Senin, 28 Desember 2009

Kebiasaan Kecil yang Berpengaruh Besar

55 Kebiasaan Kecil yang Menghancurkan Bangsa
Penulis : Ryan Sugiarto
Penerbit : PINUS BOOK PUBLISHER
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 155 halaman

Ada banyak pendapat dari bangsa-bangsa lain, terutama bangsa-bangsa kolonial zaman dahulu yang menyatakan bangsa ini adalah bangsa pemalas. Meskipun sudah dianugrahi Tuhan dengan kekayaan alam yang maha luar biasa, namun warga dan bangsa ini adalah bangsa yang kurang bisa memberdayakan kekuatannya sendiri. Tidak sanggup untuk memperlakukan kekayaan ini demi kepentingannya sendiri. Masih saja bangsa ini mengandalkan kekuatan bangsa lain, dalam mempertahankan kehidupan bangsanya, meskipun dalam hal-hal yang kecil. Itulah sebabnya, Bung Karno pernah berujar kepada bangsa ini. “Berikan aku sembilan pemuda yang hebat, akan aku bangun negeri ini bersama mereka.” Artinya, sejak semula memang Bung Karno telah membaca, betapa mental bangsa kita adalah mental inlender, mental yang tidak siap untuk bergerak maju, membangun diri dan bangsanya sendiri.

Secara sederhana, untuk melihat suatu kemajuan suatu bangsa tidak harus melihat langsung seperti apa pemimpinnya, sistem pemerintahan atau birokrasinya. Namun, cukup melihat kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan oleh warganya, baik terhadap diri sendiri, lingkungannya dan bangsanya. Ternyata kebiasaan-kebiasaan kecil warga, cukup representatif sebagai parameter kemajuan suatu bangsa.

Buku yang ditulis oleh Ryan Sugiarto ini menguraikan secara rinci kebiasaan-kebiasan kita, baik dalam alam pikir ataupun perilaku pribadi, yang sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat. Yaitu sesuatu yang mengingatkan betapa hal kecil menjadi penentu yang besar. Bahwa semua berawal dari yang kecil. seribu langkah perbaikan, selalu dimulai dari langkah pertama. Pralambang ini juga bisa kita gunakan untuk melihat pada kondisi bangsa kita. Sederhananya perilaku kita turut menentukan arah kemajuan bangsa ini. kualitas individu kita, sebagai warga bangsa, adalah penjamin baik buruknya bangsa yang bernama Indonesia.

Kebiasaan kecil itu, oleh Ryan Sugiarto dibagi dalam tiga hal. Pertama, kebiasaan memperlakukan diri sendiri, seperti; meremehkan waktu, bangun kesiangan, tidak disiplin, suka menunda, menyontek dan lain sebagainya. Kedua, kebiasaan-kebiasaan kita memperlakukan lingkungan, seperti; merokok dan membuang sampah di sembarang tempat, corat-coret, tidak biasa mengindahkan aturan, dll. Ketiga, kebiasaan-kebiasaan yang merugikan ekonomi, seperti; konsumtif, boros listrik, mengabaikan peluang, dan tidak berpikir kreatif. Keempat; tidak mau membaca, suap-menyuap, nepotisme, meniru, tidak belajar dari pengalaman, ini termasuk dalam kebiasaan kita bersosial.

Kebiasaan-kebiasaan ini seperti repetisi yang terjadi berulang-ulang. Sehingga disadari atau tidak kebiasaan itu memunculkan kecenderungan otak untuk berpikir logis, dan menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Ia muncul begitu saja. Dan kita akan tetap mempertahankan kebiasaan demi kebiasaan seperti itu, jika tidak merasa bersalah dengannya. Hal itu cenderung dipandang sebagai sesuatu yang kecil, dan tidak akan berpengaruh besar terhadap hidup, apalagi lingkungan yang lebih luas seperti masyarakat dan bangsa.

Sepenggal kutipan kata bijak orang Jepang dalam buku ini mengungkapkan, “Akibat kurang satu paku, tapal kuda terlepas. Akibat tapal kuda terlepas, seeokor kuda tak bisa berlari. Akibat kurang satu kuda, satu pesan tak tersampaikan. Akibat satu pesan tak tersampaikan, kita jadi kalah perang.”

Dari makna kata bijak tersebut, ternyata kebiasaan buruk inilah yang bisa jadi disadari atau tidak, telah menyebabkan bangsa ini jatuh dalam jurang kemelaratan, dan tertinggal jauh dari bangsa lain. Lainnya adalah, kebiasaan-kebiasaan kecil kita yang secara langsung atau tidak telah menambah masalah bangsa ini. Ia seakan seperti ‘efek domino’ yang siap mempengaruhi sesuatu yang lainnya, yang (bahkan) belum terpikir oleh kita.

Buku yang berjudul “55 Kebiasaan Kecil yang Menghancurkan Bangsa” ini ditulis dengan bahasa yang ringan dan tidak menggurui pembaca, tapi menyadarkan kita untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan mana saja yang berpengaruh buruk terhadap bangsa. Selamat membaca!

Oleh : Muflih Helmi
Anggota Magang FLP Pekanbaru
Mahasiswa Fakultas Pertanian Universtas Riau



Minggu, 27 Desember 2009

LOMBA CIPTA PUISI INDOSAT

Sebagai upaya ikut membentuk karakteristik bangsa yang kreatif, mencintai keindahan dalam karsa, cipta, dan karya puisi, juga untuk melahirkan seniman (penyair) dengan talenta baru yang diharapkan dapat menjadi agent of change (agen perubahan), PT. Sinar Abdi Mukti Jaya selaku payung www.situseni.com, bekerjasama dengan PT. Indosat, Tbk. menggelar LOMBA CIPTA PUISI INDOSAT. Total hadiah Rp50 Juta. Lomba akan dimulai tanggal 2 Januari 2010, dan pengiriman puisi disampaikan melalui www.situseni.com.1. A. Ketentuan Lomba
1. 1. Ketentuan Umum
1. Terbuka untuk umum.
2. Peserta harus mendaftar sebagai member www.situseni.com.
3. Memiliki SIM card Indosat: Mentari atau IM3, nomornya dicantumkan dalam formulir lomba.
4. Nomor SIM card Indosat harus aktif selama mengikuti lomba. Panitia akan melakukan pengecekan.
5. Bila nomor SIM card Mentari atau IM3 yang didaftarkan tidak aktif, atau fiktif, maka peserta akan didiskualifikasi.
6. Mengisi formulir Lomba Cipta Puisi Indosat yang disediakan pada portal www.situseni.com.
1. 2. Ketentuan Khusus
1. Puisi ditulis dalam bahasa Indonesia.
2. Tema bebas.
3. Karya sendiri. Bila suatu hari terbukti hasil plagiat, akan didiskualifikasi.
4. Belum pernah dipublikasikan di media apapun (cetak dan elektronik).
5. Belum pernah diikutsertakan dalam lomba apapun.
1. 3. Ketentuan Teknis
1. Teknis Umum
1) Lomba terdiri dari dua tahapan: Lomba Bulanan dan Lomba Triwulan (Grand Final).
2) Puisi yang telah didaftarkan, akan dipublikasikan pada database Rubrik Puisi. Nama penyairnya tidak dicantumkan.
1. Lomba Bulanan
1) Satu member situseni.com hanya berhak mengirimkan satu judul puisi pada Lomba Bulanan.
2) Tetapi pada Lomba Bulanan berikutnya, boleh mengikuti lomba kembali dengan mengirimkan puisi yang lain.
3) Penilaian puisi terbaik dilakukan oleh Dewan Juri dan member situseni.com.
4) Dewan Juri akan menilai semua puisi yang masuk, dan memilih dua puluh lima (25) judul Puisi sebagai Finalis Lomba Bulanan.
5) Dua puluh lima (25) judul puisi Finalis Lomba Bulanan akan ditayangkan pada halaman depan situseni.com.
6) Member situseni.com mem-voting puisi terbaik yang menjadi Finalis Lomba Bulanan.
7) Setiap member situseni.com hanya bisa melakukan satu kali voting.
8) Dewan Juri menghitung hasil voting, dan mempertimbangkan kelayakannya untuk menetapkan tiga (3) judul puisi sebagai Puisi Terbaik Lomba Bulanan.

1. Lomba Triwulan (Grand Final)
1) Lomba Triwulan diikuti oleh Puisi-puisi Terbaik Lomba Bulanan, atau sebanyak 3 judul puisi X 3 bulan = 9 judul puisi.
2) Ke-9 Judul puisi finalis Lomba Triwulan akan dinilai oleh Dewan Juri Khusus dan Member.
3) Pemenang Lomba Triwulan (Grand Final) adalah:
a) Satu (1) judul Puisi Terpopuler Indosat versi member situseni.com.
b) Tiga (3) judul Puisi Terbaik Indosat versi Dewan Juri Khusus.
c) Satu (1) judul Puisi Utama Indosat.

Keterangan:
Lomba Bulanan
1. Pengiriman puisi untuk Lomba Bulanan dibuka mulai tanggal 1 hingga akhir bulan, pukul 23.59 WIB, melalui formulir yang disedaiakan di www.situseni.com.
2. Tanggal 1 – 10 bulan berikutnya, Dewan Juri menilai puisi-puisi yang masuk, dan memilih dua puluh lima (25) judul puisi terbaik sebagai Finalis Lomba Bulanan.
3. Pengumuman Dua puluh lima (25) judul puisi Finalis Lomba Bulanan disampaikan oleh Dewan Juri pada tanggal 10 pukul 22.00 WIB, dan ditayangkan di halaman depan situseni.com.
4. Member situseni.com mulai berhak menilai dan memberikan voting terhadap dua puluh lima (25) judul puisi Finalis Lomba Bulanan, sejak tanggal 11 pukul 00.01. WIB hingga tanggal 15 pukul 23.59 WIB.
5. Bila ada voting yang masuk setelah tanggal 15 pukul 23.59 WIB, dinyatakan gugur.
6. Dewan Juri menilai hasil voting member situseni.com pada tanggal 16 – 17, dan mengumumkan tiga puisi Puisi Terbaik Lomba Bulanan pada tanggal 18 pukul 22.00.
7. Hadiah Puisi Terbaik Lomba Bulanan disampaikan oleh panitia kepada pemenang via transfer elektrik (pulsa) dan rekening Bank (uang).

Lomba Triwulan (Grand Final)
1. Lomba Triwulan diselenggarakan setelah Lomba Bulanan selesai dilaksanakan selama tiga (3) bulan.
2. Peserta lomba mulai berhak memberikan voting terhadap sembilan (9) judul puisi finalis untuk memilih satu (1) judul Puisi Terpopuler Indosat. Voting oleh peserta lomba mulai dilakukan tanggal 20 April 2010 pukul 00.01 WIB hingga 30 April 2010 pukul 23.59 WIB.
3. Bila ada voting setelah tanggal tersebut, maka dinyatakan gugur.
4. Dewan Juri Khusus melakukan penilaian terhadap sembilan (9) judul puisi untuk kemudian memilih tiga (3) judul sebagai Puisi Terbaik Indosat, dan satu (1) judul Puisi Utama Indosat, dilakukan tanggal 20 hingga akhir bulan.
5. Pengumuman Satu (1) judul Puisi Terpopuler Indosat, Tiga (3) judul Puisi Terbaik Indosat, serta satu (1) judul Puisi Utama Indiosat disampaikan oleh Dewan Juri pada tanggal 1 Mei, pukul 22.00 WIB, dan akan ditayangkan di halaman depan situseni.com
6. Hadiah Lomba Triwulan (grand final) diberikan dalam sebuah acara khusus yang dihadiri oleh para pemenang, Dewan Juri, pihak Indosat, dan pihak www.situseni.com.

1. B. Dewan Juri
1. Dewan Juri untuk Lomba Bulanan, adalah orang-orang yang kompeten dalam bidang perpuisian dan kebahasaan.
2. Dewan Juri Lomba Triwulan (Grand Final) adalah Dewan Juri Khusus yang terdiri dari Dewan Juri Lomba Bulanan ditambah dua orang yang berasal dari pakar sastra atau aktivis perpuisian.

1. C. Aspek Penilaian oleh Dewan Juri
1. Kedalaman dalam penggarapan tema, amanat, bunyi, suasana, imajinasi, emosi, dan gaya bahasa.
2. Kekentalan dalam sublimasi dan simbolisasi.

1. D. Hadiah
1. Dua puluh lima (25) Puisi Finalis Lomba Bulanan, masing-masing memperoleh hadiah voucher Indosat Rp150.000.
2. Tiga (3) judul Puisi Terbaik Indosat dalam Lomba Bulanan, masing-masing memperoleh hadiah voucher Indosat Rp250.000 + uang Rp1.000.000.
3. Tiga (3) judul Puisi Terbaik Indosat dalam Lomba Triwulan pilihan Dewan Juri, masing-masing memperoleh hadiah voucher Indosat Rp500.000 + uang Rp1.500.000.
4. Satu (1) judul Puisi Terpopuler Indosat pilihan member dalam Lomba Triwulan, memperoleh hadiah voucher Indosat Rp500.000 + uang Rp 1.500.000.
5. Satu (1) puisi peraih Puisi Utama Indosat dalam Lomba Triwulan, memperoleh voucher Indosat Rp1.500.000 + uang tunai Rp15.000.000.
6. Hadiah hiburan Lomba Bulanan diberikan kepada peserta yang ikut melakukan voting untuk Lomba Bulanan. Nomor SIM Card peserta akan diundi, dan diambil 5 pemenang, masing-masing memperoleh voucher Indosat Rp100.000.
7. Hadiah hiburan Lomba Triwulan diberikan kepada peserta yang ikut melakukan voting untuk Lomba Triwulan. Nomor SIM Card peserta akan diundi, dan diambil 6 pemenang, masing-masing memperoleh voucher Indosat Rp250.000.

Keterangan Tambahan:
1. Puisi-puisi finalis pada setiap Lomba Bulanan (total 75 judul puisi), akan dibukukan oleh www.situseni.com, dan para penulisnya (penyair), berhak memperoleh royalti sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam royalti perbukuan.
2. Launching buku akan dilangsungkan bersamaan dengan penyerahan hadiah bagi pemenang Puisi Utama Indosat.
3. Informasi terbaru yang berkait dengan Lomba Cipta Puisi Indosat ini, akan disampaikan melalui www.situseni.com.




Sabtu, 05 Desember 2009

Impian Seorang Ibu

Emak Ingin Naik Haji
(Cinta Hingga ke Tanah Suci)
Penulis : Asma Nadia
Penerbit : AsmaNadia Publishing House
Cetakan : Pertama, Agustus 2009
Tebal : 210 Halaman

Asma Nadia merupakan nama pena dari Asmarani Rosalba, telah terlihat bakatnya sejak kecil. Sang kakak, Helvy Tiana Rosa menggambarkan sosok sang adik – Asma Nadia – dalam sebuah cerpen Pelajaran Tekad dari Rani Kecil diterbitkan dalam sebuah buku kumpulan cerpen Emak Ingin Naik Haji, terbitan Asma Nadia Publishing House. Cerpen yang mengulas tekad seorang penulis sukses, Asma Nadia itu, yang tidak pernah menyerah dengan keadaanTekadnya yang tidak kenal henti, mengantarkan ia menjadi pemenang beberapa lomba mengarang tingkat nasional. Sejak buku pertamanya terbit tahun 1998 hingga kini total ia sudah menulis lebih dari 40 buku. Bahkan ia diundang mewakili Indonesia dalam program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (2003). Tahun 2006 ia terpilih menjadi satu dari dua sastrawan Indonesia yang di undang ke Korea untuk program Writers in recidence, dan tahun ini diundang ke The Chateau de Lavigny, Swiss untuk program serupa. Karya-karyanya telah disinetronkan dan di filmkan.

Salah satu cerpennya yang cukup fenomenal yang diangkat ke layar lebar adalah cerpen yang berjudul Emak Ingin Naik Haji garapan Aditya Gumay. Aditya – yang telah sukses mengarap film Laskar Pelangi dan Garuda di Dadaku – tertarik mengangkat cerpen tersebut ke layar lebar, setelah ia membacanya pada pertengahan tahun 2008 dari sebuah majalah yang terbit tahun 2007. Padalah cerpen tersebut sangat singkat, dan tidak lebih dari 12 ribu karakter saja. Tapi, mampu dikembangkan menjadi sebuah film.

Emak Ingin Naik Haji bercerita tentang Emak, seorang wanita paruh baya yang dengan gigih berusaha untuk dapat mewujudkan impiannya, yaitu pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan haji. Kehidupan Emak sehari-hari hanya bergantung pada hasil jualan kue yang dititipkan di warung atau pesanan orang. Kalau beruntung, ada juga sedikit tambahan uang dari Zein, anak Emak satu-satunya yang berjualan lukisan keliling hasil karyanya sendiri.

Walaupun Emak tahu bahwa naik haji adalah salah satu hal yang mungkin sulit diraih, tetapi Emak tidak putus asa, dia tetap mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk disetorkan ke tabungan haji di bank. Zein, yang melihat kegigihan Emak tersebut, juga berusaha dengan berbagai cara untuk dapat mewujudkan keinginan orang tuanya.

Cerpen ini mengangkat berbagai nilai kehidupan; kegigihan, ketulusan, kasih sayang, semangat berbagi, berserah diri, dan berbagai nilai indah lainnya yang mungkin saja terlupakan oleh sebagian besar dari kita. Lebih khususnya, Emak Ingin Naik Haji menyentil fenomena sosial keluarga muslim yang hidup berkecukupan dan dapat berkali-kali naik haji sementara banyak keluarga muslim lain yang tak mampu menunaikan rukun Islam kelima tersebut atau harus bersusah payah menabung bertahun-tahun untuk mewujudkan impiannya pergi haji.

Emak adalah representasi dari kelompok masyarakat yang sangat merindukan Mekah, tetapi karena persoalan finansial, maka pergi haji menjadi sebuah hal yang sangat jauh di awang-awang. Sementara Juragan Haji bersama keluarganya, dipaparkan dalam cerpen tersebut dengan penuh kemudahan dapat melakukan ibadah haji dan umroh kapan saja mereka inginkan.

Dalam buku kumpulan cerpen setebal 210 halaman ini, Asma membuat selang-seling antara cerpen kritik sosial dan kisah cinta. Sesudah Emak Ingin Naik Haji adalah Cinta Begitu Senja yang bikin kita gregetan. Selanjutnya cerpen Koran, yang ditata sedemikian rupa runutnya, jadi terkesan memang sudah diatur begitu. Si tokoh mulanya getol banget baca surat kabar, katanya dengan koran ia bisa jadi pintar. Lama-lama si tokoh muak, soalnya berita-berita buruk terus yang disuguhkan, dan itu menyangkut orang-orang terdekatnya. Sampai-sampai ia fobia sama koran.

Pada dasarnya semua menarik, dengan plus dan minus tiap-tiap cerita. Bahasa Asma yang relatif ringan dan mengalir lancar, sangat layak untuk sembari mengasah kepekaan dan membangkitkan semangat toleransi, solidaritas, dan lain-lain. Seperti yang tertulis dalam Catatan Kecil Para Sahabat di bagian penutup buku ini, Asma Nadia dinilai selalu menyentuh problem etik dan moral dalam balutan suasana religius. Maka karya-karyanya tidak hanya sekedar menyuguhkan kenikmatan estetik, tapi juga menyuguhkan penyadaran.

Dalam buku kumpulan cerpen Asma Nadia ini, diceritakan juga bagaimana proses perjalanan syuting film Emak Ingin Naik Haji berlangsung. Berbagai keunikan ditemukan dan bahkan menemukan kemudahan-kemudahan dalam proses pembuatan film itu sendiri. Dan yang lebih unik lagi, 100 % royalti dari buku ini akan dipersembahkan untuk sosial kemanusiaan dan membantu memenuhi mimpi ke tanah suci, bagi saleh dan salehah yang kurang mampu. Pastikan anda sebagai salah satu pembacanya!

Oleh : Ribzah Nurhilmi
Anggota Magang FLP Pekanbaru 2009
(Telah dimuat di expresi Riau Pos Tanggal 6 Desember 2009)

"Gaza 2009" Menangkan Cairo International Film Festival 2009


(eramuslim)Film berjudul "Gaza 2009" keluar sebagai pemenang pada Festival Film Internasional Kairo (Mahrajan al-Qahirah as-Sinima'i ad-Duwali/Cairo International Film Festival) 2009 yang digelar selama pekan terakhir bulan November kemarin.

Film produksi Syirkah Filasthin li al-Intaj al-I'lami (PMP), Gaza, itu keluar sebagai pemenang setelah menyisihkan 400 film Arab lainnya yang ikut serta dalam festival tersebut.

"Gaza 2009" merupakan film-romantika yang sarat akan pesan kemanusiaan. Kisahnya benar-benar menguras air mata dan menggugah emosi siapapun yang menontonnya. Betapa tidak, film tersebut menceritakan tentang potret kehidupan warga Palestina yang menyayat hati di bawah pendudukan Israel, khususnya di wilayah Jalur Gaza yang mengalami blokade selama beberapa tahun terakhir.

Di tengah kondisi yang mengenaskan itu, mencuatlah kisah cinta seorang pemuda-Muslim dari Gaza dengan seorang gadis-Yahudi dari Nazaret, Israel. Pemuda Gaza itu bekerja di Nazaret, dan di kota kelahiran Isa al-Masih itulah keduanya berkenalan dan saling memadu kasih. Keduanya pun lantas menikah, setelah si gadis memeluk Islam dan ikut suaminya ke Gaza yang nelangsa.

Tentu saja, sejuntai problem perbedaan dua identitas menjuntai dan menghiasi lika-liku kehidupan mereka pasca menikah, dan setelah mempunyai buah hati sebanyak enam anak. Sebagian dari anak-anak mereka, misalnya, justru bercakap dalam bahasa Ibrani, belajar Talmud dan Taurat di Israel.

Sutradara film, Musthafa an-Nabih, berwarganegara Palestina, menyatakan jika kisah film "Gaza 2009" sendiri diilhami dari kisah nyata. Dikatakannya, problem dan konflim mulai muncul dalam kehidupan dua sejoli itu setelah delapan tahun usia pernikahan mereka.

Problem tersebut berpangkal dari keadaan kehidupan di Gaza yang serba sulit pasca blokade Israel. Bisa dibayangkan, pasca blokade itu, Gaza benar-benar seperti wilayah purba: tak ada air bersih, bahan bakar, pasokan makanan, obat-obatan, dan listrik. Bisa dibayangkan betapa mengerikannya kehidupan di sana. Sang istri rupanya merasa tak kuasa hidup di tengah kondisi kehidupan yang benar-benar sengsara seperti itu.

Sang istri pun memutuskan untuk kembali ke Nazaret, kampung halaman asalnya. Ia pun kabur bersama tiga orang anaknya, sementara tiga anak lainnya tinggal bersama si bapak di Gaza. Dua dari tiga anak mereka yang kemudian hidup bersama bapaknya adalah si kembar-bungsu yang baru berusia 27 hari, salah satunya bahkan cacat.

Di Nazaret, si istri dan ketiga anak yang dibawanya, yang paling besar bernama Yasmin (9 tahun), dan menjadi salah satu tokoh utama di film tersebut, kembali memeluk agama Yahudi, sekaligus semua anaknya.

Penderitaan si lelaki tak hanya berhenti sampai di sana saja. Dinas intelejen Israel memaksanya untuk meninggalkan semua anaknya, untuk diboyong ke wilayah negeri itu dan menjadi warga negara Israel. Puncaknya, di hari terakhir penyerbuan Israel ke Gaza di awal tahun lalu, lelaki itu pun mati dirajam peluru dan roket pesawat Israel.

An-Nabih, sang sutradara, bercerita bahwa pasca berakhirnya agresi Israel ke Gaza di awal tahun yang lalu, pihaknya segera mengunjungi wilayah tersebut, untuk membuat film dokumenter. Saat itu, secara tak sengaja ia mendengar kisah Yasmin dan keluarga Gaza-Palestina dan Nazaret-Israel ini.

"Saat mengunjungi Gaza setelah agresi Israel berakhir, saya mendengar kisah Yasmin yang dibawa kabur oleh ibunya dari Gaza. Keluarga ini pun terpecah, menjadi keluarga Muslim dan Yahudi," kata an-Nabih.

Ditambahkan oleh seniman kenamaan Palestina itu, pesan utama dari film garapannya adalah nilai-nilai kemanusiaan. "Di film itu, kami ingin menyuguhkan kisah kemanusiaan, yang sangat nyata, dan sangat memukul. Betapa sebuah keluarga yang mulanya harmonis menjadi hancur dan menjadi terbelah," terang an-Nabih.

Sebelumnya, film "Gaza 2009" juga menjadi pemenang kategori film dokumenter pada Festival Film Arab yang digelar di Tunisia belum lama ini.

Untuk maklumat lebih jauh tentang film Gaza 2009, dapat diakses di situs produser film tersebut, yaitu www.pmptv.tv (ags)


Senin, 30 November 2009

Alqur'an Berbicara Kiamat

Kontroversi Kiamat 2012
Menurut Pandangan Al-Qur’an dan Hadits
Penulis : Shaven S. Susanto
Penerbit : Lembar Langit Merah (L2M)
Terbit : Cetakan Pertama, 2009
Tebal : 194 Halaman
Kiamat adalah sesuatu yang pasti terjadi, dan diimani oleh umat Islam sebagai rukun Islam yang ke-5. Seberapa pun luas ilmu manusia dan teknologi, tidak akan mampu memprediksikan kapan terjadinya kiamat itu dengan pasti.Meskipun demikian, banyak manusia – terutama para peramal – memprediksikan bahwa kiamat itu akan terjadi pada tahun 2012. Seperti yang diramalkan oleh suku Maya sebagaimana digambarkan dalam salah satu penanggalan kunonya yang menyatakan, jika pada 21 Desember 2012 akan terjadi pergantian abad yang ditandai dengan “pembersihan bumi”.
Ramalan suku Maya memang sangat diperhatikan banyak kalangan, dari akademisi hingga kalangan supranatural, disebabkan bangsa ini memang terkenal dengan keakuratan sistem penanggalannya. Mereka beranggapan pada tahun 2012 akan terjadi penyelarasan galaksi yang menyebabkan tidak adanya keseimbangan alam semesta yang bisa mengganggu bumi, sehingga menimbulkan banyak bencana dan kiamat akan terjadi pada saat tersebut.
Selain ramalan suku Maya, ada juga ramalan-ramalan lain yang diuraikan dalam buku yang berjudul Kontroversi Kiamat 2012 ini. Yaitu ramalan mitologi Yunani dan literatur klasik. Ramalan mitologi dan literatur klasik ini memprediksikan datangnya hari kiamat, hancurnya bumi dan berakhirnya kehidupan. Bahwa kehancuran dunia sudah di prediksi sejak zaman kuno. Begitu banyak ramalan-ramalan yang mengarah kepada kehidupan akhir zaman.
Selain itu Sir Isac Newton, yang merupakan seorang fisikawan, matematikawan, dan ahli astronomi, di uraikan dalam buku ini, secara diam-diam telah melakukan perhitungan matematis terhadap umur dunia dengan sumber-sumber dari berbagai kitab ramalan, sejarah, dan juga Alkitab. Sampai akhirnya Newton mendapatkan hasil yang mengejutkan kala itu. Bahwa akan terjadi hari akhir dunia (kiamat) pada tahun 2060. Dan bukan 2012!
Ramalan lainnya juga diulas dalam buku ini, yaitu ramalan Jucelino Nobrega da Luze yang meramalkan sebagian penduduk akan tewas pada tahun 2043, dan Jaber Bolushi meramalkan akan kedatangan Imam Mahdi pada bulan Oktober 2015. Semua ramalan-ramaln itu berkesimpulan akan datangnya hari kehancuran dunia.
Dari sekian ramalan di atas Al-Quran dan Hadits ternyata punya ulasan tersendiri dan lebih bisa diimani kapan datangnya kiamat itu. Shaven S. Susanto meguraikan tahapan-tahapan kapan kiamat itu terjadi. Mulai dari tanda-tanda kiamat Sughra (kecil), sampai tanda-tanda kiamat Kubra (besar). Salah satu peristiwa besar yang akan terjadi adalah Perang Amargedon. Yaitu perang persekutuan (internasional), dimana kaum Muslimin dan kaum Rum (Eropa dan Amerika) kelak akan bersatu menajdi satu blok. Mengenai orang-orang yang Yahudi, merekalah yang mengobarkan api peperangan ini. Hingga kelak dua pertiga jumlah Yahudi akan musnah dalam peperangan tersebut.
Buku ini mencoba menguraikan secara jelas bagaimana kiamat menurut pandangan dua pusaka Islam, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Dan sekaligus membantah mengenai keterangan, ramalan dan segala macam kontroversi tentang satu waktu yang menyatakan akan terjadi pada tahun 2012, atau tepatnya 21 Desember. Salah satu ayat yang membantah ramalan-ramalan di atas seperti maksud surat An-Najm pada ayat 58, dimana Allah menyatakan secara tegas tidak ada yang menyatakan terjadinya hari itu (kiamat) selain Dia (Allah).
Membaca buku ini mengingatkan kepada kita semua. bahwa sesungguhnya kiamat itu sesuatu hal yang pasti terjadi. Namun seperti hadits Nabi SAW dan apa yang tertera dalam Al-Qur’an, tidak ada yang mengetahui kepastiannya kecuali Allah. Sebagai seorang Muslim yang beriman memikirkan hal besar kapan terjadinya hari kiamat dan ramalan tentang datangnya hari kiamat adalah hal yang sia-sia. Meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT dan memperbanyak amal shalih adalah lebih utama dibandingkan semuanya.
Oleh : Muflih Helmi
(Dimuat di koran Riau Pos Tanggal 29 Nopember 2009)


Jumat, 27 November 2009

Kambing pun Jadi Ngetop

Akhir-akhir ini, muncul sejumlah nama-nama baru di media massa. Selain Pak Bibit dan pak Chandra Hamsah, Anggodo, Susno Duadji, Kapolri, Jaksa, KPK, juga muncul sosok baru yang membuat orang resah kalau tidak mendapatkannya, dan nggak kalah ngetop dengan mereka. Siapa dia? "Kambing! Musim qurban atau dikenal dengan hari raya Haji, semangat berqurban mengeforia bagai gelombang besar yang menghamtam kapal Nuh. Ruame banget. Mulai Pak RT, Pak RW, camat, Bupati, Walikota, Menteri, Presiden, bahkan tukang ojekpun ambil bagian dalam hal ini. Biasanya peserta qurban akan memilih dalam kelompok hewan qurban sapi atau kerbau. Tapi, bagi yang nggak kebagian tempat, harus berlapang dada berqurban dengan hewan kambing. Biasanya untung-untungan, bisa harga murah, bisa juga harga tinggi. Tergantung. (eh! tapi mau qurban Kok itung-itungan). Meskipun begitu tidak sedikit hewan qurban berkulit kambing yang menjadi hewan qurban. Buktinya ada sekitar 21.020 ekor (sumber Republika 2007) di Jawa Barat. Berati masing-masing provinsi rata-rata 17 sampai 18 ribu ekor. (waduh-waduh, bisa-bisa koloni kambing bisa punah nih). Bagaimanapun niat untuk berqurban adalah ibadah yang mulia. Dan ini adalah salah satu khazanah ibadah islam dalam sosial. Yuk Tahun depan berqurban. (27/11)


Senin, 23 November 2009

Komunitas 1001 Pena

Alhamdulillah, setelah berusaha keras. Muter kepala ke depan ke belakang, sampai-sampai leherku hampir patah. Ide untuk memunculkan sebuah komunitas adalah sudah cukup lama. Kalau seandainya nanti ada yang risih, peduli amat - amat saja nggak peduli. hehehe. Oleh karena itu mengingat, menimbang dan memutuskan, tekad saya sudah bulan untuk menunjukkan eksistensi saya, melalui wadah kreasi "Kumunitas 1001 Pena". Semoga, mereka yang terhimpun nantinya, punya gagasan besar untuk perbaikan diri dan bangsa. Bagi kamu yang mau bergabung - tapi khusus pelajar dan mahasiswa Siak kecil saja - silahkan menghubungi Rhoma Istikhori di 085265680455. Jangan lupa isi form pendaftarannya, mumpung gratis. Dan jangan lupa dibawa juga senyumnya.


Minggu, 22 November 2009

Komunitas Penaku


Niat di hati nak buat komunitas pena di kampung. Tapi tu lah bingung apa namanya. Tapi kemaren sudah ada beberapa nama seperti komunitas GP (Geliatpena), Komunitas Seribu Pena (konsep), terus Komunitas Pena Profetika (KPP). Tapi setelah di pikir-pikir saya lebih cenderung memilih Konsep. Ah.. Tapi nantilah, nggak perlu terburu-buru. Tau Komunitas Kakao ja. Hehehe...


Rabu, 18 November 2009

TV One Goes To Campus

Hari ini (19/11) TV One ternyata Jaulah Kampus (Tv One Goes to Campus). Sepertinya ini baru pertama selama tahun terakhir ini. Tentu hal ini bisa kita berikan apresiasi yang positif. Sayangnya sampai saat ini TV One belum juga sampai ke Kampus Unri. Ini sebuah kontemplasi buat kampus Unri. Tapi kita doakan saja semoga ada angin yang membawa kru TV One yang ke sini. Program KAMPUS ONE akan ke 5 kota besar di Indonesia kita tunggu saja. KAMPUS ONE adalah program baru yang memberikan kesempatan kepada temen-temen kampus yang tertarik dengan bidang penyiaran, untuk belajar dan menggali lebih lagi…tentang DUNIA JURNALISTIK TV, denger-denger acaranya berbentuk Seminar, workshop, ato ada juga OR Huntig News For TV ONE. Tapi itu lah Pekanbaru bukan kota besar. wallahualam


Sajak untuk Pena

Dari titik yang mengalir
Aku menggeliat tiada henti
Menakar berlembar-lembar sejarah
Memutar kisah dari sebuah negeri
Yang telah lama terkubur

Aku luahkan kebisingan kata
Yang kian merayu penuh makna dan tanya
Menyapa kesela-sela hati
Dan menari bersama ombak
Bahkan sang pujangga berdecak kagum
Di atas pucuk-pucuk galau
Dalam meniti bait-bait puisi dan gurindam

Entah setua apa diriku?
Selalu hidup dari mereka
Yang mengerti makna sebuah kata
Meski aku hanya pena

(Diterbitkan di Riau Pos tanggal 8 November 2009)

Sabtu, 31 Oktober 2009

PENGUMUMAN HASIL TES REKRUTMEN FLP PKU

Ahad yang (24/10) lalu dengan langkah gontai, aku pulang dari wawancara penerimaan anggota FLP. Bukan karena mengecewakan atau bagaimana. Tapi memang aku sendiri yang kecapaian. Semalaman di Kampus (baca mabit) dan paginya harus mulangin motor. Itulah memang keinginanku tempo dulu, saat sebelum tinggal di Bumi Bertuah ini, inginnya menjadi manusia super sibuk. Dan hari ini, sebagaimana yang dijanjikan pengurus FLP Pekanbaru, Ahad (1/11) pengumuman kelulusan (kayak test cpns aja). Alhamdulillah Hasil
Tes Tertulis Open Rekrutmen FLP Pekanbaru
Pekanbaru, 25 Oktober 2009
1. PUTRI/
No/ Nama/ Kepenulisan/ Keislaman/ Organisasi/ Interview/ Total
1. Nur Hamidah: /70 /60 /60 /90 /70
2. Dewi Susanti 70 62 70 75 70
3 Nur Jannah 60 45 75 70 62
4. Martina Eka Desvita 50 85 70 85 72
5. Hatsi Ulandari 30 85 95 78 72
6. Icha Maisyarah 78 75 75 88 79
7. Rosa Sumbar Wati 75 65 79 85 76
8. Teti Dwi Jayanti 72 45 75 75 67
9. Rafika Putri 90 60 80 75 76
10. Loli Febriyeni 67 75 90 75 77
11. Rengga Putri Anjayani 77 45 80 75 70
12 Hepta Pracipta Dewi 67 60 75 78 70
13. Nila Kusmawati 67 60 70 78 69
14. Jasmawati 100 75 65 90 82
15. Sulina Putri Prima Saptari 87 75 70 80 78
16 Afriyanti 80 65 60 85 72
17. Suci Apriyani 70 85 50 78 71
18. Ismahera Omar 100 85 60 89 83
19. Lisma Hariyani 65 45 65 85 65
20. Weni Okta Suida 80 49 70 75 68
21. Hera Arman 67 70 55 75 67
22. Rahma Rinawati 82 70 80 80 78
23. Resti Aryani 100 75 75 75 81
24. Siti Fatimah 100 63 70 75 77
25. Dian Fradini 57 60 75 75 67
26. Nur Alfi Laily 70 70 65 75 70
27. Afni Benazir 95 85 85 85 87
28. Namira 100 45 80 78 76
29. Gusriyenti 95 84 85 88 88
30. Ashfiya Nabila Arrasuli 80 65 70 75 72
31. Resti Pratiwi 67 45 60 75 62
32. Afranisa 100 65 80 75 80
33. Sri Syafnita 78 75 80 85 79
34. Mentari Daulay 75 70 75 75 74
35. Rukiah 79 85 80 85 82
36. Yulia Minarti 75 60 75 70 70
37. Resiana Heri 90 75 70 75 77
38. Nina Karlina 75 75 79 80 77
39. Febi Yusrianti 80 70 75 80 76

Hasil Tes Tertulis Open Rekrutmen FLP Pekanbaru
Pekanbaru, 25 Oktober 2009 (Putra)
2. PUTRA
NO Nama/ Kepenulisan/ Keislaman/ Organisasi/ Interview/ Total
1. Mersel Peba/ 65/ 70/ 70/ 70/ 69
2. Geovani Gabreli 90 65 55 75 71
3. Pebrio Irawan 27 65 65 75 58
4. Rudi Rendra 80 80 50 85 74
5. Rio Al-Azhar 70 85 55 90 75
6. Mulyadi 95 70 95 75 84
7. Muhammad Rizal 84 85 85 81 84
8. Sarwan Kelana 70 79 55 90 73
9. Hasanal Bulkiah 80 80 55 100 79
10. Dian Ok Putra 85 80 90 95 87
11. Nizamil Fadli 70 65 60 79 76
12. Sadriadi 90 79 70 80 80
13. Aidilah Suja 95 80 60 85 80
14. Abdul Hamid Nasution 50 60 80 78 67
15. Hendra Tama Saragih 90 60 60 80 72
16. Muhammad Asqalani Nst 70 60 70 78 69
17. Puput Jumantirawan 100 65 80 80 81
18. Suwito 10 80 70 78 59
19. Afdal 30 85 75 100 72
20. Pujiono Slamet 77 70 65 90 75
21. Syalma Hendri 50 60 65 78 63
22. Reri Saputra 70 80 70 80 75
23. Nofri Andri 70 80 60 75 71
24. Ari Aprilis 65 75 70 75 71
25. Satria Antoni 75 85 70 75 76
26. Muflih Helmi 86 83 90 85 86
27. Farhan 55 85 70 75 71
28 Jumardi 75 80 85 100 85


NB:
1. BAGI NAMA YANG BELUM TERCANTUM BISA MENGHUBUNGI DEVISI HUMAS CP: 081275133357.
2. BAGI NILAINYA YANG DI BAWAH 60 DINYATAKAN LULUS BERSYARAT, DENGAN MEMBUAT KARYA TAMBAHAN BERUPA: 1 PUISI, 1 CERPEN DAN 1 OPINI.
3. SUKSES DAN TAHNIAH BUAT TEMAN-TEMAN YANG SUDAH DINYATAKAN LULUS PADA SELEKSI CALON ANGGOTA FLP CAB. PEKANBARU ANGKATAN V 2009-2010.
4. NAMA YANG TERCANTUM DI ATAS BERHAK MENGIKUTI PELATIHAN/MAGANG PERDANA, AHAD 08 NOVEMBER 2009, PUKUL 08.00 WIB s/d selesai DI GALLERY IBRAHIM SATTAH MTQ.
5. HAL-HAL YANG BELUM JELAS BISA HUB SEKUM FLP CAB. PEKANBARU: 085271380014


Senin, 26 Oktober 2009

Remaja dan Cinta


Agar Jatuh Cinta Tak Jadi Bencana
Penulis : Jauhar al-Zanki
Penerbit : Pro-U Media
Cetakan : 2009
Tebal : 208 halaman

Salah dalam memaknai cinta, seringkali menodai cinta itu sendiri. Dan seakan cinta menjadi punca dari segala bencana. Sehingga cintalah yang disalahkan. Tetapi, adakalanya seorang mampu mendirikan bangunan dengan arsitertur yang megah dan indah, karena cinta. Seseorang mampu mengorbankan dirinya untuk mengharungi samudera, karena cinta. Dan adakalanya, karena cinta seorang penguasa rela tunduk dan menyerahkan tahta kerajaannya. Bahkan, seseorang rela menghempaskan raganya dari ketinggian sebuah menara karena cinta. Itulah cinta.Agar Jatuh Cinta Tak Jadi Bencana, adalah sebuah buku yang membahas tentang cinta yang hakiki. Menjelaskan sisi yang belum dipahami oleh para pencinta, khususnya para remaja. Jauhar al-Zanki, menjelaskan bahwa cinta sejati adalah cinta yang tidak akan membawa bencana, tapi adalah sebuah cinta yang berbuah ridha-Nya. Bukanlah sebuah cinta, bila sama-sama hanya menodai kesucian, atau hanya memuaskan nafsu birahi saja. Yang dengannya justru akan akan berakhir sengsara. Padahal fitrah cinta tidak demikian. Tetapi, cinta hakiki bukan malah menyakitkan, tapi cinta yang hakiki justru menyembuhkan.

Meskipun kesalahan dalam menempatkan rasa tersebut tidak hanya kaum remaja saja, namun kaum remaja sudah selayaknya diberikan perhatian yang khusus. Sebab masa remaja sangat cenderung mengikuti keinginan tanpa dibarengi dengan pengetahuan maupun keagamaan. Sehingga wajar ketika remaja tidak mendapat bimbingan, mereka lebih memilih jalan sendiri. Mengikuti arus zaman yang mengancam masa depannya.

Secara psikologi dunia remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Di masa itu hormon pertumbuhan remaja meningkat dari biasanya. Sehingga ada perbedaan psikologi dari sebelumnya. Ini terlihat dari karakternya sehari-hari. Selalu identik dengan kesenangan, keceriaan, canda, tawa, bahkan tangis. Suatu saat ia bisa merasakan kebahagiaan yang amat sangat, yang membuatnya lupa diri. Tapi di suatu waktu merasakan kesedihan yang membuat bingung orang tua. Apalagi cara berpikir terhadap sesuatu tidak secara komprehensip, membuat remaja berprilaku “suka-suka gue”. Hal-hal inilah yang pada umumnya masih melekat pada pribadi remaja dan perlu diluruskan. Apalagi masa itu mereka baru mengenal yang namanya cinta. Bila ini dibiarkan, akan berdampak tidak baik untuk dirinya.

Remaja dan cinta adalah tatanan kata yang memuat potensi luar biasa. Bila tepat dalam memaknainya, hidup akan penuh makna. Sebaliknya, jika salah dalam menafsirkan cinta, bisa jadi hidup akan semakin sempit. Apalagi kaum wanita. Bila kesucian diri tidak mampu diproteksi dengan tegas, hilanglah kehormatan direnggut oleh nafsu yang tidak bertanggung jawab. Oleh karenanya, memaknai cinta harus seperti yang digariskan Allah dan Rasulnya. Yakni rasa yang bermuara dari kebeningan dan kesucian hati, sehingga mengantarkan keridhaan Allah Swt. Dan bukan kemurkaannya.

Buku setebal 208 ini, dengan bahasa yang santai dengan penggunaan bahasa dan kalimat yang lazim digunakan orang yang jatuh cinta, mampu mewacanakan makna cinta yang sejati. Penulis menjelaskan tentang cinta yang dipahami kaum remaja pada umumnya adalah seperti setangkai bunga yang dipetik dan disimpan di atas meja, di samping tempat tidurnya. Lalu disemprot parfum dan disandingkan dengan fotonya. Harum, cantik dan menarik. Sebuah panorama yang sedap dipandang mata. Tapi keesokannya ditemukan layu, lalu dibuang. Dan begitulah seterunya. Sementara bunga semakin lama, akan semakin layu karena ternodai kesuciannya. Hanya sekedar itu makna cinta yang mereka pahami.

Padahal, memaknai cinta yang sebenarnya adalah dengan merawat, mengurus dan memperlakukan bunga sebagaimana mestinya. Sesuai fitrahnya: dirawat di taman atau di pot bunga. Sebab itu lah cinta harus diarahkan ke sana, ke fitrah kesucian diri. Ke arah keshalehan dan kebersihan hati. Ke arah cinta yang hakiki, cinta sejati dan teragung, yakni Allah Swt.

Dalam buku ini, Jauhar al-Zanki menawarkan solusi selama penantian. Yakni selama rasa cinta itu mulai tumbuh hingga cinta ditempatkan pada waktunya. Caranya menyibukkan diri dengan Allah Swt, sibuk dengan amal kebajikan. Jika kita tidak disibukkan dengan kebajikan, maka setan akan menyibukkannya dengan perbuatan yang sia-sia dan berbuah dosa.

Penulis berhasil membuka cakrawala pemikiran kita yang kurang tepat dalam memaknai dan menggunakan cinta itu sendiri. Sehingga buku ini sangat bermanfaat, bukan hanya untuk para remaja saja, tapi untuk siapapun yang sedang jatuh cinta. Dan juga orang tua agar mampu meluruskan rasa cinta buah hatinya. Muatan buku yang sarat dengan pelajaran kisah sejati tentang cinta, membuat pembaca akan lebih mengerti akan fenomena cinta. Tentu buku ini layak menjadi penghuni perpustakaan anda.

Oleh : Muflih Helmi

Anggota Komunitas Pena Arroyyan

Email : ribzah_helmi@yahoo.co.id
(dipublikasikan di Riau Pos tanggal 25 Oktober 2009)


Laman Cipta Sastra

Laman Cipta Sastra Dewan Kesenian Riau
(Lomba Penulisan Karya Sastra DKR Diperpanjang)
Lomba penulisan karya sastra (naskah drama, cerpen dan puisi) Dewan Kesenian Riau yang dikemas dalam acara tahunan Laman Cipta Sastra diundur. Sebelumnya kegiatan ini direncanakan dilaksanakan tanggal 15 Juli sampai dengan 15 Oktober 2009, karena sesuatu hal pengiriman karya sastra yang diperlombakan diperpanjang sampai tanggal 15 Desember 2009. Hang Kafrawi selaku Ketua Komite sastra DKR mengatakan bahwa perpanjangan batas pingiriman karya sastra ini selain memberi peluang bagi penulis yang belum mengetahui, juga disebabkan adanya permintaan dari kawan-kawan penulis agas masa pengiriman diperpanjang. “Kita membuka peluang bagi siapa saja baik penulis di Riau, maupun penulis di luar Riau untuk berpartisipasi ikut dalam Laman Cipta Sastra DKR”, ujar Kafrawi.
Laman Cipta Sastra Dewan Kesenian tahun ini merupakan yang ke 11 kalinya. Pada tahun ini juga, panitia tidak membatasi peserta dari mana saja untuk ikut serta. Lomba ini terbuka bagi masyarakat Indonesia dan tentu saja sesuai dengan syarat-sayarat yang telah ditentukan oleh panitia. Adapun syarat-sayratnya sebagai berikut; peserta berdomisili di Indonesia dengan melampirkan foto kopi KTP. Karya harus asli bukan saduran bukan terjemahan dan bukan plagiat. Karya memperlihatkan upaya penggalian ekspresi dalam budaya Melayu Riau, misalnya bahasa yang digunakan dan latar belakang. Karya belum pernah dipublikasikan. Peserta maksimal mengirimkan karyanya sebanyak 3 karya. Naskah cerpen diketik 2 spasi, minimal 5 halaman maksimal 15 halaman, naskah drama diketik 2 spasi minimal 20 halaman maksimal 50 halaman, naskah puisi diketik 1 spasi, maksimal 4 halaman, dan naskah dikirim 4 rangkap. Batas pengiriman karya (stempel pos) 5 Desember 2009, dan apabila diantar langsung ke sekretariat DKR tanggal 10 Desember 2009. Naskah dikirim kepada Panitia Laman Cipta sastra DKR, Kompleks Bandar Seni Raja Ali Haji (Purna MTQ) Jln. Sudirman, Pekanbaru Riau. Para pemenang akan diumumkan pada tanggal 26 Desember 2009.
Untuk lomba penulisan naskah drama panitia menyediakan sagu hati pemenang I Rp 2.500.000, pemenang II Rp 2.000.000 dan pemenang III Rp 1.500.000. Untul lomba cerpen, pemenang I Rp 2.000.000, pemenang II Rp 1.500.000 dan pemenang III 1.000.000. Sementara untuk lomba penulisan puisi pemenang I Rp 1.500.000. pemenang II Rp 1.000.000 dan pemenang III Rp 750.000. (sumber:http://dewankesenianriau.com)


Membangun Tradisi Belajar

Sesungguhnya jiwa saya merasa senang dengan ilmu; dengannya jiwa saya semakin tenang (Ibnu Taimiyyah). Seakan perkataan Ibnu Taimiyyah di atas, sebuah sindiran hebat untuk kita. Jika kita cermati ada sebuah tradisi belajar kita mulai tertimbun di balik kesibukan mengejar harta, kurangnya rasa kepedulian terhadap ilmu. Ilmu dirasakan bukan prasyarat untuk memperoleh ketenangan jiwa dan kedamaian dunia, tapi adalah sebuah formalitas untuk meraih dunia kerja.

Kecendrungan tersebut, ternyata lebih banyak disebabkan kurangnya pemahaman terhadap hakikat ilmu. Terlalu sederhana kalau kita sekolah, dan menuntut ilmu sekadar untuk memperoleh kerja. Akan tetapi jika orientasinya sekedar mendapatkan pekerjaan, maka kita hanya menunggu untuk digunakan. Dan semakin bertambahlah mental yang hanya dipekerjakan oleh bangsa lain.

Imam Nawawi pernah mendengarkan cerita gurunya Imam Abu Ishaq, tentang Syeikh Abdul Azhim. Setiap tengah malam ia terbangun dan selalu melihat lampu kamar Syeikh Abdul Azhim masih menyala. Itu pertanda ia masih tekun belajar dan menulis. Bahkan al-Badar bin Jamaah menceritakan tentang kisah Imam Nawawi sendiri. ‘’Setiap kali aku mengunjungi an-Nawawi, ia harus menumpuk-numpuk kitab-kitabnya supaya ada sedikit ruang untuk ku.’’
Kisah-kisah inspiratif di atas selalu mengalir dalam setiap bab buku Profetic Learning ini. Dwi Budiyanto adalah motivator pembelajaran dari Profetika Learning Centre, seakan membawa pembaca ke zaman peradaban Islam berabad-abad yang lampau. Di mana ilmu adalah kekuatan utama bagi tonggak peradaban.

Profetik learning adalah sebuah cara belajar yang menimba dari pengalaman generasi pemenang dari khazanah sejarah emas Islam. Yaitu, ilmu dengan orientasi untuk kemaslahatan ummat, dan bahkan berorientasi kepada akhirat. Hal ini akan menimbulkan hasrat yang kuat dalam belajar, berkarya dan berkontribusi. Sehingga ilmu tidak hanya bermanfaat bagi dirinya, tapi juga kehidupan.

Penulis memaparkan tiga wila-yah keilmuan yang harus kita kuasai. Pertama, ilmu yang terkait dengan dasar-dasar pembentukan karakter dan potensi kita. Kedua, ilmu yang berkaitan dengan penguatan sosial kita. Ketiga, ilmu yang berkaitan dengan pengembangan profesi kita. Kita menemukan bahwa kelas-kelas kita terlalu padat dengan muatan materi, tetapi sangat miskin dengan motivasi.

Selain penulis menyampaikan dengan gaya bahasa motivator yang mudah dipahami, penulis melengkapinya lembar program ikhtiari di setiap pembahasan. Yaitu sebuah program yang mesti diikuti pembaca dalam mewujudkan mental pembelajar dengan jalan kenabian. Hal ini akan memudahkan pembaca untuk menginterpretasi setiap pembahasan penting dari buku pengembangan ini. Bukannya tidak mungkin jika pembaca benar-benar mampu menyerap semua isi buku ini, akan termotivasi untuk menata kembali kecerdasan pikiran.

Buku ini sangat bagus untuk kalangan pelajar, mahasiswa, guru dan dosen untuk memotivasi diri menjadi pembelajar. Dengan mengubah pola belajar dan juga mengajar selama ini, tentu mampu meminimalkan keterpurukan pendidikan bangsa kita. Generasi terdahulu telah memberikan contoh yang inspiratif. Seperti Imam Malik telah menghasilkan kitab al-Muwatha’, Ibnu Taimiyyah telah menghasilkan Majmu’ Fataawaa, Imam Syafi’i dengan al-Umm, Ibnu al-jauzi menulis ilmunya dalam Shaidul Khatir, Buya Hamka melahirkan karya-karya monumental seperti Tafsir al-Azhar, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan Tenggelamnya Kapal Van Der Vijk. Demikian pula BJ Habibie dengan Pengembangan Penerbangan Tanah Air, Ary Ginanjar menghasilkan gagasan ESQ, Abdullah Gymnastiar menggagas Manajemen Qolbu. Lalu, haruskah kita sekadar menjadi orang-orang biasa, dengan cara belajar selama ini? Tentu itu bukan pilihan yang diinginkan.

Profetic Learning adalah tradisi belajar mereka, yang luar biasa dalam mengembangkan diri. Sehingga mereka terus berproses tiada henti, melalui banyak jalan yang perlu kita teladani. Mereka rajin membaca, berkarya, me-ngembara, dan sebagainya. Buku ini akan menjadi pemantik bagi mereka yang ingin sukses, dengan menjadikan belajar dengan Profetic Learning sebagai tradisi kesehariannya. Selamat membaca!***

Muflih Helmi
ribzah_helmi@yahoo.co.id
Anggota Komunitas Pena Arroyyan

(Dipublikasikan di Riau Pos, Agustus 2009)


Garuda Ingin Jadi Bintang Lapangan Hijau

Apa yang terpikir ketika mendengar kata bola? Salah satunya mungkin “Budi” Manchester United yang batal bermain dengan Timnas, atau mimpi Indonesia masuk Piala Dunia. Benny Rhamdany, peraih Adikarya IKAPI 2007, berhasil menuliskan novel prekuel dari film Garuda di Dadaku dengan memasukkan nilai moral tanpa menggurui. Novel ini mengajarkan pembaca untuk mengambil pelajaran dari sepak bola. Mulai dari menahan diri, bersabar, dan kerja tim. Main bola tak sekadar menendang, mengoper, menggiring, atau mencetak gol. Kemenangan ditentukan keahlian, tapi juga tak bisa mengabaikan kerja sama yang solid.Novel ini awalnya menceritakan “Garuda” julukan Bayu, anak yang punya talenta besar di lapangan hijau. Keinginannya meneruskan cita-cita ayahnya, Bang Ali, yang gagal jadi pemain nasional. Kemudian seorang anak istimewa hadir dalam kehidupan Bayu. Mereka punya hobi sama, yakni bola.

Ayah Bayu yang berprofesi sebagai supir taksi, juga tak pernah menghentikan aksinya di lapangan hijau sebagai pelatih. Bayu tak hanya bermain dengan teman-temannya di sekolah, tapi juga bersama para supir taksi binaan sang ayah. Saking lihainya membawa bola itulah, oleh teman-teman ayahnya Bayu dijuluki “Garuda”.

Namun, sang kakek, Pak Usman, seorang pensiunan pegawai Pertamina tak suka cucunya main bola. Jadinya, Bayu selalu cari alasan tiap kali berlatih. Namun, sepandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Kakeknya terkejut dan marah saat melihat Bayu pulang bermain bola. Konflik lama antara sang Ayah dan anak, akhirnya tak bisa dibendung. Pak Usman masih kecewa dengan Ali, karena tak mau jadi pegawai Pertamina.

Buku ini juga mengingatkan kita soal mimpi. Betapa perjuangan meraih mimpi bukan suatu yang mudah. Kadang malah rintangan datang dari orang yang kita cintai. Karenanya Indonesia harus belajar banyak dari buku ini, bila impian untuk lolos ke ajang Piala Dunia ingin terwujud.

Mimpi Sang Garuda seakan membawa makna yang dalam bagi tim bola Indonesia. Jangankan masuk Piala Dunia, di Asia saja selalu kandas. Selain itu, buku pertama dari trilogi menceritakan persahabatan yang asyik, kompak, inspiratif dan menarik serta mengaharukan. Rugi rasanya bila tak membacanya. Sangat bagus untuk membangun mental anak dalam berolahraga, dan memotivasi semangat tim bola tanah air yang kita cintai.

Muflih Helmi
ribzah_helmi@yahoo.co.id
Anggota Komunitas Pena Ar-Royyan
(Dipublikasikan di Riau Pos tanggal 2 Agustus 2009)

Rabu, 21 Oktober 2009

Ketua MPP PKS dipercaya Jadi Menristek

Ketua Majelis Pertimbangan Partai (MPP) PKS Suharna Surapranata dipercaya oleh presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi dalam kabinet pemerintahan SBY-Boediono.

"Presiden SBY dan Wapres terpilih Boediono memberi arahan tugas dan target yang harus dicapai untuk menunjang pelaksanaan pembangunan ekonomi berlandaskan pada daya saing, kekayaan sumber daya alam, sumber daya manusia dan budaya bangsa melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi," kata Suharna usai menjalani uji kelayakan sebagai menteri di kediaman Presiden Yudhoyono di Cikeas, Bogor Minggu (18/10).
Suharna memiliki kompetensi pendidikan berbasis riset dan teknologi. Alumnus Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia dan master dari ITB itu pernah di Badan Atom Nasional (Batan). Namun ia tinggalkan untuk konsentrasi sebagai entrepreneur.
Sementara Fahmy Alaydroes, teman semasa kuliah di UI dan kolega membesarkan lembaga pendidikan Nurul Fikri, mengaku sudah mengira Suharna bakal terpilih. Saat ini Fahmy Ketua Yayasan Nurul Fikri, lembaga yang dirintis bersama Suharna semasa kuliah di UI. Nurmahmudi Bangga Sementara itu, mantan Presiden Partai Keadilan (PK) Nurmahmudi Ismail yang diwawancarai terpisah mengaku bangga akan kader-kader PKS itu. Dua dari empat calon menteri yang dijagokan PKS merupakan koleganya. Bukan hanya itu, Tifatul Sembiring dan Suharna Surapranata tinggal di satu kelurahan dengan dirinya di Depok, Jawa Barat.
Nuansa kegembiraan itu terpancar di wajah Nurmahmudi Ismail ketika ditemui Persda Network di kediaman pribadi di Komplek Griya Tugu Asri Blok A4, Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, Depok, Minggu (18/10). Menurut Wali Kota Depok itu, 4 menteri jatah PKS telah dipastikan.
Ia mengaku bangga, karena kader-kader PKS menjadi calon menteri. “Saya senang karena Pak Tifatul dan Pak Suharna adalah kolega saya di PKS. Waktu saya Presiden PK (Partai Keadilan sebelum berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera) Pak Tifatul adalah humas saya. Sedangkan Pak Suharna Anggota Majelis Pertimbangan Partai. Sekarang saya lebih senang, karena berhasil mengantarkan Pak Tifatul jadi humasnya Republik Indonesia,” katanya.
Nurmahmudi lebih bangga lagi karena dua calon menteri tersebut tinggal satu kelurahan dengannya.
“Pak Tifatul dan Pak Suharna warga saya di Depok. Bahkah kami tinggal satu kelurahan di Kelurahan Tugu,” katanya.
Bila ditarik garis lurus, rumah Nurmahmudi dan Suharna tidak lebih dari 200 meter. Nurmahmudi tinggal di kompleks elite, sedangkan Suharna berada di luar, tepatnya di belakang kompleks Griya Tugu Asri.
Ada pun kediaman Tifatul berjarak kurang lebih satu kilometer dari rumah Suharna dan Nurmahmudi. Kompleks ini rupanya basis PKS, dan hunian para petinggi partai bernomor 8 pada Pemilu 2009. Satu kompleks dengan Nurmahmudi ada Ketua Departemen Pendidikan PKS Fahmy Alaydroes. Suharna saat ini menjabat Ketua Majelis Pertimbangan Partai DPP PKS, dan Tifatul Presiden PKS.
Mengenai Suharna, dan Tifatul, menurut Nurmahmudi, memiliki kesamaan.
“Mereka sama-sama memiliki kompetensi di bidangnya dan jiwa entrepreneurship yang tinggi,” tambahnya.
Sedangkan Tifatul yang insinyur komputer lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Informatika dan Komputer (STIK) Jakarta, sejak tahun 1982 bekerja di PT PLN .
Tugasnya menggarap bidang telekomunikasi dan data processing. Tahun 1989 mengundurkan diri untuk berdakwah dan bergabung dengan PKS..
Tak ada yang istimewa di rumah Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring kendati ayah dari tujuh anak itu dijagokan menjadi Menteri Informasi dan Komunikasi (Menkominfo) dalam kabinet Indonesia Bersatu Jilid II.Rumah bercat hijau muda di Pondok Mandala II, Blok N, Nomor 1, RT001/RW017, Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat (Jabar), terlihat biasa-biasa saja. (Helmi:liputan internet)



Profil Calon Menteri: Suswono Penggemar Sayur Asem

Menteri Pertanian (Mentan) di Kabinet Indonesia Bersatu II, Suswono, ternyata gemar menyantap sayur asam. "Kakak saya, Suswono, memang salah satu penggemar sayur asem. Bila pulang ke Slawi, minta dibuatkan sayur asem," kata adik kandung Suswono, Siti Arumsih, Selasa (20/10) di Tegal.

Soal makanan, kata Siti yang tinggal di RT 02/RW 04, Desa Kalisapu, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal itu, Suswono bukanlah orang yang pilih-pilih. Ia mengatakan, sebagian besar makanan kesukaannya adalah makanan sederhana.Berdasarkan cerita beberapa teman dekatnya, Suswono memang dikenal memiliki kecerdasan yang lebih baik ketimbang mereka. Suswono pernah aktif di sejumlah organisasi, seperti menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bogor, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Peternakan IPB, Pengurus Pelajar Islam Indonesia (PII) Daerah Tegal, dan Ketua PII Komisariat Slawi.

Asisten pribadi Suswono dan pengelola Kantor Perwakilan Pusat Informasi dan Pengaduan (PIP) Slawi, Aji Kurnia Darmawan, mengaku mengenal Suswono sebagai pribadi yang layak dicontoh masyarakat. "Sosok Suswono merupakan sosok pekerja keras, disiplin, dan memberikan perhatian kepada sesama," katanya.
Ketua DPRD Kabupaten Tegal Rojikin AH mengharapkan agar Suswono melaksanakan berbagai program pemerintah untuk kepentingan seluruh masyarakat dan bukan kepentingan partai.
Dalam fit and proper test kemarin, Presiden SBY sudah memberikan 10 arahan soal pertanian kepada kader PKS ini.

"Semuanya ada 10 hal soal pertanian," ujar Suswono saat ditemui di kantor DPP PKS, Jl TB Simatupang, Jakarta, Selasa (20/10/2009).

Suswono mengaku tidak merasa kesulitan dengan 10 arahan tersebut. Lulusan peternakan IPB ini siap melaksanakan arahan tersebut dalam program kerja mendatang.

"Tapi kan itu semua nanti kalau sudah diumumkan dan dilantik," imbuh anggota Komisi IV DPR ini.

Jika besok Presiden mengumumkan jabatan Menteri Pertanian kepada dirinya, Suswono mengaku siap menyusun program konkret 100 hari ke depan. "Tidak ada masalah bagi saya, apa yang telah dikerjakan Pak Anton (Mentan sebelumnya) sudah baik, kita tinggal melanjutkan sementara yang kurang kita tingkatkan," tandasnya.

Berikut 10 arahan Presiden kepada Suswono tentang masalah pertanian ke depan:

1. Ketahanan Pangan
2. Kemandirian Pangan di tiap daerah
3. Produktivitas Hasil Pertanian
4. Keterpaduan Antar Sektor
5. Kesejahteraan Petani
6. Subsidi Tepat dan Ideal
7. Ekspor Impor yang Adil
8. Peningkatan Produksi Peternakan
9. Peningkatan Kerjasama Negara-negara Sahabat
10. Pemberantasan KKN

Sudah ada bocoran tentang program 100 hari ke depan? "Nanti saja yang jelas semua sudah dipersiapkan," pungkasnya.

sumber :detiknews dan kompas

Inilah Susunan Kabinet Indonesia Bersatu II

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya mengumumkan susunan menteri Kabinet Indonesia Bersatu II di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10) pukul 22.00. Berikut ini daftar menteri dan pejabat negara dalam kabinet baru yang akan menjabat pada periode tahun 2009-2014.
Menteri Koordinator
Menko Polhukam : Marsekal TNI Purn Djoko Suyanto
Menko Perekonomian : Hatta Radjasa
Menko Kesra : R Agung Laksono
Menteri Sekretaris Negara: Sudi Silalahi

Menteri Departemen
Menteri Dalam Negeri : Gamawan Fauzi
Menteri Luar Negeri : Marty Natalegawa
Menteri Pertahanan : Purnomo Yusgiantoro
Menteri Hukum dan HAM : Patrialis Akbar
Menteri Keuangan : Sri Mulyani
Menteri ESDM : Darwin Zahedy Saleh
Menteri Perindustrian : MS Hidayat
Menteri Perdagangan : Mari Elka Pangestu
Menteri Pertanian : Suswono (PKS)
Menteri Kehutanan : Zulkifli Hasan
Menteri Kelautan dan Perikanan: Fadel Muhammad
Menteri Perhubungan : Freddy Numberi
Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi: Muhaimin Iskandar
Menteri Pekerjaan Umum : Djoko Kirmanto
Menteri Kesehatan : Endang Rahayu Setianingsih
Menteri Pendidikan Nasional: Muhammad Nuh
Menteri Sosial : Salim Assegaf Al’jufrie (PKS)
Menteri Agama : Suryadharma Ali
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata: Jero Wacik
Menteri Komunikasi & Informasi: Tifatul Sembiring (PKS)

Menteri Negara
Menneg Riset & Teknologi: Suharna Surapranata (PKS)
Menneg Koperasi dan UKM : Syarif Hasan
Menneg Lingkungan Hidup : Gusti Moh Hatta
Menneg PP dan Perlindungan Anak: Linda Agum Gumelar
Menneg PAN : E.E. Mangindaan
Menneg PPDT : Helmy Faisal Zaini
Menneg PPN/Kepala Bappenas: Armida Alisjahbana
Menneg BUMN : Mustafa Abubakar
Menneg Perumahan Rakyat : Suharso Manoarfa
Menneg Pemuda & Olah Raga: Andi Mallarangeng

Pejabat Tinggi Setingkat Menteri
Ketua UP3kR : Kuntoro Mangku Subroto
Kepala BIN : Jenderal Polisi Sutanto
Kepala BKPM : Gita Wirjawan



(http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/10/21/22185589/inilah.susunan.kabinet.indonesia.bersatu.ii)


Selasa, 13 Oktober 2009

Cerpen - Ketika Mas Gagah Pergi

Mas Gagah berubah!
Ya, sudah beberapa bulan belakangan ini Masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah !
Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Teknik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja… ganteng! Mas Gagah juga sudah mampu membiayai kuliahnnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.
Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku kemana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji.Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak untukku.Saat memasuki usia dewasa kami jadi makin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda bersama teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelucon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan, Ancol.
Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya !
“Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih ?”
“Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang serumahku sering membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho ! Gila, berabe khan ?”
“Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku ?”

Dan masih banyak lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku cuma mesam-mesem. Bangga.
Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum punya pacar. Apa jawabnya ?

“Mas belum minat tuh ! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati ! He…he…he..” kata Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah sosok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tapi tak pernah meninggalkan sholat !

Itulah Mas Gagah!

Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah ! Drastis ! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…

–=oOo=–

“Mas Gagah ! Mas Gagaaaaaahhh!” teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras.

Tak ada jawaban. Padahal kata mama Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa arab gundul. Tak bisa kubaca. Tapi aku bisa membaca artinya : Jangan masuk sebelum memberi salam!

“Assalaamu’alaikuuum!” seruku.

Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.

“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?” tanyanya.
“Matiin kasetnya !” kataku sewot.
“Lho emang kenapa ?”
“Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah ! Memangnya kita orang Arab… , masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!” aku cemberut.
“Ini nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita !”
“Bodo !”
“Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh dong Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri,” kata Mas Gagah sabar. “Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek…, mama bingung. Jadinya ya, di pasang di kamar.”
“Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…, eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!”
“Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…”
“Pokoknya kedengaran!”
“Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus, lho !”
“Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!” aku ngloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.

Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Kemana kaset-kaset Scorpion, Wham!, Elton John, Queen, Bon Jovi, Dewa, Jamrood atau Giginya?

“Wah, ini nggak seperti itu, Gita ! Dengerin Scorpion atau si Eric Clapton itu belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lain lah ya dengan senandung nasyid Islami. Gita mau denger ? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok !” begitu kata Mas Gagah.

Oalaa !

–=oOo=–

Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma ‘adik kecil’nya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.
Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Sholat tepat waktu, berjama’ah di Masjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip di lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau baca buku Islam.
Dan kalau aku mampir di kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya,”Ayo dong Gita, lebih feminin. Kalau kamu pakai rok atau baju panjang, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba Dik manis, ngapain sih rambut ditrondolin gitu !”

Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga nggak pernah keberatan kalau aku meminjam kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu sering memanggilku Gito, bukan Gita ! Eh, sekarang pakai manggil Dik Manis segala!
Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga mama menegurnya.

“Penampilanmu kok sekarang lain, Gah?’
“Lain gimana, Ma ?”
“Ya, nggak semodis dulu. Nggak dandy lagi. Biasanya kamu yang paling sibuk dengan penampilan kamu yang kayak cover boy itu…”
Mas Gagah cuma senyum. “Suka begini, Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun.”
Ya, dalam penglihatanku Mas Gagah jadi lebih kuno dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. “Jadi mirip Pak Gino,” komentarku menyamakannya dengan sopir kami. “Untung saja masih lebih ganteng.”
Mas Gagah cuma terawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu.

Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga sangat kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama atau becanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah, kebingungan.
Dan…yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan!! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?

“Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau salaman sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di Sanggar Gita tahu?” tegurku suatu hari. “Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang !”
“Justru karena Mas menghargai dia makanya Mas begitu,” dalihnya, lagi-lagi dengan nada amat sabar. “Gita lihat khan orang Sunda salaman? Santun meski nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!”
Huh. Nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?
Mas Gagah membawa sebuah buku dan menyorongkannya padaku. “Baca!”
Kubaca keras-keras. “Dari ‘Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah. Rasulullah saw tidak pernah berjabat tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhari Muslim!”
Si Mas tersenyum.
“Tapi Kyai Anwar mau salaman sama mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…,” kataku.
“Bukankah Rasulullah uswatun hasanah? Teladan terbaik?” kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. “Coba untuk mengerti ya, Dik Manis !?”

Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel. Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik ! Aku jadi khawatir. Apa dia lagi nuntut ‘ilmu putih’? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa oleh orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun…, akhirnya aku nggak berani menduga demikian. Mas-ku itu orangnya cerdas sekali! Jenius malah! Umurnya baru dua puluh satu tahun tapi sudah tingkat empat di FTUI! Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…, yaaa akhir-akhir ini ia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.

–=oOo=–

“Mau kemana, Git!?”
“Nonton sama teman-teman.” Kataku sambil mengenakan sepatu. “Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya!”
“Ikut Mas aja, yuk!”
“Kemana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah! Gita kayak orang bego di sana!”

Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu yang lalu Mas Gagah mengajakku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tabligh akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku dilihatin sama cewek-cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya, aku kesana memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang nggak bisa aku sembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.

“Assalaamu’alaikum!” terdengar suara beberapa lelaki.

Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman si Mas ini. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku…, persis kelakuannya Mas Gagah.

“Lewat aja nih, Mas? Gita nggak dikenalin?” tanyaku iseng.

Dulu nggak ada deh teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome!

Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. “Ssssttt !”

Seperti biasa, aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal ke-Islaman, diskusi, belajar baca Al-Quran atau bahasa Arab…, yaaa begitu deh!!

–=oOo=–

“Subhanallah, berarti kakak kamu ikhwan dong!” seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah sebulan ini berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.
“Ikhwan?” ulangku. “Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?” suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.
“Huss! Untuk laki-laki ikhwan, untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita,” ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. “Kamu tahu Hendra atau Isa, kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini.”
Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.
“Udah deh, Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji! Insya Allah kamu akan tahu meyeluruh tentang dien kita. Orang-orang seperti Hendra, Isa, atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya saja yang mungkin belum mengerti dan sering salah paham.”
Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku menjelma begitu dewasa.
“Eh, kapan main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat, Gita…, meski kita kini punya pandangan yang berbeda,” ujar Tika tiba-tiba.
“Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…,” kataku jujur. “Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih…”
Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin. “Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk. Biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan pada Mbak Ana.”
“Mbak Ana ?”
“Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amrik malah pakai jilbab! Itulah hidayah!”
“Hidayah ?”
“Nginap, ya! Kita ngobrol sampai malam sama Mbak Ana!”

–=oOo=–

“Assalaamu’alaikum, Mas Ikhwan…, eh Mas Gagah !” tegurku ramah.
“Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!” kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.
“Dari rumah Tika, teman sekolah,” jawabku pendek. “Lagi ngapain, Mas?” tanyaku sambil mengintari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, ganbar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku ke-Islaman..
“Cuman lagi baca !”
“Buku apa ?”
“Tumben kamu pengin tahu?”
“Tunjukin dong, Mas…buku apa sih?” desakku.
“Eit…, Eiiit !” Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.
Kugelitik kakinya, dia tertawa dan menyerah. “Nih!” serunya memperlihatkan buku yang sedang dibacanya dengan wajah setengah memerah.
“Nah yaaaa!” aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku ‘Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam’ itu..
“Maaaas…”
“Apa Dik manis?”
“Gita akhwat bukan sih?”
“Memangnya kenapa ?”
“Gita akhwat apa bukan ? Ayo jawab…,” tanyaku manja.

Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara kepadaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami ummatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu jadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal lainnya. Dan untuk petamakalinya setelah sekian lama, aku merasa kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.
Mas Gagah dengan semangat terus berbicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikkan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya!!

“Mas kok nangis?”
“Mas sedih karena Allah, Rasul dan Al Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena ummat yang banyak meninggalkan Al-Quran dan Sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di Belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan, dan tidur beratap langit…”
Sesaat kami terdiam. Ah, Masku yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli…
“Kok…tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?” tanya Mas Gagah tiba-tiba.
“Gita capek marahan sama Mas Gagah !” Ujarku sekenanya.
“Emangnya Gita ngerti yang Mas katakan?”
“Tenang aja, Gita nyambung kok!” kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan hal demikian. Aku ngerti deh meski nggak mendalam.

Malam itu aku tidur ditemani tumpukan buku-buku Islam milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah!

–=oOo=–

Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi sepeti dulu. Meski aktivitas yang kami lakukan berbeda dengan yang dahulu.
Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum. Atau ke tempat-tempat tabligh Akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah, kadang-kadang bila sedikit kupaksa Mama Papa juga ikut.
“Masa sekali aja nggak bisa, Pa…, tiap minggu rutin ngunjungin relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?” tegurku.
Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, “Iya deh, iya!”
Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung juga. Soalnya pengantinnya nggak bersanding tapi terpisah! Tempat acaranya juga gitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu dibagikan risalah nikah juga. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran, harus Islami dan semacamnya. Ia juga wanti-wanti agar aku tak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek!
Aku nyengir kuda.
Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku. Soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.
“Nyoba pakai jilbab, Git !” pinta Mas Gagah suatu ketika.
“Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol! Lagian belum mau deh jreng!”
Mas Gagah tersenyum. “Gita lebih anggun kalau pakai jilbab dan lebih dicintai Allah. Kayak Mama”.
Memang sudah beberapa hari ini mama berjilbab. Gara-garanya dinasehatin terus sama si Mas, di beliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin sama teman-teman pengajian beliau.
“Gita mau, tapi nggak sekarang…,” kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku kini, prospek masa depan (ceila) dan semacamnya.
“Itu bukan halangan.” Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.
Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu kok cepat sekali terpengaruh sama Mas Gagah!
“Ini hidayah, Gita!” kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.
“Hidayah? Perasaan Gita duluan deh yang dapat hidayah baru Mama! Gita pakai rok aja udah hidayah!”
“Lho?” Mas Gagah bengong.

–=oOo=–

Dengan penuh kebanggaan, kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara Studi Tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya! Aku yang berada di antara ratusan peserta ini rasa-rasanya ingin berteriak, “Hei, itu kan Mas Gagah-ku !”
Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa! Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits Rasul. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung lho, kok Mas Gagah bisa sih? Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yamh dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar!
Pada kesempatan itu juga Mas Gagah berbicara tentang muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi.
“Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana taqwa, sebagai identitas muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam sendiri,” kata Mas Gagah.
Mas Gagah terus bicara. Tiap katanya kucatat di hati ini.

–=oOo=–

Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdalah.
Aku mau ngasih kejutan buat Mas Gagah! Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapan tasyakuran ultah ketujuh belasku.
Kubayangkan ia akan terkejut gembira, memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberikan ceramah pada acara tasyakuran yang insya Allah mengundang teman-teman dan anak-anak panti yatim piatu dekat rumah kami.

“Mas Ikhwan!! Mas Gagaaaaah! Maaasss! Assalaamu’alaikum!” kuketuk pintu kamar Mas Gagah dengan riang.
“Mas Gagah belum pulang,” kata Mama.
“Yaaaaa, kemana sih, Ma??!” keluhku.
“Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus…”
“Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Masjid.”
“Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah inget ada janji sama Gita hari ini,” hibur mama menepis gelisahku.
Kugaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali dengan Mas Gagah.
“Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh !” Mama tertawa.
Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.

–=oOo=–

Sudah lepas Isya. Mas Gagah belum pulang juga.
“Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh…” hibur Mama lagi.
Tetapi detik demi detik, menit demi menit berlalu. Sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.
“Nginap barangkali, Ma?” duga Papa.
Mama menggeleng. “Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa!”
Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.

“Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggg !!” Telpon berdering.

Papa mengangkat telepon. “Halo, ya betul. Apa? Gagah???”
“Ada apa , Pa?” tanya Mama cemas.
“Gagah…, kecelakaan…, Rumah Sakit… Islam…,” suara Papa lemah.
“Mas Gagaaaaaahhh!!!” Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.

Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.

–=oOo=–

Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Tangan, kaki, kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar, sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika, sedang kondisi Mas Gagah kritis.
Dokter melarang kami untuk masuk ke dalam ruangan.
“Tapi saya Gita, adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau lihat saya pakai jilbab iniii!” kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.
Mama dengan lebih tenang merangkulku, “Sabar, Sayang…, sabar.”
Di pojok ruangan papa tampak serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.
“Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?” tanyaku. “Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada syukuran Gita kan?” air mataku terus mengalir.
Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding putih rumah sakit. Dan dari kamar kaca kulihat tubuh yang biasa gagah enerjik itu bahkan tak bergerak!
“Mas Gagah, sembuh ya, Mas…, Mas…Gagah…, Gita udah jadi adik Mas yang manis. Mas… Gagah…,” bisikku.

Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit.. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…, Gita, Mama dan Papa butuh Mas Gagah…, umat juga.”
Tak lama dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. “Ia sudah sadar dan memanggil nama ibu, bapak, dan Gi…”
“Gita..” suaraku serak menahan tangis.
“Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya seperti permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…, lukanya terlalu parah,” perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!
“Mas…, ini Gita, Mas…,” sapaku berbisik.
Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Kudekatkan wajahku kepadanya. “Gita sudah pakai.. jilbab,” lirihku. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya.
Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.
“Dzikir…, Mas,’ suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat wajah Mas Gagah yang separuhnya tertutup perban. Wajah itu begitu tenang…
“Gi…ta…”
Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali!
“Gita di sini, Mas…”
Perlahan kelopak matamya terbuka. Aku tersenyum.
“Gita… udah pakai… jilbab…,” kutahan isakku.
Memandangku lembut, Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdalah.
“Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…,” ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.

Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…, sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali!
Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan Mas Gagah tampaknya menginginkan kami semua berkumpul.
Kian lama kurasakan tubuh Mas Gagah semakin pucat. Tapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia juga masih bisa mendengar apa yang kami katakan meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.

Kuusap setitik lagi airmata yang jatuh. “Sebut nama Allah banyak-banyak…, Mas,” kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup. Tapi sebagai insan beriman, seperti juga yang diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.
“Laa…ilaaha…illa…llah…, Muham…mad…Ra…sul…Al…lah…,” suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk kami dengar.
Mas Gagah telah kembali pada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya.
Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi.

Selamat jalan, Mas Gagah !

–=oOo=–

(Epilog)

Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi,
Semoga memperoleh umur yang berkah,
Dan jadilah muslimah sejati
Agar Allah selalu besertamu.
Sun Sayang,

Mas Ikhwan, eh Mas Gagah !

Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku.

Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.
Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, Aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Ilahi yang selamanya tiada kudengar lagi. Hanya wajah para Mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema di ruang ini…

Setitik air mataku jatuh lagi.

“Mas, Gita akhwat bukan sih?”
“Ya, Insya Allah akhwat!”
“Yang bener?”
“Iya, dik manis!”
“Kalau ikhwan itu harus ada jenggotnya, ya?!”
“Kok nanya gitu?”
“Lha, Mas Gagah ada jenggotnya!”
“Ganteng kan?”

“Uuu! Eh, Mas, kita kudu jihad, ya? Jihad itu apa sih?”
“Ya always dong ! Jihad itu… “

Setetes, dua tetes, air mataku kian menganak sungai.
Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan.
Selamat jalan, Mas Ikhwan! Selamat jalan, Mas Gagah!

HTR, Depok, 1993 (Karya Herlvi Tiana Rosa)



Jumat, 09 Oktober 2009

Pengumuman Pemenang Lomba RANSTRA

Nama-nama pemenang Lomba Cerpen Islami, Puisi Ramadhan dan Lomba Poster Palestina.
Alhamdulillah, Setelah sekian hari peserta menunggu keputusan dewan juri tentang pemenang lomba Cerpen Islami, Puisi Ramadhan dan Lomba Poster Palestina. Maka, setelah Dewan juri mengingat, menimbang, dan memutuskan. Bahwa nama-nama berikut ini adalah pemenang lomba dari masing-masing jenis lomba.

A. Lomba Cerpen Islami.
Juara 1. Silviana Hendri (Ongkos Pulang)
Juara 2. Anggi Meisyaroh (Hanya Butuh Bicara)
Juara 3. Maetra Armi (Lomba Cerpen)

B. Lomba Puisi
Juara 1. Muhammad Hadi (Hikayat Papyrus Tua)
Juara 2. Mukhlisin (Hidangan Cinta)
Juara 3. Indah Permata Sari (Bulan dalam Tanah)

C. Lomba Poster Palestina.
Poster terbaik dari Lomba Poster Palestina adalah karya dari Anisa Carolina. S

Selamat kepada pemenang. Dan Kepada yang belum mendapat juara, kiranya selalu berkarya dan berlatih untuk mengikuti lomba-lomba selanjutnya. Selanjutnya keputusan juri dapt kita hormati bersama.
Info selanjutnya panitia akan menghubungi nama-nama yang bersangkutan untuk menerima hadiah dari Panitia.

Terimakasih dan Wassalam.

(Panitia Pelaksana)

Rabu, 07 Oktober 2009

Eksistensi Dakwah Kampus dalam Tarbiyah Nukhbawiyah

Harokah Nukhbawiyah

Sejarah telah mencatat bahwa kekuatan kader memberikan pengaruh sangat signifikan dalam suatu gerakan perubahan peradaban. Keterjagaan fikroh, visi, misi dan manhaj operasional jamaah yang kuat melekat tertanam dalam setiap elemen struktur jamaah akan memberikan arahan dan mabda yang jelas, kemana output dari harokah ini.

Bila kita mempelajari pola dakwah Rasululullah SAW ketika fase mekkah, dalam marhalah sirriyatud da’wah wa sirriyatut tandzim(pola dakwah dan penataan tertutup). Ada beberapa karakteristik yang menarik dari proses ta’rif(rekruitmen dan pengenalan islam), takwin(pembinaan yang berkelanjutan dan komphrehensif), dan kerja lapangan(tanfidz) yang dibenturkan dengan kondisi masyarakat jahiliyah, yang bisa kita pelajari, diantaranya:
1. Dalam proses rekruitmen Rasulullah SAW sangat selektif dalam pemilihannya. Dimulai dari keluarga dan kerabat terdekat yang sudah terjamin kepercayaannya, tetapi juga memiliki kapasitas individu yang kuat, seperti faktor intelegensia, memiliki karakter yang menarik, status sosial di kabilahnya dan potensi-potensi lain yang tidak dimiliki oleh manusia kebanyakan.
Maka benar sabda Rasul, orang yang sangat keras dan memiliki potensi ketika masa jahiliyyah, maka mereka akan menjadi pembela islam yang keras dan cerdas terhadap orang kafir. Seperti layaknya umar setelah masuk islam.

2. Dalam pola pembinaan, Rasulullah SAW lebih menekankan pada pemahaman aqidah, menanamkan keyakinan yang kuat akan kebenaran islam, Allahu ghayatuna.

Pola ini sesuai dengan pembinaan Allah SWT melalui ayat-ayatnya yang diturunkan dikota mekkah, yang kebanyakan berisi ancaman, janji surga dan kenikmatan bagi orang-orang yang meneggakkan agamanya, dan bukan ayat-ayat syariah yang mengatur kehidupan manusia.

3. Tanfidz, diawali dengan ayat “Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah”. (Al Muddatsir: 1 – 4).

Ada komentar yang menarik dari ust. Sayyid Qutbh Rahimahullah dalam kitab tafsir fii dzilalil qur’an tentang ayat ini, beliau mengatakan bahwa memberi peringatan adalah aktivitas yang paling menonjol dan paling berat di dalam risalah ini, apalagi di awal perjuangan islam.

Makanya benar ketika Allah berfirman tidak sama kualitas para sahabat sebelum perang badar dan sesudah perang badar, walaupun mereka semuanya adalah orang mukmin.

Itulah fokus kerja(kaderisasi) Rasulullah ketika awal perjuangan islam, yaitu penguatan tarbiyah dan penataan basis internal, yang merupakan calon pendukung, pembela dan pembawa risalah agung ini. Baru kemudian tausi’ah(perluasan wilayah dakwah), peneggakan hukum, daulah islamiyah dan islam sebagai ustadziyatul ‘alam.

Satu hal yang sering dewasa ini kita lupakan dalam tarbiyah bahwa, ketika pergantian mihwar atau marhalah, terkadang kita melupakan agenda kaderisasi yang merupakan inti dari gerakan kader. Seharusnya, kalaulah kebijakan era sekarang menuju mihwar dauli, dimana salah satu agenda besarnya adalah penguatan kemampuan pelayanan publik, penokohan dan segala sesuatu yang kita persiapkan untuk masuk kewilayah pemerintahan, agenda ta’rif, takwin harus merupakan salah satu yang wajib kita prioritaskan dalam setiap amal kita.

Peluang Kampus

Peluang kampus dalam memberikan kontribusi tarbiyah tidak lepas karena dua faktor besar, pertama: faktor internal kader. Sejauhmana kualitas pribadi(ruhiyah, ma’nawiyah) dalam mentarbiyah obyek dakwah, komitmen, tadhiyyah, serta keikhlasan amalnya.

Kita meyakini bahwa apa yang kita hasilkan sekarang bukanlah karena faktor kita(manusia) sebagai mujahid dakwah, tapi karena Allahlah yang memberikan kesempatan bagi kita untuk melakukan perubahan. Sehingga bila quwatus silabillah ini tidak kita jaga, maka pastilah Allah akan menggantikan kita dengan kaum yang lebih memiliki komitmen untuk meneggakkan agama-Nya.

Faktor kedua, adalah faktor eksternal kader. Mulai dari trend atau kecenderungan yang banyak berkembang dikalangan mahasiswa, kedua, sejauhmana kebijakan kampus berperan besar dalam proses tarbiyah, memberikan kemudahan ataukah memberikan rintangan, dan ketiga, berlomba-lomba dengan gerakan idelogis kampus lainnya.

Pertama, kita perlu menganalisa trend atau kecenderungan mahasiswa di suatu universitas, gaya bahkan pola hidup mereka, dimana ini tidak bisa kita sama ratakan disemua universitas, terutama dijogja.

Bahkan dalam satu universitas pun, trend yang berkembang di kalangan mad’u(obyek dakwah) masing-masing fakultas memiliki karakteristik pola rekruitmen, dan pembentukan yang berbeda pula. Mahasiswa fakultas teknik dengan gaya basis pengetahuan eksakta yang cenderung berfikir linear sangat berbeda pendekatan dakwahnya dibandingkan dengan fakultas sospol dengan basis pengetahuan sosial pemikiran politik, ini contoh kasus sederhana.

Tetapi secara umum, tipe mahasiswa bisa kita kluster dalam 3 kelompok, diantaranya:

1. Kelompok mahasiswa yang sudah tersibghoh dengan nilai-nilai keislaman.
Kelompok ini merupakan tipe mad’u yang paling memungkinkan untuk kita libatkan dalam kegiatan tarbiyah maupun dalam kegiatan keislaman. Walaupun di sisi lain, kelompok ini juga menjadi target operasi semua gerakan dakwah, tetapi ini bukanlah sesuatu yang harus kita khawatirkan, karena kita mempunyai prinsip tasamuh dengan setiap elemen dakwah yang memiliki cita-cita luhur dalam penegakkan islam.

Sehingga kerja besar yang harus kita lakukan adalah pemahaman yang mendalam akan syumuliyatul islam sebagai manhaj asasi, dan manhaj jamaah sebagai manhaj amaliy dakwah tarbiyah, yang ini merupakan pilihan, boleh bersepekat dan bersama-sama memperjuangkannya atau menolak dan diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk menetapkan pilihan sesuai dengan kefahaman fiqh dakwah yang difahami.

Berbicara tentang kuantitas mahasiswa yang masuk kategori ini, mungkin tidak lebih dari 1000 mahasiswa, bahkan mungkin hanya sekitar ratusan. Tetapi dengan potensi kapasitas pribadi yang mereka miliki, walaupun hanya sekitar 5% dari seluruh mahasiswa baru, mereka akan mampu memberikan pengaruh signifikan nuansa keislaman dimana mereka berada. Dan alhamdulillah Allah masih mempercayakan pada kita untuk mengelola dan mengajak mereka bersama-sama dalam bendera tarbiyah.

2. Kelompok mahasiswa umum.

Kelompok mahasiswa ini, secara kuatitas, terbanyak dari semua tipe yang ada. Hal ini mencerminkan bagaimana kondisi masyarakat indonesia, dimana muslim abangan(mengambil definisi kuntowijoyo) masih mendapatkan porsi terbesar diindonesia dari total jumlah penduduk muslim.

Penanganannya, pun juga beragam variasinya,karena kita berhadapan dengan banyak model. Ada yang hedonis, ada yang koleris dengan kondisi sosial dan bahkan masalah keagamaan, ada yang studi oriented, dan banyak tipe lainnya. Tapi satu hal yang harus kita miliki ketika berhadapan dengan tipe seperti ini, yaitu kekuatan komunikasi dan sosialisasi, disamping kita harus mampu menunjukkan kepribadian/pesona pribadi yang menarik kepada mereka, dengan tanpa melanggar syariah.

Wilayah ini sebenarnya memiliki potensi besar, ketika mereka mampu kita mobilisasi dalam kerja-kerja dakwah. Seperti potensi maaliyah(keuangan), nilai akademik yang baik(berpotensi menjadi dosen dan sangat bermanfaat berdakwah dibirokrasi kampus), potensi keahlian umum, dan potensi khusus lain yang jarang dimiliki ikhwah. Pertanyaannya?seberapa besar prosentase kesabaran dalam diri kita?.

3. Kelompok mahasiswa yang memiliki kepentingan dan ideologis memperjuangkan nilai-nilai yang melekat pada diri mereka dan cenderung tidak sependapat dengan kepentingan islam dan dakwah.

Berhadapan dengan kelompok ini, tergantung bagaimana sikap mereka pada kita. Jika menyerang kita lawan, jika bersaing sportif kita tasamuh dan memberikan peluang gerakan yang seluas-luasnya, tanpa harus menjegal atau menahannya.

Faktor eksternal kedua berkaitan dengan kebijakan birokrasi kampus sendiri, memberikan peluang ataukah memberikan hambatan. Hal ini sangat berkaitan erat dengan personal, siapa yang mengendalikan kebijakan, tidak lantas langsung bisa disimpulkan bahwa kampus A tidak mendukung gerakan dakwah dan nilai-nilai islam.

Jika kondisi yang nampak adalah rintangan, maka model yang kita gunakan sebagaimana fase dakwah Rasulullah di masa sirriyatud dakwah wa tandzim. Basis penguatan pembinaan dan agenda infiltrasi kekuatan dakwah diwilayah birokrasi kampus, dan pengambilan peran sebagai penentu kebijakan. Bila yang terjadi adalah dukungan penuh, maka yang wajib kita lakukan adalah optimalisasi dan efektifitas kerja di setiap elemen kampus: mahasiswa, karyawan, dan dosen.

Lalu bagaimanakah kondisi kampus dijogja? Untuk kampus besar, dengan jumlah kader mahasiswa, karyawan, dosen yang banyak, dan menyebar disetiap pos-pos penting kampus, maka tarbiyah masih merupakan kekuatan islam yang cukup memberikan pengaruh nilai keislaman dalam kehidupan kampus. Tetapi insya Allah dengan keistiqomahan kita melakukan tausi’ah(perluasan), kemungkinan untuk memasukkan nilai islam dalam kampus, tidak menjadi sesuatu yang berat untuk kita lakukan. Apalagi dengan kultur kampus, yang menghormati nilai-nilai pengetahuan ilmiah pemikiran dan intelektual. Sehingga tepat, ketika ust. Hilmi Aminuddin kembali menekankan pentingnya pesantren, kampus, dan mahasiswa sebagai fokus kerja tarbiyah, karena disanalah gudangnya agent of change.

Analisa Rasio Kekuatan

Berbicara tentang logika analisa pertumbuhan, maka kita berbicara pada tiga hal numuwwul kammiyyah(kuantitas), numuwwul nau’iyyah(kualitas) dan numuwwul qudroh(kemampuan) yaitu sejauhmana pertumbuhan kuantitas kader tarbiyah, kualitas personal individu jamaah dengan parameter muwashoffat dan kemampuan pengelolaan dakwah.

Ketiga komponen di atas merupakan satu kesatuan yang saling memiliki keterkaitan dalam proses analisa rasio kekuatan. Pertumbuhan kuantitas dan kualitas kader merupakan parameter kesuksesan dakhiliyah(internal). Jamaah yang hanya berkutat pada kuantitas tanpa memperhatikan kualitas, adalah jamaah yang rapuh.

Sejarah telah mencatat kebesaran partai islam,Masyumi, yang merupakan salah satu ormas terbesar di Indonesia. Tetapi sejarah juga mencatat kegagalan mereka dalam proses kaderisasi, sehingga ketika dihantam dengan ideologi dan konsep nasionalis, komunis, dan ideologi-ideologi modern di kala itu,dan dibenturkan dengan organisasi lain yang memiliki visi, misi dan idealisme yang kuat, banyak pengikutnya yang tidak bisa mempertahankan kebanggaan organisasi, sehingga ormas inipun terlindas oleh kejayaan dan kekuatan ormas lainnya.

Dr. Yusuf Al Qorodhowiy dalam bukunya yang berjudul kebangkitan gerakan islam. Beliau menuliskan bahwa gerakan pembaharuan islam sekarang berada pada masa transisi, yaitu masa yang dilalui manusia sampai pada kedewasaan. Masa ini memiliki beberapa karakteristik dan ciri khas diantaranya: kekuatan dan pertumbuhan yang cepat, vitalitas kerja yang bertambah. Dua hal ini sangat dipengaruhi oleh kualitas kader yang merupakan ta’yid dari gerakan dakwah itu.

Numuwwul qudroh yang merupakan parameter kesuksesan kharijiyah, hanya merupakan dampak dari aspek dakhiliyah di atas. Kemampuan kader dalam mengendalikan basis ijtima’iyah sangat tergantung pada berapa pendukung dan sejauhmana kepercayaan masyarakat pada kemampuan seorang kader dakwah di tataran pelayanan publik.

Sekarang kita akan melihat data empiris kondisi lapangan tahun 2006/2007. Angka rekruitmen 2006/2007, walaupun dengan sedikit peningkatan dari tahun kemarin, memiliki pola perbandingan yang sama dari 2 dekade pengelolaan tarbiyah kampus tahun sebelumnya, dengan efektifitas rata-rata rekruitmen sekitar 1: 5 – 8. Nilai ini sangat jauh bila dibandingkan dengan masa tahun 90’an yang mencapai rata-rata 1: 20’an lebih. Pertanyaan yang mendasar yang harus kita ajukan, ada apa dengan kita?apakah memang ada perbedaan orientasi kerja antara masa awal tarbiyah dan sekarang, yaitu dengan menurunkan kuantitas pembinaan per personal kader dan menaikkan kuantitas kerja di ranah-ranah publik?atau memang sudah menurunkah kualitas kita?

Bila kondisi ini kita pertahankan, maka nilai rekruitmen kita akan semakin rendah, kemudian kenaikan kapasitas (secara kuantitas) kader pun akan menurun, dan berdampak pada kuota jumlah murobbi kampus kita, dan terus berdampak pada rekruitmen, sampai kita benar benar menjadi jamaah besar tanpa kualitas, dan akan tergilas oleh jaman. Atau kemungkinan lain, kita akan berada pada posisi stagnan, padahal bukan ini ciri suatu gerakan, apalagi gerakan dakwah yang membawa panji risalah yang mulia, Al Islam.

Sehingga tidak ada cara lain lagi kecuali hanya kembali kepada asholah gerakan tarbiyah, yaitu rekruitmen, pembinaan dan amal. Inilah yang seharusnya menjadi titik tekan pengelolaan tarbiyah kampus ke depan, jika kita masih menginginkan idealisme untuk tetap eksis di tengah berkibarnya bermacam-macam gerakan.
(sumber:http://alqudsy02.multiply.com)