwul qudroh yang merupakan parameter kesuksesan kharijiyah, hanya merupakan dampak dari aspek dakhiliyah di atas. Kemampuan kader dalam mengendalikan basis ijtima’iyah sangat tergantung pada berapa pendukung dan sejauhmana kepercayaan masyarakat pada kemampuan seorang kader dakwah di tataran pelayanan publik.

Sekarang kita akan melihat data empiris kondisi lapangan tahun 2006/2007. Angka rekruitmen 2006/2007, walaupun dengan sedikit peningkatan dari tahun kemarin, memiliki pola perbandingan yang sama dari 2 dekade pengelolaan tarbiyah kampus tahun sebelumnya, dengan efektifitas rata-rata rekruitmen sekitar 1: 5 – 8. Nilai ini sangat jauh bila dibandingkan dengan masa tahun 90’an yang mencapai rata-rata 1: 20’an lebih. Pertanyaan yang mendasar yang harus kita ajukan, ada apa dengan kita?apakah memang ada perbedaan orientasi kerja antara masa awal tarbiyah dan sekarang, yaitu dengan menurunkan kuantitas pembinaan per personal kader dan menaikkan kuantitas kerja di ranah-ranah publik?atau memang sudah menurunkah kualitas kita?

Bila kondisi ini kita pertahankan, maka nilai rekruitmen kita akan semakin rendah, kemudian kenaikan kapasitas (secara kuantitas) kader pun akan menurun, dan berdampak pada kuota jumlah murobbi kampus kita, dan terus berdampak pada rekruitmen, sampai kita benar benar menjadi jamaah besar tanpa kualitas, dan akan tergilas oleh jaman. Atau kemungkinan lain, kita akan berada pada posisi stagnan, padahal bukan ini ciri suatu gerakan, apalagi gerakan dakwah yang membawa panji risalah yang mulia, Al Islam.

Sehingga tidak ada cara lain lagi kecuali hanya kembali kepada asholah gerakan tarbiyah, yaitu rekruitmen, pembinaan dan amal. Inilah yang seharusnya menjadi titik tekan pengelolaan tarbiyah kampus ke depan, jika kita masih menginginkan idealisme untuk tetap eksis di tengah berkibarnya bermacam-macam gerakan.
(sumber:http://alqudsy02.multiply.com)


0 komentar: