Sabtu, 29 Agustus 2009

Akhir Hayat di Bulan Rahmah

Mulai kemarin, Hasni tak banyak bicara. Gayanya selama dua hari kemarin terlihat aneh. Setelah shalat subuh ia langsung pergi ke pasar. Tidak seperti biasanya ia yang sibuk di dapur dengan aktivitasnya mempersiapkan sarapan untuk suaminya. Biasanya, seperti hari-hari di luar bulan puasa, ada ubi rebus dan roti bakar lengkap dengan teh manis yang sudah terhidang di meja makan, sebelum suaminya bangun. Tapi memang satu pekan puasa ini ia tak terlihat semangat. Mungkin karena dua hari yang lalu juga, suaminya memarahinya gara-gara perbukaan yang disiapkan seadanya. Maklumlah Hasni belum terima uang cucian dari pelanggannya, yang rata-rata mahasiswa itu. Suaminya yang lebih memilih tidak puasa membuatnya tidak mengurangi kesibukannya.
Biasanya suaminya, jam 8 pagi ia buru-buru pergi setelah meminta uang 50 ribu dari istrinya itu. Karena ia tak ingin merusak puasanya, maka ia pun rela memberikan uang yang rencananya untuk belanja nanti. Tapi entah kenapa sudah hamper subuh, suaminya belum juga terjaga.
Santap sahur tadi pun ia sendiri saja. Sedangkan suaminya nyaman dalam selimut tebalnya yang terbuat dari kain spanduk bekas itu. Pikiran untuk melayangkan gugat cerai di pegadilan pun segera terlintas menjelang tanda imsya’ dari masjid yang hanya beberapa meter dari rumahnya itu. Tapi, niatnya itu tak akan ia teruskan di bulan puasa ini. Ia lebih memilih sabar, seperti yang dipesankan mendiang ibunya. Tapi pikiran itu tetap saja berkecamuk dalam benaknya. Apalagi usia pernikahannya baru delapan bulan.
Sore kemarin, ia melihat Misriati tetangganya begitu bahagia. Meski suaminya hanya kerja sebagai sopir angkot. Jangankan ia ditampar suaminya, dimarahi saja Misriati tidak pernah. Ia menyesal dengan sikap suaminya. Meskipun begitu ia, ia tidak pernah melawan kehendak suaminya. Andai saja dulu Ayahnya tidak berhutang pada orang tua suaminya itu, mungkin ia tidak pernah menjadi dari Sumitro yang tak laku-laku itu.
Pagi ini ia harus ke pasar sebelum suaminya itu bangun. Uang simpanannya masih cukup untuk belanja seminggu. Jam sembilan ia harus sudah sampai di rumah dan membuat sarapan untuk suaminya. Meski bertubuh kekar, tapi suaminya pengangguran. Dalam bathinnya, ia menyesal harus mengikuti kemauan ayahnya. Tapi ke dua orang tua Misriati sudah pulang ke pangkuanNya.
“Ah… Ayah! Maafkan Has..” gumamnya lirih sambil melangkah keluar rumah.
Ia menutup pintu pelan-pelan agar suaminya itu tidak bangun. Tingkahnya mirip pencuri yang baru saja mendapatkan barang curian.
***
Di pasar pun ia tak banyak memilih-milih belanjaan. Ia tidak perlu menawar sesuatu yang ia beli. Padahal sejak awal bulan puasa kemarin barang sembako sudah beranjak naik. Ia tidak perlu menambah pikiran karenanya. Bila kenaikan barang sudah menggurita sedemikia rupa. Toh, tinggal menunggu hari saja. Lama kelamaan pasti turun juga.
Ia niatkan semua untuk bersedekah kepada penjual, bila penjual sendiri mengambil keuntungan dari kewajaran. Ia sadar mengatur ekonomi keluarga bukan hal yang mudah. Semua serba sulit. Sementara lebaran nanti belum terpikirka mau memakai baju yang mana. Kalau ia mengharapkan suaminya pun entah kapan bisa terpenuhi.
Lama ia ingat-ingat apa saja belajaan yang belum ia beli. Daging.
“Bawang, tomat, bumbu, ayam, tahu, teri… em?”
“Ya! Kelapa!” pekiknya kecil dan tergesa-gesa.
Tapi ia terlanjur sudah sampai di luar pasar, rasanya ia tidak tahan lagi untuk segera pulang. Ia kuatir kalau-kalau suami sudah bangun. Ia lebih memilih belanja di tempat Kak Ema saja, sambil menunggu becak di simpang gang nanti.
Beban pikiranya agak sedikit bekurang. Setelah hari ini, suaminya pasti senang dengannya. Bagaimana pun ia aka berusaha untuk membahagiakan suamianya. Pelan-pelan ia coba untuk membimbingnya. Ia kadang malu dengan ibu-ibu di masjid, lantaran sikap suaminya itu.
Pikirannya kembali tidak tenang. Geliasah, menyesal bercampur benci. Tapi…
“Astagfirullah…” Hasni terperanjat, hampir saja ia terserempet motor yang melintas di depannya.
Ia layangkan pandangannya ke kiri dan kekanan, memperhatikan lalu-lalangnya kendaraan yang memburu satu sama lain. Ia beberapa kali untuk coba melangkah bersama orang-orang yang kebetulan ingin melintas. Tak berhasil, ia mencoba mundur lagi. Cukup lama ia berusaha untuk meyeberang. Maklum jam segitu memang kesibukan jalan memuncak. Setelah di rasa luang. Ia berusaha melangkahkan kakinya menyeberangi badan jalan.
Dengan berlari kecil ia sudah sampai pada batas antara kedua jalan. Dan hampir sama dengan yang tadi, ia lama sekali mencoba untuk menyeberang. Tapi kenderaan dari arah berlawanan cukup ramai, hingga ia mengeluh sendiri. Ia coba untuk melangkah dengan melambai-lambaikan tangannya, dengan harapan kendaraan yang akan melintas berjalan dengan pelan.
“Alhamdulillah..!” Hampir saja ia sampai di ujung jalan, tapi tiba-tiba saja ia merasa kantong plastik barang belanjanya pecah. Isinya pun berhamburan keluar, langkahnya pun terhenti. Ia berusaha dengan cepat-cepat memunguti belanjanya.
Sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi luput dari penglihatan Hasni. Tangan nya masih saja mengumpulkan tomat dan barang belanjanya yang lain yang masih berserakan, saat bagian depan mobil menyerempet bahunya.
“Aaaakhhh….” Terdengar jeritan keras sebelum tangannya lebih lanjut tergilas oleh ban truk itu.
Mendadak dengan cepat truk itu pun menghentikankecepannya. Tapi tubuh Hasni sudah terlajur menjadi sasaran keangkuhan mobil itu. Barang belanjanya tidak ada yang utuh lagi, begitu juga dengan setengah badannya.
Orang-orang berhamburan ke tengah jalan. Dengan tiba-tiba lalu-lintas menjadi terhenti. Seiring terhentinya denyut nadi Hasni. Orang-orang yang mengenalnya, berusaha untuk membantunya. Tapi Hasni terlanjur dikalahkan dengan kegelisahannya yang membuatnya tak berdaya di tengah jalan.
Niatnya untuk membuatkan sarapan untuk suaminya tak tersampaikan. Tubuhnya tak utuh lagi saat polisi dan warga setempat mencoba untuk menolongnya. Hasni pergi saat ia niatkan untuk membimbing suaminya. Saat rahmah Allah mewarnai harinya di bulan ramadhan.
***
Orang-orang yang kenal dengan Hasni berusaha mengabari Sumitro, suaminya yang ada di rumah. Tapi setelah dicari-cari lelaki itu sudah kaku tergantung dengan seutas tali tepat di ruang tamunya.
“Innalillahi wainna ilaihi raji’un,” ucap warga yang hari itu mengetahui dua kejadian yang menimpa mereka.
Oleh : Ribzah Nurhilmi
Email : ribzah_helmi@yahoo.co.id



0 komentar: