Minggu, 19 Juli 2009

Anasir-anasir Dakwah

Katakanlah (wahai Muhammad) ini jalanku, aku dan orang-orang yang mengikuti mengajak kamu kepada (agama) Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik. 12:108.

Anasir dakwah (unsur-unsur dakwah) ini diambil dari surat 12:108. Dengan ayat ini kemudian ditafsirkan oleh ulama dakwah melalui tafsir dakwahnya sehingga ayat ini menggambarkan begaimana minhajdakwah yang disebutkan oleh Allah SWT surat yusuf tersebut.
Terdapat beberapa unsur dakwah: qul misalnya yang mengawali surat ini bermakna katakanlah, tetapi juga dalam kaitannya dengan dakwah merupakan syar’aiyyatud dakwah, karena ini merupakan firman Allah SWT dan terdapat di dalam Alqur’an sehingga fungsinya adalah sebagai syari’ah atau cara/minhaj dakwah. Kemudian Allah Swt menyebutkan hadzihi sabili (inilah jalanku) berarti juga sebagai risalatud dakwah (menyampaikan dakwah), hal ini menunjukkan bagaimana pentingnya jalan dakwah.

Ad’u (menyeru manusia) adalah perintah dakwah yang bersifat terus-menerus karena ayat ini bermakna fiil mudhari yang berarti kata kerja yang berlaku untuk hari ini, esok, dan masa depan. Oleh karena itu dakwah dapat dikatakan sebagai harokatul mustamirah (gerakan yang terus-menerus). Illallah (kepada Allah) memberi makana ghayatu shahihah (inilah tujuan yang benar), karena hanya kepada Allah saja tujuan dakwah ini bukan berdakwah mengajak kepada kumpulan dan pribadi tetapi kepada Islam.

A’la bashirah (keterangan) atau bukti yang jelas) berarti juga dakwah berjalan berdasarkan minhajul wadhihah. Ana (saya di sini Nabi SAW) adalah sebagai pemimpin yang ikhlas (qiyadatul mukhlishah). Wamanittaba’ani (orang yang mengikutinya) sebagai jundiyah muthi’ah (tentara yang patuh dan taat). Kemudian sunnatullah menunjukkan tajarrud dan wama ana minal musyrikin adalah tauhid yang berati menghindarkan diri dari kemusyrikan. Dapat disimpulkan bahwa dakwah adalah harus mengikuti syariat di dalam menyampaikan dakwahnya. Dakwah harus bersifat sesuatu program yang terus-menerus tidak bercuti dan berhenti dengan tujuan yang benar dan berdasarkan minhaj yang jelas. Dakwah harus dibawa oleh pengikut yang taat dengan ciri-ciri tajarruddan mentauhidkan Allah.

1. Anashir Dakwah
Terdapat beberapa anasir atau komponen dakwah yang disebutkan di dalam surat 12:108. anasir ini menggambarkan minhaj dakwah. Panduan dakwah dapat diambil dari ayat ini misalnya perleunya pemimpin yang ikhlas dan pengikut yang taat, tujuan dan minhaj yang jelas, adanya aktivitas dan pesan, kemudian pelaku dakwah harus beriman bersikap tajarrud. Beberapa anasir dapat di bawah ini.

2. Qul-syar’iyyatud Dakwah
Qul atau katakanlah adalah suatu perintah syara yang langsung berasal dari Allah dan RasulNya. Perintah atau arahan yang disebutkan setelah perkataan qul ini berarti sesuatu yang perlu diperhatikan dan mempunyai kepentingan bagi kita. Dalam surat 12:108 menjelaskan bagaimana dakwah yang perlu dilalui yaitu harus memenuhi beberapa anasir misalnya ada pemimpin, pengikut, tujuan, dan sikap.

3. Hadzihi Sabili-Risaltud Dakwah
Inilah jalanku di dalam surat tersebut merupakan pesan dakawah. Dakwah yang dilakukan Nabi adalah jalan yang perlu juga dilalui oleh setiap muslim. Dakwah itu sendiri merupakan pesan yang perlu kita tunaikan. Namun demikian yang lengkap dan mempunyai beberapa anasir.

4. Ad’u-Harakatul Mustamirah
Ad’u artinya aku menyeru. Di dalam ayat ini yang perlu diperhatikan adalah kalimat ad’u adalah kalimat mudhari’ berarti kalimat yang berlaku saat ini dan akan terjadi seterusnya di masa depan. Dengan pengertian ini maka mufasir dakwah menyebutkan bahwa sifat dakwah adalah aktivis atau gerakan yan terus menerus, tiada henti walau bagaimanapun keadaannya baik dalam keadaan susah atau senang. Dakwah yang senantiasa berjalan adalah sunnahnya dakwah Islam. Siapa yang mengikuti jalan ini harus menjadikan kehidupannya adalah kehidupan dakwah. Oleh karena itu dakwah berjalan maka tidak akan mungkin muncul pemandulan atau tidak ada pengikut. Kekurangan pengikut dan madulnya potensi dakwah disebabkan karena dakwah tidak berjalan. Walaupun dakwah berjalan sedikit maka dapat dipastikan memperoleh hasil.

5. Ilallah-Ghoyatu Shahihah
Dakwah yang ilallah adalah dakwah yang mempunyai tujuan kepada Allah, hal ini merupakan tujuan yang benar. Apabila tujuan dakwah bukan kepada Allah maka dakwah tidak bertujuan baik, ia akan menyimpang. Dakwah yang tujuan tidak baik ini misalnya dakwah yang mangajak kepada kumpulan (jamaah) atau dakwah yang membawa kepada pribadi (syakhsiyah). Jamaah atau syakhsiyah da’I adalah wasilah atau pintu untuk berdakwah tetapi nilai yang disampaikan adalah nilai islam. Selain itu dakwah ilallahb adalah dakwah yang mengajak mad’u dekat dengan Alqur’an dan sunnah sehingga mereka mencintai dan membelanya.

6. “Ala bashirah Minhajul Wadhihah
Dakwah yang dijalankan juga harus berdasarkan keterangan yang jelas dengan petunjuk yang benar dan panduan yang lengkap. Alqur’an dan sunnah merupakan bagian dari rujukan dan utama dalam dakwah. Bashirah adalah yang berasal dari Islam maka dengan demikian dajwah juga harus berdasarkan minhajul wadhihah (panduan yang jelas). Beberapa contoh minhaj yang wadhih di dalam dakwah adalah dakwah harus dengan hikmah, hasanah, dan marhamah, dakwah mengikuti anasir seperti jamaah, pemimpin, dan pengikut. Dakwah harus mengiktui marhalah, dakwah memiliki tujuan dan berbagai wasilah yang dapat diterima oleh mad’u dan sebagainya.

7. Ana Qiyadatul Mukhlishah
Satu anasir penting di dalam dakwah yang tidak boleh dilupakan adalah adanya pemimpin. Pemimpin ini berarti orang yang membawa jamaah beserta pengikutnya. Ciri utama yang perlu dimiliki oleh qiyadah adalah ikhlas (qiyadah mukhlishah). Dengan ikhlas ini, qiyadah dapat membawa jamaah dengan baik walaupun banyak cobaan, tantangan, fitnah dari dalam maupun dari luar. Dengan ikhlas qiyadah dapat menerima kenyataan yang berlaku serta dapat menghadapi masalah dengan baik. Qiyadah yang tidak ikhlas akan membawa pengikut kepada kepentingan pribadi dan memperturutkan hawa nafsunya saja. Pemimpin yang demikian banyak terjadi pada beberapa contoh di dalam gerakan Islam atau bukan, di mana gerakan menjadi terbantukan.

8. Wmanittaba’ani
Adanya qiyadah harus diikuti dengan adanya jundiyah (pengikut). Apabila qiyadah mukhlishas maka jundiyah harus muthi’ah. Pengikut yang tidak taat, maka akan menghentikan proses dakwah dan akan menghnacurkan dakwah itu sendiri. Pengikut yang tidak taat tidak akan dapt diarahkan untuk mengerjakan program gerakan. Kehadiran dan keterlibatan dan partisipasi yang kurang ke dalam adalah ciri dari tidak taatnya jundi kepada qiyadah. Program yang baik, sasaran yang menarik, dan wasilah yang canggih tidak akan tercapai apabila pengikut tidak taat. Keberadaan pengikut di dalam dakwah sangatlah diperlukan bagi perkembangan dakwah itu sendri, tetapi yang penting lagi adalah pengikut yang setia.

9. Subhanallah-Tajarrud
Maha suci Allah adalah sikap tajarrud pengikut ataupun pemimpin dakwah. Pelaku dakwah harus senantiasa mensucikan Allah dengan perbuatan, pemikiran dan akhlaknya. Dengan membebaskan diri dari kejahiliyyahan, kekotoran, kemusyrikan, dan kebatilan akan membawa kita kepada kejayaan dakwah. Mensucikan Allah maka akan mendukung dan membela kita.

10. Wama Ana Minal Musyrikin
Sikap berikutnya dari pelaku adalah tidaklah dirinya menjadi orang yang musyrik. Pelaku dakwah harus melakukantauhid saja. Bentuk tauhid diantaranya adalah meningglakan segala bentuk pengabdian kepada selain Allah dan juga menghindari segala tingkah laku bukan Islam. Tauhid dari segi uluhiyah ini mempunyai kesan yang tinggi kepada semua aspek kehidupan kita. Dengan tauhid juga maka akan mewarnai pemikiran, akhlak dan ruhani dengan Islam.
(Dari berbagai sumber salah satunya internet. Selamat !!!)


0 komentar: