Sabtu, 29 Agustus 2009

Akhir Hayat di Bulan Rahmah

Mulai kemarin, Hasni tak banyak bicara. Gayanya selama dua hari kemarin terlihat aneh. Setelah shalat subuh ia langsung pergi ke pasar. Tidak seperti biasanya ia yang sibuk di dapur dengan aktivitasnya mempersiapkan sarapan untuk suaminya. Biasanya, seperti hari-hari di luar bulan puasa, ada ubi rebus dan roti bakar lengkap dengan teh manis yang sudah terhidang di meja makan, sebelum suaminya bangun. Tapi memang satu pekan puasa ini ia tak terlihat semangat. Mungkin karena dua hari yang lalu juga, suaminya memarahinya gara-gara perbukaan yang disiapkan seadanya. Maklumlah Hasni belum terima uang cucian dari pelanggannya, yang rata-rata mahasiswa itu. Suaminya yang lebih memilih tidak puasa membuatnya tidak mengurangi kesibukannya.
Biasanya suaminya, jam 8 pagi ia buru-buru pergi setelah meminta uang 50 ribu dari istrinya itu. Karena ia tak ingin merusak puasanya, maka ia pun rela memberikan uang yang rencananya untuk belanja nanti. Tapi entah kenapa sudah hamper subuh, suaminya belum juga terjaga.
Santap sahur tadi pun ia sendiri saja. Sedangkan suaminya nyaman dalam selimut tebalnya yang terbuat dari kain spanduk bekas itu. Pikiran untuk melayangkan gugat cerai di pegadilan pun segera terlintas menjelang tanda imsya’ dari masjid yang hanya beberapa meter dari rumahnya itu. Tapi, niatnya itu tak akan ia teruskan di bulan puasa ini. Ia lebih memilih sabar, seperti yang dipesankan mendiang ibunya. Tapi pikiran itu tetap saja berkecamuk dalam benaknya. Apalagi usia pernikahannya baru delapan bulan.
Sore kemarin, ia melihat Misriati tetangganya begitu bahagia. Meski suaminya hanya kerja sebagai sopir angkot. Jangankan ia ditampar suaminya, dimarahi saja Misriati tidak pernah. Ia menyesal dengan sikap suaminya. Meskipun begitu ia, ia tidak pernah melawan kehendak suaminya. Andai saja dulu Ayahnya tidak berhutang pada orang tua suaminya itu, mungkin ia tidak pernah menjadi dari Sumitro yang tak laku-laku itu.
Pagi ini ia harus ke pasar sebelum suaminya itu bangun. Uang simpanannya masih cukup untuk belanja seminggu. Jam sembilan ia harus sudah sampai di rumah dan membuat sarapan untuk suaminya. Meski bertubuh kekar, tapi suaminya pengangguran. Dalam bathinnya, ia menyesal harus mengikuti kemauan ayahnya. Tapi ke dua orang tua Misriati sudah pulang ke pangkuanNya.
“Ah… Ayah! Maafkan Has..” gumamnya lirih sambil melangkah keluar rumah.
Ia menutup pintu pelan-pelan agar suaminya itu tidak bangun. Tingkahnya mirip pencuri yang baru saja mendapatkan barang curian.
***
Di pasar pun ia tak banyak memilih-milih belanjaan. Ia tidak perlu menawar sesuatu yang ia beli. Padahal sejak awal bulan puasa kemarin barang sembako sudah beranjak naik. Ia tidak perlu menambah pikiran karenanya. Bila kenaikan barang sudah menggurita sedemikia rupa. Toh, tinggal menunggu hari saja. Lama kelamaan pasti turun juga.
Ia niatkan semua untuk bersedekah kepada penjual, bila penjual sendiri mengambil keuntungan dari kewajaran. Ia sadar mengatur ekonomi keluarga bukan hal yang mudah. Semua serba sulit. Sementara lebaran nanti belum terpikirka mau memakai baju yang mana. Kalau ia mengharapkan suaminya pun entah kapan bisa terpenuhi.
Lama ia ingat-ingat apa saja belajaan yang belum ia beli. Daging.
“Bawang, tomat, bumbu, ayam, tahu, teri… em?”
“Ya! Kelapa!” pekiknya kecil dan tergesa-gesa.
Tapi ia terlanjur sudah sampai di luar pasar, rasanya ia tidak tahan lagi untuk segera pulang. Ia kuatir kalau-kalau suami sudah bangun. Ia lebih memilih belanja di tempat Kak Ema saja, sambil menunggu becak di simpang gang nanti.
Beban pikiranya agak sedikit bekurang. Setelah hari ini, suaminya pasti senang dengannya. Bagaimana pun ia aka berusaha untuk membahagiakan suamianya. Pelan-pelan ia coba untuk membimbingnya. Ia kadang malu dengan ibu-ibu di masjid, lantaran sikap suaminya itu.
Pikirannya kembali tidak tenang. Geliasah, menyesal bercampur benci. Tapi…
“Astagfirullah…” Hasni terperanjat, hampir saja ia terserempet motor yang melintas di depannya.
Ia layangkan pandangannya ke kiri dan kekanan, memperhatikan lalu-lalangnya kendaraan yang memburu satu sama lain. Ia beberapa kali untuk coba melangkah bersama orang-orang yang kebetulan ingin melintas. Tak berhasil, ia mencoba mundur lagi. Cukup lama ia berusaha untuk meyeberang. Maklum jam segitu memang kesibukan jalan memuncak. Setelah di rasa luang. Ia berusaha melangkahkan kakinya menyeberangi badan jalan.
Dengan berlari kecil ia sudah sampai pada batas antara kedua jalan. Dan hampir sama dengan yang tadi, ia lama sekali mencoba untuk menyeberang. Tapi kenderaan dari arah berlawanan cukup ramai, hingga ia mengeluh sendiri. Ia coba untuk melangkah dengan melambai-lambaikan tangannya, dengan harapan kendaraan yang akan melintas berjalan dengan pelan.
“Alhamdulillah..!” Hampir saja ia sampai di ujung jalan, tapi tiba-tiba saja ia merasa kantong plastik barang belanjanya pecah. Isinya pun berhamburan keluar, langkahnya pun terhenti. Ia berusaha dengan cepat-cepat memunguti belanjanya.
Sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi luput dari penglihatan Hasni. Tangan nya masih saja mengumpulkan tomat dan barang belanjanya yang lain yang masih berserakan, saat bagian depan mobil menyerempet bahunya.
“Aaaakhhh….” Terdengar jeritan keras sebelum tangannya lebih lanjut tergilas oleh ban truk itu.
Mendadak dengan cepat truk itu pun menghentikankecepannya. Tapi tubuh Hasni sudah terlajur menjadi sasaran keangkuhan mobil itu. Barang belanjanya tidak ada yang utuh lagi, begitu juga dengan setengah badannya.
Orang-orang berhamburan ke tengah jalan. Dengan tiba-tiba lalu-lintas menjadi terhenti. Seiring terhentinya denyut nadi Hasni. Orang-orang yang mengenalnya, berusaha untuk membantunya. Tapi Hasni terlanjur dikalahkan dengan kegelisahannya yang membuatnya tak berdaya di tengah jalan.
Niatnya untuk membuatkan sarapan untuk suaminya tak tersampaikan. Tubuhnya tak utuh lagi saat polisi dan warga setempat mencoba untuk menolongnya. Hasni pergi saat ia niatkan untuk membimbing suaminya. Saat rahmah Allah mewarnai harinya di bulan ramadhan.
***
Orang-orang yang kenal dengan Hasni berusaha mengabari Sumitro, suaminya yang ada di rumah. Tapi setelah dicari-cari lelaki itu sudah kaku tergantung dengan seutas tali tepat di ruang tamunya.
“Innalillahi wainna ilaihi raji’un,” ucap warga yang hari itu mengetahui dua kejadian yang menimpa mereka.
Oleh : Ribzah Nurhilmi
Email : ribzah_helmi@yahoo.co.id



Selasa, 18 Agustus 2009

Pengibaran Bendera Bawah Laut Masuk Rekor Dunia

Lagu kebangsaan Hari Merdeka menggema di pantai Malalayang, Manado, Senin (17/8). Lagu tersebut dinyanyikan oleh ribuan penyelam usai melakukan upacara memperingati HUT ke-64 RI.Ya, satu rekor lagi berhasil dicatat dalam kegiatan Sail Bunaken di Manado.

Melalui upacara bawah laut, Indonesia kembali mencatatkan namanya di buku rekor dunia sebagai The Most People Scuba Diving Simultanously. Sama seperti pemecahan rekor sebelumnya, pada Ahad (16/8), ribuan peserta yang kemarin berpartisipasi dalam penyelaman massal kembali menjadi peserta dalam pembuatan rekor baru tersebut. Kali ini tercatat 2.486 penyelam.Upacara pengibaran bendera bawah air dilakukan tepat pukul 10.00 Wita. Wakil Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Madya TNI Mokhlas Sidik dan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul masih bertindak sebagai Inspektur Upacara dan Komandan Upacara. Sebelum acara ini dimulai, Moekhlas sempat menyapa seluruh peserta. Dia mengajak para peserta agar tetap bersemangat. Maklum, acara ini cukup membuat seluruh peserta menguras tenaga.

‘’Hari ini, kita kembali akan mempersembahkan karya besar kepada bangsa Indonesia yang kita cintai, kita akan buat rekor dunia yang pertama yaitu Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan di dalam air,’’ ucapnya lantang. Setelah itu pihak panitia menyiapkan semua penyelam untuk berada di posisinya masing-masing.

Prosesi pengerahan penyelam dari darat hingga menuju ke tengah laut, sama seperti acara sebelumnya. Mereka bergerak menuju titik penyelaman dalam tiga gelombang. Setelah dipastikan semua peserta berada di posisi, mereka turun ke bawah air bersamaan dengan bunyi terompet.

Yang berbeda, para peserta lebih terlihat ekspresif. dengan berbagai gaya mereka gambarkan suka cita menyambut hari jadi bangsa ini. Sertu Sudarisman dari Kodam VII Cendrawasih misalnya. Dia menyelam hanya mengenakan celana ketat saja. Tapi, badannya digambari dengan motif ukiran khas Papua. Tak hanya itu, dia juga mengenakan koteka dan topi bulu.

‘’Supaya terlihat kalau saya dari Papua,’’ katanya. Dia juga mengatakan kalau apa yang dia kenakan tidak mengganggu pergerakannya di bawah laut. Dandanan Sudarisman tentu mengundang banyak orang untuk mendekatinya, minta foto bareng. terutama partisipan dari luar negeri. Ada juga peserta yang mengaitkan bendera di tabung (aqualung). Seperti yang dilakukan oleh anggota kelompok II dari Possi Jateng. salah satu anggotanya, Mustofa, mengatakan kalau mereka ingin terlihat lebih ‘’meriah’’ di bawah air.

Upacara di bawah laut berlangsung selama 20 menit. Setelah semua peserta berbaris rapi di bawah laut, barulah inspektur dan komandan upacara turun ke bawah. Pada saat penyelaman kemarin, para peserta terlihat lebih cepat pergerakannya. itu terjadi karena sudah dua kali mereka melakukan itu. Pada saat gladi bersih dan upacara pemecahan rekor penyelaman massal. Inspektur upacara dan komandan upacara berada tepat dititik tengah ribuan peserta, mereka saling berhadapan. di belakangnya ada tiga orang pengibar bendera. Di sisi kiri inspektur upacara adalah barisan peserta asing sedangkan di sisi sebelah kanan adalah barisan tamu VIP.

Upacara diawali dengan penghormatan umum lalu dilanjutkan dengan laporan dari komandan upacara bahwa upacara memperingati HUT RI siap dilaksanakan. Acara dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih oleh Letda Marinir Mat Kholis, Sertu Marinir Doslen Sirait, serta Sertu Jas/W Triyuni. Di dalam laut sudah dipancang tiang bendera. diiringi lagu Indonesia Raya, perlahan-lahan bendera mulai naik keatas. Bendera tepat berada di ujung tiang setelah lagu Indonesia Raya selesai dikumandangkan melalui suara elektronik.

Saat pengibaran bendera, seluruh peserta melakukan hormat, termasuk para peserta asing dari AL Australia dan Filipina. Setelah itu Irup membacakan teks proklamasi dilanjutkan dengan mengheningkan cipta. Upacara pun selesai. Irup dan komandan upacara meninggalkan tempat upacara. meski sudah selesai tapi para penyelam tidak langsung naik ke permukaan. Mereka memanfaatkan momen untuk berfoto. bahkan peserta asing melakukan atraksi membuat lingkaran dengan saling bergandengan tangan. lalu, mereka bersama-sama naik ke permukaan.

Setelah semuanya berada di permukaan, para peserta langsung saling bersalaman dan menyanyikan lagu Hari Merdeka bersama-sama. Raut bahagia dan bangga terpancar di wajah mereka. apalagi setelah sang juri Guinness World Record, Lucia Sinigagliesi menyampaikan selamat kepada seluruh penyelam. ‘’Selamat, kalian berhasil lagi. pemecahan rekor ini jumlahnya tiga kali lebih besar dari sebelumnya,’’ ucapnya.

Penjelasan Lucia pun disambut riuh oleh seluruh penyelam. tak hanya peserta saja, pengibar bendera juga merasa bangga dan lega bisa menuntaskan tugasnya dengan mulus. ‘’Wah bangga dan lega, pengibarannya lancar. awalnya sempat deg-degan juga. tapi semuanya berjalan lancar,’’ ucap Letda Marinir Mat Kholis.

Sorenya, sekitar pukul 18.00 wita, pusat acara berpindah ke Blue Banter Mal. Lucia Sinigagliesi, memberikan dua sertifikat rekor dari Guiness World Records yaitu The Largest Scuba Diving dan The Most People Scuba Diving Simultanously kepada TNI AL. Sertifikat tersebut diterima oleh Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno.

Ketika menerima sertifikat tersebut, Edhy mengucapkan rasa bangganya atas pencapaian ini. dia juga bilang kalau ada pesan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. ‘’Pak SBY mengucapkan selamat kepada seluruh penyelam yang telah berhasil menciptakan rekor ini,’’ katanya.

Hari ini, acara akan dilanjutkan dengan kirab kota dan festival musik. Sedangkan besok akan diadakan parade kapal perang dan pesawat tempur. rencananya Presiden SBY akan hadir menyaksikan even ini. Sampai kemarin malam jumlah kapal yang sudah berada di Pelabuhan Bitung ada 10 armada. Yaitu AS (1 kapal), Malaysia (2 kapal), Korsel (1 kapal), Thailand (2 kapal), Inggris (1 kapal), Filipina (1 kapal), Singapura (1 kapal) dan Australia (1 kapal).(jan/din/jpnn)riau pos


Catatan Geliat Pena 2

Aku paling suka nulis seperti ini, kalau kesibukanku sudah sampai titik jenuh. Seperti waktu dulu, saat kuliah di Kairo Mesir, ups.. maksudnya sekolah di MA dulu. Emang pas lulus MA aku ikutan test untuk kuliah di Timur Tengah, tapi nggak lulus. Yah, dulunya kebiasaanku seperti ini. Suka banget buat catatan harian. Pernah waktu itu, aku berniat untuk mencatat kegiatanku dari pagi sampe tidur. Tapi itulah, gimana mo nyatat kalau lagi tidur? Ada-ada ja!Ok langsung ke TKP ja, tapi bukan di Kuningan sono. Jadi begini… apa ya? Em sepertinya hari ini (17 Agustus 2009), ada sesuatu yang hilang. Yaitu, “Helmi kecil”. Karena ini HUT RI ke 64, aku jadi ingat waktu kecil dulu, waktu SD, Mts. Ya..saat MTs aku adalah Helmi Kecil. Masa-masa itu, adalah tangga yang membawaku ke sini, Helmi Besar. Tapak demi tapak berlalu tanpa sadar. Tiba-tiba aku sudah sebesar ini. Malahan udah mau berkeluarga, ups sama siapa ya? Wallahu’alam. Baru kemarin, seperti aku berlari-lari memindahkan kelereng dari lingkaran star ke lingkaran finish, seperti baru kemarin baju seragam sekolahku hitam tertepis jelaga jeruk bali, lantaran berambisi mengambil uang logam yang ditancapkan di kulit buah jeruk itu. Dan sepertinya aku baru kemarin, menarikan tari persembahan setelah upacara bendera.
Ternyata itu hanyalah waktu laluku, saat menjadi komandan perang-perangan, saat memenangkan main karet, mandi di parit (hehe), mancing, ngambil duriannya bukde (astagfirullah), ngelemparin atap rumah orang cina saat pulang belajar tilawah, saat round setelah shalat subuh di bulan puasa, saat-saat terindah bersama keluarga, teman, kawan dan sahabat.
Ah! Bila ingat itu semua, jadi ingat ibu. Ibu semoga Allah memberikan syurga sebelum syurganya, amin! Kalau pas HUT RI biasanya ibu ikut lomba atas nama PKK. Trus ibu sedih, kalau hadiah atas kemenangannya harus diberikan ke PKK. Aku Cuma diam ja waktu itu. Tapi itulah ibu, suka marah-marah kalau Bapak belanjaannya dari pasar banyak-banyak. Kadang sampai terbuang-buang. Habis Bapak juga nggak enak kalau nolak tawaran bukde-bukde yang jualan. Di beli ditambah-tambah, nggak dibeli nanti nggak enak pulak. Yah solusinya kadang diberikan ke bukde sebelah rumah, bibik, dan juga tetangga lainnya.
Tapi, ibu udah nggak bersama kami lagi. Terasa kehilangannya pas puasa, dan hari raya. Hks..hkss.. Aku masih ingat ketika waktu sekolah di MA Bengkalis dari hasil kerjaku menyapu di Taman, kubelikan bahan kain, meskipun waktu itu aku nggak pintar milih warna yang cocok. Terus, pas dia sakit menjelang meninggal, aku hanya bisa menulis lirik nasyid saja, sedangkan hadiahnya dari adikku. Iya, waktu itu pas hari Ibu 2005. Beliau begitu terharu dengan hadiah kami.
Mungkin ini saja yang bisa aku torehkan. Selamat menyongsong Ramadhan AlMubarok. Semoga kita adalah insan-insan yang bahagia yang dijanjikan Allah swt. Semoga!



Selasa, 11 Agustus 2009

Rendra Tertarik dengan Alquran

Penyair adalah jalan hidup. Baik sedang berkarya atau tidak. Seorang penyair masuk dalam konteks realitas karena kepedulian akan panggilan kharismatik dari alam sekitarnya, dari debu, kerikil, lava, angin, pohon, kupu-kupu, margasatwa. Dari yatim piatu, orang-orang papa, lingkungan kampung halamannya, lingkungan bangsanya, lingkungan kemanusiaannya. Ia harus selalu peduli. Tetapi tidak cukup cuma peduli, karena harus dikaitkan dengan perintah dan larangan Allah. Apa pun, termasuk bersyair, harus menjadi ruang ibadah. Harus mengaitkan dengan kehendak Allah. Kita buat, misalnya, sajak mengenai pelacur, mengenai singkong, atau mengenai perahu. Itu juga religius selama dikaitkan dengan meraih kehendak Allah.Kalimat di atas adalah sepenggal dari pendermaan buah pikir seniman terbaik tahun 60-an, WS Rendra. Baginya, proses kreatif dalam menulis sebuah karya sastra adalah misteri. Dia mengatakan waktu untuk menulis dalam kehidupan hanya 2-3 persen. Beberapa jam selesai. Selebihnya menyiapkan diri untuk hidup secara kreatif, menjaga daya cipta, dan daya hidup.

Si burung merak ini adalah seorang penderma pikiran yang tidak pernah menangis tak kala menghadapi kekuasaan politik. Dia sempat dijebloskan ke penjara pada 1978, dan mendapat represi pelarangan tampil di berbagai tempat.

"Saya menangis untuk masalah-masalah lain. Dulu saya pernah diminta membaca sebuah sajak. Lalu ada rekan mahasiswa yang menangis, terharu. Saya pun ikut menangis. Saya juga gampang menangis kalau membaca riwayat Nabi Muhammad. Indah sekali. Membayangkan pengorbanan Nabi yang tidak mementingkan diri sendiri. Tidak ada agama Islam, kalau tidak ada Nabi. Saya juga menangis kalau mengenangkan Asmaul Husna," tutur Rendra saat diwawancara wartawan Republika, Iman Yuniarto F, di kediamannya pada Oktober 2006.

Cahaya Islam dalam Karya Sastra Rendra

Sejak masuk Islam, Rendra mengganti namanya menjadi Wahyu Sulaiman Rendra. Rendra mengaku tahu alasan kenapa dia tertarik dengan Islam, tetapi dia sendiri tidak mengerti mengapa memutuskan masuk Islam. "Saya sebetulnya takut sekali terhadap masyarakat Islam. Tapi saya sudah lama tertarik kepada Alquran. Lihat saja. Apa ada kitab suci yang menjelaskan konsep ketuhanannya dalam kalimat yang singkat seperti Alquran?" tanyanya.

Sewaktu Rendra kuliah di Amerika Serikat (kuliah teater), saat itu sedang populer-populernya filsafat eksistensialisme. Kemudian, dia membaca kalimat, Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Rendra terkesan.

Menurutnya, tidak ada kitab suci yang mengatakan bahwa manusia akan selalu merugi dalam perkara waktu. "Lihat. Apa pun bisa kita budayakan, termasuk ruang. Tetapi kita tidak bisa membudayakan waktu. Apa bisa kita menghentikan hari? Dengan teknologi setinggi apa pun, magic setinggi apapun, tidak bisa kita membuat hari Rabu tidak menjadi Kamis. Termasuk saya, tidak bisa menolak kelahiran saya. Saya tidak bisa memilih untuk lahir pada abad ke-22 atau lahir zaman Majapahit," jelasnya.

Menurut Alquran, kita akan selalu merugi soal waktu. Tapi, Alquran juga menyodorkan solusi. Disebutkan hanya orang-orang tertentu yang akan selamat. Yakni yang beriman, beramal saleh, saling berwasiat dalam kesabaran dan kebenaran. Alquran tidak menyebut yang selamat adalah orang yang Islam, orang yang kaya, orang yang pintar atau orang yang sehat.

Ketika ditanya hubungan antara Islan dan karya sastranya, Rendra menjawab, "Intinya kita berwasiat dalam kebenaran. Mudahan-mudahan." c06


Sabtu, 08 Agustus 2009

Kearifan Lokal ; Untuk “Global Warming”

Untuk terus menjaga kelestarian hutan, setidaknya hutan Ulayat yang ada di Desa Buluh Cina perlu kita contoh. Di tengah kerusakan hutan sekarang ini, hutan Ulayat masih menyimpan pepohonan yang usianya mencapai ratusan tahun. Dan itulah sebabnya di tahun 2009 ini, Riau mendapatkan penghargaan Kalpataru, atas kondisi hutan Ulayat yang masih tetap terjaga. Tentu hal tersebut tidak terlepas dari peran ninik mamak dalam mengontrol dan melindungi hutan. Sebab hal tersebut memang telah ada sejak kehidupan masyarakat yang masih sangat tradisional.Kearifan lokal (local wisdom) di atas, adalah sebuah sikap penyadaran kepada masyarakat, bahwa hutan mempunyai peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Leluhur kita sendiri menaruh perhatian yang begitu besar terhadap flora dan fauna. Bahkan, mereka harus mengikuti seluruh ketentuan dan syarat untuk menebang pohon. Hal itu mengajarkan kepada kita bahwa penebangan pohon itu tidak bisa seenaknya. Sebab ada alasan positif dari kearifan itu.
Oleh suku Dayak sendiri misalnya, sangat dilarang dalam menebang pohon sembarangan. Bahkan, seorang warga suku Dayak mesti memperoleh izin dari kepala desa atau kepala adat untuk menebang pohon di pekarangan rumahnya sendiri. Pohon yang diameternya kurang dari apa yang telah ditentukan, tidak boleh ditebang. Dan masih banyak lagi kearifan lokal untuk menjaga keseimbangan alam.
Kearifan lokal yang seperti itu, sayangnya mulai terkikis oleh visi dan ideologi pembangunan yang lebih mendepankan pertumbuhan ekonomi, perkembangan fisik, dan material dibandingkan dengan nilai spritualitas dan kearifan lokal dipropagandakan oleh mesin-mesin negara. Nilai-nilai kemodernan itu menggeser kearifan budaya lokal. Itulah sebabnya ilegal logging, pembakaran hutan, cendrung terjadi pada daerah yang jauh dari kearifan lokal, nilai sosial dan spritual.
Dari banyaknya peristiwa kebakaran yang terjadi, Indonesia bisa dimungkinkan termasuk Negara yang menyebabkan terjadinya global warming. Dari hasil riset LSM Wetland International (WI) dan Delft Hydraulics pada November 2006 disebutkan bahwa Indonesia merupakan negara penghasil emisi ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Cina dari posisi sebelumnya yaitu ke 21 (www.ristek.go.id).
Menurut Climate Action Network (CAN), dalam 50 tahun kedepan dampak global warming bisa dirasakan secara langsung, misalnya pada suhu panas membuat badan kita rentan akan sakit. Sedangkan dampak tidak langsung berakibat pada meningkatnya penyakit menular serta dampak jangka panjang yaitu perubahan tinggi air yang dapat menyebabkan persediaan air bersih berkurang bahkan akan tidak ada air bersih lagi.
Ini berarti, bumi bukanlah tempat yang nyaman lagi ditempati oleh makhluk hidup. Bumi yang kita pijak sekarang ini semakin hari semakin panas dirasakan. Dengan berkurangnya lapisan ozon akan meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Karena begitulah dampak yang ditimbulkan.
Salah satu solusi yang ditawarkan dalam UNFCCC ( United Nations Framework Convention of Climate Change) yang diadakan di Bali pada tanggal 3-14 Desember 2007 adalah pemberian insentif untuk negara pemilik hutan melalui perdagangan karbon. Ini adalah bagian dari mekanisma penyelamatan bumi dari ancaman global. Kandungan karbon mesti tetap terjaga di perut bumi agar tak menguap ke angkasa yang dapat mendidihkan suhu alam semesta, melelehkan es di kutub.
Dan mempertahankan hutan adalah salah satu cara untuk meningkatkan karbon, dan sekaligus untuk menjaga suhu bumi agar tetap stabil. Illegal logging yang sering terjadi di Indonesia berdampak pada berkurangnya luas area hutan sehingga berkuranglah fungsi hutan sebagai paru-paru dunia. Maka, perlu kebijakan untuk mempertahankan hutan itu sendiri. Dan kearifan lokal sendiri adalah salah satu cara mempertahankannya.
Sebenarnya kearifan lokal sendiri secara tidak langsung telah berupaya mencegah terjadinya hal yang mengerikan itu. Karena kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Dalam bahasa asing sering juga dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat “local wisdom” atau pengetahuan setempat “local knowledge”atau kecerdasan setempat “local genious”.
Kearifan lokal mempunyai pemahaman, program, kegiatan, pelaksanaan terkait untuk mempertahankan, memperbaiki, mengembangkan unsur kebutuhan mereka itu, dengan memperhatikan ekosistem (flora,fauna dan mineral) serta sumberdaya manusia yang terdapat pada warga mareka sendiri.
Kalau ditelusuri lagi, tentu akan banyak kita temukan berbagai bentuk kearifan lokal masyarakat adat di tanah air ini. Tradisi humans di atas hanyalah sekelumit contoh betapa masyarakat kita memiliki akar budaya dalam membangun integrasi sosial melalui penghayatan dan pemahaman yang tinggi akan nilai-nilai kebersamaan dan kemanusiaan. Nilai-nilai itu sangat inklusif karena mengajarkan dan memberi tauladan yang beradab bagaimana cara menjaga lingkungan, nafsu kepentingan dan sikap sosial.
Tugas selanjutnya yang maha penting adalah bagaimana memelihara dan merawat kearifan lokal itu agar senantiasa hidup dan menyala di dalam hati nurani manusia Indonesia. Kalau nilai itu terus dipupuk, dirawat dan selalu menjadi ikhtiar dan tindakan seluruh manusia Indonesia mungkin kita tidak perlu gelisah dengan pemanasan bumi hari ini. Dan para leluhur kita telah memberikan peninggalan atau warisan nilai untuk itu. Kini tinggal tekad kita, mau menggunakan atau membuangnya.

Oleh : Muflih Helmi



Selasa, 04 Agustus 2009

Mbah Surip Meninggal Saat Berjaya

Liputan6.com, Jakarta: Mbah Surip alias Urip Achmad Aryanto memang hanya Tuhan izinkan untuk menikmati sukses sesaat. Perjuangan puluhan tahun yang akhirnya membuahkan hasil miliaran rupiah tidak dinikmatinya. Ajal lebih dulu menjemput pria kelahiran Mojokerto, Jawa Timur, 60 tahun silam itu, Selasa (4/8).

Kuat dugaan, pelantun Tak Gendong ini meninggal akibat kelelahan. "Mungkin pola makan yang tidak teratur sementara jadwal si mbah ini yang begitu padat," kata Moenir Rahmat, produser eksekutif Playlist SCTVKapan ajal datang memang tidak ada yang tahu. Kematian itu begitu dekat. Kematian Mbah Surip seolah mengingatkan kita tidak ada yang abadi. Kekayaan, ketenaran, bahkan keangkuhan tak mampu menghentikan maut. Hanya kesalehan yang akan dibawa mati.

Mengenang Mbah Surip sedikit banyak mengingatkan kita pada Gombloh, musisi yang juga kelahiran Jawa Timur. Pelantun hits Di Radio ini juga selalu tampil bersahaja. Dia juga meninggal akibat berbagai penyakit yang dideritanya. Sama-sama nyentrik. Sama sama mendedikasikan diri untuk musik. Itulah Gombloh. Inilah Mbah Surip

Aksi Simpati untuk Mbah Surip

Liputan6.com, Jombang: Terkait meninggalnya penyanyi eksentrik Mbah Surip, sekelompok penggemar musik reggae menggelar aksi simpati di Jombang, Jawa Timur, Selasa (4/8). Sambil berkonvoi menaiki vespa kuno yang penuh aksesoris, belasan fans itu menyanyikan hits Tak Gendong milik almarhum di Puja Sera dan Taman Kota Jombang. Kabarnya, pedagang CD dan DVD kebanjiran rezeki karena lagu fenomenal itu banyak diburu warga.

Sementara itu puluhan mahasiswa yang tergabung dalam kelompok kesenian mahasiswa kampus Institut Agama Islam Negeri Serang, Banten, menggelar tahlilan mendoakan almarhum Mbah Surip. Dengan hikmat, mereka melantunkan surat Yasin dalam kegiatan yang digelar spontan ini. Bagi sebagian mahasiswa, Mbah Surip sudah dikenal sebelum ia tenar beberapa bulan terakhir. Peraih gelar Drs, Insinyur, hingga MBA ini dinilai sebagai sosok seniman sejati yang mendedikasikan hidupnya di dunia musik.



Minggu, 02 Agustus 2009

Berikan Apresiasi untuk Musisi Jalanan

Sabtu kemarin, (1/8). Saat pulang dari kampus, aku merasa sangat nyaman bila duduk dan melaju bersama bus kota. Eh..baru ja jalan, seorang anak muda masuk dan minta izin dengan sang sopir untuk ngamen.
Gayanya santai, lengkap dengan gitar di tangannya. “Okeh..Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, dan salam sejahtera untuk kita semua. Maaf bila kehadiran saya menggangu para penumpang sekalian. Izinkan saya untuk membawakan sebuah lagu pembuka dari tembang “Iwan Fals”. Begitulah kira-kira sang abang mulai memainkan gitarnya. “jreng-jreng…”Seiring dengan laju bus, si Abang tetap semangat bernyanyi. Udah pe-de bangetlah, berobsesi dan berakting seperti Bang Iwan. Tapi kayaknya ni Abang tau banget kesukaan penumpang. Lantas lagu keduanya si abang membawakan lagunya “Mbah Surip”. Heboh banget suasananya. Udahlah berdesak-desakan, busnya ngebut. Pokoknya komplitlah.
Sobat blogger!
Kita perlu berikan apresiasi untuk si abang. Di zaman yang serba susah ini perlu pandai-pandai untuk “hidup”. Kalau hanya mengandalkan ijazah saja tanpa skill, apalah jadinya. Tapi bukan saya ingin mengajak sobat blogger untuk menjadi pengamen. Perlu kita ketahui bersama, bahwa mengamen lebih baik dari pada peminta-minta – seperti yang ada di simpang lampu merah – yang terlalu berlebihan. Ini sebuah kesalahan dari petinggi negeri ini.
Si Abang meski hanya mengamen tentu punya alasan. Katakanlah karena sulitnya mencari kerja dengan mengandalkan ijazah SMP atau SMA. Tapi apapun itu, kita perlu berikan apresiasi kepada mereka. Meskipun Cuma seribu rupiah. Niatkan untuk sedekah atau berinfaq. Insya Allah, Yang maha pemberi rezeki akan menggantikannya dengan yang lebih bernilai. [Ribzah Nurhilmi]


Kibarkan “Bendera” mu!!!

Saat pesta demokrasi (Pemilu) – pileg dan pilpres – beberapa bulan yang lalu, kita masih ingat saat ribuan atribut – mulai warna putih sampai biru – mewarnai setiap jengkal jalanan. Mulai dari masa sosialisasi dan sampai kampanye. Bahkan dibeberapa sudut jalan masih kokoh atributnya, meski sang caleg stres tidak terpilih.
Kita lupakan saja semua itu. Kalaupun ada prinsip-prinsip yang tidak profesional, kita bisa mengevaluasi. Fokuskan harapan kita bersama, untuk menyalakan kembali semangat kemerdekaan. Usia kemerdekaan kita bila di konfersikan ke umur seorang manusia adalah masa-masa memberikan kearifan. 64 tahun itu adalah usia yang seharusnya untuk membangkitkan “harapan” pada setiap anak bangsa.
Jalanan yang beberapa waktu dipenuhi dengan perbedaan warna bendera. Sekarang terlihat jelas hanya ada satu warna “MERAH-PUTIAH”, ups..den ndak urang awak do, maksudnya “MERAH-PUTIH”. Tentu nuansa seperti ini, seharusnya semakin mengeratkan kita semua, apapun latarbelakang politik kita.
Anis Matta, seorang politisi dari PKS pernah mengatakan “Biarlah kita beragam warna. Tapi punya semangat yang sama untuk membangun bangsa ini. Saatnya kita berkumpul di gelanggang yang besar, dan menyuarakan satu kata INDONESIA.
Untuk itu, jangan sampaikan kita tambahkan rasa kekecewaan “semangat bung Tomo” saat merebut kota Surabaya, lantaran kita tidak mau berkorban untuk masa depan bangsa ini. Kalau kita sadar bila bangsa ini masih terjajah, kenapa kita berdiam dan tidak mengangkat bambu runcing “BANGKIT” dan meluluh-lantakkan tirani “mental terjajah” dalam dada kita.
Nyalakan “benderamu”, kibarkan semangat “Merah-putih”mu, BANGKILAH…! HARAPAN ITU MASIH ADA. Allahu Akbar!!!!
[Ribzah Nurhilmi]