Sabtu, 06 Juni 2009

Syuro Efektif

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.
(42/Asy-syuura : 38)
a. Urgensi Syuro
“Apa targetnya? Capainnya apa? Alurnya seperti apa? Parameter keberhasilannya apa? Konsepnya yang jelas ya!! Syuro di sana syuro di sini”.
Kata-kata diatas mungkin sudah akrab di telinga kita. Bahkan jadi menu makan siang kita. Ya..itulah aktivitas syuro.’ Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu keputusan hendaknya diawali dengan jalan yang baik, salah satunya musyawarah/syuro.’ Ya, karena dengan syuro’ yang kita dahulukan hendaknya bisa membuka grendel keangkuhan yang ada di hati. Menyatukan pikiran-pikiran yang menghasilkan sebuah keputusan yang bisa bermanfaat bagi ummat.
Mengingat urgensi syuro’ ini maka dibutuhkan persiapan yang baik pula. Baik itu niatan, rihiyah, fikriyah bahkan jasadiyah. Jangan sampai kita datang syuro’ dengan “energi sisa”. Energi sisa praktikum, sisa ujian, sisa kuliah, sisa makan, dll. Karena hasilnya pun menjadi “keputusan sisa.” Tak jarang dalam satu hari para aktivis da’wah bisa menghadiri 3 syuro’ bahkan lebih. Bila persiapan kita tidak baik maka gejala yang timbul adalah kepala terasa berat, diajak ngomong ga’ nyambung bahkan tingkahnya aneh-aneh.
Membicarakan kata ini (syuro, red) memang menjadi sesuatu hal yang agak sensitif bagi para aktivis dakwah karena di tempat inilah segala jantung dari pergerakan dari dakwah berlangsung. Kualitas dari suatu pergerakan dakwah tergantung pada manajemen syuro yang bagus atau tidak. Kondisi terbentuknya suatu syuro pun bevariasi tergantung kebijakan dan kondisi medandakwah itu sendiri.
Ada syuro yang memang sebelum mengambil keputusan membicarakan dengan para jamaah dan meminta pendapat mereka bahkan kadangkala bisa diambil keputusan pada saat itu juga. Ada juga yang sifatnya sangat tertutup sehingga syuro-syuro tersebut hanya bisa diakses oleh “orang-orang tertentu” dan jamaah hanya tinggal menerima keputusan saja.
Syuro menurut ustadz Sayid Quthb rahimahullah penting dalam menguji berbagai arah pemikiran yang dilontarkan lalu memilih satu diantaranya, kemudian dilaksanakan. Ia melihat syuro adalah prinsip dasar dalam Islam, di samping watak seluruh jamaah muslim seluruhnya, yang sebagai komunitas, urusannya diserahkan kepadanya, kemudian dari jamaah ini, ia terpenetrasi dalam negara selaku produk alami jamaah. Dalam pelaksanaan syuro di kampus-kampus di Indonesia pun berbeda-beda sistemnya ada yang terbuka namun ada yang tertutup sesuai dengan penjelasan penulis diatas. Namun kecendrungan para ADK (Aktivis Dakwah Kampus) di Indonesia lebih memilih bentuk yang kedua karena keunggulan dari bentuk syuro seperti ini selain keputusan yang dihasilkan lebih cepat juga dari segi efektifitas pergerakan dakwah lebih tinggi. Dengan makin sedikitnya isi kepala yang mengkonsep maka keputusan lebih cepat dihasilkan dan perbedaan pendapat bisa diredam sekaligus meminimalisir konflik yang ada.
Idealnya Syuro seperti ini membutuhkan orang yang memliki kemampuan tarbawi yang cukup tinggi tidak hanya tsaqofah Islamiyahnya yang harus bagus (baca: sempurna) namun juga pengetahuan akan ilmu keduniawian lainnya sehingga ketika menelisik masalah bisa seobjketif mungkin.
Kenapa kriteria yang diajukan harus sesempurna mungkin? Karena sifatnya yang tertutup maka memang dibutuhkan orang yang benar-benar peka terhadap masalah sekitarnya dan memberikan pandangan seobjektif mungkin sehingga ketika keputusan keluar nanti bisa langsung diterima oleh jamaah dan kekecewaan yang ada bisa diredam.
Namun pada kenyataannya mencari orang seperti itu apalagi dilingkungan kampus sangatlah sulit. Kebanyakan ADK yang memiliki kualitas mumpuni seperti itu sangatlah jarang dan jumlahnya hanya sedikit, apalagi kebutuhan untuk strategi dakwah sangatlah besar. Mengeluarkan sebuah keputusan apalagi untuk insan kampus yang terkenal kritis bukan suatu hal mudah apalagi dibutuhkan pendalaman kajian yang sempurna.
Seringkali kasus-kasus yang terjadi pada manajemen syuro kampus terutama pada yang sifatnya tertutup justru malah menumpulkan kreativitas kader atau bahkan malah memungkinkan terjadi pembodohan secara sistematis pada kader sendiri. Orang-orang yang berdiri di belakang sistem syuro adalah “orang-orang pilihan” (entah apakah kata-kata ini cocok atau tidak). Idealnya orang-orang tersebut terpilih setelah melalui berbagai aspek syarat-syarat seperti yang telah disebutkan diatas, namun kadangkala ada juga aspek nepotisme yang berlaku seperti misalnya dekat dengan “orang-orang penting” atau teman satu kelompok ngaji.
Lalu kadangkala karena aspek tsaqofah yang terbatas tentang pemahaman syuro itu sendiri maka kadangkala orang-orang yang duduk di dalam situ adalah merasa mempunyai prestige tersendiri dan merasa “beda” dengan saudaranya yang lain padahal secara kualitas keimanan belum tentu dia yang paling baik dibanding saudaranya yang lain. Belum lagi kalo orang yang duduk didalam syuro memiliki amanah syuro dimana-mana yang mengakibatkan dia tidak fokus yang merupakan suatu hal yang tidak sehat didalam syuro itu sendiri karena bisa jadi dia malah tidak produktif yang malah justru akan menghancurkan syuro itu sendiri.

b. Pra-syarat yang Harus dimiliki oleh Para Anggota Tim Sebelum Melakukan Syuro
Syuro merupakan sebuah bentuk focus groups discussion (FGD) yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam sebuah komunitas untuk membahas suatu kondisi atau masalah. Pada konteks lembaga dakwah mahasiswa, rapat seringkali menjadi momok yang melekat pada diri seorang kader. Istilah ahli syuro atau manusia syuro melekat pada beberapa orang yang gemar melakukan rapat. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah rapat yang kita lakukan sudah efektif untuk menghasilkan sebuah keputusan.
Pada kenyataannya saya sering melihat bahwa rapat yang dilakukan sangat jauh di nilai efektifitas yang disampaikan Allah pada surat Al Ashr. Problematika kecil seperti rapat tidak dimulai dan diakhiri tepat waktu, agenda yang tidak jelas, pembahasan berkepanjangan, ketidaktercapaian tujuan rapat, atau bahkan alokasi waktu rapat yang kurang tepat. Sebagai seorang kader dakwah seharusnya kita bisa mencontohkan bagaimana rapat yang efesien dan efektif.
Tentu kita ingin menjalani rapat yang cepat dan menghasilkan keputusan yang tepat. untuk sebuah keinginan ini, perlu ada beberapa pra-syarat yang dimiliki oleh para anggota tim sebelum melakukan rapat, yakni :

1. Adanya penghormatan terhadap waktu. penghormatan terhadap waktu ini bertujuan agar kita dapat lebih bisa mengatur budaya waktu yang mungkin sudah terlalu rusak di Indonesia. akan tetapi seorang yang bisa memberikan dedikasinya terhadap waktu adalah seorang yang sangat menghargai dirinya. lebih dari itu, bentuk kita menghormati waktu adalah bagian dari kita menghormati orang lain. kita perlu sadari bahwa setiap orang mempunyai aktifitas lain. sehingga bagi bangsa yang berbudaya, manajemen waktu yang baik adalah sebuah pra syarat.
2. Fokus pada apa yang dikerjakan, syuro seringkali menjadi tidak efektif karena peserta rapat tidak fokus penuh pada pembahasan yang dilakukan. Ketidakfokusan ini membuat ide ide tidak mengalir dan pembahasa terhambat. Bahkan terkadang pemimpin syuro terkesan berbicara sendiri, karena para peserta rapat hanya mencatat atau mengerjakan yang lain.
3. Mempersiapkan bahan rapat dengan baik. Pembahasan rapat yang baik perlu di dukung oleh data data yang terkini dan bisa dipertanggungjawabkan. Seorang peserta rapat diharapkan dapat menyiapkan bahan rapat atau usulan yang ada untuk membuat pembahasan lebih komprehensif dan efesien. Ketidaklengkapan data pendukung dalam sebuah syuro membuat syuro jadi berbasis dugaan bukan pada kondisi nyata di lapangan.

Ketiga poin diatas adalah pra-syarat yang dibutuhkan bagi kita anggota syuro agar dapat membentuk syuro yang baik. Selanjutnya, bagaimana tips untuk membangun rapat yang “hidup” dan efektif. Seperti yang telah kita pahami bersama bahwa syuro adalah media penting dalam penyusunan strategi organisasi. Efektifnya syuro juga akan mencerminkan seberapa efektif kita dalam menjalankan tugas di lapangan.

c. Agar Syuro lebih Efektif
1. Pemberitahuan rapat sejak awal.
Pada kondisi tidak mendadak, biasanya syuro sudah terencana sebelumnya. Ada baiknya bila pemimpin rapat memberitahu sejak dini kapan syuro akan diadakan dan dimana tempatnya. Pemberitahuan ini diharapkan dapat memberikan waktu untuk berpikir para anggota rapat terkait ide yang bisa diberikan di syuro, serta mengalokasikan waktunya untuk hadir dan berpikir di rapat ini, sehingga peserta syuro dapat lengkap.
2. Waktu pasti rapat.
Dalam kondisi sesama kader yang sibuk, kita perlu sekiranya mematok waktu rapat secara tegas, sebutlah untuk lima pembahasan kita memerlukan waktu 60 menit, maka saat memberi info jadwal syuro, kita akan memberitahu waktu yang dialokasikan adalah satu jam saja. Dengan adanya waktu yang tepat, akan membangun budaya menghargai waktu diantara peserta syuro.
3. Pemberitahuan agenda pembahasan.
Agar pembahasan yang dilakukan dapat menghasilkan keputusan yang tepat, maka sebaiknya agenda apat diberitahukan bersamaan dengan pemberitahuan jadwal rapat. Agenda rapat tidak sekedar pembahasan umum seperti “rapat panitia ramadhan, atau rapat departemen media”, akan tetapi dengan pemberitahuan spesifik seperti “agenda rapat : sinkronisasi timeline antardepartemen, distribusi dan alokasi dana untuk 3 bulan kedepan, atau penentuan penerima beasiswa organisasi. Ini merupakan contoh yang bisa digunakan, sehingga peserta rapat akan berpikir untuk mengeluarkan idenya sebelum rapat, hal ini membuat pembahasan menjadi cepat dan efektif.
4. Memulai rapat tepat waktu.
Terkadang sebagai pemimpin rapat kita segan memulai rapat ketika anggota masih sedikit, disini perlu adanya leader will untuk mengubah kebiasaan yang ada, dengan memulai rapat tepat waktu berapa pun anggota yang telah ada. Dengan adanya kebisaan ini , lambat laun akan adanya willingness dari peserta rapat untuk selalu datang rapat tepat waktu.
5. Memanfaatkan media rapat secara efektif.
Media syuro penunjang minimal adalah papan tulis dan spidol yang memungkinkan peserta rapat mengikuti pembahasan secara tepat. Jika memungkinkan penggunaan media pendukung seperti laptop dan infokus untuk memudahkan penampilan data pendukung untuk bahan penunjang rapat. Bentuk media pada dasarnya bisa apa saja yang terpenting dapat memenuhi kebutuhan.
6. Hanya satu notulensi saja.
Pada sebuah syuro ada baiknya hanya satu orang saja yang ditugaskan sebagai pencatat, agar peserta lain dapat fokus pada pembahasan. Jika memungkinkan, rapat direkam saja dalam MP3, sehingga tidak ada satupun peserta rapat yang tidak fokus. Penggunaan perangkat penunjang seperti laptop bisa digunakan agar setelah rapat selesai seluruh peserta rapat meng-copy ­–data hasil notulensi rapat.
7. Dinamisasi rapat.
Seorang pemimpin rapat diharapkan dapat mendinamisasi rapat dengan memberikan kesempatan – ika perlu dipancing – peserta rapat agar bisa mengungkapkan pemikirannya.

8. Kesimpulan dan pembagian tugas. Setelah semua pembahasan selesai, seorang pemimpin rapat atau notulen diharapkan mengulang semua hasil pembahasan dan pembagian tugas yang perlu dilakukan setelah rapat ini. Dengan adanya penjelasan ulang dan jobdesk yang jelas, aplikasi dari rapat dapat berjalan dengan baik.

9. Ketegasan dari pemimpin rapat. Pada dasarnya tidak ada keputusan yang terbaik, akan tetapi yakinlah bahwa keputusan yang diambil melalui sebuah musyawarah adalah hasil yang dinilai Allah sebagai sebuah kebaikan, manusia ditugaskan untuk berpikir dan bertindak, sedangkan Allah menentukan hasilnya. Sebagai seorang pemimpin rapat diperlukan adanya ketegasan dan kebijakan untuk menentukan sebuah keputusan, ketegasan ini juga akan berdampak secara psikologis terhadap jalannya sebuah keputusan di lapangan pasca-rapat.

10. Serba aneka pendukung. Sebagai sebuah organisasi dakwah maka tentu ada faktor non-teknis yang diperlukan untuk mendukung rapat yang dilakukan. Dalam sebuah agenda dakwah maka keberkahan dari Allah adalah orientasi kita, dan selalu terisinya nilai samawi dalam diri menjadi sebuah kekuatan tersendiri bagi kita dalam menjalankan aktifitas dakwah.
a. Adanya ketentuan untuk melakukan beberapa aktifitas ibadah pendukung sebelum rapat, seperti himbauan untuk tilawah beberapa halam sebelum syuro, atau kewajiban untuk Qiyamulail sebelum syuro.
b. Syuro diisi oleh tausiyah singkat ( tidak lebih dari 15 % alokasi waktu rapat-untuk efektifitas ) yang diharapkan dapat menjadi motivasi dan pengisi ruhiyah peserta rapat.
c. Syuro dimulai dengan tilawah atau tasmi untuk memberikan penyegaran diri di awal syuro, dan syuro diakhir dengan do’a agar apa yang telah dibahas dan yang akan dilaksanakan mendapat kemudahan dari Allah

Secara umum pola pembahasan bisa seperti berikut :
1. Penyampaian masalah / agenda pembahasan
2. Pemaparan singkat data pendukung
3. Brainstorming analisis
4. Brainstorming solusi
5. Memilih alternatif solusi
6. Kesimpulan
7. Ketegasan dari pemimpin rapat.

Pada dasarnya tidak ada keputusan yang terbaik, akan tetapi yakinlah bahwa keputusan yang diambil melalui sebuah musyawarah adalah hasil yang dinilai Allah sebagai sebuah kebaikan, manusia ditugaskan untuk berpikir dan bertindak, sedangkan Allah menentukan hasilnya. Sebagai seorang pemimpin rapat diperlukan adanya ketegasan dan kebijakan untuk menentukan sebuah keputusan, ketegasan ini juga akan berdampak secara psikologis terhadap jalannya sebuah keputusan di lapangan pasca-rapat.

d. Mekanisme Syuro
1. Syuro dihadiri oleh minimal 50% personil dept./biro./panitia.
2. Agenda syuro harus jelas dan disosialisasikan minimal satu hari sebelumnya, kecuali agenda-agenda yang penting dan mendadak untuk segera direspon.
3. Agar syuro berjalan efektif, maka masing-masing anggota menyiapkan usulan, ide, gagasan ataupun solusi sesuai agenda syuro yang akan dibahas dan untuk dibawa ke forum.
4. Keputusan-keputusan yang dapat merubah sistem ataupun konsep serta hal-hal yang dianggap fundamental akan sah jika memenuhi kuorum 1/2n+1.
5. Ketidaksanggupan dalam menghadiri syuro tidak menjadi alasan untuk tidak berkontribusi. Kontribusi bisa diberikan dengan menitipkan pada anggota yang hadir. Dan menerima segala keputusan yang telah diambil dalam syuro.
6. Pengurus yang tidak hadir wajib berinisiatif menanyakan informasi mengenai syuro yang telah berlangsung, minimal mengenai:
 Waktu dan tempat syuro selanjutnya.
 Agenda-agenda syuro yang telah dibahas.
 Agenda-agenda syuro yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.
 Iqob apa yang harus diterima bagi mereka yang tidak hadir.
7. Bagi yang berhalangan hadir atau akan terlambat dalam mengikuti syuro, wajib memberitahukan kepada pimpinan syuro dalam tempo minimal 2 jam sebelum syuro. Setelah itu, dianggap tidak izin dan akan dikenai iqob.
8. Setiap syuro dilakukan pencatatan jurnal syuro sesuai dengan format:
1. Tempat, hari dan tanggal
2. Presensi
3. Jam dan durasi waktu pembahasan
4. Agenda
5. Pembahasan agenda
6. Kesimpulan
7. Tempat, jadwal dan agenda syuro selanjutnya
8. Sarana syuro yang mesti ada dan disiapkan: Hijab, Papan tulis , Spidol, Penghapus papan tulis,
9. Dalam pembahasan agenda syuro, mesti ditentukan pembatasan pembahasan.
10. Syuro harus memiliki output/hasil yang jelas Konseptual dan atau Operasional (untuk hasil berupa kesepakatan operasional, PJ-nya harus jelas)
11. Alur syuro:
Pembukaan :
a) Prolog (minimal basmalah dan shalawat)
b) Tilawah
c) Taushiyyah/Kultum


Pembahasan :
a) Penentuan agenda syuro (rencana agendaĆ usulan agendaĆ fiksasi agenda)
b) Skala prioritas pembahasan
1. Agenda mendesak (urgen) & penting
2. Agenda mendesak (urgen & kurang penting
3. Agenda penting & kurang mendesak
c) Pembahasan agenda point per point
1. Pendefinisian masalah
2. Brainstorming solusi
3. Penggodokan solusi
4. Pengambilan keputusan
5. Pembacaan ulang hasil keputusan
Penutup :
a) Kesimpulan syuro
b) Penertiban administrasi (presensi, iqob)
c) Ta’limat & I’lan (instruksi & informasi)
12. Penentuan iqab syuro diserahkan ke masing-masing Dept./Biro./Kepanitiaan.

Mekanisme tambahan (Biasanya dilakukan pada syuro perdana)
1. Mukaddimah
2. Tilawah Qur’an
3. Taujih / Tausyiah
4. Membuat notulensi syuro internal divisi
5. Membuat jaringan komunikasi standar. Jarkom ini akan dimanfaatkan untuk transfer informasi, media pengerahan massa
6. Membuat absensi setiap kali syuro
7. Melakukan mutaba’ah yaumiah
8. Melakukan pengawasan kerja anggotanya dan meneliti keadaan anggota yang mengalami kefuturan melalui lembar mutaba’ah yaumiyah
9. Melaporkan segala masalah yang terjadi kepada qiyadah di atasnya baik dalam syuro, forum silaturahim maupun di waktu-waktu senggang
10. Ketua divisi menghadiri syuro kadiv-kadiv 1x tiap bulan
11. Menginformasikan terlebih dahulu kepada BPH apabila akan mengadakan syuro. Karena BPH juga berusaha untuk mengikuti syuro dan mengetahui permasalahan yang terjadi di dalam pengurus internal divisi
12. Menyepakati membayar iuran infaq anggota pengurus tiap bulan

e. Mengoptimalkan kerja syuro
Perlu ada beberapa langkah-langkah yang dilakukan antara lain :
1. Tanamkan pemahaman tentang syuro yang baik kepada anggota syuro yang lain ingatkan bahwa ketika keputusan yang mereka hasilkan adalah keputusan kolektif yang tidak hanya berasal dari pendapat mereka saja tapi juga pendapat jamaah secara umum.]
2. Pilih pengurus yang peka. Sebaiknya anggota syuro yang dipilih tidak hanya orang-orang yang “gaul” saja tapi juga orang-orang yang memiliki kemauan membaca yang kuat demi terciptanya iklim diskusi ilmiah yang sehat dalam syuro itu sendiri.
3. Bumikan syuro tersebut kepada para jama’ah sehingga jama’ah merasa nyaman akan kehadirannya dan mereka bisa menyalurkan aspirasi secara bebas dan nyaman sudah bukan jamannya lagi ada “Invisible hand” seperti jaman represi dulu dan jama’ah juga bukanlah orang bodoh yang bisa ditipu dengan embel-embel doktrin sami’na wa atho’na karena untuk hal yang satu ini jama’ah pun mempunyai hak dalam menolak (kalau alasannya syar’i dan logis) seperti kasus Umar bin Khattab yang pernah berfatwa tentang pembatasan mahar namun ditolak oleh seorang wanita.
4. Sebaiknya diterapkan sisem reward and punishment dalam syuro itu sendiri maskudnya adalah apabila ternyata ada anggota yang tidak produktif dalam syuro tersebut jangan ragu-ragu untuk menggantikannya (setelah terlebih dahulu ditegur dan dinasehati) mengingat ini demi keberlangsungan dan keefektifan syuro itu sendiri dan keputusan orang yang akan menggantikannya juga harus keputusan kolektif bukan qiyadah.
5. Ingatkan sekali lagi pada para anggota syuro bahwa mereka bukanlah orang-orang istimewa diantara para jama’ah namun lebih pada penyaring aspirasi jama’ah untuk mengetahui kemana arah biduk perahu dakwah selanjutnya.
6. Evaluasi ini adalah langkah terpenting bagi sebuah syuro karena tanpa evaluasi tidak bisa diketahui apakah syuro tersebut telah berhasil atau tidak serta menjadi bahan bagi masukan bagi syuro selanjutnya.
Dengan adanya 6 langkah diatas diharapakan adanya introspeksi dan evaluasi bagi kita untuk mengetahui apakah syuro yang kita langsungkan berjalan efektif atau hanya menjadi beban saja bagi jama’ah.

f. Adab Syuro

Dakwah merupakan kewajiban utama dan pokok setiap muslim sebagaimana firman Allah SWT. “ ….dan suruhlah manusia mengerjakan amar ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar…” [QS. 31 : 17]
Perlu adanya pemahaman bagi setipa peserta syuro, di antaranya :
1. Harus ada keikhlasan dan nuansa spiritual yang kental sehingga setiap orang merasa bahwa pendapat-pendapatnya akan mempengaruhi kehidupan orang lain.
2. Harus ada semangat kebebasan dan kesetaraan yang memungkinkan setiap orang berpendapat tanpa merasa sungkan atau segan dengan seseorang yang lain.
3. Harus ada tradisi ilmiah yang kokoh, dimana kesantunan, rasionalitas, dan objektivitas, dan metodologi serta data empiris dijunjung tinggi.
4. Harus ada kelapangan dada yang memadai untuk dapat menampung berbagai perbedaan pendapat, sehingga keragaman menjadi sumber dinamika dan pertumbuhan, bukan malah sebagai sumber konflik dan perpecahan.
5. Harus ada manajemen waktu yang efektif untuk menjamin bahwa setiap masalah mendapat jatah waktu yang layak untuk pembahasan, dan setiap orang mendapat kesempatan yang cukup untuk menyampaikan pikiran-pikirannya.
6. Harus ada semangat instrospeksi yang cukup untuk menjamin kita tetap objektif memandang diri kita sendiri, tidak terjerumus dalam pengkambinghitaman, fitnah, dan konflik antarindividu.
7. Harus ada sikap natural dan wajar dalam memandang kesalahan-kesalahan yang kita lakukan sendiri. Kita tidak perlu merasa bersalah secara berlebihan. Merasa bersalah itu penting, tapi berlebihan dalam perasaan bersalah juga negatif.
8. Harus ada sikap proporsional dalam tafsir konspirasi, sehingga kita tidak perlu membuat musuh kelihatan terlalu digdaya karena selalu sukses dalam konspirasinya atau membuat kita bersikap defensif karena terlalu berhati-hati.
9. Harus ada pandangan masa depan yang visioner karena keputusan-keputusan kita hari ini merupakan inpur yang outputnya akan muncul beberapa tahun kemudian. Kita akan membayar harga terlalu mahal jika tidak meletakkan persoalan-persoalan strategis kita hari ini dalam kerangka visi masa depan yang jelas dan kuat.

Adab Syuro :
1. Kesediaan untuk memberikan kontribusi pendapat
2. Dilakukan dengan motivasi mencari Ridho Allah SWT
3. Mentaati keputusan syuro tanpa kepentingan pribadi (QS Assyuro 42 : 48 ”dan bagi orang-orang yang menerima (mematuhi) Rabb Nya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka diputuskan…” )
4. Mengutamakan mufakat sebelum voting (konsensus)
5. Tidak mendominasi pembicaraan
6. Memberikan kesempatan yang cukup untuk menganalisa persoalan
7. Lapang dada dan bersabar terhadap perbedaan yang terjadi
8. Tidak menyembunyikan dat/fakta yang bertentangan dengan pendapatnya
9. dipimpin oleh orang yang adil dan tidak berpihak
10. meyakini bahwa kesalahan hasil syuro lebih baik daripada egoisme pribadi

 Semua divisi berkomitmen dan bersungguh-sungguh untuk menunaikan kewajibannya, sehingga output dakwah bisa maksimal
 Kewajiban-kewajiban di atas dimaksudkan untuk memudahkan kerja pengurus dan mempersiapkan sedini mungkin laporan pertanggung jawaban di akhir kepengurusan
 Dakwah membutuhkan kekokohan ma’na da’awiyah, jasadiah, tsaqofah dan profesionalisme


g. Adab Berbicara, Mendengar, dan Berdebat dalam Islam Tsaqafah Islamiyah

Adab Berbicara
1. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4/114, dan QS 23/3), dalam hadits nabi SAW disebutkan: “Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim)
2. Berbicara harus jelas dan benar, sebagaimana dalam hadits Aisyah ra: “Bahwasanya perkataan rasuluLLAH SAW itu selalu jelas sehingga bias difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud)
3. Seimbang dan menjauhi bertele-tele, berdasarkan sabda nabi SAW: “Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak omong dan berlagak dalam berbicara.” Maka dikatakan: Wahai rasuluLLAH kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi SAW: “Orang2 yang sombong.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya)
4. Menghindari banyak berbicara, karena kuatir membosankan yang mendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa’il: Adalah Ibnu Mas’ud ra senantiasa mengajari kami setiap hari Kamis, maka berkata seorang lelaki: Wahai abu AbduRRAHMAN (gelar Ibnu Mas’ud)! Seandainya anda mau mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas’ud : Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya aku kuatir membosankan kalian, karena akupun pernah meminta yang demikian pada nabi SAW dan beliau menjawab kuatir membosankan kami (HR Muttafaq ‘alaih)
5. Mengulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan, dari Anas ra bahwa adalah nabi SAW jika berbicara maka beliau SAW mengulanginya 3 kali sehingga semua yang mendengarkannya menjadi faham, dan apabila beliau SAW mendatangi rumah seseorang maka beliau SAW pun mengucapkan salam 3 kali. (HR Bukhari)
6. Menghindari mengucapkan yang bathil, berdasarkan hadits nabi SAW: “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai ALLAH SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh ALLAH SWT keridhoan-NYA bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai ALLAH SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka ALLAH SWT mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat.” (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)
7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan hadits nabi SAW: “Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)
8. Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi SAW: “Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah ditengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.” (HR Abu Daud)
9. Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits nabi SAW: “Bukanlah seorang mu’min jika suka mencela, mela’nat dan berkata-kata keji.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)
10. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi SAW: “Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi ALLAH SWT di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa.” (HR Bukhari)
11. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits nabi SAW: “Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)
12. Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi SAW: “Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.” (HR Bukhari)
13. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits nabi SAW: “Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara.” (HR Muttafaq ‘alaih)
14. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits nabi SAW dari AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari bapaknya berkata: Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata nabi SAW: “Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!” (2 kali), lalu kata beliau SAW: “Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: Cukuplah si fulan, semoga ALLAH mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpun disisi ALLAH, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya.” (HR Muttafaq ‘alaih dan ini adalah lafzh Muslim)
15. Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji. (HR Muslim)

Adab Mendengar
1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)
2. Tidak memotong/memutus pembicaraan
3. Menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak memalingkan wajah darinya sepanjang sesuai dengan syariat (bukan berbicara dengan lawan jenis)
4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan perkataan dosa.
5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu dari yang berbicara

Adab Menolak / Tidak Setuju
1. Ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat perhatian
2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal
3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikan suara
4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih
5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit
6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah
7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat
8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi
9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya
10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati.

Ingat!!! Syuro’ hanya bagian kecil penopang dakwah. Terkadang yang terjadi di lapangan adalah rajin melakukan koordinasi, padahal saat itulah seharusnya beraksi. Dakwah tidak bisa dibangun dengan berlelah-lelah dalam majelis syuro’!
Orientasikan kembali syuro–syuro’ kita yang dijalani selama ini untuk mendapat ridho Allah semata. Allah ghoyatuna…..Karena Alloh adalah tujuan akhir kita. Jangan kita terjebak dengan tujuan-tujuan “antara” yang ingin kita capai, seperti suksesnya suatu kegiatan misalnya. Boleh jadi keberhasilan-keberhasilan yang akan kita capai adalah baik tapi itu dalam sudut pandang kita, tapi bagaimana dengan ridho Allah?!! Oleh karena itu, minimal coba kembali menata niatan kita setiap kali akan syuro’. Dan mencoba berusaha dengan jalan yang benar-benar diridhoi oleh Allah. Dan jangan sampai terkena sindromnya
Mendorong kita untuk terjun dengan da’wah ini…..
Da’wah yang tenang, namun lebih gemuruh
Dari tiupan angin topan yang menderu…..
Da’wah yang rendah hati, namun lebih perkasa
Dari keangkuhan gunung yang menjulang…
Da’wah yang terbatas, namun jangkauannya
Lebih luas dari belahan bumi seluruhnya..
[Majmu’ah rasail, hal 141]

Wamaa taufiiqi illaa biLLAAH, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.

Ribzah Nur Hilmi



1 komentar:

sahabathijau mengatakan...

minta izin copy