Selasa, 18 Agustus 2009

Catatan Geliat Pena 2

Aku paling suka nulis seperti ini, kalau kesibukanku sudah sampai titik jenuh. Seperti waktu dulu, saat kuliah di Kairo Mesir, ups.. maksudnya sekolah di MA dulu. Emang pas lulus MA aku ikutan test untuk kuliah di Timur Tengah, tapi nggak lulus. Yah, dulunya kebiasaanku seperti ini. Suka banget buat catatan harian. Pernah waktu itu, aku berniat untuk mencatat kegiatanku dari pagi sampe tidur. Tapi itulah, gimana mo nyatat kalau lagi tidur? Ada-ada ja!Ok langsung ke TKP ja, tapi bukan di Kuningan sono. Jadi begini… apa ya? Em sepertinya hari ini (17 Agustus 2009), ada sesuatu yang hilang. Yaitu, “Helmi kecil”. Karena ini HUT RI ke 64, aku jadi ingat waktu kecil dulu, waktu SD, Mts. Ya..saat MTs aku adalah Helmi Kecil. Masa-masa itu, adalah tangga yang membawaku ke sini, Helmi Besar. Tapak demi tapak berlalu tanpa sadar. Tiba-tiba aku sudah sebesar ini. Malahan udah mau berkeluarga, ups sama siapa ya? Wallahu’alam. Baru kemarin, seperti aku berlari-lari memindahkan kelereng dari lingkaran star ke lingkaran finish, seperti baru kemarin baju seragam sekolahku hitam tertepis jelaga jeruk bali, lantaran berambisi mengambil uang logam yang ditancapkan di kulit buah jeruk itu. Dan sepertinya aku baru kemarin, menarikan tari persembahan setelah upacara bendera.
Ternyata itu hanyalah waktu laluku, saat menjadi komandan perang-perangan, saat memenangkan main karet, mandi di parit (hehe), mancing, ngambil duriannya bukde (astagfirullah), ngelemparin atap rumah orang cina saat pulang belajar tilawah, saat round setelah shalat subuh di bulan puasa, saat-saat terindah bersama keluarga, teman, kawan dan sahabat.
Ah! Bila ingat itu semua, jadi ingat ibu. Ibu semoga Allah memberikan syurga sebelum syurganya, amin! Kalau pas HUT RI biasanya ibu ikut lomba atas nama PKK. Trus ibu sedih, kalau hadiah atas kemenangannya harus diberikan ke PKK. Aku Cuma diam ja waktu itu. Tapi itulah ibu, suka marah-marah kalau Bapak belanjaannya dari pasar banyak-banyak. Kadang sampai terbuang-buang. Habis Bapak juga nggak enak kalau nolak tawaran bukde-bukde yang jualan. Di beli ditambah-tambah, nggak dibeli nanti nggak enak pulak. Yah solusinya kadang diberikan ke bukde sebelah rumah, bibik, dan juga tetangga lainnya.
Tapi, ibu udah nggak bersama kami lagi. Terasa kehilangannya pas puasa, dan hari raya. Hks..hkss.. Aku masih ingat ketika waktu sekolah di MA Bengkalis dari hasil kerjaku menyapu di Taman, kubelikan bahan kain, meskipun waktu itu aku nggak pintar milih warna yang cocok. Terus, pas dia sakit menjelang meninggal, aku hanya bisa menulis lirik nasyid saja, sedangkan hadiahnya dari adikku. Iya, waktu itu pas hari Ibu 2005. Beliau begitu terharu dengan hadiah kami.
Mungkin ini saja yang bisa aku torehkan. Selamat menyongsong Ramadhan AlMubarok. Semoga kita adalah insan-insan yang bahagia yang dijanjikan Allah swt. Semoga!



2 komentar:

Mayyadah mengatakan...

hehe,,klo aku ditakdirkan lulus ke kairo, skrg hampir lulus, slm kenal y ^^
aku psg linknya y

Mayyadah mengatakan...

hmm,,emang kalo lg jenuh bagusnya nulis cerita ringan tapi penuh makna, jadi menulisnya gak berhenti^^