Pinterest

Kamis, 30 Juli 2009

Sastra yang Cantik dan Cerdas

HAMPIR dapat dipastikan, para cowok (normal) di muka bumi ini menyukai cewek yang cantik dan juga cerdas. Cantik secara fisik saja, tanpa kecerdasan, konon akan menjenuhkan. Tak bisa diajak diskusi tentang berbagai hal, kurang asyik diajak bergaul secara intelektual. Tentu, begitu pula untuk cowok. Yang ganteng saja, tapi tak cerdas, juga akan membuat hubungan tak dinamis, tak nyambung diajak tukar pikiran. Jadi selalu emosional, dan cenderung tak rasional. Untuk sastra, analogi ini juga berlaku. Sebab sebuah karya sastra yang “berhasil” paling tidak harus memiliki keseimbangan antara bentuk dan isi. Bentuk, meliputi unsur-unsur seperti gaya bahasa, plot/alur, penokohan, dan sejenisnyaSementara isi adalah kandungan yang terdapat dalam karya sastra itu, dapat dilihat secara tematik, juga pada unsur-unsur lain seperti pengetahuan, wawasan, nilai-nilai, dan sebagainya. Jadi, jika puisi atau cerpen, atau juga novel kita cantik bentuknya, tapi tak mengandung isi yang mencerdaskan, maka karya kita itu akan menjenuhkan.

Banyak sekali para penulis pemula, yang sangat asyik bermain-main dengan kata-kata dalam puisi-puisinya, tapi tak memikirkan apa sebetulnya yang hendak ia sampaikan. Keindahan atau kecantikan bahasa dalam puisi memang sangat diutamakan. Tapi jangan sampai kecantikan bahasa itu justru membuat puisi kita jadi gelap. Tak jelas juntrungannya. Macam orang meracau karena mabuk kepayang. Mengawang-awang tak tentu tempat berpijak.

Begitu pula dengan genre prosa seperti cerpen dan novel. Gaya bahasanya, juga plotnya, dan berbagai unsur ekstrinsiknya bisa saja kita rekayasa sedemikian rupa, agar terkesan cantik dan mempesona. Namun jika kita lemah menyampaikan gagasan yang cerdas di dalamnya, maka karya itu juga tak akan berpengaruh banyak pada pembaca. Sebab pembaca cuma akan mendapatkan pengalaman kebahasaan yang kamuflase, kepura-puraan, dan tak mendapatkan pengalaman spiritual di dalamnya.

Lalu, bagaimana supaya karya kita bisa cantik sekaligus cerdas? Untuk menjadi cantik, maka tentu kita harus bersolek alias berdandan. Hiaslah karya adik-adik dengan berbagai imajinasi dan metafora. Hadirkan berbagai diksi yang mempesona. Caranya, tentu harus punya banyak perbendaharaan kata dalam memori kita. Nah, supaya banyak, tentu harus membaca, membaca, dan membaca. Baik itu membaca teks tertulis dalam buku, majalah, koran dan sebagainya, tentang sastra dan tentang apa saja, juga rajin membaca berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungan kita.

Gaya bahasa, seperti yang pernah saya sampaikan pada edisi-edisi yang lalu, harus “dimiliki” oleh penulis. Dari gaya bahasa inilah dapat menunjukkan style dan orisinalitas “cara berucap” kita dalam karya. Tentu, tidak segampang memejamkan kelopak mata menggapainya. Perlu terus menjaga produktivitas menulis. Kalau perlu, punya target dengan disiplin menulis yang terjaga, semisal harus menulis minimal dua puisi, atau satu cerpen setiap hari. Intinya, bukankah seseorang harus “terlatih” lebih dahulu sebelum ia menjadi mahir?

Untuk menjadi cerdas, maka tentu resepnya juga harus membaca, membaca, dan membaca. Tak cuma membaca buku pelajaran saja, tapi buku-buku pengetahuan. Buku-buku kebudayaan. Buku-buku sastra tentu saja. Dan berbagai buku lain. Hal ini bertujuan untuk mengisi file-file wawasan baru di dalam kepala kita. Selain membaca, satu cara yang cukup ampuh untuk membuat kita cerdas adalah dengan berdiskusi. Diskusi adalah media untuk menguji sekaligus mengasah berbagai wawasan yang telah menumpuk dalam kepala kita itu.

Dalam konteks ini, saya hendak menyarankan pada adik-adik, mulailah selektif memilih bacaan dan tontonan. Perlahan-lahan mulailah beralih pada bacaan-bacaan yang “serius,” mulai meninggalkan sinetron-sinetron dan menggantikannya dengan menonton film-film yang bagus. Sebab, benarlah kata orang, apa yang kita baca dan tonton itu, akan menunjukkan siapa kita. Dan tentu, akan juga menunjukkan bagaimana karya-karya kita.

Mari kita coba tengok, apakah karya-karya kawan kita yang termuat minggu ini, adalah karya yang cantik dan cerdas? Ada cerpen berjudul “Panggil Aku Miss Late” karya Tri Wulandari. Sebuah cerpen yang lincah memainkan bahasa remaja. Dengan tema yang juga khas remaja. Mungkin, bolehlah kita katakan gaya bahasanya cukup cantik. Karena, nampaknya Tri cukup pandai memberi kejutan-kejutan, sekaligus “jiwa remaja” pada sejumlah pilihan istilah. Ada cukup banyak masuk ke meja redaksi, karya-karya cerpen dengan bahasa serupa ini. Tapi sayangnya, kebanyakan hanya bermain pada bahasa saja, dan melupakan unsur penting lain seperti konflik-konflik yang minim, penokohan yang lemah, juga isi cerita yang sangat dangkal. Cerpen ini, setidaknya menggambarkan “kecerdasan” si penulisnya, terutama tampak pada sejumlah referensi yang dipakai untuk memperkuat tokoh, maupun cerita.

Puisi berjudul "Kaffah"karya Muflih Helmi, mencirikan sebuah puisi yang religius. Diksi-diksi yang dipilih pun menunjukkan hal itu. Tergambar pada kita, betapa si aku-lirik sedang berupaya untuk menyatukan dirinya dengan Sang Pencipta, dengan menyerahkan secara utuh seluruh kehidupannya. Terutama ketika “seseorang” yang diwakili dengan “wajah itu” datang. Kalau Muflih bisa lebih hati-hati membangun imaji, maka puisi ini akan terasa lebih cantik dan cerdas.

Berikut ada puisi “Kunang-kunang” karya Sumiati. Nampaknya puisi ini juga senada dengan puisi Muflih. Meski dalam konteks yang berbeda. Sumi lebih menggambarkan kehadiran maut, yang disimbolkan sebagai kunang-kunang. Meskipun, terasa masih rumpang, sebab imajinya bait pertama tak diperkuat dengan imaji yang dibangun pada bait kedua. Sumi tentu harus terus merangkai puisi banyak-banyak, untuk lebih mempercantik diksi, dan lebih cerdas merangkai makna.

Sementara kawan kita dari Bandung, Ferdinan D J Saragih, menghadirkan puisi “Gerimis Februari.” Cukup kuat suasana puisi dihadirkan lewat narasi-narasi yang liris. Sejumlah nama tempat, nampak ikut memperkuat imaji tentang sebuah perjalanan. Selain itu, Gerimis, ditarik sedemikian rupa dalam ruang ingatan tentang perjumpaan, juga tentang kenangan. Puisi ini, terlihat cantik, meski masih menyembunyikan kecerdasan yang belum luas. Puisi “Cinta Tak Bermadah” karya Zulfahmi, sebenarnya telah berupaya membangun dirinya dengan berbagai imaji lokal tentang dunia Melayu. Upaya yang nampaknya belum banyak digemari oleh para remaja kita. Maka, tentu kita perlu memberi apresiasi khusus pada Zulfahmi. Meski, masih demikian banyak lubang di sana-sini yang membuat puisinya tak dapat berdiri kokoh. Bahasanya berpotensi cantik, kalau selektif dan tepat mendudukkan diksi. Semoga tak berhenti untuk terus menulis puisi.***

Oleh: Marhalim Zaini
(http://xpresiriau.com/bengkel-sastra/sastra-yang-cantik-dan-cerdas/)


Minggu, 19 Juli 2009

Heal The World Makin Ngetop

Salah satu lagu karya terbaik dari Michael Jackson "Heal The World" semakin mendapat perhatian setelah kematiannya. Orang semakin tau karya-karyanya justru setelah orang tersebut meninggal dunia. Cerita lain seperti Imam Nawawi, Hasan Albanna, Bukhari, dan tokoh-tokoh lainnya. Mereka seperti tetap ada. Ini jualah yang terjadi pada saudara kami "Intan Amlan" sebelum ia meninggal telah ada upaya keras darinya untuk meninggalkan karyanya yang bermanfaat untuk orang lain.
Lagu ‘We Are the World’ diciptakan Jacko dan Lionel Richie untuk membantu korban kelaparan di Ethiopia akbibat gejolak politik pada 1984 hingga 1985. Dana yang terkumpul dari lagu ini mencapai 63 juta dolar.

Sedangkan lagu ‘Heal the World’ meninggalkan pesan anti-rasisme di dunia. Michael pun pernah mengatakan kepada fansnya bahwa lagu ini adalah lagu ciptaannya yang paling ia banggakan.

Dalam acara penghormatan terakhirnya di Staples Centre, Los Angeles, 7 Juli 2009 lalu dua lagu ini terus dikumandangkan. ‘Heal the World’ dan ‘We Are the World’ menumpahka air mata penggemar Michael mengiringi kepergiannya.

Sungguh mengharukan. karya-karya Michael diciptakannya dengan sepenuh hati, dan hal itu yang mendasari bahwa karyanya akan selalu dikenang sepanjang masa.

DOWNLOAD
Ini lirik lagunya :
There’s A Place In
Your Heart
And I Know That It Is Love
And This Place Could
Be Much
Brighter Than Tomorrow
And If You Really Try
You’ll Find There’s No Need
To Cry
In This Place You’ll Feel
There’s No Hurt Or Sorrow
There Are Ways
To Get There
If You Care Enough
For The Living
Make A Little Space
Make A Better Place…
Heal The World
Make It A Better Place
For You And For Me
And The Entire Human Race
There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place
For You …


Jumat, 10 Juli 2009

Selamat Kepada SBY-Budiono

Meski belum ada pengumuman resmi dari KPU - dari tiga pasang capres-cawapres - hampir bisa dipastikan SBY-Budiono bakal memimpin Indonesia untuk 5 tahun mendatang. Ini membuktikan dukungan masyarakat Indonesia kepada SBY-Budiono sepenuhnya mempercayakan kepada pasangan ini untuk meningkatkan martabat bangsa di mata internasional. 60% lebih perolehan suara pasangan nomor urut 2 ini mampu menghemat biaya kira-kira 20 Triliun Rupiah, meski gelombang kritik dari berbagai elemen termasuk rival SBY-Budiono mengalir sebelum pelaksanaan penconterangan tanggal 8 Juli 2009 kemarin. Yang jelas masyarakat masih membutuhkan sosok SBY sebagai presiden Indonesia 5 tahun lagi. Selamat buat pak SBY-Budiono, buktikan merahmu. Bangsa ini membutuhkan pelayan-pelayan seperti bapak. Kembalikan marwah bangsa ini di mata dunia. Kami semua mempercayakan amanah ini, dan jangan sampai kami dikhianati lagi. Luka ini masih belum terobati meski BBM turun lagi, hehehe.. Selamat juga kepada TIM SUKSES SBY-Budiono di seluruh tanah air, partai-partai pendukung, Demokrat, PKS, PPP, PKB, PAN dan partai kecil yang tidak lolos parlementary treshold tetap berkontribusi kepada kerja-kerja ke depan. Bukan jabatan yang menjadi priorotas, tapi adalah KARYA. Selamat Berjuang SBY, Selamat berjuang Budiono.. selamat berjuang bangsaku.


Minggu, 05 Juli 2009

TKW Hong Kong Bangun Proyek Besar Untuk Jadi Bangsa Pembaca

Sastrawan Bonari Nabonenar mengemukakan bahwa para penulis fiksi dari tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia yang bekerja di Hongkong kini telah membangun proyek besar untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa pembaca.

"Mereka telah membangun proyek luar biasa besar, proyek kebudayaan, yang bertujuan menggiring bangsa ini ke arah yang lebih baik, menjadi bangsa yang membaca," katanya dalam makalah untuk diskusi dan pelatihan menulis sastra di Hongkong, Minggu yang dikirimkan lewat email.Menurut Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa (PPSJ) itu, kenyataan itu kerupakan salah satu keajaiban dari kiprah para TKW Hongkong yang sejak 2005 - 2007 telah menerbitkan 10 buku fiksi, termasuk buku motivasi fenomenal karya Eni Kusuma, TKW asal Banyuwangi.

"Karenanya menurut saya layak kalau teman-teman TKW yang menjadi penulis itu disebut sebagai aktivis kebudayaan. Luar biasanya, mereka berkarya untuk ranah kebudayaan ini tanpa sokongan apapun dari pemerintah," katanya.

Pada kegiatan yang digelar Forum Lingkar Pena (FLP) Hongkong itu dia mengemukakan bahwa negeri Hongkong yang dihuni sekitar 100 ribu orang Indonesia yang semuanya perempuan, kini terdapat puluhan penulis produktif.

"Maka, jika kita berbicara tentang pertumbuhan sastra Indonesia, di manakah tempat yang paling subur? Kini kita sudah tahu jawabnya," katanya.

Dikatakannya, kegiatan menulis yang dikerjakan para TKW itu telah ikut meningkatkan derajat mereka dari sekedar pekerja rumah tangga (pembantu-red), meskipun secara materi mereka justru mendapatkan lebih daripada profesi yang dipandang paling tinggi di Indonesia sendiri.

"Inilah juga hebatnya, lonjakan derajat penghasilan di kalangan pekerja rumah tangga yang menulis itu dibarengi dengan lonjakan derajat pemikiran dan wawasan yang segera mengingatkan saya pada tokoh Semar di dalam dunia pewayangan," katanya.

Semar, katanya, adalah seorang dewa yang sehari-hari hidup di dunia "manusia" sebagai "rewang", "batur" atau pembantu. Pelatihan yang digelar dalam rangka menyambut ulang tahun (milad) ke-10 FLP itu dilaksanakan Islamic Union, Wan Chai, Hongkong dengan menghadirkan pembicara lain, dosen sastra Universitas Padjadjaran Bandung, M Irfan Hidayatullah.(*/erl)

Kisah TKW dalam Novel Islam Populer
BAGAIMANA persoalan kaum marjinal seperti tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri dikisahkan dalam sebuah novel bergenre ‘Islam populer’ oleh penulis jebolan Forum Lingkar Pena (FLP)? Kejutan: kisah TKW bernama Karimah dalam “Luka di Champs Elysees (LdCE)” terasa nyata terjadi tanpa pembaca merasa digurui soal religi. Kejutan bagi pembaca ini merupakan keberhasilan Rosita Sihombing, pengarang debutan baru.

LdCE terdiri dari tiga bagian, yaitu Awal, Masa Lalu, dan Kini. Pada bagian Awal, pembaca LdCE dibawa pengarang ikut merasakan langkah tertatih, waswas yang terpendam, dan pedih yang tertahan pada diri Karimah, yang hendak melahirkan, ketika ia menempuh jarak menuju rumah sakit negeri Bichat. Hamed, laki-laki yang sudah dua tahun hidup mendampinginya menghilang entah ke mana. Saat membaca bab Awal novel ini, bukan tidak mungkin pembaca akan menyangka bahwa LdCE adalah kisah asmara muslimah Indonesia yang berkeluarga di Perancis dengan pria asing. Saya membayangkan kesulitan-kesulitan identitas budaya dan keyakinan yang dihadapi wanita itu dalam pernikahannya, seperti yang nampak dalam novel “Sister of My Heart”, yang ditulis oleh Chitra Divakaruni.

Akan tetapi, pada bagian Masa Lalu dan Kini, pengarang mengajak pembaca menelusuri kisah silam Karimah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Riyadh, hingga akhirnya ia terdampar sebagai TKW ilegal di Perancis, sebuah negeri di Eropa yang masyhur dengan Champs Elysees-nya. Siapa sangka, di sudut kota yang romantis itu Karimah terluka, ditolong oleh Hamed, dan seketika hidupnya berubah.

LdCE menunjukkan pengarang cukup mengerti dengan kesulitan yang biasa dihadapi TKW asal Indonesia di luar negeri, sehingga deskripsi kehidupan Karimah di Riyadh dan Paris seakan terasa riil. Dengan gaya penuturan orang pertama, ditambah dengan wawasan luas pengarang atas kota dan masyarakat Paris, membaca LdCE seakan seperti mengikuti sebuah memoar seorang TKW. Padahal, Rosita tidak pernah menjadi TKW sebagaimana Maria Bo Niok yang menulis “Ranting Sakura” sehingga Rosita terbilang sukses meyakinkan pembaca mengenai tantangan profesi maupun kehidupan pribadi seorang TKW.

LdCE diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing, penerbit yang berafiliasi dengan komunitas Forum Lingkar Pena (FLP), yang banyak menghasilkan pengarang fiksi Islam populer, mulai dari Helvy Tiana Rosa hingga Habbiburahman el Shirazy. Latar belakang kepengarangan Rosita mengunggulkan LdCE di antara karya komunitas FLP, yaitu penulisan LdCE yang sederhana, rinci , tanpa terkesan Islam formal-idealis dengan dakwah maupun khotbah kepada pembacanya. Ada penyesalan dan khilaf pada diri Karimah, namun pembaca tidak digiring untuk melakukan justifikasi salah atau benar terhadap tokoh Karimah.

Dalam hal ini, genre ‘Islam populer’ novel yang ditulis oleh jebolan FLP ini patut dipertanyakan.

Hanya saja, upaya pengarang untuk ‘menyembunyikan’ nilai-nilai yang dianut “aku” demi menghasilkan novel bertokoh muslimah moderat harus dibayar dengan kurang intimnya pembaca terhadap pikiran dan perasaan tokoh “aku”. Pengarang kurang mendalami latar belakang sosial, nilai-nilai, dan prinsip hidup yang dianut Karimah. Tanpa bekal latar belakang sosial dan nilai “aku” yang matang, penafsiran si-“aku” atas lingkungan di sekitarnya terhitung minim, dan kurang liar. Alhasil, penuturan yang realis dan tanpa banyak prasangka ini mengakibatkan konflik-konflik yang terkandung dalam LdCE gagal melarutkan pembaca dalam suara batiniah dan spiritual “aku”.

Beberapa bagian kisah hidup “aku” menunjukkan bagaimana Karimah yang seorang muslimah harus berkompromi dengan keyakinannya karena ia harus bertahan hidup, misalnya ketika ia terpaksa melepas jilbab, tinggal bersama Hamed tanpa ikatan pernikahan, dan mengkhianati suami serta anaknya di Indonesia. Selain itu, penyesuaian Karimah terhadap Hamed, pekerjaan, dan lingkungan barunya di Perancis dilesapkan oleh pengarang melalui penuturan flashback dan ketika kembali ke alur kronologis, ke-kini-an Karimah pun ditulis dengan terburu-buru, yaitu hanya ketika Karimah melahirkan anak Hamed dan kepulangannya ke Indonesia.

Meski banyak bagian kisah kurang dieksplorasi oleh pengarang, LdCE perlu dinikmati oleh pembaca dari kalangan sosial mana pun karena LdCE mampu memberi wawasan tentang kehidupan seorang TKW di Perancis dengan ringkas dan gamblang serta membebaskan pembaca untuk menyelami dan menafsirkan ketokohan Karimah. Apalagi, pembaca seakan diajak berjalan-jalan di kawasan Perancis yang indah, terutama di Champs Elysees, tanpa perlu ikut-ikut terluka seperti Karimah.




Rabu, 01 Juli 2009

Mbah Surip "Gendong" Reggae ke Tanah Air

Tak gendong..ke mana-mana..Tak gendong ke mana-mana..Enak tau..Hahaha..." Potongan lirik lagu
Mbah surip tersebut mungkin sering Anda dengar belakangan ini. Ya, itu adalah tembang dari penyanyi pendatang baru di dunia rekaman Mbah Surip yang menggebrak dunia musik di Tanah Air lewat aliran Reggae ala Bob Marley.Lagu berjudul "Tak Gendong" mampu membuat popularitas Mbah Surip meroket, padahal sebelumnya ia bukanlah siapa-siapa, hanya seorang seniman jalanan.

Dulu Mbah Surip pernah kerja di sebuah perusahaan pengeboran minyak. Merasa nasibnya kurang baik, Mbah Surip mencoba peruntungan dengan pergi ke Jakarta. Di Ibukota Jakarta, ia bergabung dengan beberapa komunitas seni seperti Teguh Karya, Aquila, Bulungan, dan Taman Ismail Marzuki. Pada suatu waktu, nasib menentukan lain. Mbah Surip mendapat kesempatan untuk rekaman dan akhirnya meraih kesuksesan seperti sekarang.

Pada Jumat (19/6) siang, musisi eksentrik berambut gimbal itu sempat mengisi acara Playlist di Studio Penta SCTV. Mbah Surip mampu memikat semua orang, seperti Cathy Sharon, Indra Bekti, serta si kembar Marcel dan Mischa Chandrawinata. Selain menyanyi, Mbah Surip sempat memberikan satu petuah kepada semua pecinta musik di Tanah Air. Pria asal Mojokerto, Jawa Timur itu ingin membawa pesan perdamaian lewat aliran Reggae yang diusungnya. "Reggae itu kan musik perdamaian, jadi damai terus," ujar Mbah Surip.(LUC) Sumber : Liputan6.com,