Senin, 11 Mei 2009

Salah Tulis Lagi

Kali ini aku harus benar-benar lebih teliti, dan tak ingin kesalahan besar itu terulang lagi. Kesalahan yang membuatku tak bisa tenang berminggu-minggu, layaknya caleg yang tersingkir dalam pemilihan umum kemarin. Apalagi setelah ku dengar saingan kali ini tidak seberat tahun lalu. Makanya kau bertekad huruf demi huruf harus kutulis sesuai kaidah yang tepat. Dengan satu prinsip “seksama dan siap dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”. Tiga besar harus bisa ku raih.
Aku ingin prestasiku tiga tahun yang lalu terulang lagi. Saat karyaku dapat membuat ibu tersenyum bangga, juga orang-orang di kampungku. Karena aku mampu mengharumkan nama tanah kelahiranku. Meskipun waktu itu aku hanya berhasil menempati urutan ke enam saja. Tapi itu tidak menjadi persoalan bagiku. Setidaknya, dengan prestasiku itu bisa menambah point untuk posisi kontingenku.
Sepertinya dengan persiapanku kali ini, aku siap mengharumkan nama kampungku untuk ke dua kalinya. Kuas, cat, pilox, cleer, mal, kapur tulis, pensil, amplas, kain lap, serta ember kecil sudah ku packing dalam tool-boxku. Ditambah kesepakatanku dengan akang rasyid sudah mengerucut. Ia kubebankan untuk mengecek tulisanku, kalau-kalau ada salah kaidah atau tertinggal hurufnya dalam penulisan nanti. Sebab satu huruf saja tertinggal, akan terbuang percuma waktu yang dihabiskan selama tujuh jam itu. Pekerjaanku tidak akan dinilai sedikit pun. Itu artinya, hari-hari ke depan adalah sesuatu yang menyakitkan.
“Jangan lupa kang nanti tolong dicek tulisanku! siapa tau ada huruf yang tertinggal lagi,” pesanku lagi pada kang Rasyid sebelum menuju ke arena lomba.
Tapi sebenarnya aku masih memang kurang pe-de dengan kemampuanku dalam menulis tiap jenis-jenis huruf khat sesuai dengan kaidah yang tepat. Hal inilah terkadang yang membuatku lambat dalam memanfaatkan waktu selama tujuh jam itu. Aku harus membolak-balik dulu tiap lembar buku panduan kaligrafi karya ustadz Misbahul Munir atau ustadz Didin, pengelola Lembaga Kaligrafi Alqur’an atau LEMKA yang berpusat di Sukabumi itu. Tentu ini sangat menyita banyak waktu. Ini semua disebabkan aku jarang latihan. Bagiku latihan sendiri adalah hal yeng paling membosankan. Hari ini semangat, besoknya semangat itu ikut larut dalam buaian malam panjangku.
“Males ah”. Seperti itu kadang yang terucap.
Dua jam sudah berlalu, papan triplek dengan ukuran 80x120 cm sudah merata dengan cat merek mowilex yang kusapu dengan kuas lembutku. Kuas itu sengaja kubeli seminggu yang lalu di toko TOBA seharga 25 ribu di kotaku. Sepintas terlihat warna cokelat yang lebih mendominasi triplekku. Ada sedikit gradasi dan motif sulur pada setiap tepi, membuat tampilannya terlihat lebih asri dan menarik. Dan pada bagian bawah ku buat motif kayu ditambah motif laba-laba pada setiap sudutnya.
Aku melirik kesamping kanan. Tidak jauh dari posisiku ada wajah baru, kira-kira sebaya denganku. Terlihat rapi dalam goresan kuasnya. Ia kerjakan dengan santai sambil menikmati mp3 lagunya Pinkan Mambo yang suaranya sengau itu.
“Aku mentari tapi tak menghangatkanmu
Aku pelangi tak bisa memberi warna
Aku rembulan tak menerangi malam mu
Aku lah bintang yang hilang ditelan kegelapan
Selalu itu yang kau ucapkan padaku
Sebagai kekasih Yang tak di anggap
aku hanya bisa mencoba mengalah
Menahan setiap amarah
Sebagai kekasih yang tak dianggap
Aku hanya bs mencoba bertahan
Ku yakin kau kan berubah”.
“Apanya yang berubah? Nggak tau konsentrasiku kacau apa?,” batinku agak kesal. Aku memang nggak suka dengan aliran lagu seperti itu. Bagiku musik itu harus jelas orientasinya. Sebab orientasi yang sejati adalah orientasi akhirat saja.
“Kepada peserta kami ingatkan waktu untuk golongan dekorasi tinggal dua jam lagi. Dan kepada para pengunjung, diharapkan tidak terlalu dekat dengan peserta. Sebab bau keringat anda dapat mengurangi konsentrasi peserta. Terima kasih,” terdengar suara panitia dari pengeras suara.
“APA?” Ucapku tersentak kaget,
Aku semakin tidak karuan lagi, bukan karena bau keringat pengunjung. Tapi dengan waktu yang tersisa itu aku tidak yakin bisa menyelesaikan kaligrafiku. Pikiranku bertambah kacau saat lawanku hampir selesai. Dan tulisanku bertambah kacau. Buku-buku panduan khat semua aku ketepikan jauh-jauh. Sebisanya aku goreskan ayat-ayat Alqur’an itu dengan kuas semampuku.
Waktu pun semakin menipis. Aku tidak mampu berbuat banyak lagi. Tanganku yang mulai bergetar seperti orang ketakutan. Tanganku tak mampu lagi membuat hiasan sesempurna seperti yang kuharapkan. Botol cat yang ku pegang di tangan kiriku tiba-tiba jatuh menimpa bagian tepi papan. Untung saja catnya tidak muncrat ke bagian dalam.
Tinggal sedikit lagi tulisanku selesai. Dengan sisa-sisa tenaga aku coba menyiapkan. Semakin rumit saja, butuh ketelitian, butuh ketekunan. Maklum saja dengan energi dari sarapan tadi, staminaku agak menurun. Aku belum sempat makan siang atau sekedar mencicipi kue yang disediakan oleh panitia. Meskipun peserta bebas memanfaatkan waktu yang ada.
***
Itu cerita dua tahun yang lalu, saat aku mau serius menekuni kaligrafi. Aku berkeinginan menggantukan kuas saja. Sebab aku lebih banyak gagal dalam setiap kali lomba. Biar lebih nyaman dan fokus mewujudkan obsesiku yang lain. Hasil perlombaan terakhir itu, makin menambah rasa kekecewaan saja. Ya! Hanya karena salah tulis. Atau kau harus banyak-banyak kontemplasi dari semua yang ku alami. Benarkah orientasiku hanya materi, dan bukan akhirat? Atau jangan-jangan orientasiku seperti lagu itu.
Aku memang bukan pemenang saat ini. Tapi aku akan berusaha sebaik-baiknya jika ada peluang nantinya, meskipun kemuanku untuk menjadi kaligrafer hebat tidak terwujud. Dalam hati aku berharap, aku bertekad ingin jadi penulis saja. Tapi, itu pun kalau tidak salah tulis lagi. Memang salah tulis suatu yang menakutkan. Dan dari semua itu bisa kupahami, bahwa segalanya butuh ketekunan.
“Ya.. 3K, ketekunan..ketekunan..dan ketekunan,” ucapku pelan, sambil melihat langit-langit kamarku, yang ada tulisan 10 Mei. Lalu semakin lama terlihat redup oleh kedua mataku. Aku terbuai dengan mimpiku, Aku lupa dengan cat warna cokelatku, lupa dengan kuas kegagalanku.
Teratai, 10 Mei 2009
www.geliatpena.blogspot.com




0 komentar: