Rabu, 29 April 2009

Anton Apriantono - Menteri Termiskin

Anton Apriantono, Menteri Termiskin di Kabinet Indonesia Bersatu. Ke Daerah, dengan Tiket Ekonomi, Nginap di Rumah Petani. Di Kabinet Indonesia Bersatu, Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriantono dijuluki sebagai menteri termiskin. Sebab, berdasar laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN), total kekayaannya “hanya” Rp 388.936 juta. Bagaimana kesehariannya? Bikin janji untuk bertemu Anton Apriantono tidak terlalu sulit. Di antara menteri yang duduk di Kabinet Indonesia Bersatu, pria yang lama menjadi dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB) itu termasuk yang paling mudah dihubungi melalui ponselnya. Kemarin sore, Jawa Pos diberi kesempatan bertamu di rumah Anton di kompleks perumahan dinas para menteri, tepatnya di Jl Widya Chandra V. Begitu masuk ke halaman rumahnya, seorang petugas keamanan dengan tulisan nama Sukim di dadanya ramah mempersilakan masuk. “Cari Bapak ya, silakan langsung saja ke ruang tamu,” ujarnya. Halaman depan rumah dinas Anton tampak bersih. Aneka tanaman hias disusun rapi dalam pot yang berisi tanah liat. Tidak ada tanaman perindang besar, kecuali sebuah palem kipas yang ditanam di pojok pagar. Berbeda dari rumah menteri lainnya, di garasi rumah Anton, hanya ada dua mobil yang diparkir. Yakni, Kijang abu-abu keluaran 1994 dan mobil dinas rumah dinas menteri-menteri lain yang, selain berisi mobil dinas, terdapat beberapa mobil lain keluaran terbaru. “Assalamu ‘alaikum, apa kabar?” kata Anton ramah yang muncul dari ruang tengah. Pria kelahiran 5 Oktober 1959 tersebut muncul dengan kemeja lengan panjang bercorak garis-garis. “Hari ini banyak tamu. Maklum, masih suasana Idul Fitri,” ujarnya. Dia menceritakan, selama Lebaran, keluarganya lebih banyak berada di Jakarta . Hanya hari pertama keluarganya berkunjung ke Serang dan Bogor ,Jawa Barat. Pada awal pembicaraan, dia lebih banyak menceritakan tentang kesibukannya sebagai menteri, sehingga waktu untuk keluarga berkurang. “Karena itu, setiap di rumah, saya manfaatkan betul untuk keluarga. Rasanya sih mereka tidak pernah mengeluh,” ungkapnya. Sejak menjadi menteri, Anton memboyong keluarganya tinggal di rumah dinas. Rumahnya di Bogor dibiarkan kosong. Di tengah mengobrol dengan Jawa Pos, putri tunggalnya, Sri Rahayu, masuk membawa secangkir teh. “Silakan diminum. Kebetulan, saat ini saya sedang puasa Syawal,” kata menteri yang diusulkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut. Ketika disinggung seputar kekayaannya berdasar LHKPN dan diumumkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dia hanya tersenyum. “Saya bersyukur dianggap begitu (disebut menteri termiskin). Pokoknya, kalau dibandingkan menteri lain, nggak mungkin bisa ngejar, apalagi sama Pak Ical (Menko Kesra Aburizal Bakrie yang dijuluki sebagai menteri terkaya dalam kabinet SBY, Red),” ujarnya lantas tertawa. Dia menjelaskan, sejak menjadi dosen dan kepala laboratorium di IPB, Anton terbiasa menabung. Hasilnya, dia mampu membeli aset berupa tanah di Bogor . Kegemaran berhemat itu diteruskan sampai sekarang. “Sebagian berasal dari gaji dan uang perjalanan ke luar negeri. Itu pun sudah berlebih,” tegasnya. Suami Rossi Rozzana tersebut mengaku, kehidupannya saat masih menjadi dosen sudah cukup. “Apalagi sekarang, apa sih yang mau kita kejar? Makan saja tak lebih dari sepiring,” katanya. Sebagai menteri, dia mengaku digaji Rp 19 juta per bulan. Selain dari gaji, pendapatan Anton diperoleh dari honor menjadi narasumber di seminar. Sebelum menjadi menteri, dia memang sering diundang sebagai ahli di bidang kimia pangan. “Tapi, honorarium dari seminar biasanya dikelola staf,” jelasnya. Menurut doktor lulusan University of Reading , Inggris, tersebut, kunci perbaikan departemen yang dipimpinnya bermula dari diri sendiri. “Kalau pemimpin tak bisa jadi uswah (teladan, Red), jangan berharap anak buah mengikuti,” ujarnya. Anton lantas mencontohkan saat dirinya melakukan perjalanan dinas ke daerah menggunakan pesawat. Dia tidak pernah mau naik kelas bisnis. Dia selalu minta diberi tiket ekonomi. Demikian pula ketika harus menginap di suatu daerah. Anton tidak pernah mau diinapkan di hotel berbintang lebih dari tiga. “Kalau menterinya (pakai) ekonomi, anak buahnya nggak ada yang berani (di kelas) bisnis,” ungkapnya lantas tersenyum. Menurut dia, budaya Orde Baru, yakni daerah harus selalu menyambut pejabat pusat dengan servis VVIP, harus dikikis habis. “Saya lebih suka menginap di rumah petani daripada di hotel. Mereka itu orang yang apa adanya. Tidak ada yang dibuat-buat, ” tegasnya. Dia lantas menceritakan pengalamannya ketika menginap di rumah salah seorang petani di Karawang. “Saat itu, atap rumahnya sudah mau roboh,” katanya seraya tersenyum lebar. Anton mengaku, saat ini dirinya sedang memperjuangkan budaya keterbukaan didepartemen yang dipimpinnya. Salah satu contohnya, nomor HP-nya terbuka bagiseluruh anak buahnya. Termasuk, pegawai dan penyuluh lapangan di daerah. “Dari mereka, saya bisa tahu keluhan di lapangan. Termasuk, jika ada laporan korupsi, langsung saya minta ditindaklanjuti oleh Irjen (inspektorat jenderal, Red),” jelasnya. Dia juga sering mengajak anak buahnya outbound (training di alam). “Kalau dialam, perilaku aslinya terlihat,” ujarnya. Dua minggu sekali, dia menggelar rapat pimpinan yang diakhiri dengan masing-masing saling memberi nasihat. “Jadi, kalau tidak sesuai dengan yang diomongkan, orangnya malu,” katanya. Kesederhanaan tersebut Anton diakui sekretaris pribadinya, Dr Abdul Munif. “Saya sampai malu karena bapak sering ngotot pakai kelas ekonomi saat kunjungan ke daerah. Kadang-kadang, sampai saya akali dengan mengatakan tiket ekonomi sudah habis,” ungkapnya. Alumnus Bonn University , Jerman, yang mendampingi Anton sejak sebelum menjadi menteri itu mengaku, hal tersebut dilakukan untuk menjaga kehormatan Anton sebagai menteri. “Itu kalau kebetulan sedang bersama menteri lain atau ada tamu dari luar negeri. Kalau berangkat sendiri, hampir selalu ekonomi,” jelasnya. Saat mengunjungi daerah, Munif mengaku banyak pejabat dan bupati yang heran mengetahui kebiasaan Anton. “Awalnya, mereka (bupati dan pejabat daerah) heran. Tapi, dua tahun ini sudah biasa. Mereka malah berterima kasih,” ujarnya. Dia menyatakan, satu hal yang paling berkesan adalah perhatian Anton kepada anak buah. Di antaranya, Anton selalu mengingat nama dan kebiasaan-kebiasaan kecil stafnya. “Beliau tak risi mengirimkan ucapan selamat ulang tahun atau memberikan bantuan ketika ada yang punya gawe,” ungkapnya. (*) Subhanalloh, pemimpin seperti inilah yang sepatutnya kita contoh. Meskipun punya jabatan tapi tetap hidup sederhana, tidak ada gengsi-gengsian dimana kebanyakan pemimpin-pemimpin di negara kita identik dengan kehidupan yang glamor. Yang diutamakan adalah bagamana amanah yang dembannya dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.


Minggu, 26 April 2009

Akhlak yang Langka di Dunia Islam

Salah satu sifat, kepribadian maupun akhlak yang semakin langkah saat ini, ialah Ihsan. Akhlak yang satu ini telah hampir punah dari sanubari kaum muslimin serta menjadi barang langka di dunia Islam. Betapa sulitnya menemui seorang muslim yang dapat mengaplikasikan akhlak yang satu ini, serta berkomitmen dengannya.
Orang yang mempunyai karakter akhlak ini boleh dibilang sangat langka dan patut disesalkan, mereka yang bertipikal terhadap akhlak ini bukanlah dari orang yang agamis. Bahkan ironisnya dan sangat disayangkan, justru akhlak ini mendarah daging pada orang Barat. Mereka berhasil menerapkannya dalam kehidupannya. Sebaliknya, kita menuai kegagalan. Itulah akhlak ihsan. Duhai, apakah yang terjadi?ARTI IHSAN
Secara sederhana, ihsan dapat diartikan sebagai sebuah ketekunan. Mungkin kita bertanya-tanya, “Apakah ketekunan itu termasuk akhlak?” Ya, itu berasal dari sublimasi akhlak Islam. Tekun dalam bekerja, baik dalam pergaulan serta perkataan, semuanya itu adalah cermin akhlak Islam. Nabi kita yang tercinta bersabda, “Seseungguhnya Allah mencintai salah seorang dari kamu jika mengerjakan sesuatu dikerjakan dengan itqan (sungguh-sungguh).” Lantas apakah kita tidak ingin dicintai oleh Allah SWT? Maka tekunlah dalam bekerja, dan berbuat baiklah karena Allah pasti akan mencintai kita.
Aplikasi ihsan dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak sekali, salah satunya adalah ihsan dalam berbicara. Allah SWT berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hambaKu, Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar).” (Al Isra : 53). Subhanallah! Ternyata kita dituntut untuk mampu mengolah kata dengan sebaik-baiknya.
Misalnya, ketika kita akan keluar rumah, pasti sebelumnya kita akan mengatakan sesuatu kepada kedua orang tua kita, tentang kearah mana kita akan meninggalkan rumah. Dan mulai sekarang, kita pasti akan memilih kata-kata yang pas dan layak untuk diucapkan. Subhanalah, sekarang yang tampak berbeda adalah nuansa intonasi suara serta tutur kata yang lembut. Maka tampaknya kita telah berlaku ihsan. Demikanlah semestinya, dan di sisi Allah kita akan sangat berharga dengan berpegang pada satu niat, karena Allag swt, berharap ridhaNya.
Dahulu, ada seorang sahabat Rasulullah SAW yang tinggal di sebuah desa terpencil bernama Zhahir. Dia kurang terpuji akhlaknya, demikian juga soal pergaulan. Sebab itulah, banyak sahabat yang tidak dapat berinteraksi dengannya, malah kebanyakan mereka menghindarinya kecuali Nabi SAW yang selalu menun jukkan kasih sayangnya serta dapat berinteraksi dengan penuh kelembutan.
Ketika melewati sebuah pasar, Nabi SAW melihat Zahir. Seketika itu beliau mendatanginya dari arah belakang, kemudian memeluknya. Zahir yang berkepribadian keras, bertanya, “Siapakah ini? Lepaskan aku.” Ketika Nabi SAW membuka kedua lengannya, spontan Zahir memutar tubuhnya. Saat itu ia mendapatkan Nabi SAW telah dihadapannya. Zahir berkata, “Aku belum pernah merasakan kebahagiaan sedikitpun sebagaimana persentuhan kulit tubuhku dengan kulit tubuh Nabi SAW”. Kemudian Nabi SAW menggandeng Zahir dan berdiri di tengah-tengah pasar. Sambil tertawa, beliau berkata, “Siapakah yang ingun membeli hamba ini? Siapakah yang ingin membeli budak ini?” Kemudian Zahir menanggapi, “Jika begitu, Anda akan mendapatkan diriku tidak layak dijual, wahai Rasulullah,” Lalu Nabi SAW bersabda kepadanya, “Akan tetapi di sisi Allah engkau amat berharga.”
Sikap macam apa ini? Demi Allah, Anda tidak dapat emnggambarkan hal itu. Bagaimana Anda dapat menggambarkan perasaan serta kepribadian yang hangat seperti itu. Anda tidak akan mampu, kecuali hanya dapat mengatakan, “Itu adalah Ihsan.”

Contoh lain mengenai ihsan dalam perkataan adalah dakwah kepada (agama) Allah, sebagaimana firman Allah SWT, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’.?” (Fushlihat :33). Maka siapakah yang paling baik perkataan darimu, wahai orang yang menyeru manusia kejalanNya?!
Jika kita menginginkan ihsan adalam perkataan, tanamkanlah ihsan dalam penghayatan beragama kita.Berhati-hatilah! Sekarang, kita adalah cermin keislaman!
Sekarang, kita telah menjadi panutan di tengah-tengah masyarakat luas. Janganlah menjelekkan citra Islam dan pemeluknya dengan kebusukkan akhlak, karena sekarang ini kita menjadi cermin keislaman. Berakhlaklah dengan akhlak ihsan. Jika kita dapat melakukan hal itu maka Islam beserta pemeluknya akan dihormati dan disegani. Ingatlah…….”Sesungguhnya Allah menetapkan(mewajibkan) kebaikan (ihsan) pada segala sesuatu”
Kita Ihsan dalam beribadah, kepada orang tua, terhadap wanita, memberi salam, berdebat, berbicara, berumah tangga dan dalam memilih tempat tinggal, san semua aspek kehidupan. Ketahuilah “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah kedaan yang ada pada diri mereka sendiri . (Ar-Ra’d : 11)


Oleh : H Sofyan Siroj Lc, MM
Direktur Qalbu Re-Engeneering