Senin, 14 September 2009

PULANG KAMPUNG

Begitulah desah hati dalam menyambut ramadhan dan syawal. Berbahagialah para perantauan akan pulang kekampung halamannya. Nuansa yang dinanti-nantikan telah tiba dan sudah terasa bahwa hati sudah berada dikampung halaman, hanya saja jasad yang masih tinggal di perantauan. Begitulah dahsyatnya hasrat ingin pulang.
Sudah lumrah dan menjadi tradisi bagi mahasiswa dan para perantauan apapun statusnya selalu mengutarakan kata-kata dengan bangga ”Kami akan pulang kampung di syawal ini”. Dan jika amanah yang dipikul berat sekali maka ianya akan mencoba mencari ketenangan rekreasi di kampungnya. Yaitu dengan menanti dan menyaksikan mentari pagi yang disambut dengan kicauan burung-burung yang memuji kebesaran Allah SWT. Kian kemari sembari perpohonan bertasbih dengan nada saling berbisik-bisik, subhanallah indahnya panorama di kampung. Inilah fenomena yang menghiasi setiap jiwa kita yang merindukan kapan pulang kampung.
Perantauan yang budiman, melihat fenomena dan realita pulang kampung, jadi apa sebenarnya esensi dari sebuah kegiatan pulang kampung. Apa yang harus dilakukan saat berada di kampung, semangat apa yang dirasakan, dan perubahan apa yang terjadi pasca pulang kampung. Pertanyaan inilah yang perlu kita jawab dan perlunya kita mengarahkan kegiatan seperti ini.
Pulang kampung bukan hanya untuk melepaskan kegalauan hati, kebosanan akan tetapi diharapkan kita dapat memberikan nilai-nilai dan memberikan cerminan terhadap pribadi-pribadi muslim yang cinta akan kebersamaan, keindahan dan menyambut hangat silaturahim dengan birrul walidain (berbuat baik terhadap orang tua), kegembiraan saat bertemu sanak saudara, handai taulan, karib kerabat dan lain sebagainya. Dengan saling memaafkan antara satu dengan yang lain apatah lagi dipagi yang hening yaitu dipagi syawal, dimana hati-hati suci setelah menjalankan ibadah ramadhan selama sebulan. Saudaraku, ada beberapa hal yang harus kita ingat tatkala pulang kampung diantaranya:

1. Esensi Pulang Kampung
Esensi pulang kampung menjadi terapi batin bagi seorang rantauan yakni menyelami makna birrul walidain (berbuat baik terhadap orang tua), artinya saat pulang kampung tidak segan-segan menyalami dan mencium tangan, memeluk serta mencium ayahanda dan bunda tercinta sebagai rasa cinta dan sebagai bukti keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Serta tidak melupakan untuk mendoakannya sebagaimana doa yang sering kita ucapkan.

2. Memupuk Silaturahim
Rasa kekeluargaan dan persaudaraan perlu kita pupuk agar benih-benih cinta suci yang dilandasi dengan cinta Allah dan cinta Rasul bisa menjadi perekat dan menjadi motivator dakwah diantara sanak family dan sesama kita karena orang yang dekat untuk membela dakwah serta perjuangan adalah saudara terdekat dan dengan wajah berseri , hati yang jernih kita menapaki jalan-jalan yang panjang ini.

3. Pencerminan Terhadap Sifat Agung Rasulullah SAW
Sangatlah menjadi dambaan bagi setiap masyarakat, tatkala putra rantauan kembali orbit dikampungnya dengan membawa sifat mulia dengan akhlakul karimah (akhlak yang mulia), sopan santun, memuliakan tamu, penyantun, dan sebagainya. Sifat-sifat ini menjadi penawar dalam setiap kejadian masyarakat dan akan menjadi sejarah berarti dan berbekas didalam hati masyarakat. Laksana Rasulullah bisa menenangkan ketegangan para suku tatkala mau memindahkan hajar aswad disamping ka’bah, laksana Mus’ab bin Umair bisa membuat orang tidak terpecah –pecah dalam majlisnya karena kecerdasan dan cara santunnya. Tapi ada sifat yang tidak yang rasional untuk kita bawa pulang kampung yaitu kepulangan kita membawa pola dan sikap kebarat-baratan dan menjadi pengedar narkoba. Hal ini disamping merugikan diri sendiri, juga dapat merugikan keluarga dan masyarakat pada umumnya.

4. Menyebarkan Semangat Serta Mengamalkan Nilai-Nilai dan Etika dakwah
Saudaraku yang kucintai karena Allah SWT, setiap muslim itu adalah Da’i (penyeru) yaitu menyeru kebaikan. Tugas penyeru adalah bukan dipikul oleh segelintir orang apakah dilembaga dan organisasi dakwah, tamatan pesantren, tetapi kita semua harus berdakwah, yaitu dengan banyak cara antara lain, dengan berperilaku muslim, belajar dengan jujur hanya mengharap ridha Allah juga dakwah. Sensitifitas merupakan sikap seorang da’i, melihat nilai-nilai dimasyarakat berubah drastis maka jangan segan-segan untuk bersilaturahim dan berusaha memperbaiki kondisi itu dengan cara arif dan secara perlahan dan bertahap agar tigak menimbulkan kecurigaan dan permusuhan, yaitu dengan pemahaman-pemahaman yang fundamental (mendasar).

5. Pasca Pulang Kampung
Saudaraku sekalian, dengan memahami dan memperhatikan poin-poin pada tulisan ini mudah-mudahan bisa menjadi penambah literatur berfikir untuk kita semua dalam pulang kampung dengan membawa sesuatu yang sangat berharga dan berarti dalam pulang kampung kita nantinya. Dan sebagai harapan saudaraku sekalian pada pasca pulang kampung, kembali dengan semangat baru yang penuh dengan kenangan indah dan menjadi sejarah bagi siapa saja. Semoga apa yang kita tanam berupa benih yang baik dan unggul, esok atau lusa kita akan memetinya. Mentup celoteh ini, izinkanlah saudaramu yang dhaif ini mengucapkan selamat berpuasa dan menyambut syawal, mohon maaf lahir dan batin. Wallahu’alam bissawab.
Oleh : Muhammad Syarfai


1 komentar:

Mayyadah mengatakan...

semoga amalan kita diterima disisNya

maafin yah klo ada komen yg salah ato posting yg kurang berkenan..

met idul fitri^^