Minggu, 10 Mei 2009

Malam menyongsong Kemenangan

Malam itu, suasana mendadak mencekam. Cahaya bulan yang semula menerangi sudut-sudut keremangan, mendadak gelap tertutupi gumpalan awan hitam yang pekat dari arah barat. Sesekali wajah-wajah kami terlihat dengan jelas begitu ada kilat yang menyambar dilangit, dan suasana ditambah mencekam manakala butiran-butiran air hujan menembus kain tipis baju kami
Satu buah matras hitam seukuran sajadah, kami jadikan naungan untuk menghindari badan kami dari kebasahan. Lututku tak terasa mulai bergetar kedinginan, dingin menembus kulit hingga di tulang. Sementara jaket parasut yang kupakai tidak mampu lagi menahan rembesan air hujan yang jatuh kian deras. Tidak ada tempat kami berlindung dari sekumpulan butiran air yang dingin, kecuali selembar matras seukuran sajadah itu. Semampunya kami menjaga agar badan kami tidak kebasahan.
Dalam pikiranku, aku pasrah apa yang akan menimpa kepadaku setelah malam itu. Sebab tiga hari yang lalu, aku hanya bisa terbaring lemah di flat kamarku. Selama itu badanku sakit-sakit, kadang suhu badanku naik dan jika subuh hari badanku menggigil kedinginan. Sampai-sampai, tiga lembar selimut ku bentangkan untuk menghangatkan badanku. Meskipun dengan kondisi malam yang seperti itu, aku berharap tidak akan terjadi apa-apa dengan tubuhku.
Deru suara motor dari jalan yang mengarah ke kota tidak jauh dari lokasi kami muqoyyam, sejak hujan turun tadi tidak terdengar lagi. Hanya sesekali terdengar deru knalpot truk fuso yang sesekali melintas di jalan yang tidak jauh dari lokai tempat kami moqoyyam. Meskipun tidak jauh dari jalan raya, tempat itu sepi tidak ada bangunan rumah yang tegak di sana. Sekelilingnya hanya rimbun akasia dengan
Sementara itu, adik-adik peserta muqoyyam sudah terlelap menikmati tidur dan dinginnya udara malam itu dua jam yang lalu ditenda-tenda meraka. Kira-kira lima menit lagi mereka akan dibangunkan satu persatu. Segala perlengkapan tang dibutuhkan untuk acara sebentar lagi sudah siap.
Salah seorang di antara kami dengan mulut komat-kamit menbacakan mantera… hehehe. (belum selesai pembaca..)[Muflih Helmi]



1 komentar:

Ribzah mengatakan...

cek ceke