Kamis, 01 Oktober 2009

Arkanul Bai'ah

Arkanul bai’ah yang dimaksud disini adalah rukun-rukun bai’at yang dikumpulkan oleh Imam Hasan Al-Banna rahimahullah kepada mujahidin dari Ikhwanul Muslimin, yang tercantum dalam risalah ta’lim (Pengajaran). Adapun sebelum kita memahami tentang isi dari baiat ini sebenarnya kita harus menempatkannya pada bingkai yang benar. Bai’at yang dimaksud disini bukanlah baiat kepada seorang imamah ‘uzhma pemimpin kaum muslimin atau khalifah, namun ia adalah baiat untuk beramal. Sa’id Hawwa dalam di afaqit ta’lim (diterjemahkan menjadi membina angkatan mujahid) mengatakan bai’at ini seperti bai’at kepada guru. Sebagaimana Imam Hasan Al-Banna sendiri yang mengatakan dalam pembukaan risalahnya “Ini adalah risalahku untuk mujahidin dari kalangan ikhwanul muslimin”. Sehingga tidaklah tepat jika kita mengaitkan baiat ini dengan konteks hadits-hadits yang berisi konsekuensi bai’at terhadap imamah ‘uzhma, dengan demikian maka orang yang tidak berbaiat kepada pimpinan jamaah dakwah bukanlah orang yang kafir. Hal ini tersirat dalam pernyataan mursyid ‘aam ke dua ikhwan Hasan Al-Hudaibi rahimahullah ketika memecat lima orang anggota hai’ah ta’sisiyyah (dewan pendiri, termasuk syaikh Muhammad Al-Ghazali rahimahullah) “Bisa jadi mereka lebih mulia dari kita di mata Allah, namun mereka dikeluarkan semata-mata karena masalah organisasi”.
Apalagi mengenakan hadits apabila keluar dari bai’at terhadap jamaah dakwah berarti mati jahiliyah lantas memvonis orang yang melakukan hal tersebut kafir, padahal mati jahiliyah di sini memiliki pembahasan tersendiri, bahkan dalam konteks baiat kepada imamah ‘uzhma. Dalam Fathul Baary, Ibnu Hajar memberikan komentar tentang pengertian “Miitatan Jahiliyyatan” bahwa yang dimaksud dengan kalimat tersebut adalah sebagai berikut:

”Yang dimaksud dengan mati Jahilyyah dengan bacaan mim kasroh Miitatan bukan Maitatan adalah keadaan matinya seperti kematian di jaman Jahiliyyah dalam keadaan sesat tiada imam yang ditaati karena mereka tidak mengetahui hal itu. Dan bukan yang dimaksud itu ialah mati kafir tetapi mati dalam keadaan durhaka” (Fathul Baary 7/13)

Imam al-Qodhy ‘Iyadh berkata: Yang dimaksud dengan sabda Rasulullah SAW: Barang siap yang keluar dari ketaatan imam dan meninggalkan jama’ah maka ia mati miittan jahiliyyatan adalah dengan mengkasroh mim miitatan yaitu seperti orang yang mati di jaman Jahiliyyah karena mereka ada dalam kesesatan dan tidak melaksanakan ketaatan kepada seorang imam pun.(Ikmaalul Mu’allim bi Fawaaidi Muslim (syarah shohih Muslim) 6/258)
Lantas bagaimana kita memposisikan arkanul baiah ini. Bukan berarti tidak ada ketaatan atau perihal yang mengikat dalam baiat untuk beramal ini, karena pada dasarnya ia adalah janji dan amanah yang harus ditepati oleh orang-orang yang beriman. Dan inilah keistimewaan dari arkanul bai’ah yang disusun oleh imam Hasan Al-Banna, bahwa yang mengikat bai’at seorang al-akh dengan pemahaman (al fahmu), sehingga komitmen yang dihasilkan begitu kuat karena pemahaman al-akh dengan nilai yang dibawa oleh dakwah ini, sehingga idealnya seorang al-akh harus memahami dulu fikrah islamiyyah as-samimah (fikrah islami yang bersih) yang tercantum dalam ushul isyrin yang merupakan bagian pokok dari rukun al-fahmu ini, dan menempatkannya dalam pemahaman yang benar pula sesuai dengan pemahaman salafus-shalih ridwanullah ‘alaihim dan tidak bertentangan dengan al-quran dan sunnah. Dengan pemahaman inilah al-akh yang berbaiat memilih dan menempatkan komitmennya, sehingga ia percaya bahwa ia berada pada jalan yang benar.
Adapun rincian singkat rukun-rukun berikutnya adalah :
Al-Ikhlas, yaitu mengikhlaskan niat hanya kepada Allah saja. ‘Amal yang didasari pemahaman dan keikhlasan, dalam rukun ini disebutkan maratibul ‘amal (tata urutan amal) mulai dari pembentukan pribadi muslim hingga ustadziyatul ‘alam. Jihad dengan tingkatan-tingkatannya. Tadhiyyah yaitu seorang al-akh harus siap untuk berkorban di jalan dakwah ini. Kemudian rukun taat, yaitu menunaikan perintah baik dalam keadaan sulit maupun bersemangat, dalam rukun ini dijelaskan tiga tahapan dakwah yaitu ta’rif, takwin dan tanfidz. Berikutnya yaitu rukun tsabat (teguh pendirian), yaitu teguh untuk beramal betapapun beratnya dan jauhnya masa yang harus dilalui. Rukun kedelapan yaitu tajarrud (totalitas), yaitu membersihkan pola pikir dari prinsip dan nilai lainnya, karena fikrah islam adalah fikrah yang paling tinggi dan sempurna. Kemudian yang berikutnya adalah rukun ukhuwwah, dimana ukhuwwah dimulai dari salamatush shadr (berprasangka baik) hingga pada tingkat itsar mendahulukan kepentingan saudaranya. Dan ditutup dengan rukun tsiqoh yaitu rasa percaya yang disebabkan kepuasan jundi kepada jajaran qa’idnya, dimana hal ini sebenarnya merupakan beban berat bagi qa’id karena untuk mewujudkan kepuasan tersebut ia harus membangun kredibilitas dan memperbaiki dirinya, disamping itu jundinya juga harus mengenal lebih jauh para qa’id mereka/
Ustadz Ihsan Tandjung membuat klasifikasi atas sepuluh rukun ini dengan membagi dua kelompok yaitu kelompok pertama adalah rukun al-fahmu yang terkait dengan lingkup pribadi, yang kedua adalah rukun ikhlas, amal, jihad, tadhiyyah, taat, tsabat, tajarrud, ukhuwwah, tsiqoh, yang mulai masuk pada lingkup interaksi di luar pribadi yaitu lingkup berjama’ah, dimana aspek dalam kehidupan berjamaah ini terkait erat dengan komitmen yang kuat, sedangkan pada lingkup pribadi didasari oleh pemahaman yang lengkap dan menyeluruh. Oleh karena itu Ustadz Ihsan Tandjung mengistilahkan kelompok pertama dengan Al-Fahmu Syamiil (pemahaman yang menyeluruh) dan yang kedua dengan iltizaamul kaamiil (komitmen yang sempurna). Wallahu a’lam (sumber: net)



0 komentar: