Minggu, 26 April 2009

Akhlak yang Langka di Dunia Islam

Salah satu sifat, kepribadian maupun akhlak yang semakin langkah saat ini, ialah Ihsan. Akhlak yang satu ini telah hampir punah dari sanubari kaum muslimin serta menjadi barang langka di dunia Islam. Betapa sulitnya menemui seorang muslim yang dapat mengaplikasikan akhlak yang satu ini, serta berkomitmen dengannya.
Orang yang mempunyai karakter akhlak ini boleh dibilang sangat langka dan patut disesalkan, mereka yang bertipikal terhadap akhlak ini bukanlah dari orang yang agamis. Bahkan ironisnya dan sangat disayangkan, justru akhlak ini mendarah daging pada orang Barat. Mereka berhasil menerapkannya dalam kehidupannya. Sebaliknya, kita menuai kegagalan. Itulah akhlak ihsan. Duhai, apakah yang terjadi?ARTI IHSAN
Secara sederhana, ihsan dapat diartikan sebagai sebuah ketekunan. Mungkin kita bertanya-tanya, “Apakah ketekunan itu termasuk akhlak?” Ya, itu berasal dari sublimasi akhlak Islam. Tekun dalam bekerja, baik dalam pergaulan serta perkataan, semuanya itu adalah cermin akhlak Islam. Nabi kita yang tercinta bersabda, “Seseungguhnya Allah mencintai salah seorang dari kamu jika mengerjakan sesuatu dikerjakan dengan itqan (sungguh-sungguh).” Lantas apakah kita tidak ingin dicintai oleh Allah SWT? Maka tekunlah dalam bekerja, dan berbuat baiklah karena Allah pasti akan mencintai kita.
Aplikasi ihsan dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak sekali, salah satunya adalah ihsan dalam berbicara. Allah SWT berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hambaKu, Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar).” (Al Isra : 53). Subhanallah! Ternyata kita dituntut untuk mampu mengolah kata dengan sebaik-baiknya.
Misalnya, ketika kita akan keluar rumah, pasti sebelumnya kita akan mengatakan sesuatu kepada kedua orang tua kita, tentang kearah mana kita akan meninggalkan rumah. Dan mulai sekarang, kita pasti akan memilih kata-kata yang pas dan layak untuk diucapkan. Subhanalah, sekarang yang tampak berbeda adalah nuansa intonasi suara serta tutur kata yang lembut. Maka tampaknya kita telah berlaku ihsan. Demikanlah semestinya, dan di sisi Allah kita akan sangat berharga dengan berpegang pada satu niat, karena Allag swt, berharap ridhaNya.
Dahulu, ada seorang sahabat Rasulullah SAW yang tinggal di sebuah desa terpencil bernama Zhahir. Dia kurang terpuji akhlaknya, demikian juga soal pergaulan. Sebab itulah, banyak sahabat yang tidak dapat berinteraksi dengannya, malah kebanyakan mereka menghindarinya kecuali Nabi SAW yang selalu menun jukkan kasih sayangnya serta dapat berinteraksi dengan penuh kelembutan.
Ketika melewati sebuah pasar, Nabi SAW melihat Zahir. Seketika itu beliau mendatanginya dari arah belakang, kemudian memeluknya. Zahir yang berkepribadian keras, bertanya, “Siapakah ini? Lepaskan aku.” Ketika Nabi SAW membuka kedua lengannya, spontan Zahir memutar tubuhnya. Saat itu ia mendapatkan Nabi SAW telah dihadapannya. Zahir berkata, “Aku belum pernah merasakan kebahagiaan sedikitpun sebagaimana persentuhan kulit tubuhku dengan kulit tubuh Nabi SAW”. Kemudian Nabi SAW menggandeng Zahir dan berdiri di tengah-tengah pasar. Sambil tertawa, beliau berkata, “Siapakah yang ingun membeli hamba ini? Siapakah yang ingin membeli budak ini?” Kemudian Zahir menanggapi, “Jika begitu, Anda akan mendapatkan diriku tidak layak dijual, wahai Rasulullah,” Lalu Nabi SAW bersabda kepadanya, “Akan tetapi di sisi Allah engkau amat berharga.”
Sikap macam apa ini? Demi Allah, Anda tidak dapat emnggambarkan hal itu. Bagaimana Anda dapat menggambarkan perasaan serta kepribadian yang hangat seperti itu. Anda tidak akan mampu, kecuali hanya dapat mengatakan, “Itu adalah Ihsan.”

Contoh lain mengenai ihsan dalam perkataan adalah dakwah kepada (agama) Allah, sebagaimana firman Allah SWT, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’.?” (Fushlihat :33). Maka siapakah yang paling baik perkataan darimu, wahai orang yang menyeru manusia kejalanNya?!
Jika kita menginginkan ihsan adalam perkataan, tanamkanlah ihsan dalam penghayatan beragama kita.Berhati-hatilah! Sekarang, kita adalah cermin keislaman!
Sekarang, kita telah menjadi panutan di tengah-tengah masyarakat luas. Janganlah menjelekkan citra Islam dan pemeluknya dengan kebusukkan akhlak, karena sekarang ini kita menjadi cermin keislaman. Berakhlaklah dengan akhlak ihsan. Jika kita dapat melakukan hal itu maka Islam beserta pemeluknya akan dihormati dan disegani. Ingatlah…….”Sesungguhnya Allah menetapkan(mewajibkan) kebaikan (ihsan) pada segala sesuatu”
Kita Ihsan dalam beribadah, kepada orang tua, terhadap wanita, memberi salam, berdebat, berbicara, berumah tangga dan dalam memilih tempat tinggal, san semua aspek kehidupan. Ketahuilah “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah kedaan yang ada pada diri mereka sendiri . (Ar-Ra’d : 11)


Oleh : H Sofyan Siroj Lc, MM
Direktur Qalbu Re-Engeneering


0 komentar: