Kamis, 30 Juli 2009

Sastra yang Cantik dan Cerdas

HAMPIR dapat dipastikan, para cowok (normal) di muka bumi ini menyukai cewek yang cantik dan juga cerdas. Cantik secara fisik saja, tanpa kecerdasan, konon akan menjenuhkan. Tak bisa diajak diskusi tentang berbagai hal, kurang asyik diajak bergaul secara intelektual. Tentu, begitu pula untuk cowok. Yang ganteng saja, tapi tak cerdas, juga akan membuat hubungan tak dinamis, tak nyambung diajak tukar pikiran. Jadi selalu emosional, dan cenderung tak rasional. Untuk sastra, analogi ini juga berlaku. Sebab sebuah karya sastra yang “berhasil” paling tidak harus memiliki keseimbangan antara bentuk dan isi. Bentuk, meliputi unsur-unsur seperti gaya bahasa, plot/alur, penokohan, dan sejenisnyaSementara isi adalah kandungan yang terdapat dalam karya sastra itu, dapat dilihat secara tematik, juga pada unsur-unsur lain seperti pengetahuan, wawasan, nilai-nilai, dan sebagainya. Jadi, jika puisi atau cerpen, atau juga novel kita cantik bentuknya, tapi tak mengandung isi yang mencerdaskan, maka karya kita itu akan menjenuhkan.

Banyak sekali para penulis pemula, yang sangat asyik bermain-main dengan kata-kata dalam puisi-puisinya, tapi tak memikirkan apa sebetulnya yang hendak ia sampaikan. Keindahan atau kecantikan bahasa dalam puisi memang sangat diutamakan. Tapi jangan sampai kecantikan bahasa itu justru membuat puisi kita jadi gelap. Tak jelas juntrungannya. Macam orang meracau karena mabuk kepayang. Mengawang-awang tak tentu tempat berpijak.

Begitu pula dengan genre prosa seperti cerpen dan novel. Gaya bahasanya, juga plotnya, dan berbagai unsur ekstrinsiknya bisa saja kita rekayasa sedemikian rupa, agar terkesan cantik dan mempesona. Namun jika kita lemah menyampaikan gagasan yang cerdas di dalamnya, maka karya itu juga tak akan berpengaruh banyak pada pembaca. Sebab pembaca cuma akan mendapatkan pengalaman kebahasaan yang kamuflase, kepura-puraan, dan tak mendapatkan pengalaman spiritual di dalamnya.

Lalu, bagaimana supaya karya kita bisa cantik sekaligus cerdas? Untuk menjadi cantik, maka tentu kita harus bersolek alias berdandan. Hiaslah karya adik-adik dengan berbagai imajinasi dan metafora. Hadirkan berbagai diksi yang mempesona. Caranya, tentu harus punya banyak perbendaharaan kata dalam memori kita. Nah, supaya banyak, tentu harus membaca, membaca, dan membaca. Baik itu membaca teks tertulis dalam buku, majalah, koran dan sebagainya, tentang sastra dan tentang apa saja, juga rajin membaca berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungan kita.

Gaya bahasa, seperti yang pernah saya sampaikan pada edisi-edisi yang lalu, harus “dimiliki” oleh penulis. Dari gaya bahasa inilah dapat menunjukkan style dan orisinalitas “cara berucap” kita dalam karya. Tentu, tidak segampang memejamkan kelopak mata menggapainya. Perlu terus menjaga produktivitas menulis. Kalau perlu, punya target dengan disiplin menulis yang terjaga, semisal harus menulis minimal dua puisi, atau satu cerpen setiap hari. Intinya, bukankah seseorang harus “terlatih” lebih dahulu sebelum ia menjadi mahir?

Untuk menjadi cerdas, maka tentu resepnya juga harus membaca, membaca, dan membaca. Tak cuma membaca buku pelajaran saja, tapi buku-buku pengetahuan. Buku-buku kebudayaan. Buku-buku sastra tentu saja. Dan berbagai buku lain. Hal ini bertujuan untuk mengisi file-file wawasan baru di dalam kepala kita. Selain membaca, satu cara yang cukup ampuh untuk membuat kita cerdas adalah dengan berdiskusi. Diskusi adalah media untuk menguji sekaligus mengasah berbagai wawasan yang telah menumpuk dalam kepala kita itu.

Dalam konteks ini, saya hendak menyarankan pada adik-adik, mulailah selektif memilih bacaan dan tontonan. Perlahan-lahan mulailah beralih pada bacaan-bacaan yang “serius,” mulai meninggalkan sinetron-sinetron dan menggantikannya dengan menonton film-film yang bagus. Sebab, benarlah kata orang, apa yang kita baca dan tonton itu, akan menunjukkan siapa kita. Dan tentu, akan juga menunjukkan bagaimana karya-karya kita.

Mari kita coba tengok, apakah karya-karya kawan kita yang termuat minggu ini, adalah karya yang cantik dan cerdas? Ada cerpen berjudul “Panggil Aku Miss Late” karya Tri Wulandari. Sebuah cerpen yang lincah memainkan bahasa remaja. Dengan tema yang juga khas remaja. Mungkin, bolehlah kita katakan gaya bahasanya cukup cantik. Karena, nampaknya Tri cukup pandai memberi kejutan-kejutan, sekaligus “jiwa remaja” pada sejumlah pilihan istilah. Ada cukup banyak masuk ke meja redaksi, karya-karya cerpen dengan bahasa serupa ini. Tapi sayangnya, kebanyakan hanya bermain pada bahasa saja, dan melupakan unsur penting lain seperti konflik-konflik yang minim, penokohan yang lemah, juga isi cerita yang sangat dangkal. Cerpen ini, setidaknya menggambarkan “kecerdasan” si penulisnya, terutama tampak pada sejumlah referensi yang dipakai untuk memperkuat tokoh, maupun cerita.

Puisi berjudul "Kaffah"karya Muflih Helmi, mencirikan sebuah puisi yang religius. Diksi-diksi yang dipilih pun menunjukkan hal itu. Tergambar pada kita, betapa si aku-lirik sedang berupaya untuk menyatukan dirinya dengan Sang Pencipta, dengan menyerahkan secara utuh seluruh kehidupannya. Terutama ketika “seseorang” yang diwakili dengan “wajah itu” datang. Kalau Muflih bisa lebih hati-hati membangun imaji, maka puisi ini akan terasa lebih cantik dan cerdas.

Berikut ada puisi “Kunang-kunang” karya Sumiati. Nampaknya puisi ini juga senada dengan puisi Muflih. Meski dalam konteks yang berbeda. Sumi lebih menggambarkan kehadiran maut, yang disimbolkan sebagai kunang-kunang. Meskipun, terasa masih rumpang, sebab imajinya bait pertama tak diperkuat dengan imaji yang dibangun pada bait kedua. Sumi tentu harus terus merangkai puisi banyak-banyak, untuk lebih mempercantik diksi, dan lebih cerdas merangkai makna.

Sementara kawan kita dari Bandung, Ferdinan D J Saragih, menghadirkan puisi “Gerimis Februari.” Cukup kuat suasana puisi dihadirkan lewat narasi-narasi yang liris. Sejumlah nama tempat, nampak ikut memperkuat imaji tentang sebuah perjalanan. Selain itu, Gerimis, ditarik sedemikian rupa dalam ruang ingatan tentang perjumpaan, juga tentang kenangan. Puisi ini, terlihat cantik, meski masih menyembunyikan kecerdasan yang belum luas. Puisi “Cinta Tak Bermadah” karya Zulfahmi, sebenarnya telah berupaya membangun dirinya dengan berbagai imaji lokal tentang dunia Melayu. Upaya yang nampaknya belum banyak digemari oleh para remaja kita. Maka, tentu kita perlu memberi apresiasi khusus pada Zulfahmi. Meski, masih demikian banyak lubang di sana-sini yang membuat puisinya tak dapat berdiri kokoh. Bahasanya berpotensi cantik, kalau selektif dan tepat mendudukkan diksi. Semoga tak berhenti untuk terus menulis puisi.***

Oleh: Marhalim Zaini
(http://xpresiriau.com/bengkel-sastra/sastra-yang-cantik-dan-cerdas/)


Minggu, 19 Juli 2009

Heal The World Makin Ngetop

Salah satu lagu karya terbaik dari Michael Jackson "Heal The World" semakin mendapat perhatian setelah kematiannya. Orang semakin tau karya-karyanya justru setelah orang tersebut meninggal dunia. Cerita lain seperti Imam Nawawi, Hasan Albanna, Bukhari, dan tokoh-tokoh lainnya. Mereka seperti tetap ada. Ini jualah yang terjadi pada saudara kami "Intan Amlan" sebelum ia meninggal telah ada upaya keras darinya untuk meninggalkan karyanya yang bermanfaat untuk orang lain.
Lagu ‘We Are the World’ diciptakan Jacko dan Lionel Richie untuk membantu korban kelaparan di Ethiopia akbibat gejolak politik pada 1984 hingga 1985. Dana yang terkumpul dari lagu ini mencapai 63 juta dolar.

Sedangkan lagu ‘Heal the World’ meninggalkan pesan anti-rasisme di dunia. Michael pun pernah mengatakan kepada fansnya bahwa lagu ini adalah lagu ciptaannya yang paling ia banggakan.

Dalam acara penghormatan terakhirnya di Staples Centre, Los Angeles, 7 Juli 2009 lalu dua lagu ini terus dikumandangkan. ‘Heal the World’ dan ‘We Are the World’ menumpahka air mata penggemar Michael mengiringi kepergiannya.

Sungguh mengharukan. karya-karya Michael diciptakannya dengan sepenuh hati, dan hal itu yang mendasari bahwa karyanya akan selalu dikenang sepanjang masa.

DOWNLOAD
Ini lirik lagunya :
There’s A Place In
Your Heart
And I Know That It Is Love
And This Place Could
Be Much
Brighter Than Tomorrow
And If You Really Try
You’ll Find There’s No Need
To Cry
In This Place You’ll Feel
There’s No Hurt Or Sorrow
There Are Ways
To Get There
If You Care Enough
For The Living
Make A Little Space
Make A Better Place…
Heal The World
Make It A Better Place
For You And For Me
And The Entire Human Race
There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place
For You …


Anasir-anasir Dakwah

Katakanlah (wahai Muhammad) ini jalanku, aku dan orang-orang yang mengikuti mengajak kamu kepada (agama) Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik. 12:108.

Anasir dakwah (unsur-unsur dakwah) ini diambil dari surat 12:108. Dengan ayat ini kemudian ditafsirkan oleh ulama dakwah melalui tafsir dakwahnya sehingga ayat ini menggambarkan begaimana minhajdakwah yang disebutkan oleh Allah SWT surat yusuf tersebut.
Terdapat beberapa unsur dakwah: qul misalnya yang mengawali surat ini bermakna katakanlah, tetapi juga dalam kaitannya dengan dakwah merupakan syar’aiyyatud dakwah, karena ini merupakan firman Allah SWT dan terdapat di dalam Alqur’an sehingga fungsinya adalah sebagai syari’ah atau cara/minhaj dakwah. Kemudian Allah Swt menyebutkan hadzihi sabili (inilah jalanku) berarti juga sebagai risalatud dakwah (menyampaikan dakwah), hal ini menunjukkan bagaimana pentingnya jalan dakwah.

Ad’u (menyeru manusia) adalah perintah dakwah yang bersifat terus-menerus karena ayat ini bermakna fiil mudhari yang berarti kata kerja yang berlaku untuk hari ini, esok, dan masa depan. Oleh karena itu dakwah dapat dikatakan sebagai harokatul mustamirah (gerakan yang terus-menerus). Illallah (kepada Allah) memberi makana ghayatu shahihah (inilah tujuan yang benar), karena hanya kepada Allah saja tujuan dakwah ini bukan berdakwah mengajak kepada kumpulan dan pribadi tetapi kepada Islam.

A’la bashirah (keterangan) atau bukti yang jelas) berarti juga dakwah berjalan berdasarkan minhajul wadhihah. Ana (saya di sini Nabi SAW) adalah sebagai pemimpin yang ikhlas (qiyadatul mukhlishah). Wamanittaba’ani (orang yang mengikutinya) sebagai jundiyah muthi’ah (tentara yang patuh dan taat). Kemudian sunnatullah menunjukkan tajarrud dan wama ana minal musyrikin adalah tauhid yang berati menghindarkan diri dari kemusyrikan. Dapat disimpulkan bahwa dakwah adalah harus mengikuti syariat di dalam menyampaikan dakwahnya. Dakwah harus bersifat sesuatu program yang terus-menerus tidak bercuti dan berhenti dengan tujuan yang benar dan berdasarkan minhaj yang jelas. Dakwah harus dibawa oleh pengikut yang taat dengan ciri-ciri tajarruddan mentauhidkan Allah.

1. Anashir Dakwah
Terdapat beberapa anasir atau komponen dakwah yang disebutkan di dalam surat 12:108. anasir ini menggambarkan minhaj dakwah. Panduan dakwah dapat diambil dari ayat ini misalnya perleunya pemimpin yang ikhlas dan pengikut yang taat, tujuan dan minhaj yang jelas, adanya aktivitas dan pesan, kemudian pelaku dakwah harus beriman bersikap tajarrud. Beberapa anasir dapat di bawah ini.

2. Qul-syar’iyyatud Dakwah
Qul atau katakanlah adalah suatu perintah syara yang langsung berasal dari Allah dan RasulNya. Perintah atau arahan yang disebutkan setelah perkataan qul ini berarti sesuatu yang perlu diperhatikan dan mempunyai kepentingan bagi kita. Dalam surat 12:108 menjelaskan bagaimana dakwah yang perlu dilalui yaitu harus memenuhi beberapa anasir misalnya ada pemimpin, pengikut, tujuan, dan sikap.

3. Hadzihi Sabili-Risaltud Dakwah
Inilah jalanku di dalam surat tersebut merupakan pesan dakawah. Dakwah yang dilakukan Nabi adalah jalan yang perlu juga dilalui oleh setiap muslim. Dakwah itu sendiri merupakan pesan yang perlu kita tunaikan. Namun demikian yang lengkap dan mempunyai beberapa anasir.

4. Ad’u-Harakatul Mustamirah
Ad’u artinya aku menyeru. Di dalam ayat ini yang perlu diperhatikan adalah kalimat ad’u adalah kalimat mudhari’ berarti kalimat yang berlaku saat ini dan akan terjadi seterusnya di masa depan. Dengan pengertian ini maka mufasir dakwah menyebutkan bahwa sifat dakwah adalah aktivis atau gerakan yan terus menerus, tiada henti walau bagaimanapun keadaannya baik dalam keadaan susah atau senang. Dakwah yang senantiasa berjalan adalah sunnahnya dakwah Islam. Siapa yang mengikuti jalan ini harus menjadikan kehidupannya adalah kehidupan dakwah. Oleh karena itu dakwah berjalan maka tidak akan mungkin muncul pemandulan atau tidak ada pengikut. Kekurangan pengikut dan madulnya potensi dakwah disebabkan karena dakwah tidak berjalan. Walaupun dakwah berjalan sedikit maka dapat dipastikan memperoleh hasil.

5. Ilallah-Ghoyatu Shahihah
Dakwah yang ilallah adalah dakwah yang mempunyai tujuan kepada Allah, hal ini merupakan tujuan yang benar. Apabila tujuan dakwah bukan kepada Allah maka dakwah tidak bertujuan baik, ia akan menyimpang. Dakwah yang tujuan tidak baik ini misalnya dakwah yang mangajak kepada kumpulan (jamaah) atau dakwah yang membawa kepada pribadi (syakhsiyah). Jamaah atau syakhsiyah da’I adalah wasilah atau pintu untuk berdakwah tetapi nilai yang disampaikan adalah nilai islam. Selain itu dakwah ilallahb adalah dakwah yang mengajak mad’u dekat dengan Alqur’an dan sunnah sehingga mereka mencintai dan membelanya.

6. “Ala bashirah Minhajul Wadhihah
Dakwah yang dijalankan juga harus berdasarkan keterangan yang jelas dengan petunjuk yang benar dan panduan yang lengkap. Alqur’an dan sunnah merupakan bagian dari rujukan dan utama dalam dakwah. Bashirah adalah yang berasal dari Islam maka dengan demikian dajwah juga harus berdasarkan minhajul wadhihah (panduan yang jelas). Beberapa contoh minhaj yang wadhih di dalam dakwah adalah dakwah harus dengan hikmah, hasanah, dan marhamah, dakwah mengikuti anasir seperti jamaah, pemimpin, dan pengikut. Dakwah harus mengiktui marhalah, dakwah memiliki tujuan dan berbagai wasilah yang dapat diterima oleh mad’u dan sebagainya.

7. Ana Qiyadatul Mukhlishah
Satu anasir penting di dalam dakwah yang tidak boleh dilupakan adalah adanya pemimpin. Pemimpin ini berarti orang yang membawa jamaah beserta pengikutnya. Ciri utama yang perlu dimiliki oleh qiyadah adalah ikhlas (qiyadah mukhlishah). Dengan ikhlas ini, qiyadah dapat membawa jamaah dengan baik walaupun banyak cobaan, tantangan, fitnah dari dalam maupun dari luar. Dengan ikhlas qiyadah dapat menerima kenyataan yang berlaku serta dapat menghadapi masalah dengan baik. Qiyadah yang tidak ikhlas akan membawa pengikut kepada kepentingan pribadi dan memperturutkan hawa nafsunya saja. Pemimpin yang demikian banyak terjadi pada beberapa contoh di dalam gerakan Islam atau bukan, di mana gerakan menjadi terbantukan.

8. Wmanittaba’ani
Adanya qiyadah harus diikuti dengan adanya jundiyah (pengikut). Apabila qiyadah mukhlishas maka jundiyah harus muthi’ah. Pengikut yang tidak taat, maka akan menghentikan proses dakwah dan akan menghnacurkan dakwah itu sendiri. Pengikut yang tidak taat tidak akan dapt diarahkan untuk mengerjakan program gerakan. Kehadiran dan keterlibatan dan partisipasi yang kurang ke dalam adalah ciri dari tidak taatnya jundi kepada qiyadah. Program yang baik, sasaran yang menarik, dan wasilah yang canggih tidak akan tercapai apabila pengikut tidak taat. Keberadaan pengikut di dalam dakwah sangatlah diperlukan bagi perkembangan dakwah itu sendri, tetapi yang penting lagi adalah pengikut yang setia.

9. Subhanallah-Tajarrud
Maha suci Allah adalah sikap tajarrud pengikut ataupun pemimpin dakwah. Pelaku dakwah harus senantiasa mensucikan Allah dengan perbuatan, pemikiran dan akhlaknya. Dengan membebaskan diri dari kejahiliyyahan, kekotoran, kemusyrikan, dan kebatilan akan membawa kita kepada kejayaan dakwah. Mensucikan Allah maka akan mendukung dan membela kita.

10. Wama Ana Minal Musyrikin
Sikap berikutnya dari pelaku adalah tidaklah dirinya menjadi orang yang musyrik. Pelaku dakwah harus melakukantauhid saja. Bentuk tauhid diantaranya adalah meningglakan segala bentuk pengabdian kepada selain Allah dan juga menghindari segala tingkah laku bukan Islam. Tauhid dari segi uluhiyah ini mempunyai kesan yang tinggi kepada semua aspek kehidupan kita. Dengan tauhid juga maka akan mewarnai pemikiran, akhlak dan ruhani dengan Islam.
(Dari berbagai sumber salah satunya internet. Selamat !!!)


Jumat, 10 Juli 2009

Selamat Kepada SBY-Budiono

Meski belum ada pengumuman resmi dari KPU - dari tiga pasang capres-cawapres - hampir bisa dipastikan SBY-Budiono bakal memimpin Indonesia untuk 5 tahun mendatang. Ini membuktikan dukungan masyarakat Indonesia kepada SBY-Budiono sepenuhnya mempercayakan kepada pasangan ini untuk meningkatkan martabat bangsa di mata internasional. 60% lebih perolehan suara pasangan nomor urut 2 ini mampu menghemat biaya kira-kira 20 Triliun Rupiah, meski gelombang kritik dari berbagai elemen termasuk rival SBY-Budiono mengalir sebelum pelaksanaan penconterangan tanggal 8 Juli 2009 kemarin. Yang jelas masyarakat masih membutuhkan sosok SBY sebagai presiden Indonesia 5 tahun lagi. Selamat buat pak SBY-Budiono, buktikan merahmu. Bangsa ini membutuhkan pelayan-pelayan seperti bapak. Kembalikan marwah bangsa ini di mata dunia. Kami semua mempercayakan amanah ini, dan jangan sampai kami dikhianati lagi. Luka ini masih belum terobati meski BBM turun lagi, hehehe.. Selamat juga kepada TIM SUKSES SBY-Budiono di seluruh tanah air, partai-partai pendukung, Demokrat, PKS, PPP, PKB, PAN dan partai kecil yang tidak lolos parlementary treshold tetap berkontribusi kepada kerja-kerja ke depan. Bukan jabatan yang menjadi priorotas, tapi adalah KARYA. Selamat Berjuang SBY, Selamat berjuang Budiono.. selamat berjuang bangsaku.


Minggu, 05 Juli 2009

TKW Hong Kong Bangun Proyek Besar Untuk Jadi Bangsa Pembaca

Sastrawan Bonari Nabonenar mengemukakan bahwa para penulis fiksi dari tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia yang bekerja di Hongkong kini telah membangun proyek besar untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa pembaca.

"Mereka telah membangun proyek luar biasa besar, proyek kebudayaan, yang bertujuan menggiring bangsa ini ke arah yang lebih baik, menjadi bangsa yang membaca," katanya dalam makalah untuk diskusi dan pelatihan menulis sastra di Hongkong, Minggu yang dikirimkan lewat email.Menurut Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa (PPSJ) itu, kenyataan itu kerupakan salah satu keajaiban dari kiprah para TKW Hongkong yang sejak 2005 - 2007 telah menerbitkan 10 buku fiksi, termasuk buku motivasi fenomenal karya Eni Kusuma, TKW asal Banyuwangi.

"Karenanya menurut saya layak kalau teman-teman TKW yang menjadi penulis itu disebut sebagai aktivis kebudayaan. Luar biasanya, mereka berkarya untuk ranah kebudayaan ini tanpa sokongan apapun dari pemerintah," katanya.

Pada kegiatan yang digelar Forum Lingkar Pena (FLP) Hongkong itu dia mengemukakan bahwa negeri Hongkong yang dihuni sekitar 100 ribu orang Indonesia yang semuanya perempuan, kini terdapat puluhan penulis produktif.

"Maka, jika kita berbicara tentang pertumbuhan sastra Indonesia, di manakah tempat yang paling subur? Kini kita sudah tahu jawabnya," katanya.

Dikatakannya, kegiatan menulis yang dikerjakan para TKW itu telah ikut meningkatkan derajat mereka dari sekedar pekerja rumah tangga (pembantu-red), meskipun secara materi mereka justru mendapatkan lebih daripada profesi yang dipandang paling tinggi di Indonesia sendiri.

"Inilah juga hebatnya, lonjakan derajat penghasilan di kalangan pekerja rumah tangga yang menulis itu dibarengi dengan lonjakan derajat pemikiran dan wawasan yang segera mengingatkan saya pada tokoh Semar di dalam dunia pewayangan," katanya.

Semar, katanya, adalah seorang dewa yang sehari-hari hidup di dunia "manusia" sebagai "rewang", "batur" atau pembantu. Pelatihan yang digelar dalam rangka menyambut ulang tahun (milad) ke-10 FLP itu dilaksanakan Islamic Union, Wan Chai, Hongkong dengan menghadirkan pembicara lain, dosen sastra Universitas Padjadjaran Bandung, M Irfan Hidayatullah.(*/erl)

Kisah TKW dalam Novel Islam Populer
BAGAIMANA persoalan kaum marjinal seperti tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri dikisahkan dalam sebuah novel bergenre ‘Islam populer’ oleh penulis jebolan Forum Lingkar Pena (FLP)? Kejutan: kisah TKW bernama Karimah dalam “Luka di Champs Elysees (LdCE)” terasa nyata terjadi tanpa pembaca merasa digurui soal religi. Kejutan bagi pembaca ini merupakan keberhasilan Rosita Sihombing, pengarang debutan baru.

LdCE terdiri dari tiga bagian, yaitu Awal, Masa Lalu, dan Kini. Pada bagian Awal, pembaca LdCE dibawa pengarang ikut merasakan langkah tertatih, waswas yang terpendam, dan pedih yang tertahan pada diri Karimah, yang hendak melahirkan, ketika ia menempuh jarak menuju rumah sakit negeri Bichat. Hamed, laki-laki yang sudah dua tahun hidup mendampinginya menghilang entah ke mana. Saat membaca bab Awal novel ini, bukan tidak mungkin pembaca akan menyangka bahwa LdCE adalah kisah asmara muslimah Indonesia yang berkeluarga di Perancis dengan pria asing. Saya membayangkan kesulitan-kesulitan identitas budaya dan keyakinan yang dihadapi wanita itu dalam pernikahannya, seperti yang nampak dalam novel “Sister of My Heart”, yang ditulis oleh Chitra Divakaruni.

Akan tetapi, pada bagian Masa Lalu dan Kini, pengarang mengajak pembaca menelusuri kisah silam Karimah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Riyadh, hingga akhirnya ia terdampar sebagai TKW ilegal di Perancis, sebuah negeri di Eropa yang masyhur dengan Champs Elysees-nya. Siapa sangka, di sudut kota yang romantis itu Karimah terluka, ditolong oleh Hamed, dan seketika hidupnya berubah.

LdCE menunjukkan pengarang cukup mengerti dengan kesulitan yang biasa dihadapi TKW asal Indonesia di luar negeri, sehingga deskripsi kehidupan Karimah di Riyadh dan Paris seakan terasa riil. Dengan gaya penuturan orang pertama, ditambah dengan wawasan luas pengarang atas kota dan masyarakat Paris, membaca LdCE seakan seperti mengikuti sebuah memoar seorang TKW. Padahal, Rosita tidak pernah menjadi TKW sebagaimana Maria Bo Niok yang menulis “Ranting Sakura” sehingga Rosita terbilang sukses meyakinkan pembaca mengenai tantangan profesi maupun kehidupan pribadi seorang TKW.

LdCE diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing, penerbit yang berafiliasi dengan komunitas Forum Lingkar Pena (FLP), yang banyak menghasilkan pengarang fiksi Islam populer, mulai dari Helvy Tiana Rosa hingga Habbiburahman el Shirazy. Latar belakang kepengarangan Rosita mengunggulkan LdCE di antara karya komunitas FLP, yaitu penulisan LdCE yang sederhana, rinci , tanpa terkesan Islam formal-idealis dengan dakwah maupun khotbah kepada pembacanya. Ada penyesalan dan khilaf pada diri Karimah, namun pembaca tidak digiring untuk melakukan justifikasi salah atau benar terhadap tokoh Karimah.

Dalam hal ini, genre ‘Islam populer’ novel yang ditulis oleh jebolan FLP ini patut dipertanyakan.

Hanya saja, upaya pengarang untuk ‘menyembunyikan’ nilai-nilai yang dianut “aku” demi menghasilkan novel bertokoh muslimah moderat harus dibayar dengan kurang intimnya pembaca terhadap pikiran dan perasaan tokoh “aku”. Pengarang kurang mendalami latar belakang sosial, nilai-nilai, dan prinsip hidup yang dianut Karimah. Tanpa bekal latar belakang sosial dan nilai “aku” yang matang, penafsiran si-“aku” atas lingkungan di sekitarnya terhitung minim, dan kurang liar. Alhasil, penuturan yang realis dan tanpa banyak prasangka ini mengakibatkan konflik-konflik yang terkandung dalam LdCE gagal melarutkan pembaca dalam suara batiniah dan spiritual “aku”.

Beberapa bagian kisah hidup “aku” menunjukkan bagaimana Karimah yang seorang muslimah harus berkompromi dengan keyakinannya karena ia harus bertahan hidup, misalnya ketika ia terpaksa melepas jilbab, tinggal bersama Hamed tanpa ikatan pernikahan, dan mengkhianati suami serta anaknya di Indonesia. Selain itu, penyesuaian Karimah terhadap Hamed, pekerjaan, dan lingkungan barunya di Perancis dilesapkan oleh pengarang melalui penuturan flashback dan ketika kembali ke alur kronologis, ke-kini-an Karimah pun ditulis dengan terburu-buru, yaitu hanya ketika Karimah melahirkan anak Hamed dan kepulangannya ke Indonesia.

Meski banyak bagian kisah kurang dieksplorasi oleh pengarang, LdCE perlu dinikmati oleh pembaca dari kalangan sosial mana pun karena LdCE mampu memberi wawasan tentang kehidupan seorang TKW di Perancis dengan ringkas dan gamblang serta membebaskan pembaca untuk menyelami dan menafsirkan ketokohan Karimah. Apalagi, pembaca seakan diajak berjalan-jalan di kawasan Perancis yang indah, terutama di Champs Elysees, tanpa perlu ikut-ikut terluka seperti Karimah.




Rabu, 01 Juli 2009

Mbah Surip "Gendong" Reggae ke Tanah Air

Tak gendong..ke mana-mana..Tak gendong ke mana-mana..Enak tau..Hahaha..." Potongan lirik lagu
Mbah surip tersebut mungkin sering Anda dengar belakangan ini. Ya, itu adalah tembang dari penyanyi pendatang baru di dunia rekaman Mbah Surip yang menggebrak dunia musik di Tanah Air lewat aliran Reggae ala Bob Marley.Lagu berjudul "Tak Gendong" mampu membuat popularitas Mbah Surip meroket, padahal sebelumnya ia bukanlah siapa-siapa, hanya seorang seniman jalanan.

Dulu Mbah Surip pernah kerja di sebuah perusahaan pengeboran minyak. Merasa nasibnya kurang baik, Mbah Surip mencoba peruntungan dengan pergi ke Jakarta. Di Ibukota Jakarta, ia bergabung dengan beberapa komunitas seni seperti Teguh Karya, Aquila, Bulungan, dan Taman Ismail Marzuki. Pada suatu waktu, nasib menentukan lain. Mbah Surip mendapat kesempatan untuk rekaman dan akhirnya meraih kesuksesan seperti sekarang.

Pada Jumat (19/6) siang, musisi eksentrik berambut gimbal itu sempat mengisi acara Playlist di Studio Penta SCTV. Mbah Surip mampu memikat semua orang, seperti Cathy Sharon, Indra Bekti, serta si kembar Marcel dan Mischa Chandrawinata. Selain menyanyi, Mbah Surip sempat memberikan satu petuah kepada semua pecinta musik di Tanah Air. Pria asal Mojokerto, Jawa Timur itu ingin membawa pesan perdamaian lewat aliran Reggae yang diusungnya. "Reggae itu kan musik perdamaian, jadi damai terus," ujar Mbah Surip.(LUC) Sumber : Liputan6.com,