Kamis, 28 Mei 2009

Lupa Syair

Beberapa hari yang lalu, pas aku dalam perjalan pulang, kira-kira dipertengahan jalan. Waktu itu pas samapi pasar pagi Arengka, seorang pemuda dengan gitarnya yang sudah mulai lusuh, merek Kapok, masuk ke Bus yang kami tumpangi. Setelah berbicara sejeank dengan sopir, Orang itu nyanyi gitu…Eh lagunya lucu..kayak orang bari belajar main gitar gitu..kirain lagu ciptaannya. Eh rupanya lagunya Kuburan…begini liriknya :Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya

Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya

Ingat, ingat ingat ingat, cuman ingat kuncinya

Ingat, aku ingat ingat, cuman ingat kuncinya


[**]

C A minor D minor ke G ke

C lagi A minor D minor ke G ke

C lagi A minor D minor ke G ke

C lagi


Back to [*] [**]


C A minor D minor Ke G ke

C lagi A minor Demi moore ke C

Ke C lagi D minor ke G ke C lagi A minor D minor ke G ke C lagi A minor D minor Ke G Ke C lagi A minor D minor ke G ke C lagi


Nah abis dari C kita kemana nih,

Sudahlah kita ke C lagi saja (ke C lagi) jangan pusing-pusing

Tau nih kayaknya ke C lagi aja (ke C lagi) jangan ngikutin teruslah

Berantakan ini yang dapet (ke C lagi)

Ey yang bener udahlah ganti ini

Ke C lagi ke c lagi (ke C minoor)



Lirik lagu Kuburan - Lupa-Lupa Ingat ini dipersembahkan oleh LirikLaguIndonesia.Net. Kunjungi DownloadLaguIndonesia.Net untuk download MP3 Kuburan - Lupa-Lupa Ingat.





Rabu, 20 Mei 2009

Semua Ada Hikmahnya

Catatan Geliat Pena 1
Ini adalah catatan pertama di blog kesayanganku ini. Blog yang nggak bisa dikasi komentar. Padahal kemaren udah dicek grasak-grusuk, tapi nggak tau pa penyebabnya. Tapi nggak pa lah. Redaksi tetap menyediakan shoutbox untuk kasi komentar, meski terbatas.
Jadi begini, aku adalah salah satu pemenang dari MTQ Tk. Mahasiswa di UR (Universitas Riau) – dulunya Unri – yaitu cabang khattil Qur’an. Kira-kira diadakan pada awal april kemaren..em kalau nggak salah tanggal 1-4 April 2009. Jadi pemenang dari MTQ tersebut berhak mewakili UR untuk mengikuti MTQ Mahasiswa Tk. Regional Riau. Meskipun aku sudah berencana untuk “gantung kuas” tapi karena nggak ada yang lain aku ikutan juga. Meski panitia nggak ada dana. Jadi cuma capek-capek ngerjain khat yang 7 jam itu. Tapi mudah-mudahan ada hikmahnya.
Senin, 18 Mei 2009 aku dengan Ramli (Kabid. Humas Ar-royyan) hadir dalam technical meeting untuk MTQ itu, di masjd Alfida’ UMRI. Panitia mengingatkan lagi kepada kami bahwa pelaksanaan MTQ ini mulai dari tanggal 19-20 Mei 2009 di UMRI.
Tapi dari hasil TM itu, satu yang membuatku kecewa. Mau tau? (yup) “peserta harus membawa teri (emang mau digoreng?) eh triplek. Sendiri-sendiri, nafsi-nafsi” dan lombanya hari Rabu (20/5) jam 08.00 s/d selesai, biasanya 7 jam. (emang panitia nggak da dana? Kok berani-beraninya menaja kegiatan ini? Apakah nanti malah nggak mendzolimi peserta, padahal peserta nggak dari Pekanbaru ja. batinku). Aku jadi nggak semangat mau ikut.
Malam setelah itu aku harus nyiapkan kliping maatkul aneka tanaman pangan yang ditugaskan oleh dosenku, Ibu Sri yosefa. Sementara lay-outan B-Arku belum klar, kemaren siangnya dapat info dari amir “DANA BELUM ADA, PAKE DANA ANTUM JA DULU” “ya lah akh, jawabku”. Aku harus memutar otak 360 derajat. Gimana bisa dapat uang untuk cetak. Sampai malam sebelum aku bertanding belum juga dapat dana.
Aku coba tanya ke Novi (sekretaris B-ar) apakah ada dana iklan yang sudah masuk, tapi beliau kurang tau. Gimana caranya, aku sms ke mbk Sugi “Dana untuk cetak belum ada” ..tidak ada balasan, mungkin pulsanya habis. Atau hapeku kumat lagi nggak mau nerima sms.
Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan nanti. Sambil mikirkan tentang dana. Aku coba pastikan ikut apa nggak besok lomba itu. Soalnya teri eh teri lagi, tripleknya belum dapat. Cat belum diambil di kampus, mal belum dibuat, kliping belum siap, perut belum diisi.
Akhirnya aku putuskan untuk TIDAK IKUT MTQ, nanti kalau Lia tanya aku bilang apa? “Ah, bilang ja triplek nggak ada”. Tapi aku juga nggak yakin dengan keputusanku. Jam 9 malam aku ma Jamal jemput toolboxku yang biasa aku pakai untuk lomba.
Sampai dikampus rupanya mati lampu, aku jadi kwatir kalau sekre terkunci dan Basuki nggak ada di Musholla. Mudah-mudahan ada diluar.
Alhamdulillah….rupanya kotak itu kedinginan diteras musholla. “cabut yuk..besok mau lomba” (yup). Sampai dirumah kira-kira jam 10. Eka (kalau biasanya aku manggil kakak, karena ia satu-satunya kakak perempuan di keluargaku) sengaja dari tadi siang ku sms untuk mengaduk cat. Soalnya klipingku malam itu juga harus selesai.
Sekitar jam 00.00 kliping selesai. Cat juga secukupnya sudah diaduk ma kakak. 1 jam sebelum tidur aku sempatkan menambah layoutan B-Ar, sebab sore itu Novi ngirimkan bahan rubrik TOKOH.
Sekitar jam 04.30 aku bangun. Setelah shalat subuh, nggak sadar tertidur. Jam 09 aku terbangun karena ada dering hapeku, rupanya Fahmi. “Lombanya udah mau dimulai,” “Jemput ke tempat mas ya, tapi triplek belum ada Mi”
Secepat kilat aku berpikir gimana mau dapatkan triplek. Baru kali ini lomba khat dadakan kayak gini. “Yuk ke tempat perabot sana” rupanya nggak ada. “Beli ja di Toko bangunan” bal bla bla bla 38 ribu semuanya.
Jam 10 sampai di arena. Huuuu…mal nggak ada. Ah pake cara biasa ja. Nggak usah pake motif yang rumit.
Kebetulan ada kakak, dia ku tugaskan untuk mengantar klipingku ke kampus. “Antar ja nanti di ruang sawit Kak, tau kan?!”
Satu jam, dua jam, tiga jam, empat jam, lima jam, enam jam, dan waktunya tinggal 15 menit, kata panitia. Hup hup hup selesai juga. LUAR BIASA aku bisa selesaikan dalam waktu 6 jam lebih beberapa menit lah. Tapi sayang, aku belum sempat menyiapkan hiasan semuanya. Tapi nggak pa lah…setidaknya juara 3 ditangan.
Sore itu juga pengumuman, “juara 3 khatiil quran jatuh kepada undian 02 atas nama MUFLIH HELMI dari Univeristas Riau”. Emang aku juga nggak yakin bisa juara satu. Tapi aku udah iktiyar.
Hari ini aku bahagia meski nggak bisa lolos untuk MTQ di Unsiyah Aceh. Tapi ALHAMDULILLA aku dapat tiket untuk ikut MTQ DI ROHUL. Sekitar setengah jam sebelum lomba Harfaini menawarkan ke aku untuk ikut MTQ di kecamatannya. Apa jadinya kalau aku hanya berdiam diri saja. Seperti teman ku di sana, kerjanya natapin laptop ja….
Mudah-mudahan nanti ada hikmah yang lain yang kutuai.

Pekanbaru, 19 Mei 2009




Selasa, 19 Mei 2009

Pengadilan Rakyat

Cerpen Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku.""Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***

Senin, 11 Mei 2009

Salah Tulis Lagi

Kali ini aku harus benar-benar lebih teliti, dan tak ingin kesalahan besar itu terulang lagi. Kesalahan yang membuatku tak bisa tenang berminggu-minggu, layaknya caleg yang tersingkir dalam pemilihan umum kemarin. Apalagi setelah ku dengar saingan kali ini tidak seberat tahun lalu. Makanya kau bertekad huruf demi huruf harus kutulis sesuai kaidah yang tepat. Dengan satu prinsip “seksama dan siap dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”. Tiga besar harus bisa ku raih.
Aku ingin prestasiku tiga tahun yang lalu terulang lagi. Saat karyaku dapat membuat ibu tersenyum bangga, juga orang-orang di kampungku. Karena aku mampu mengharumkan nama tanah kelahiranku. Meskipun waktu itu aku hanya berhasil menempati urutan ke enam saja. Tapi itu tidak menjadi persoalan bagiku. Setidaknya, dengan prestasiku itu bisa menambah point untuk posisi kontingenku.
Sepertinya dengan persiapanku kali ini, aku siap mengharumkan nama kampungku untuk ke dua kalinya. Kuas, cat, pilox, cleer, mal, kapur tulis, pensil, amplas, kain lap, serta ember kecil sudah ku packing dalam tool-boxku. Ditambah kesepakatanku dengan akang rasyid sudah mengerucut. Ia kubebankan untuk mengecek tulisanku, kalau-kalau ada salah kaidah atau tertinggal hurufnya dalam penulisan nanti. Sebab satu huruf saja tertinggal, akan terbuang percuma waktu yang dihabiskan selama tujuh jam itu. Pekerjaanku tidak akan dinilai sedikit pun. Itu artinya, hari-hari ke depan adalah sesuatu yang menyakitkan.
“Jangan lupa kang nanti tolong dicek tulisanku! siapa tau ada huruf yang tertinggal lagi,” pesanku lagi pada kang Rasyid sebelum menuju ke arena lomba.
Tapi sebenarnya aku masih memang kurang pe-de dengan kemampuanku dalam menulis tiap jenis-jenis huruf khat sesuai dengan kaidah yang tepat. Hal inilah terkadang yang membuatku lambat dalam memanfaatkan waktu selama tujuh jam itu. Aku harus membolak-balik dulu tiap lembar buku panduan kaligrafi karya ustadz Misbahul Munir atau ustadz Didin, pengelola Lembaga Kaligrafi Alqur’an atau LEMKA yang berpusat di Sukabumi itu. Tentu ini sangat menyita banyak waktu. Ini semua disebabkan aku jarang latihan. Bagiku latihan sendiri adalah hal yeng paling membosankan. Hari ini semangat, besoknya semangat itu ikut larut dalam buaian malam panjangku.
“Males ah”. Seperti itu kadang yang terucap.
Dua jam sudah berlalu, papan triplek dengan ukuran 80x120 cm sudah merata dengan cat merek mowilex yang kusapu dengan kuas lembutku. Kuas itu sengaja kubeli seminggu yang lalu di toko TOBA seharga 25 ribu di kotaku. Sepintas terlihat warna cokelat yang lebih mendominasi triplekku. Ada sedikit gradasi dan motif sulur pada setiap tepi, membuat tampilannya terlihat lebih asri dan menarik. Dan pada bagian bawah ku buat motif kayu ditambah motif laba-laba pada setiap sudutnya.
Aku melirik kesamping kanan. Tidak jauh dari posisiku ada wajah baru, kira-kira sebaya denganku. Terlihat rapi dalam goresan kuasnya. Ia kerjakan dengan santai sambil menikmati mp3 lagunya Pinkan Mambo yang suaranya sengau itu.
“Aku mentari tapi tak menghangatkanmu
Aku pelangi tak bisa memberi warna
Aku rembulan tak menerangi malam mu
Aku lah bintang yang hilang ditelan kegelapan
Selalu itu yang kau ucapkan padaku
Sebagai kekasih Yang tak di anggap
aku hanya bisa mencoba mengalah
Menahan setiap amarah
Sebagai kekasih yang tak dianggap
Aku hanya bs mencoba bertahan
Ku yakin kau kan berubah”.
“Apanya yang berubah? Nggak tau konsentrasiku kacau apa?,” batinku agak kesal. Aku memang nggak suka dengan aliran lagu seperti itu. Bagiku musik itu harus jelas orientasinya. Sebab orientasi yang sejati adalah orientasi akhirat saja.
“Kepada peserta kami ingatkan waktu untuk golongan dekorasi tinggal dua jam lagi. Dan kepada para pengunjung, diharapkan tidak terlalu dekat dengan peserta. Sebab bau keringat anda dapat mengurangi konsentrasi peserta. Terima kasih,” terdengar suara panitia dari pengeras suara.
“APA?” Ucapku tersentak kaget,
Aku semakin tidak karuan lagi, bukan karena bau keringat pengunjung. Tapi dengan waktu yang tersisa itu aku tidak yakin bisa menyelesaikan kaligrafiku. Pikiranku bertambah kacau saat lawanku hampir selesai. Dan tulisanku bertambah kacau. Buku-buku panduan khat semua aku ketepikan jauh-jauh. Sebisanya aku goreskan ayat-ayat Alqur’an itu dengan kuas semampuku.
Waktu pun semakin menipis. Aku tidak mampu berbuat banyak lagi. Tanganku yang mulai bergetar seperti orang ketakutan. Tanganku tak mampu lagi membuat hiasan sesempurna seperti yang kuharapkan. Botol cat yang ku pegang di tangan kiriku tiba-tiba jatuh menimpa bagian tepi papan. Untung saja catnya tidak muncrat ke bagian dalam.
Tinggal sedikit lagi tulisanku selesai. Dengan sisa-sisa tenaga aku coba menyiapkan. Semakin rumit saja, butuh ketelitian, butuh ketekunan. Maklum saja dengan energi dari sarapan tadi, staminaku agak menurun. Aku belum sempat makan siang atau sekedar mencicipi kue yang disediakan oleh panitia. Meskipun peserta bebas memanfaatkan waktu yang ada.
***
Itu cerita dua tahun yang lalu, saat aku mau serius menekuni kaligrafi. Aku berkeinginan menggantukan kuas saja. Sebab aku lebih banyak gagal dalam setiap kali lomba. Biar lebih nyaman dan fokus mewujudkan obsesiku yang lain. Hasil perlombaan terakhir itu, makin menambah rasa kekecewaan saja. Ya! Hanya karena salah tulis. Atau kau harus banyak-banyak kontemplasi dari semua yang ku alami. Benarkah orientasiku hanya materi, dan bukan akhirat? Atau jangan-jangan orientasiku seperti lagu itu.
Aku memang bukan pemenang saat ini. Tapi aku akan berusaha sebaik-baiknya jika ada peluang nantinya, meskipun kemuanku untuk menjadi kaligrafer hebat tidak terwujud. Dalam hati aku berharap, aku bertekad ingin jadi penulis saja. Tapi, itu pun kalau tidak salah tulis lagi. Memang salah tulis suatu yang menakutkan. Dan dari semua itu bisa kupahami, bahwa segalanya butuh ketekunan.
“Ya.. 3K, ketekunan..ketekunan..dan ketekunan,” ucapku pelan, sambil melihat langit-langit kamarku, yang ada tulisan 10 Mei. Lalu semakin lama terlihat redup oleh kedua mataku. Aku terbuai dengan mimpiku, Aku lupa dengan cat warna cokelatku, lupa dengan kuas kegagalanku.
Teratai, 10 Mei 2009
www.geliatpena.blogspot.com




Minggu, 10 Mei 2009

Malam menyongsong Kemenangan

Malam itu, suasana mendadak mencekam. Cahaya bulan yang semula menerangi sudut-sudut keremangan, mendadak gelap tertutupi gumpalan awan hitam yang pekat dari arah barat. Sesekali wajah-wajah kami terlihat dengan jelas begitu ada kilat yang menyambar dilangit, dan suasana ditambah mencekam manakala butiran-butiran air hujan menembus kain tipis baju kami
Satu buah matras hitam seukuran sajadah, kami jadikan naungan untuk menghindari badan kami dari kebasahan. Lututku tak terasa mulai bergetar kedinginan, dingin menembus kulit hingga di tulang. Sementara jaket parasut yang kupakai tidak mampu lagi menahan rembesan air hujan yang jatuh kian deras. Tidak ada tempat kami berlindung dari sekumpulan butiran air yang dingin, kecuali selembar matras seukuran sajadah itu. Semampunya kami menjaga agar badan kami tidak kebasahan.
Dalam pikiranku, aku pasrah apa yang akan menimpa kepadaku setelah malam itu. Sebab tiga hari yang lalu, aku hanya bisa terbaring lemah di flat kamarku. Selama itu badanku sakit-sakit, kadang suhu badanku naik dan jika subuh hari badanku menggigil kedinginan. Sampai-sampai, tiga lembar selimut ku bentangkan untuk menghangatkan badanku. Meskipun dengan kondisi malam yang seperti itu, aku berharap tidak akan terjadi apa-apa dengan tubuhku.
Deru suara motor dari jalan yang mengarah ke kota tidak jauh dari lokasi kami muqoyyam, sejak hujan turun tadi tidak terdengar lagi. Hanya sesekali terdengar deru knalpot truk fuso yang sesekali melintas di jalan yang tidak jauh dari lokai tempat kami moqoyyam. Meskipun tidak jauh dari jalan raya, tempat itu sepi tidak ada bangunan rumah yang tegak di sana. Sekelilingnya hanya rimbun akasia dengan
Sementara itu, adik-adik peserta muqoyyam sudah terlelap menikmati tidur dan dinginnya udara malam itu dua jam yang lalu ditenda-tenda meraka. Kira-kira lima menit lagi mereka akan dibangunkan satu persatu. Segala perlengkapan tang dibutuhkan untuk acara sebentar lagi sudah siap.
Salah seorang di antara kami dengan mulut komat-kamit menbacakan mantera… hehehe. (belum selesai pembaca..)[Muflih Helmi]



Senin, 04 Mei 2009

Hanya Pada-Mu

Allahu Allah ampunilah kami
Pimpinlah kami ke jalan yang Engkau redhai
Hamba yang lemah dengan dunia
Kurniakanlah taufiq hidayah menghadapinya

Hanya pada-Mu kami serahkan
Tiap sesuatu Tuhan kuasa menentukan
Dengan ucapan Alhamdulillah
Kami bersyukur kerana beriman
Kehidupan ini penuh ujian
Nikmat dunia yang mengasyikkan melalaikan
Selamatkanlah agama kami
Peliharalah amalan kami iman kami
Dari duniawi
Allahu Allah

Lagu : Kamal Halim
Lirik : Kamal Halim
Solo : Hairul Anwar Ali
Hakcipta : Marzuq Prod.

Nasyid ini mengingatkanku kepada murobbiku. Malam itu kami sadar bahwa beliau penuh kecemasan. Tapi kami yakin tidak akan ada terjadi apa-apa dengan beliau. Malam kemarin, Ahad (3/4/2009) kami bersama innovanya melaju ke tempat saudara kami yang lebih dahulu menyempurnakan setengah ad-din ini. Malam itu kami sangat bahagia meskipun diluar hujan. Selama kami liqo' hanya dua kali kami berkesempatan satu mobil dengan beliau. Semoga Allah tetap menyatukan hati-hati kami. Amien